Ringkasan Pesan Pra Paskah 2012 Dari Paus Benediktus XVI

Paus Benediktus XVI di ruang kerjanya

Refleksi Ratzinger datang dari perikop surat kepada jemaat Ibrani: “Marilah kita saling memperhatikan satu sama lain, saling mendorong dalam kasih dan dalam perbuatan baik.” [Ibr 10:24]

Bagi Bapa Paus, “saling memperhatikan” juga berarti tidak diam begitu saja didepan kejahatan dan dosa, menegur pendosa dan memanggil mereka untuk mempertanggung jawabkan tindakan mereka.

Praktek ini telah mempunyai nama khusus didalam tradisi Kekristenan, yang sekarang hampir dilupakan, yaitu: “koreksi fraternal dalam pandangan keselamatan abadi”. [Mat 18:15 ]

“Hari ini – tulis Paus- kita biasanya sangat sensitif ketika berbicara tentang kepedulian dan kasih untuk  barang fisik dan materi untuk sesama, tetapi kita hampir dengan sepenuhnya diam pada tanggung jawab spiritual terhadap saudara-saudara kita.” Di dalam Gereja, bagaimanapun juga, hal ini tidak boleh terjadi seperti ini: sejak jaman dulu, dan hingga sekarang, “di dalam komunitas yang telah dewasa dalam iman,” “kesehatan tubuh saudara bukanlah semua yang kita terima kedalam hati, tetapi juga jiwanya demi tujuan akhirnya nanti.”

“Di dalam dunia kita yang dimasuki individualisme – Paus Benediktus XVI menyatakan – hal ini perlu untuk menemukan pentingnya koreksi fraternal, untuk berjalan bersama menuju kekudusan” dan mencegah bahaya dari “kehilangan kesadaran spiritual”

Di dalam pesannya, Paus kemudian memanggil semua orang untuk “tidak diam didepan kejahatan,” meskipun ada mentalitas yang mendominasi masyarakat pada saat ini, yang menurunkan kehidupan menjadi dimensi keduniawian semata dan oleh karena itu “menerima semua pilihan moral dalam nama kebebasan individu.”

Tentu saja, ia memperingatkan, kepada mereka yang percaya, “menegur pendosa” adalah bagian dari perbuatan “pengampunan spiritual” dan Orang Kristen harus tidak boleh, “demi mengormati manusia atau demi kenyamanan,” menyesuaikan kepada “pemikiran umum” dan berhenti “memperingatkan saudaranya melawan cara berpikir dan bertindak yang berkontradiksi pada kebenaran dan tidak menggikuti jalan kecil dari kebaikan.”

Bagaimanapun, Benediktus XVI menunjukkan, cara pendekatan yang Kristiani adalah “tidak dimotivasi oleh semangat mengutuk atau tuduh menuduh; tapi selalu dimotivasi oleh cinta dan pengampunan, dan muncul dari kepedulian yang otentik demi kesejahteraan saudaranya.”

“Keberadaan kita – kata Paus dalam kesimpulannya – berhubungan dengan orang lain, baik didalam kebaikan dan kejahatan”, dan oleh karena itu ” dosa dan perbuatan kasih juga memilliki dimensi sosial.” Inilah kenapa kita harus “penuh perhatian kepada satu sama lain” dan “tidak menunjukkan diri kita yang jauh, acuh tak acuh terhadap saudaranya” sementara sekarang “sikap yang berlaku adalah yang berlawanan: acuh tak acuh dan tidak tertarik yang  timbul dari keegoisan, ditutupi oleh topeng rasa hormat terhadap privasi.”

sumber

One comment

  1. kami akan mendoakan paus benediktus vxl
    amin

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: