Indiferentisme : Kesesatan yang Dikutuk

“Indiferentisme” adalah kepercayaan bahwa tidak penting agama apapun yang dianut manusia, ia tetap bisa diselamatkan. Gereja telah mengutuk gagasan ini sebagai kesesatan dalam bahasa yang tegas, karena gagasan tersebut merupakan penyangkalan terhadap dogma Extra Ecclesiam Nulla Salus (Di luar Gereja tidak ada keselamatan). Berikut ini kutipan singkat dari Mirari Vos, oleh Paus Gregorius XVI (15 Agustus 1832), penakanan miring dan tebal berasal dari saya.

13. Sekarang kita memikirkan sumber kejahatan berlimpah yang menyusahkan Gereja sekarang : indiferentisme. Opini jahat yang tersebar luas di seluruh sisi oleh tipuan orang jahat yang mengklaim bahwa keselamatan kekal mungkin diperoleh  jiwa melalui pengakuan terhadap agama apapun, selama moralitas dipertahankan. Tentu, engkau dengan komitmenmu akan mendorong kesalahan yang mematikan ini jauh -jauh dari orang-orang yang kau pedulikan. Dengan peringatan rasul bahwa “ada satu Allah, satu iman, satu baptisan”[16], semoga mereka [merasa] takut, [mereka] yang merencanakan gagasan bahwa pelabuhan keselamatan yang aman terbuka bagi seseorang dengan agama apapun. Mereka harus memperhatikan kesaksian Kristus sendiri bahwa “mereka yang tidak bersama Kristus berarti menentang Ia”[17] dan bahwa mereka memisahkan secara tidak bahagia mereka yang tidak berkumpul dengan-Nya. Karenanya “tanpa keraguan, mereka akan binasa selamanya, kecuali mereka memegang iman katolik yang menyeluruh dan suci” [18] Biarkan mereka mendengarkan Jerome yang mengatakan pada kita ketika Gereja terbelah menjadi tiga karena skisma, “Ia yang berada untuk tahta Petrus berada untukku”[19]. Seorang skismatik merayu dirinya sendiri dengan keliru ketika ia menyatakan bahwa ia juga telah dibasuh dalam air regenerasi. Agustinus akan menjawab kepada manusia tersebut :”Ranting memiliki bentuk yang sama ketika ia dipisahkan dari pokok anggur, tapi apa yang menguntungkan bagi ranting tersebut, bila ia tidak hidup dari akar?”[20] 

14. Wadah indiferentisme yang memalukan ini muncul dari proposisi yang tidak masuk akal dan keliru bahwa kebebasan suara hati harus dipertahankan bagi setiap orang. Ia menyebarkan kehancuran dalam urusan sipil dan suci, walaupun beberapa orang semakin mengulangi dengan ketidaksopanan yang besar bahwa suatu keuntungan bertambah bagi agama darinya. “Tapi kematian jiwa lebih buruk daripada kebebasan dari kesalahan”, seperti yang tidak akan dikatakan olehAgustinus[21], Ketika semua penghalang dihapus yang melaluinya manusia dijaga di jalan kebenaran yang sempit, kodrat mereka, yang cenderung kepada hal yang jahat, mendorong mereka kepada kehancuran. Maka “lubang yang tak berdasar” sungguh terbuka, saat Yohanes melihat asap muncul untuk mengaburkan matahari, dan keluar  jenis tanaman yang menghancurkan bumi. Karenanya muncul tranformasi pikiran, korupsi pada orang-orang muda, hinaan pada hukum dan hal-hal yang kudus dan suci – di lain kata, wabah yang lebih mematikan bagi sebuah situasi daripada yang lain. Pengalaman menunjukkan dari masa paling awal, bahwa kota-kota yang terkenal karena kekayaan, kekuasaan, dan kemuliaan musnah sebagai akibat dari kejahatan tunggal, yaitu kebebasan berpendapat yang di luar batas, izin untuk berbicara secara bebas, dan keinginan untuk hal-hal baru. 

13. Now We consider another abundant source of the evils with which the Church is afflicted at present:indifferentism. This perverse opinion is spread on all sides by the fraud of the wicked who claim that it is possible to obtain the eternal salvation of the soul by the profession of any kind of religion, as long as morality is maintained. Surely, in so clear a matter, you will drive this deadly error far from the people committed to your care. With the admonition of the apostle that “there is one God, one faith, one baptism”[16] may those fear who contrive the notion that the safe harbor of salvation is open to persons of any religion whatever. They should consider the testimony of Christ Himself that “those who are not with Christ are against Him,”[17] and that they disperse unhappily who do not gather with Him. Therefore “without a doubt, they will perish forever, unless they hold the Catholic faith whole and inviolate.”[18] Let them hear Jerome who, while the Church was torn into three parts by schism, tells us that whenever someone tried to persuade him to join his group he always exclaimed: “He who is for the See of Peter is for me.”[19] A schismatic flatters himself falsely if he asserts that he, too, has been washed in the waters of regeneration. Indeed Augustine would reply to such a man: “The branch has the same form when it has been cut off from the vine; but of what profit for it is the form, if it does not live from the root?”[20]

14. This shameful font of indifferentism gives rise to that absurd and erroneous proposition which claims that liberty of conscience must be maintained for everyone. It spreads ruin in sacred and civil affairs, though some repeat over and over again with the greatest impudence that some advantage accrues to religion from it. “But the death of the soul is worse than freedom of error,” as Augustine was wont to say.[21] When all restraints are removed by which men are kept on the narrow path of truth, their nature, which is already inclined to evil, propels them to ruin. Then truly “the bottomless pit”[22] is open from which John saw smoke ascending which obscured the sun, and out of which locusts flew forth to devastate the earth. Thence comes transformation of minds, corruption of youths, contempt of sacred things and holy laws — in other words, a pestilence more deadly to the state than any other. Experience shows, even from earliest times, that cities renowned for wealth, dominion, and glory perished as a result of this single evil, namely immoderate freedom of opinion, license of free speech, and desire for novelty.

— Paus Gregorius XVI, Mirari Vos

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: