Surat Kantor Kudus Mengenai Perlunya Gereja Katolik

Artikel berikut ini diambil dari American Ecclesiastical Review, Desember 1952, halaman 450-461, yang di terbitkan oleh Catholic University of America Press. Joseph Clifford Fenton (16 Januari 1906 – 7 Juli 1969) adalah seorang Imam dari Keuskupan Springfield, Massachusetts, professor fundamental dogmatic theology di Catholic University of America dan editor American Ecclesiastical Review (1943-1963). 

[sebuah excerpt dari edisi 1952 American Ecclesiastical Review. Semua penekanan tebal berasal dariku, DeusVult]

_______________________________________

Ilmu Teologi suci telah sangat dibantu oleh tindakan Uskup Agung Cushing dalam mempublikasikan teks lengkap dan terjemahan Inggris resmi dari surat Kantor Kudus mengenai perlunya Gereja bagi keselamatan. Surat ini, ketiga dari tiga dokumen Roma yang secara langsung berkenaan dengan dogma ini [ie. perlunya Gereja bagi keselamatan] sepanjang sepuluh tahun terakhir, mengandung penjelasan yang akurat dan otoritatif atas sebuah kebenaran yang diwahyukan secara ilahi yang sering ditafsirkan dengan keliru dalam tulisan-tulisan Katolik saat ini. Publikasi dari dokumen ini dapat dan harus membawa sebuah perbaikan dalam penanganan dogma akan perlunya Gereja bagi keselamatan dalam literatur populer Katolik.

Teks dari surat tersebut terdiri dari duapuluh-empat paragraf. Tiga paragraf yang pertama adalah perkenalan, dan berbicara mengenai keadaan-keadaan yang memicu keluarnya pesan [dari surat] tersebut. Enambelas paragraf selanjutnya berkutat dengan “explanationes…ad doctrinam pertinentes.” Lima paragraf terakhir mengandung “invitamenta atque exhortationes, quae ad disciplinam spectant.”

Dalam perkenalan, surat tersebut meneguhkan bahwa [surat itu] berkenaan dengan sebuah kontroversi yang berat dan serius yang telah ditimbulkan (exitata) oleh orang-orang yang berhubungan dengan Pusat St. Benediktus dan Kolose Boston. Surat tersebut lebih lanjut menyatakan bahwa Kantor Kudus berkeyakinan bahwa kontroversi tersebut timbul pertama-tama karena sebuah kegagalan dalam memahami secara tepat dan untuk menghargai aksioma “extra ecclesiam nulla sallus,” dan bahwa perselisihan itu menjadi pahit oleh karena fakta bahwa beberapa dari mereka yang berhubungan dengan Pusat St. Benediktus dan dengan Kolose Boston menolak hormat dan taat kepada otoritas gerejawi yang sah.

Baik disini dan dalam bagian doktrinal dari surat tersebut kita menjumpai sebuah implikasi jelas bahwa Kantor Kudus sadar akan banyaknya jenis kesalahan mengenai perlunya Gereja Katolik bagi keselamatan. Ketika surat tersebut menempatkan [kepada siapa] kesalahan atas semakin pahitnya kontroversi [tersebut harus dibebankan], surat tersebut secara langsung menyalahkan kelompok Pusat St. Benediktus, yang bersalah atas ketidakhormatan dan ketidakpatuhan. Ketika, disisi lain, dokumen tersebut berbicara mengenai asal muasal dari perselisihan tersebut, dokumen tersebut dengan enteng menyatakan bahwa kotroversi itu sendiri [timbul karena] kegagalan untuk mengenal dan menghargai rumusan “extra ecclesiam nulla sallus.” Mereka yang telah mempelajari dalam tingkatan se-mendetail apapun banyaknya tulisan-tulisan modern mengenai subyek ini sudah cukup sadar bahwa ada beberapa penjelasan keliru atas dogma ini yang dipublikasikan selama bagian pertama dari abad ini.[1]

Karena itu, apa yang membuat surat dari Kantor Kudus ini sangat begitu penting adalah fakta bahwa surat tersebut bertujuan, tidak hanya untuk mengoreksi kesalahtafsiran dasar dari dogma yang dilakukan oleh kelompok Pusat St. Benediktus, tapi menunjukkan kualitas doktrinal dari ajaran itu sendiri dan untuk menawarkan sebuah garis yang akurat, penuh dan otoritatif atas penafsiran [dogma EENS tersebut]. Dalam mencapai tujuannya, surat Kantor Kudus sejauh ini telah memberi para teolog Katolik pemaparan yang paling lengkap dan paling detail, atas dogma bahwa Gereja Katolik adalah perlu bagi keselamatan, yang pernah datang dari magisterium Gereja.

Porsi doktrinal yang spesifik dari surat Kantor Kudus dimulai dengan sebuah paragraf yang mengulangi apa yang diajarkan oleh Konsili Vatikan [Pertama] mengenai kebenaran yang mana kita terikat untuk mempercayai dengan kepatuhan iman yang Katolik dan ilahi. Surat tersebut mengatakan kepada kita bahwa “Kami terikat oleh iman yang ilahi dan Katolik untuk mempercayai semua hal yang terkandung dalam sabda Allah, apakah itu di Kitab Suci atau Tradisi (quae in verbo Dei scripto vel tradito continentur), dan [semua hal] yang diajukan oleh Gereja untuk dipercayai sebagai sesuatu yang diwahyukan secara ilahi.”[2]

Nah, ajaran-ajaran yang kita wajib percayai dengan kepatuhan iman yang Katolik dan ilahi adalah kebenaran-kebenaran yang kita kenal sebagai dogma-dogma Gereja Katolik. Dogma-dogma ini adalah kebenaran-kebenaran yang dikhotbahkan rasul-rasul Yesus Kristus kepada GerejaNya sebagai pernyataan-pernyataan yang telah dikomunikasikan secara adikodrati [supernatural] atau diwahyukan oleh Allah sendiri. [Dogma-dogma tersebut] mendasari obyek terpusatan atau terutama dari aktivitas mengajar takdapatsalah Gereja.

Adalah penting untuk dicatat bahwa surat Kantor Kudus kita itu mendeskripsikan doktrin “bahwa tidak ada keselamatan diluar Gereja,” tidak hanya sebagai suatu ajaran yang takdapatsalah, tapi juga sebagai suatu dogma. Surat itu bersikeras, dengan kata lain, bahwa ajaran ini tidak hanya sesuatu yang [sekedar] berhubungan dengan pesan Allah yang umum dan adikorati [supernatural], tapi [doktrin tersebut] termasuk dalam pesan yang diwahyukan itu sendiri. Doktrin tersebut dihadirkan sebagai sebuah kebenaran yang diberikan para rasul sendiri kepada Gereja sebagai sebuah pernyataan yang diwahyukan Allah secara adikodrati [supernatural] kepada manusia melalui Tuhan Kita [ie. Yesus Kristus]. [Doktrin tersebut] adalah salah satu dari kebenaran-kebenaran yang mana Gereja berkepentingan secara utama dan esensial.

Sehingga dalam menyebutkan ajaran ini sebagai sebuah dogma Gereja, surat Kantor Kudus hanya mengulangi apa yang telah diajarkan oleh Paus Pius IX di allocution beliau Singulari quadam, yang dikeluarkan 9 Desember 1854, dan di ensikliknya Quanto conficiamur moerore, yang dipublikasikan pada 10 Agustus 1863.[3] Karenanya dokumen kita [ie. surat Kantor Kudus] tidak membuat sumbangsih baru atas point tertentu ini. [Surat Kantor Kudus] hanya mengingatkan, suatu generasi yang mungkin telah lupa akan fakta tersebut, suatu kebenaran tertinggi yang ajaran yang berkenaan dengannya adalah bagian aktual dari wahyu umum ilahi.

Surat kita [ie. Surat Kantor Kudus] juga membawakan dua konsekuensi penting atas fakta bahwa ajaran akan pentingnya Gereja bagi keselamatan abadi sebenarnya adalah sebuah dogma Katolik. Implikasi pertama adalah bahwa kebenaran ini adalah salah satu dari “perkara-perkara yang selalu dikhotbahkan Gereja dan tidak akan pernah berhenti untuk dikhotbahkan.” Implikasi kedua ditemukan dalam fakta bahwa Allah telah mempercayakan penjelasan yang otoritatif dan takdapatsalah dari kebenaran-kebenaran yang diwahyukan tersebut, tidak kepada keputusan pribadi, tapi kepada otoritas mengajar Gereja saja. Kedua implikasi ini sangatlah penting bagi teolog kontemporer [ie. saat ini]. Pada faktanya, Bapa Suci sendiri mengambil dua poin tersebut dalam ensikliknya Humani Generis, yang, meskipun muncul dua tahun sebelum publikasi teks penuh dari surat Kantor Kudus tersebut, sebenarnya telah ditulis setahun setelah dokumen [dari kantor Kudus] ini [ditulis]. [4]

Dalam konteks diskusi saat ini dan kesalahpahaman yang memicu penulisan surat kita ini [ie. surat dari Kantor Kudus], pengingat-ingat bahwa Gereja tidak pernah berhenti untuk mengkhotbahkan dan tidak akan pernah berhenti untuk mengkhotbahkan kebenaran bahwa Gereja adalah penting bagi keselamatan manusia adalah [pengingat-ingat] yang tepat waktu dan berguna. Adalah penting untuk dicatat bahwa surat [Kantor Kudus] menggunakan istilah “praedicare, mengkhotbahkan.” Dengan menggunakan kata ini, dokumen tersebut meyakinkan kita bahwa, sepanjang bagian sejarahnya, Gereja Katolik terus menerus menetapkan secara umum dan secara terbuka ajaran yang diterimanya dari Allah melalui Tuhan Kita dan rasul-rasulNya. Karenanya Kantor Kudus bertindak lebih dari sekedar meneguhkan bahwa Gereja selalu memelihara dan menjaga pusaka doktrinalnya. [Kantor Kudus] bersikeras bahwa Gereja tidak pernah berhenti untuk mengajarkan dogmanya sendiri.

Nah ada kecenderungan lama diantara beberapa penulis Katolik untuk membayangkan bahwa beberapa dogma Gereja cenderung menjadi kadaluarsa, dan bahwa, atas kepentingan kemajuannya sendiri, Gereja tidak bersikeras dengan ketat atas ajaran-ajaran yang dianggap tidak selaras dengan kondisi-kondisi modern. Paus Leo XIII mengkritik dengan keras salah satu aspek dari kecenderungan ini dalam suratnya Testem benovolentiae.[5] Sudahlah sangat jelas bahwa salah satu dogma Gereja yang oleh musuh-musuhnya [ie. musuh-musuh Gereja] paling tidak sejalan dengan pemikiran modern saat ini adalah ajaran bahwa tidak ada keselamatan diluar Gereja sejati. Secara bersamaan sebuah mentalitas seperti yang dimiliki kelompok Pusat St. Benediktus cenderung berkeyakinan bahwa, paling tidak dijaman kita, Gereja universal sedang tidak mengajarkan dogma mengenai perlunya Gereja bagi keselamatan manusia secara efektif.

Terlebih, pernyataan Kantor Kudus ini datang sebagai sebuah teguran kepada bentuk yang lebih ekstrim dari teori “state of siege” [“keadaan saling menunggu saat yang tepat untuk memulai gerakan”], yang menurut teori itu Gereja telah dengan satu cara memodifikasi kehidupan doktrinalnya sejak hari-hari Konsili Trent dengan mengambil posisi defensif. Surat kita meyakinkan kita pada titik ini bahwa Gereja tidak akan pernah melewatkan atau melunakkan dogma apapun demi kepentingan suatu mentalitas defensif atau demi alasan lainnya.

Implikasi atau konsekuensi yang kedua yang dicatat oleh surat Kantor Kudus juga sama-sama tepat waktu. Dalam bersikeras atas fakta bahwa Penyelamat Kita telah mengungkung penjelasan dari dogmaNya, bukan kepada keputusan pribadi, tapi kepada magisterium Gereja saja, surat ini menjadikan jelas bahwa umat Katolik harus dituntun dalam pemahaman mereka akan kebenaran yang diwahyukan oleh guru-guru resmi dari Gereja Katolik, dan tidak hanya oleh pengarang-pengarang pribadi, tidak peduli bagaimana ingenious [ie. pandai dan orisinil] dan berpengaruh [pengarang-pengarang pribadi tersebut]. Dan, untuk menempatkan perkara se-konkrit mungkin, umat Katolik tidak boleh menerima ajaran apapun dari penulis-penulis pribadi, meskipun ketika ajaran-ajaran ini kelihatan seperti selaras dengan mentalitas modern, kalau ajaran-ajaran ini tidak secara ketat selaras dengan ajaran magisterium. Adalah cukup jelas bahwa ajaran pribadi seperti inilah yang dihadirkan diwaktu-waktu sekarang ini, [yaitu ajaran pribadi] mengenai subyek perlunya Gereja bagi keselamatan dan dalam bagian-bagian lain ekklesiologi [ie. ilmu kegerejaaan].

Tiga paragraf pertama dalam porsi doktrinal dari surat Kantor Kudus berkenaan dengan fakta bahwa ajaran “tidak ada keselamatan diluar Gereja” adalah sebuah dogma iman Katolik, dan dengan dua konsekuensi yang mengikuti fakta tersebut. Sisa dari bagian doktrinal (satu-satunya bagian yang mana kita berkepedulian langsung dalam artikel ini) diberikan bagi suatu pemaparan atas bagaimana Gereja sendiri memahami dan mengajarkan dogma mengenai perlunya [Gereja] bagi keselamatan abadi. Dalam beberapa paragraf ini, para teolog akan menemukan tiga pembedaan, yang telah lama digunakan para teolog tradisional Gereja dalam penjelasan mereka akan perlunya Gereja bagi keselamatan, dihadirkan untuk pertama kalinya secara jelas dan berketetapan dalam sebuah pernyataan otentik magisterium Gereja sebagaimana digunakan oleh Gereja yang mengajar itu sendiri dalam pemahaman dan penjelasannya [ie. Gereja] atas dogma tersebut. [Tiga pembedaan] itu adalah (1) pembedaan antara necessity of precept [ie. perlu sebagai aturan] dan necessity of means [ie. perlu sebagai sarana], (2) pembedaan antara berada dalam gereja secara re dan berada didalamnya secara voto, dan (3) pembedaan antara niat/keinginan eksplisit dan niat/keinginan implisit untuk masuk ke Gereja Katolik. Justru karena semua pembedaan [tersebut] digunakan pertama kali dalam sebuah dokumen magisterium untuk menjelaskan perlunya Gereja bagi keselamatan sehingga surat [Kantor Kudus] ini adalah salah satu dokumen Roma yang paling penting masa kini.

Pertama, Kantor Kudus menunjukkan kita bahwa pembedaan klasik antara necessity of precept[ie. perlu sebagai aturan] dan necessity of means [ie. perlu sebagai sarana], yang telah lama digunakan oleh para teolog kompeten dalam menjelaskan dogma perlunya Gereja bagi keselamatan, telah masuk kedalam pemahaman dan penjelasan Gereja sendiri akan doktrin [akan perlunya Gereja bagi keselamatan] tersebut. Berkenaan dengan perlunya Gereja sebagai aturan [the church’s necesity of precept], surat tersebut membawakan fakta bahwa perintah, “untuk di-inkorporasi-kan oleh baptisan kepada tubuh Mistik Kristus, yang adalah Gereja, dan tetap bersatu kepada Kristus dan kepada WakilNya,” adalah salah satu perintah yang benar-benar diberikan Tuhan Kita kepada rasul-rasulNya untuk diajarkan kepada semua bangsa. Dokumen tersebut lalu menjelaskan perlunya Gereja sebagai aturan berarti bahwa “tidak seorangpun akan diselamatkan, [kalau dia] mengetahui bahwa Gereja telah diinstitusikan secara ilahi oleh Kristus, tapi menolak untuk tunduk kepada Gereja atau menarik ketaatan dari Paus Roma, Wakil Kristus di bumi.”

Surat Kongregasi Suci karenanya menyatakan secara eksplisit bahwa ada sebuah perintah yang serius yang dikeluarkan oleh Tuhan Kita sendiri kepada semua manusia, sebuah perintah agar mereka masuk dan tetap berada dalam Gereja sejati. Orang yang melanggar perintah itu akan bersalah atas sebuah dosa yang besar. Kalau dia mati dalam kondisi ketidakpatuhan atas kehendaknya sendiri itu, dia secara tidak terhindarkan lagi akan hilang selamanya [ie. ke neraka]. Begitulah makna dasar dari perlunya Gereja sebagai aturan, sebagaimana dijelaskan oleh surat dari Kantor Kudus, dan sebagaimana dipahami oleh Gereja sendiri.

Bagaimanapun, dokumen ini juga mengajarkan kita bahwa ada lebih dari sekedar sebuahnecessity of precept [ie. perlu sebagai aturan] yang berkenaan dengan dogma perlunya Gereja Katolik bagi keselamatan. Dokumen tersebut bersikeras atas fakta bahwa Tuhan Kita “juga mendekritkan Gereja sebagai sebuah sarana keselamatan yang tanpanya tidak seorangpun dapat masuk kerajaan kemuliaan abadi.” Dengan kata lain, Tuhan Kita telah melakukan dua hal: Dia memerintahkan semua orang untuk masuk kedalam Gereja; dan dia telah mendirikan masyarakat ini [ie. Gereja dan orang didalamnya] sebagai salah satu dari sumberdaya adikodrati [supernatural]yang tanpanya tidak seorangpun dapat menikmati Pandangan Kebahagiaan [Beatific Vision] sebagai seorang anggota Gereja jaya di surga.

Pernyataan dari Kantor Kudus ini sangatlah penting dalam bidang teologi dogmatis. Selama tahun-tahun belakangan ada banyak upaya dari beberapa penulis Katolik untuk menyajikan perlunya Gereja bagi keselamatan secara eksklusif atau hampir secara eksklusif hanya sebagai sebuah necessity of precept [perlu sebagai aturan]. Sekarang dengan suara otoritatif Gereja Roma sendiri meyakinkan kita bahwa Gereja adalah perlu baik dengan necessity of precept [ie. perlu sebagai aturan] dan dengan necessity of means [ie. perlu sebagai sarana]. Surat [dari Kantor Kudus] ini adalah dokumen otoritatif pertama dimana kebenaran ini diajukan secara jelas dan eksplisit.

Juga [dinyatakan] pada saat yang sangat tepat adalah penggunaan surat tersebut akan pembedaan teologis klasik antara berada dalam Gereja secara re dan berada didalamnya secara voto. Karenanya mereka yang ingin menjelaskan ajaran Katolik atas point ini harus menggunakan dua pembedaan ini (necessity of precept yang berbeda dengan necessity of means: berada dalam Gereja secara re yang berbeda dengan berada dalam Gereja secaravoto.), kalau mereka [hendak] bertindak sebagai pendukung kebenaran Katolik yang beriman. Adalah menarik untuk dicatat bahwa Kantor Kudus tidak menggunakan istilah seperti “jiwa dan tubuh Gereja,” atau “Gereja sebagai sarana biasa [ordinary] keselamatan,” dalam menetapkan apa yang selalu dipahami Gereja sendiri sebagai arti dari perlunya Gereja bagi keselamatan abadi.

Terlebih, juga adalah menarik untuk melihat konotasi dari istilah “votum” dan “desiderium,” digunakan dalam komunikasi [dari] Kantor Kudus tersebut. Istilah-istilah ini diterjemahkan, tidak secara taktepat, tapi mungkin kurang mengena, dalam terjemahan Inggris resmi dari surat itu sebagai “desire” dan “yearning” [Catatan DeusVult: aku terjemahkan di surat Kantor Kudus sebagai “keinginan” dan “kerinduan”]. Dalam menggunakan istilah-istilah tersebut Kantor Kudus menjadikan jelas bahwa, agar selamat, manusia harus bergandeng kepada Gereja secara aktual atau secara re, atau bergabung kepada Gereja oleh sebuah tindakan kehendak yang asli, berniat atau berkeinginan untuk menjadi anggota-anggota.

Dengan kata lain, menurut konotasi dari dua istilah tersebut, votum eksplisit atas mana seorang manusia bisa bergabung dengan Gereja sehingga mencapai keselamatannya haruslah sebuah keinginan atau niatan yang nyata, dan tidak sekedar velleity [ie. sekedar keinginan tingkat paling lemah yang tidak disertai upaya untuk mendapatkan apa yang diinginkan]. Tindakan kehendak dimana votum akan Gereja yang implisit dan yang menyelamatkan itu terkandung, harus lebih dari sekedar velleity. Operasi tersebut juga harus merupakan sebuah tindakan kehendak yang efektif dan nyata.

Dalam mengajarkan bahwa sebuah votum atau sebuah desiderium akan Gereja dapat, dalam keadaan tertentu, dengan cukup membawa seseorang kepada pencapaian Pandangan Kebahagiaan [Beatific Vision], kita tidak boleh lupa bahwa surat Kantor Kudus juga menggunakan suatu prosedur yang telah digunakan oleh para teolog Katolik tradisional selama bertahun-tahun. [Surat tersebut] mengklasifikasikan Gereja sendiri, juga dengan sakramen Baptisan dan Tobat, diantara “bantuan-bantuan kepada keselamatan yang diarahkan kepada tujuan akhir manusia, tidak oleh keperluan intrinsik [intrinsic necessity], tapi oleh institusi ilahi.” Sebaliknya, tentu saja, [surat tersebut] mengimplikasikan eksistensi dari sumberdaya-sumberdaya lain yang di-tata kepada tujuan akhir manusia menurut keperluan intrinsik [intrinsic necessity]. Realitas seperti Gereja itu sendiri, dan sakramen Baptisan dan Tobat, bisa dalam keadaan tertentu mencapai efeknya ketika hal-hal tersebut [i.e realitas Gereja, sakramen Baptisan dan Tobat] diproses dan digunakan hanya dalam niatan atau keinginan. Bantuan-bantuan dari klasifikasi yang lain, seperti rahmat pengudusan, iman, dan kasih, harus, disisi lain, dimiliki atau digunakan secara secara re agar [bantuan-bantuan tersebut] dapat mencapai tujuannya.

Surat tersebut mengaplikasikan prinsip tersebut ketika surat itu meyakinkan kita bahwa, agar supaya manusia mendapatkan keselamatan abadi, “tidaklah selalu dipersyaratkan bahwa dia di-inkorporasi-kan kedalam Gereja secara aktual sebagai seorang anggota, tapi adalah perlu bahwa paling tidak dia bersatu dengannya [ie. Gereja] oleh keinginan dan kerinduan.” Hal tersebut, tentunya, merupakan ajaran yang eksplisit dari para teolog tradisional Katolik sejak masa Thomas Stapleton dan St. Robert Bellarmine.[6] Merupakan sesuatu yang tidak luar biasa bagi teologi Katolik [untuk mengajarkan] bahwa seorang manusia dapat diselamatkan kalau, ketika menemukan bahwa tidaklah mungkin untuk bergabung dengan Gereja sebagai seorang anggota, dia benar-benar secara tulus berniat atau berkeinginan untuk hidup dalam masyarakat ini.

Kantor Kudus kemudian melanjutkan melawan apa yang mungkin merupakan kesalahan yang paling penting dan paling keras kepala dari kelompok Pusat St. Benediktus ketika [Kantor Kudus dalam suratnya] menjelaskan bahwa “keinginan ini tidak perlu selalu bersifat eksplisit, sebagaimana yang terdapat pada katekumen”; tapi “ketika seseorang pribadi terlibat dalam ketidaktahuan yang tidak bisa diatasi [invincible ignorance] Allah menerima juga suatu keinginan implisit, [yang dinamakan demikian] karena [keinginan implisit tersebut] termasuk didalam disposisi yang baik dari jiwa dimana seorang pribadi ingin kehendaknya diselaraskan kepada kehendak Allah.”

Cukup layak untuk dicatat bahwa para teolog Gereja tidak pernah memasukkan ajaran akan Gereja itu sendiri sebagai bagian dari kebenaran-kebenaran adikodrati [supernatural] yang harus diyakini secara eksplisit jikalau ada suatu [persyaratan] minimum yang perlu bagi sebuah tindakan iman ilahi yang sejati dan menyelamatkan. Surat Kantor Kudus ini, bagaimanapun, tidak membahas theological reasoning tersebut [ie. mengenai syarat minimum yang perlu], tapi langsung mengarah kepada ajaran Paus Pius XII di ensikliknya Mystici Corporisuntuk mendukung [apa yang dituliskan surat itu]. Ensiklik tersebut secara efektif mengajarkan kemungkinan keselamatan bagi orang-orang yang hanya memiliki suatu keinginan implisit untuk masuk dan hidup didalam Gereja Katolik.

Dalam teks Mystici Corporis, Paus yang Berdaulat secara jelas dan otoritatif mengajarkan syarat-syarat bagi keanggotaan aktual dalam Gereja. Dia meng-issu-kan sebagai ajarannya sendiri doktrin Bellarminian [ie. doktrin yang diajarkan St. Robert Bellarmine] bahwa “Secara aktual hanya mereka yang termasuk sebagai anggota-anggota Gereja [adalah mereka] yang telah dibaptis dan mengikrarkan iman sejati, dan yang tidak secara patut disayangkan memisahkan diri mereka sendiri dari kesatuan Tubuh, atau dikecualikan [dari kesatuan Tubuh] oleh otoritas yang sah karena kesalahan-kesalahan berat yang telah dilakukan.”[7] Dia juga, bagaimanapun, berbicara mengenai kemungkinan keselamatan bagi mereka yang “berhubungan kepada Tubuh Mistik sang Penebus oleh suatu kerinduan dan keinginan bawah sadar, (inscio quodam desiderio ac voto).” Dia menggambarkan individu-individu seperti itu sebagai [orang-orang] yang hidup dalam kondisi “dimana mereka tidak dapat pasti akan keselamatan mereka” karena “mereka masih tetap terkurangkan dari banyak karunia-karunia dan bantuan-bantuan surgawi yang hanya bisa dinikmati dalam Gereja Katolik”[8]

Kantor Kudus menafsirkan ajaran-ajaran dari Mystici Corporis ini sebagai sebuah pengutukan atas dua kesalahan. Salah satunya, yang dipertahankan secara eksplisit oleh anggota-anggota kelompok Pusat St. Benediktus, adalah ajaran bahwa tidak seorang pun terselamatkan kalau dia hanya memiliki sebuah keinginan atau niatan implisit untuk memasuki Gereja. [Ajaran] yang lain adalah ajaran bahwa manusia-manusia bisa selamat “dengan sama baiknya (aequaliter)” dalam agama apapun. Untuk pengutukan atas kekeliruan yang terakhir tersebut, surat [Kantor Kudus] mengacu kepada dua pernyataan oleh Paus Pius IX, allocution beliau Singulari quadamdan ensiklik beliau Quanto conficiamur moerore.[9]

Akhirnya surat tersebut membawakan dua point yang oleh banyak penulis yang membahas masalah ini dilewati terlalu cepat. [Surat tersebut] bersikeras bahwa, agar efektif bagi keselamatan abadi, niatan atau keinginan apapun untuk memasuki Gereja, apakah eksplisit atau implisit, harus digerakkan oleh kasih sempurna. Tidak ada kebaikan yang cuma berada dalam lingkup kodrati [natural] dapat mencukupi untuk menyelamatkan manusia, bahkan ketika orang itu sendiri benar-benar berniat untuk masuk dan hidup dalam Gereja sejati Yesus Kristus. Ketidak-beranggotaan Gereja, bahkan pada seseorang yang ingin menjadi Katolik, tidak dengan cara apapun membebaskan [dia] dari perlunya faktor-faktor yang dipersyaratkan bagi pencapaian Pandangan Kebahagiaan [Beatific Vision] menurut keperluan intrinsik [intrinsic necessity], dan tidak sekedar oleh alasan peng-institusi-an ilahi.

Terlebih, Kantor Kudus juga bersikeras atas perlunya iman yang adikodrati [supernatural] dan sejati pada setiap orang yang mendapatkan keselamatan abadi. Seorang manusia bisa [punya] ketidaktahuan yang tidak bisa diatasi [invincibly ignorance] akan Gereja Katolik, dan tetap diselamatkan oleh karena sebuah keinginan atau niatan implisit untuk masuk dan hidup kedalam masyarakat tersebut. Tapi kalau dia selamat, dia mendapatkan Pandangan Kebahagiaan [Beatific Vision] sebagai orang yang telah mati dengan iman adikodrati [supernatural] yang asli. Dia harus secara aktual dan secara eksplisit menerima beberapa kebenaran definitif tertentu yang telah diwahyukan secara adikodrati [supernatural] oleh Allah. Dia harus menerima secara eksplisit dan tepat sebagai kebenaran yang diwahyukan eksistensi Allah sebagai Kepala dari tatanan adikodrati [supernatural] dan fakta bahwa Allah mengganjar yang baik dan menghukum kejahatan. Surat kita [ie. surat dari Kantor Kudus] secara jelas menyinggung dengan singkat akan perlunya [hal tersebut] ketika surat itu mengutip, dalam mendukung ajaran [yang dibawanya] mengenai perlunya iman adikodrati [supernatural] dalam semua yang terselamatkan, kata-kata dari Surat kepada umat Ibrani: “Karena dia yang datang kepada Allah harus mempercayai bahwa Allah itu ada dan [Dia] adalah pengganjar [hadiah] bagi mereka yang mencariNya.”[10]

Sekarang banyak teolog yang mengajarkan bahwa kandungan eksplisit minimum dari iman yang adikodrati [supernatural] dan menyelamatkan termasuk, tidak hanya kebenaran akan eksistensi Allah dan tindakanNya sebagai Pengganjar yang baik dan Penghukum yang jahat, tapi juga misteri Trinitas dan Inkarnasi. Harus dicatat bahwa pada titik ini tidak ada petunjuk niatan apapun dari Kantor Kudus, dalam mengutip teks dari Surat kepada umat Ibrani ini, untuk mengajarkan bahwa kepercayaan eksplisit dalam misteri Trinitas dan Inkarnasi tidak dipersyaratkan bagi pencapaian keselamatan. Dalam konteks surat tersebut, Kongregasi Suci mengutip ayat [dari Surat kepada umat Ibrani] tepatnya sebagai bukti dari pernyataannya bahwa sebuah keinginan yang implisit akan Gereja tidak dapat menghasilkan efek tersebut [ie. efek masuk kedalam Gereja] “kecuali seseorang mempunyai iman yang adikodrati [supernatural].”

Namun, ajaran dari surat tersebut harus dilihat [dalam terang] ajaran Katolik lainnya. Dan adalah benar-benar merupakan bagian dari ajaran Katolik bahwa kebenaran-kebenaran terwahyukan yang mendasar harus diterima dan dipercayai secara eksplisit, meskipun ajaran-ajaran lain yang terkandung dalam deposito iman boleh, dalam keadaan tertentu dipercayai hanya dengan iman implisit. Iman yang sejati dan adikodrati [supernatural], harus kita ingat, bukanlah sekedar kesiapan untuk mempercayai, tapi sebuah kepercayaan aktual, penerimaan aktual atas ajaran-ajaran definitif yang secara aktual telah diwahyukan secara adikodrati [supernatural] oleh Allah kepada manusia, sebagai sesuatu yang benar.[11] Terlebih, iman yang adikodrati [supernatural] dan menyelamatkan ini adalah sebuah penerimaan atas ajaran-ajaran ini, bukan sebagai ajaran yang dapat dipastikan secara kodrati [natural], tapi justru karena [ajaran tersebut adalah] pernyataan yang diwahyukan, yang harus diterima atas otoritas Allah yang telah mewahyukannya kepada manusia.

Porsi doktrinal dari surat Kantor Kudus diakhiri dengan deklarasi bahwa, dalam terang apa yang diajarkan dokumen itu sendiri, “sudahlah terbukti bahwa hal-hal yang diajukan dalam [terbitan] periodik ‘from the Housetops,’ fascicle 3, sebagai ajaran Gereja Katolik yang asli adalah jauh dari itu [ie. jauh dari ajaran Gereja Katolik asli] dan merupakan sesuatu yang sangat merusak baik kepada mereka yang berada dalam Gereja dan mereka diluarnya.” Terbitan dari from the Housetops yang disebut oleh Surat [Kantor Kudus] mengandung hanya satu artikel, ditulis oleh Tn. Raymond Karam dari kelompok Pusat St. Benediktus, dan berjudul “Tanggapan kepada seorang Liberal.”

Kesalahan yang paling penting yang terkandung dari artikel itu adalah pengingkaran akan kemungkinan keselamatan bagi setiap orang yang hanya mempunyai keinginan implisit untuk masuk Gereja Katolik. Juga ada ajaran buruk mengenai persyaratan bagi justifikasi, yang terbedakan dari persyaratan bagi keselamatan. Kesalahan yang pertama [ie. kesalahan artikel periodik From the Housetops yang membedakan antara persyaratan mengenai justifikasi dan persyaratan mengenai keselamatan] telah diindikasikan dalam terbitan sebelumnya dari The American Ecclesiastical Review.[12]

Surat Kantor Kudus sejauh ini adalah pernyataan otoritatif yang paling komplit mengenai perlunya Gereja bagi keselamatan dan [atas penjelasan dari ajaran tersebut] yang pernah dikeluarkan tahta Suci sampai saat ini. Sejumlah besar dokumen dahulu kala telah meneguhkan dogma tersebut. Ensiklik Mystici Corporis menunjukkan dengan jelas bahwa penjelasan dari ajaran ini melibatkan sebuah pengakuan akan fakta bahwa keselamatan adalah mungkin bagi manusia-manusia “yang berhubungan kepada Tubuh Mistik sang Penebus oleh suatu kerinduan dan keinginan bawah sadar,”[13] Ensiklik Humani Generis mengecam dengan keras mereka yang “mereduksi menjadi sebuah rumusan kosong perlunya berada dalam Gereja sejati untuk memperoleh keselamatan abadi.”[14]

Masihlah tetap bagi dokumen saat ini untuk menyatakan dan untuk mempergunakan pembedaan antara necessity of precept [ie. perlu sebagai aturan] dan necessity of means [ie. perlu sebagai sarana], untuk menjelaskan yang terakhir [ie. necessity of means] dalam artian berada dalam Gereja secara re dan secara voto, dan secara eksplisit membedakan antara niatan eksplisit dan implisit untuk memasuki Gereja. Karena [surat Kantor Kudus] tersebut telah melakukan hal-hal itu, dan karena surat itu telah menggabungkan ajaran mengenai perlunya Gereja dengan ajaran-ajaran akan perlunya iman dan [perlunya] kasih, surat Kantor Kudus akan berdiri sebagai salah satu pernyataan doktrinal yang otoritatif di jaman modern ini.

Joseph Clifford Fenton

The Catholic University of America

Washington, D.C.

Catatan Kaki: [tidak diterjemahkan]

[1] Some of these have been pointed out in The American Ecclesiastical Review, in the articles, “Extra Ecclesiam Nulla Salus,” CX, 4 (April , 1944), 300-06; “The Theological Proof for the Necessity of the Catholic Church,” CXVIII, 3, 4, 5 (March, April, May, 1948), 214-28; 290-305; 361-75; and “The Meaning of the Church’s Necessity for Salvation,” CXXIV, 2, 3, 4 (Feb., March, April, 1951), 124-43; 203-21; 290-302.

[2] The letter uses almost the exact formula employed by the Vatican Council in its constitution Dei FiliusDB, 1792. The text of the Holy Office letter is to be found in the October issue of AER, pp. 307-11. The official English translation is to be found on pp. 311-315.

[3] The Singulari quadam uses the formula “Tenendum quippe ex fide est, extra Apostolicam Romanum Ecclesiam salvum fieri neminem posse, hanc esse unicam salutis arcam, hanc qui non fuerit ingressus, diluvio periturum….” TheQuanto conficiamur moerore says, “Sed notissimum quoque est catholicum dogma, neminem scilicet extra Ecclesiam posse salvari….”

[4] The Humani generis was dated on Aug. 12, 1950. It was printed that same month. The Holy Office letter was dated Aug. 8, 1949. The full text was not printed until last fall.

[5] Interestingly, both the fact that the Church always teaches its revealed message, and the warning that the interpretation of this message belongs to the Church and not to private doctors are mentioned in the Testem benevolentiae. Cf. DB, 1967 f.

[6] Cf. Stapleton, Principiorum fidei doctrinalium demonstratio methodica(Paris, 1579), p. 314; St. Robert, De ecclesia militante, c. 3.

[7] AAS, XXXV (1943), 202.

[8] Ibid., 243.

[9] The Singulari quadam speaks of the teaching that “quavis in religione reperiri posse aeternae salutis viam” as an opinio impia et funesta. TheQuanto conficiamur moerore condemns as a gravissimus error the opinion that “in erroribus viventes et a vera fide atque a catholica unitate alienos ad aeternam vitam pervenire posse.” The citations are found in DB, 1646, and 1677.

[10] Heb. 11:6.

[11] Cf. the Vatican Council’s definition of faith, “virtutem esse supernaturalem, qua, Dei aspirante et adiuvante gratia, ab eo revelata vera esse credimus, non propter intrinsecam rerum veritatem naturali rationis lumine perspectam, sed propter auctoritatem ipsius Dei revelantis, qui nec falli nec fallere potest.” DB, 1789.

[12] Cf. “The Meaning of the Church’s necessity for salvation,” p. 141.

[13] Cf. AAS, XXXV (1943), 243.

[14] NCWC edition, p. 12.

sumber

%d blogger menyukai ini: