Hukum Karunia: Memahami Dua Sisi Cinta

Tulisan ini merupakan ringkasan dari artikel berseri yang didasarkan pada buku Men, Women and The Mystery of Love. Penulis aslinya, Edward P. Sri memberikan berbagai pemahaman yang mendalam tentang hubungan pria-wanita seperti yang terdapat pada buku Love and Responsibility yang ditulis oleh beato Yohanes Paulus II. Saya akan merangkum tulisan berseri tersebut dalam bahasa Indonesia. Artikel aslinya bisa dilihat disini.

Bagaimana seseorang mengetahui bila ia berada dalam hubungan yang autentik, cinta yang berkomitmen atau sekedar kisah cinta yang mengecewakan yang tidak akan bertahan bila diuji oleh waktu?

Pertanyaan diatas merupakan topik bahasan dalam salah satu bagian bukunya, Love and Responsibility, ketika ia membahas dua sisi cinta.

Terdapat dua sisi cinta, dan pemahaman tentang perbedaannya sangat penting untuk setiap pernikahan, pertunangan, ataupun hubungan berpacaran.

Ketika pria bertemu wanita, ia mengalami sejumlah perasaan yang kuat dan keinginan didalam hatinya. Ia bisa saja tertarik secara fisik terhadap keindahan tubuhnya atau secara konstan berpikir tentang wanita itu dalam ketertarikan emosional. Dinamika keinginan sensual batin ini (sensualitas) dan cinta emosional (sentimentalitas), sebagian besar membentuk interaksi antara pria dan wanita, dan inilah yang membuat kisah cinta, khususnya pada tahap awal, begitu bergelora bagi pasangan yang terlibat. Wojtyla menyebut sisi pertama dari cinta ini sebagai sisi atau aspek subjektif.

Aspek subjektif ini tidak bisa disamakan dengan cinta dalam pengertian yang utuh. Kita tahu bahwa kita bisa mengalami emosi yang kuat dan keinginan pada pribadi lain dalam cara tertentu tanpa percaya padanya ataupunsebaliknya dalam sebuah hubungan cinta. Oleh karena itulah, seberapa besar sensasi ini dirasakan, sensasi tersebut bukanlah cinta melainkan sebuah “situasi psikologis.” Di lain kata, aspek subjektif ini tidak lain adalah pengalaman yang menyenangkan yang terjadi didalam diri seseorang.

Emosi dan keinginan tidaklah buruk, bahkan bisa berkembang menjadi cinta dan memperkaya cinta, tapi kita tidak boleh melihat hal tersebut sebagai tanda cinta yang autentik, tanda yang tidak bisa salah.

“Cinta berkembang atas dasar komitmen total dan sikap bertanggung jawab penuh dari pribadi kepada pribadi lain”

“Perasaan romantis (romantic feeling) secara spontan lahir dari reaksi sensual dan emosional. Pertumbuhan yang cepat dan kaya dari sensasi [emosional dan sensual] bisa menyembunyikan sebuah cinta yang gagal untuk berkembang” (hal. 145)

Terdapat sisi cinta yang lain yang secara absolut penting bagi hubungan pria-wanita, tidak peduli betapa kuatnya emosi dan keinginan yang ada. Inilah yang disebut aspek objektif dari cinta.

Aspek ini memiliki sejumlah karakteristik yang melampaui perasaan senang yang dirasakan pada tingkat subjektif. Cinta yang sejati melibatkan kebajikan (virtue), persahabatan, dan pengejaran kebaikan bersama. Contohnya, suami istri menyatukan diri mereka dalam tujuan bersama untuk saling membantu menumbuhkan kekudusan, memperdalam persatuan mereka, dan membesarkan anak-anak. Mereka tidak hanya berbagi tujuan bersama ini, melainkan memiliki kebajikan untuk saling membantu satu sama lain agar tujuan bersama tersebut bisa dicapai.

Inilah alasannya mengapa aspek objektif dari cinta itu lebih dari sekedar melihat ke dalam emosi dan keinginan kita. Ia lebih dari sekedar kenikmatan yang diterima dalam hubungan. Ketika mempertimbangkan aspek objektif cinta, kita harus membedakan jenis hubungan apa yang ada antara saya dan kekasihku dalam realitas, bukan apa makna hubungan ini bagiku dalam perasaanku.

Apakah ia sungguh mencintaiku apa adanya atau ia mencintaiku karena ia mendapatkan kenikmatan dari hubungan ini? Apakah suamiku sungguh memahami apa yang terbaik bagi diriku, dan apakah istriku memiliki kebajikan untuk membantuku mencapai tujuan bersama? Apakah kami secara mendalam disatukan oleh tujuan bersama, saling melayani satu sama lain dan berjuang bersama menuju kebaikan bersama yang lebih tinggi daripada kami? Ataukah kami hanya hidup berdampingan, saling berbagi waktu bersama sementara tiap dari kami dengan egois mengejar rencana-rencana dan interest sendiri-sendiri dalam hidup? Ini adalah pertanyaan tentang aspek objektif cinta.

Sekarang kita bisa memahami mengapa Wojtyla berkata bahwa cinta yang sejati adalah “fakta interpersonal” dan bukan sekedar “situasi psikologis”. Hubungan yang erat didasarkan pada kebajikan dan persahabatan, bukan pada perasaan baik yang kita terima dan banyaknya waktu yang dihabiskan bersama.

“Cinta sebagai pengalaman harus ditundukkan pada cinta sebagai kebajikan – tanpa cinta sebagai kebajikan, tidak akan ada kepebuhan dalam pengalaman cinta” (hal. 120)

Cinta yang Memberikan Diri

Tanda utama dari aspek objektif cinta adalah hadiah diri atau pemberian diri (the gift of self). Menurut Wojtyla, yang membedakan betrothed love dari bentuk cinta yang lain (ketertarikan, keinginan, persahabatan) adalah bahwa dua pribadi “memberikan diri mereka” untuk satu sama lain. Mereka tidak hanya tertarik dan menginginkan kebaikan untuk satu sama lain. Pada betrothed love, tiap pribadi menyerahkan diri seutuhnya kepada pribadi lain. “Ketika betrothed love masuk ke dalam hubungan interpersonal, sesuatu yang melebihi persahabatan terjadi : dua orang memberikan diri satu sama lain” (hal. 96)

Tapi apa maksudnya seorang pribadi memberikan dirinya bagi yang lain? Bagaimana ini bisa dilakukan? Wojtyla mengajarkan bahwa tiap pribadi unik dan memiliki pikiran dan kehendak bebasnya sendiri. Tidak ada orang lain yang bisa berpikir dan memilih untukku. Karenanya, tiap pribadi “adalah tuannya sendiri” dan tidak bisa untuk diberikan pada yang lain. Jadi dalam arti apa seorang pribadi “memberikan diri” pada kekasihnya?

Pada tingkat natural dan fisik, tidak mungkin seseorang bisa memberikan diri bagi yang lain, namun dalam keteraturan cinta (the order of love), seorang pribadi bisa melakukannya dengan memilih untuk membatasi kebebasannya dan menyatukan kehendaknya kepada pribadi yang ia cintai. Karena cintanya, seorang pribadi bisa sungguh menyerahkan kehendak bebasnya dan mengikatknya dengan prbadi lain.

“Cinta membuat seorang pribadi hanya ingin melakukannya – menyerahkan dirinya bagi yang lain, kepada orang yang ia cintai”

Kebebasan untuk Mencintai

Sebagai contoh, mari kita melihat apa yang terjadi ketika pria single telah menikah. Sebagai pria single, Budi sanggup untuk memutuskan apa yang ingin dilakukannya, kapan akan melakukannya, bagaimana hal itu dilakukan. Ia mengatur sendiri jadwalnya. Ia memutuskan dimana ia tinggal. Ia bisa keluar dari pekerjaannya dan pindah ke bagian negara lain sesuai keinginannya. Ia bisa menghabiskan uang sesukanya. Intinya, ia bisa melakukan apa saja sesuai keinginannya.

Pernikahan akan mengubah kehidupan Budi itu. Tidak semua keputusan yang ia ambil akan disetujui oleh istrinya. Karena ia telah menikah, semua keputusan yang diambil harus dibuat dalam persatuan dengan istrinya, dengan melihat  apa yang terbaik bagi pernikahan dan keluarga mereka.

Dalam cinta yang memberikan diri, seorang pria mengenali dengan cara yang mendalam, bahwa hidupnya bukan miliknya saja. Ia telah menyerahkan kehendaknya kepada kekasihnya. Rencananya, impiannya, dan preferensinya tidak seluruhnya diabaikan, tapi diletakkan dalam perspektif baru. Semua itu ditundukkan pada kebaikan istri dan anak-anaknya. Keluarga menjadi alasan utama untuk semua yang ia lakukan.

Inilah keindahan cinta yang memberikan diri, dimana Budi dengan bebas memutukskan untuk membatasi kebebasannya, dengan mempercayakan atau mengkomitmenkan dirinya kepada istri dan kebaikannya.

Banyak pernikahan yang akan menjadi lebih kuat bila kita memahami dan mengingat cinta yang memberikan diri. Kita harus mengingat ketika kita mengatakan janji pernikahan, kita dengan bebas memilih untuk menyerahkan – kita, dengan kasih, ingin menyerahkan – kehendak kita demi kebaikan kekasih dan anak-anak kita.

Hukum Karunia/Hadiah

Inilah misteri cinta yang memberikan diri : ketika seseorang menyerahkan otonominya pada kekasihnya,dengan menyatukan dirinya pada kekasihnya, hidupnya menjadi diperkaya. Inilah yang dimaksud hukum pemberian diri : “Seseorang keluar dari dirinya untuk menemukan keberadaan yang lebih penuh dalam pribadi yang lain” (hal 126)

Dari sudut pandang Kristen, hidup bukanlah tentang “melakukan apa yang kuinginkan”. Hidup adalah tentang hubunganku – tentang memenuhi hubunganku dengan Allah dan dengan orang-orang yang Allah tempatkan dalam hidupku. Disinilah kita menemukan pemenuhan dalam kehidupan : dalam menghidupi hubungan kita juga. Untuk melakukan ini, kita harus berkorban, menyerahkan kehendak kita untuk melayani kebaikan bagi orang lain. Inilah alasannya mengapa kita menemukan kebahagiaan yang mendalam ketika kita memberikan diri dengan cara ini, karena kita hidup dengan cara seperti Allah sendiri hidup : dalam pemberian diri yang total, cinta yang berkomitmen.

“Manusia menemukan diri hanya ketika ia menjadikan dirinya sebagai hadiah/pemberian yang tulus bagi yang lain” (Gaudium et Spes, no. 24).

Pernyataan diatas sangan tepat ditujukan untuk pernikahan, dimana cinta yang memberikan diri antara dua pribadi terjadi dengan sangat bermakna.

Kita memang membatasi kebebasan kita “melakukan apapun yang diinginkan” ketika kita memberi diri kita dalam betrothed love. Tapi pada saat yang sama kita membuka diri pada kebebasan yang lebih besar : kebebasan untuk mencintai, seperti yang dijelaskan Wojtyla :

“Cinta terdiri dari komitmen yang membatasi kebebasan seseorang – ia adalah pemberian diri, dan memberikan diri berarti membatasi kebebasan demi kepentingan yang lain. Batasan terhadap kebebasan seseorang dapat dilihat sebagai sesuatu yang negatif dan tidak menyenangkan, tapi cinta menjadikannya hal yang positif, bersukacita dan kreatif. Kebebasan ada demi cinta” (hal. 135)

Jadi, orang Kristen melihat pembatasan kebebasan sebagai sesuatu yang membebaskan. Apa yang sungguh ingin kulakukan dalam hidup adalah mencintai Allahku, istriku dan anak-anakku, tetanggaku, dan secara total berkomitmen atau mendedikasikan diri terhadap mereka – karena dalam hubungan inilah aku menemukan kebahagiaan. Aku harus bebas dari keinginan egois yang mengatur hidupku dan rumah tanggaku. Aku harus bebas dari tirani “melakukan apa yang Aku inginkan”. Dengan demikian aku bebas untuk hidup sesuai dengan cara Allah yang menciptakanku. Dengan demikian, aku bebas untuk bahagia. Inilah yang membuatku bebas untuk mencintai.

Sumber.

Next : Cinta dan…Tanggung Jawab?

4 komentar

  1. lembayung · · Balas

    terima kasih untuk artikelnya. Mengingatkan sesuatu yang hakiki walaupun sulit untuk dilakukan.

  2. Agustinus Aditya · · Balas

    Dear Admin,

    Terima kasih atas arikelnya. Sungguh menginsipirasi kami yang sedang membina kehidupan berkeluarga. Jadi teringat Janji Pernikahan. :)

    Salam dan doa.

  3. Lisa sanbein · · Balas

    Sngat bgus untk mbngun kualitas hdup pnuh cinta dan kebebasan hdup yg sesungguhnya.,,good luck 4 us, buat smua memhami n mlalukanx.GB ;)

  4. Shalom Admin,

    Terima kasih atas artikelnya yang memberikan inspirasi hidup yang kaya dalam hubungan cinta kasih, antara pribadi dengan Allah, dan antara pribadi yang satu dengan yang lain.

    Semoga tetap berkarya demi kemuliaan Tuhan. Amin

    Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
    Anri

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: