Dibalik Dorongan Seksual

Tulisan ini merupakan ringkasan dari artikel berseri yang didasarkan pada buku Men, Women and The Mystery of Love. Penulis artikel ini, Edward P. Sri, memberikan berbagai pemahaman yang mendalam tentang hubungan pria-wanita seperti yang terdapat pada buku Love and Responsibility yang ditulis oleh beato Yohanes Paulus II. Saya akan merangkum tulisan berseri tersebut dalam bahasa Indonesia. Artikel aslinya bisa dilihat disini.

Mereka yang menyetujui prinsip utilitarianisme berargumen bahwa selagi kedua belah pihak memberikan persetujuan mereka dalam melakukan hubungan seksual, maka hal tersebut sah-sah saja dilakukan. Tidak ada yang salah dalam memanfaatkan orang lain bila keduanya sudah saling sepakat dan sama-sama memperoleh kesenangan dari tindakan tersebut.

Paus Yohanes Paulus II menunjukkan kesalahan ini :”Ketika seseorang tidak lagi memberikan keuntungan satu sama lain, tidak ada apapun yang tertinggal dalam harmoni. Tidak ada lagi cinta diantara mereka”

Seperti Prostitusi

Bayangkan bila ada pebisnis yang tiap minggunya melakukan hubungan seksual dengan seorang pekerja seks . Pria tersebut menginginkan kesenangan seksual yang didapat dari sang wanita, sedangkan si wanita menginginkan uang yang dimiliki oleh pebisnis tersebut. Masing-masing mendapatkan apa yang diinginkan, dan keinginan tiap orang terpenuhi.

Namun apa yang terjadi bila keduanya tidak lagi memberikan keuntungan satu sama lain?

Jika si pekerja seks  bisa mendapatkan uang lebih banyak dari pria lain, maka ia akan meninggalkan pebisnis tersebut. Sedangkan bagi si pria, bila ia bisa mendapatkan kesenangan seksual dari wanita yang lebih muda dan atraktif, maka ia akan meninggalkan pekerja seks tersebut.

Ini mungkin contoh yang ekstrim, tapi berapa banyak hubungan pria-wanita yang tidak lebih baik daripada ini? Berapa banyak hubungan yang didasarkan pada keuntungan atau kesenangan yang bersifat timbal balik daripada hubungan yang didasarkan cinta yang berkomitmen dan persatuan pribadi yang sejati? Contohnya, berapa banyak wanita yang memberikan keperawanan mereka dan tidur dengan pria demi memperoleh rasa aman yang sifatnya emosional, atau karena rasa takut akan diputus hubungannya oleh si pria? Berapa banyak pria yang tidur dengan wanita hanya untuk memperoleh kesenangan fisik dari hubungan tersebut? Hal ini bukanlah hubungan cinta yang autentik dalam persatuan antar pribadi. Melainkan ini adalah bentuk-bentuk pemanfaatan timbal balik yang secara sosial diterima – mirip seperti prostitusi.

Rasa Tidak Aman, Bukan Cinta

Hubungan utilitarian melahirkan rasa takut dan tidak aman bagi salah satu atau kedua pihak. Tandanya adalah ketika seseorang mulai kesulitan untuk mengatakan masalah dalam hubungan mereka kepada orang yang dicintainya.

Satu alasan mengapa pasangan tidak berani berkonfrontasi satu sama lain adalah bahwa mereka tahu bahwa tidak ada dasar bagi hubungan tersebut agar tetap bertahan – selain kesenangan atau keuntungan yang bersifat timbal balik. Seseorang merasa takut bila hubungan menjadi menantang, sulit, menuntut pihak lain, maka orang lain tersebut akan pergi. Cara untuk mempertahankan hal ini adalah dengan berpura-pura bahwa apa yang terjadi tidaklah seburuk seperti  yang terlihat.

“Karenanya cinta dipahami semata-mata adalah kepura-puraan yang nyata yang harus ditumbuhkan dengan hati-hati untuk menjaga realitas yang tersembunyi : realitas egoisme, dan ketamakan dari egoisme itu, mengeksploitasi orang lain untuk memperoleh bagi dirinya sendiri “kesenagan tertinggi” (hal. 39)

Paus menunjukkan bagaimana hubungan ini kadang mengijinkan diri mereka untuk digunakan oleh orang lain untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan dari sebuah hubungan :”Tiap orang terutama peduli terhadap memuaskan egoismenya sendiri, tapi pada saat yang sama setuju untuk melayani egoisme orang lain, karena hal ini bisa memberikan kesempatan untuk [memperoleh] kepuasan – selama hal ini dilakukan ”

Dorongan Seksual

Seksualitas adalah area dimana seseorang bisa memanfaatkan orang lain. Disini akan dibahas tentang dorongan seksual dalam diri manusia.

Dorongan seksual mewujudkan dirinya dalam kecenderungan manusia untuk mencari manusia lain yang berbeda jenis kelaminnya. Dorongan seksual mengarahkan manusia kepada karakteristik fisik dan psikologis wanita – tubuhnya, feminitasnya – yang merupakan atribut yang melengkapi bagi pria, begitu juga sebaliknya. Oleh karena itu, dorongan seksual dialami sebagai ketertarikan badani dan emosional kepada orang lain.

Namun dorongan seksual bukanlah ketertarikan terhadap kualitas fisik atau psikologis dari lawan jenis secara abstrak, karena atribut ini hanya ada dalam manusia yang konkret. Contohnya, tidak ada pria yang tertarik dengan “rambut pirang” secara abstrak. Namun ia tertarik kepada wanita yang memiliki rambut pirang. Wania juga tidak tertarik pada “maskulinitas”sebagai konsep teoritis, tapi ia tertarik pada pria tertentu yang menunjukkan sifat-sifat maskulin seperti keberanian, kekuatan, ketegasan dan dan sikap ksatria.

Nah, karena dorongan seksual ini terutama diarahkan pada manusia, maka, dorongan seksual bukanlah sesuatu yang buruk. Dorongan seksual bisa memberikan kerangka bagi cinta yang autentik untuk berkembang.

Tapi dorongan seksual ini tidak bisa disamakan dengan cinta. Karena cinta melibatkan lebih dari reaksi emosional atau sensual secara spontan yang dihasilkan oleh dorongan seksual; cinta yang autentik mengharuskan tindakan kehendak diarahkan kepada kebaikan bagi orang lain. Dorongan seksual bisa memberikan “bahan mentah” yang darinya tindakan cinta dapat muncul – bila ini dibimbing oleh kesadaran tanggung jawab yang besar bagi orang lain.

Lebih Daripada Insting Binatang

Penting untuk diperhatikan bahwa dorongan seksual pada manusia ini tidak sama dengan insting seksual pada binatang. Insting seksual pada hewan menunjukkan refleks cara bertindak yang tidak bergantung pada pikiran sadar. Sedangkan manusia sanggup mengendalikan dorongan seksualnya, ia dapat memilih bagaimana untuk menggunakan dorongan seksual tersebut.

Seorang pria mungkin mengalami ketertarikan seksual terhadap wanita. Ia kadang-kadang mengalami ketertarikan ini sebagai sesuatu yang terjadi pada dirinya – sesuatu yang mulai terjadi dalam kehidupan sensual atau emosional tanpa inisiatif apapun darinya. Namun, ketertarikan ini bisa dan harus ditundukkan pada intelek (kemampuan berpikir/nalar) dan kehendaknya. Sementara ia tidak selalu bertanggung jawab terhadap apa yang terjadi secara spontan pada dirinya di arena ketertarikan seksual, ia bertanggung jawab tehadap apa yang dia putuskan untuk lakukan dalam menanggapi ketertarikan seksual ini.

Mencintai atau Memanfaatkan?

Budi bertemu Anita di tempat kerja dan dengan cepat tertarik terhadap kecantikan serta kepribadiannya yang menawan. Budi dapat memilih untuk bereaksi terhadap ketertarikan seksual ini dan melihatnya lebih dari sekedar tubuhnya atau feminitasnya. Dengan demikian ia melihat melebihi atribut yang dapat memberikan kesenangan, sehingga ia dapat melihat Anita sebagai seorang pribadi dan melakukan tindakan cinta yang tidak egois terhadap dirinya.

Di sisi lain, Budi dapat memilih untuk tetap berdiam pada kualitas fisik dan psikologis yang memberikan kesenangan baginya. Dengan memusatkan perhatian pada kecantikan dan kepribadiannya yang menawan, ia tidak bisa mencintai Anita sebagai seorang pribadi. Ia mungkin bersikap baik padanya, namun sikap tersebut dilakukan hanya untuk memperoleh kesenangan sensual atau emosional dari Anita.  Pada akhirnya Budi memanfaatkan Anita sebagai sumber untuk memperoleh kesenangan bagi dirinya.

Jika interaksi antara pria dan wanita hanya berhenti pada tingkat reaksi awal yang dihasilkan oleh dorongan seksual, maka hubungan tersebut tidak bisa berkembang menjadi persatuan antar pribadi.

Dengan mendasarkan perbuatan kita pada prinsip personalistik, kita seharusnya bisa menghindari perilaku yang memperlakukan orang lain sebagai objek untuk mencari kenikmatan sensual atau emosional. Kita juga seharusnya bertanya pada diri kita : Apa yang akan kita lakukan ketika mengalami ketertarikan seksual kepada orang tertentu yang berbeda jenis kelamin? Apa yang akan dilakukan oleh pria bila ia menyadari keindahan fisik seorang wanita? Apa yang akan dilakukan wanita ketika ia menemukan dirinya tertarik kepada seorang pria?

Pada momen penting ini, kita bisa memilih untuk fokus pada kesenangan sensual atau emosional yang kita terima dari tubuh atau maskulinitas atau feminitas pribadi lain. Dan bila melakukan ini, kita jatuh ke dalam utilitarianisme karena kita melihat pribadi sebagai objek untuk mencari kesenangan/kenikmatan semata. Atau, kita bisa berusaha untuk memupuk cinta yang autentik terhadap pribadi dengan mengarahkan perhatian kita pada seluruh pribadinya. Dengan melihat melampaui atribut fisik dan psikologis dan melihat pribadi lain sebagai pribadi yang aktual, kita membuka pintu paling tidak kepada kemungkinan untuk menghendaki yang baik bagi orang lain, seperti pada persahabatan yang saleh dan dalam melakukan tindakan kebaikan yang sungguh tidak egois – yang tidak bergantung pada banyaknya kesenangan yang kita terima dari sebuah hubungan.

Dengan pemahaman demikian, maka Paus Yohanes Paulus II mengingatkan kita bahwa interaksi dengan lawan jenis menuntut tanggung jawab besar. “Untuk alasan ini, perwujudan dorongan seksual dalam diri manusia harus dievaluasi dalam cinta, dan tiap tindakan apapun yang berasal darinya membentuk mata rantai dalam rantai tanggung jawab, tanggung jawab untuk cinta” (hal. 50)

Dalam artikel selanjutnya kita akan menjelajahi pemahaman Paus tentang bagaimana kita bisa mengarahkan perhatian kita kepada pribadi, bukan hanya kepada artibut seksual, untuk memeluk cinta yang autentik dan tanggung jawab bagi mereka yang berada di sekitar kita.

Sumber.

Next : Menghindari Ketertarikan (Attraction) yang Fatal

10 komentar

  1. Katarina Fransisca · · Balas

    Terima kasih atas tanggapan tulisan saya.

    Hubungan pria dan wanita sangat kompleks dan rumit. Tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata yang sederhana. Saya tidak dapat memberikan dasar-dasar literatur seperti saudara Subandri Simbolon dan saudara Cornelius.

    Saya tunggu artikel berikutnya. Salam

    1. “hubungan pria dan wanita sangat kompleks dan rumit”. Maaf kalo saya memberikan sedikit tanggapan tentang pernyataan ini. Pernyataan atau tesis seperti ini menurut saya dapat membuat orang menjadi pesimis atas hubungan pria dan wanita yang seharusnya indah. Tuhan bukan tanpa alasa menciptakan sepasang ini. Tuhan menjanjikan sebuah keindahan di dalamnya. Menurut saya, hubungan itu sebenarnya sangat sederhana. Kesederhadaan itu tentu saja hanya bisa dicapai melalui cara-cara yang sederhana. Artinya, hubungan itu harus dijalin dalam hidup sehari-hari. bukan tinggal dalam berjuta ekspektasi bahwa hubungan itu harus seperti ini atau itu tanpa sebuah tindakan “CINTA” …..cinta haruslah menjadii kata kerja, bukan kata benda..bukan defenisi tapi tindakan…jika demikian, hubungan akan indah…. I believe it..

  2. Jawaban yang cukup tepat Saudara Cornelius…

    Kasus yang disampaikan oleh saudari kita Fransiska ini memang sebenarnya sudah sangat jelas. Secara moral, dia masuk dalam ranah actus humanus. Si cowok melakukan dua kesalahan: 1)menyukai wanita karena fisik (jelas ini mengarah kepada Nafsu seksual dan dia lakukan secara bebas, mau dan mampu) 2) Melakukan hubungan seksual di luar pranikah (ini juga pasti dilakukan secara bebas, mau dan mampu). Karena masuk dalam ranah actus humanus, maka di HARUS mempertanggungjawabkan itu. Apa pun alasannya, dia HARUS, entah itu masalah ekonomi, tidak diijinkan, bahkan terpaksa “mencintai”.

    Mencintai sengaja saya buat dalam tanda kutip karena ide pokok adalah cinta. Secara jelas, si pria tidaklah melakukan suatu ungkapan cinta. TIndakannya hanyalah umbarann nafsu semata. Dia telah membungkus itu dengan kata cinta (mungkin orang akan mengatakan itu cinta monyet, atau apa pun).. Cinta dari dalam dirinya adalah baik. Tak ada yang negatif dari cinta.. karena kalau ada, itu bukan cinta lagi.. Ini jelas. Apa itu cinta? tidak ada defenisi yang lengkap. yang ada adalah, bagaimana mencintai agar cinta itu tetap menjadi cinta, bukan nafsu untuk menguasai, bukan gairah untuk mengelabui…tapi BAGAIMANA MENCINTAI AGAR CINTA ITU TETAP MENJADI CINTA. John D Caputo mengatakan, tidak ada sesuatu pun yang menjadi tolok ukur dari cinta. yang menjadi tolok ukurnya adalah cinta itu sendiri. Artinya apa? Cinta tidak boleh diukur dengan harta yang diberikan oleh lakilaki pada perempuan, orangtua kepada anaknya sehingga ketika sipemberi tidak bisa memberikan harta lagi, maka hilanglah cinta itu… tolok ukur dari cinta adalah cinta itu sendiri… maka disnilah kita akan mengalami apa yang disebut dengan Unconditional Love…. mungkin kah?? sangat mungkin… Yesus telah memberikan teladan yang sangat indah… Salam..

    1. Shalom Subandri Simbolon,

      Sebenarnya terdapat tolok ukur cinta. Beato Yohanes Paulus II mengatakan “The greater the feeling of responsibility for the person the more the true love there is” – Semakin besar perasaan bertanggung jawab bagi seorang pribadi, semakin besar adanya cinta yang sejati”

      Apa pemahaman beliau tentang True Love? Berikut ini sedikit kutipan yang bisa memberikan gambaran :

      “True love involves virtue, friendship, and the pursuit of a common good.” – Cinta yang sejati melibatkan kebajikan, persahabatan, dan pengejaran kebaikan bersama

      “[Real Love] is a virtue that involves sacrifice, responsibility, and a total commitment to the other person.” – Cinta yang nyata adalah kebajikan yang melibatkan pengorbanan, tanggung jawab, dan komitmen total terhadap pribadi yang lain

      Paus JP II menekankan pentingnya tanggung jawab bagi pasangan kita, dan ia juga mengatakan bahwa cinta tidaklah semata-mata emosional atau seksual saja. Ini akan menjadi topik bahasan dalam artikel selanjutnya.

      Itu saja sedikit komentar dari saya, semoga semakin menambah pemahaman kita pada diskusi ini.

      Salam,
      Cornelius

  3. Katarina Fransisca · · Balas

    Saya mau menanggapi sedikit, mungkin lebih bersifat pertanyaan.
    Dikatakan adalah salah apabila hubungan laki2 dan perempuan yang didasarkan pada ketertarikan fisik saja. Permasalahannya, apabila pasangan itu sudah melakukan hubungan badan dan “terpaksa” putus, apakah laki2 itu harus bertanggung jawab atas tindakan tersebut?

    Saya menggunakan tanda petik dikata terpaksa, dikarenakan ada satu situasi yang mengharuskan laki2 itu memutuskan hubungan tersebut. Laki2 belom bekerja dan keluarga tidak setuju dengan hubungan mereka yang mengakibatkan laki2 nya terpaksa mutusin yang perempuan. Laki2 ini tidak tahan dengan tekanan dari keluarga dan lingkungannya. Tanpa harus dijelaskan lebih detail, saya harap sudah cukup memberikan gambaran tentang situasi ini.

    Yang menjadi pertanyaan adalah: (seperti yg sudah saya tulis diatas)
    * Apakah laki2 itu harus bertanggung jawab atas hubungan badan yang sudah mereka lakukan? Sementara perempuannya tidak bisa berbuat apa2, cuma mengemis dan mengemis.

    Bisa tolong berikan masukannya? Terima kasih sebelumnya. GBU

    1. Shalom Katarina Fransisca,

      Sejujurnya sangat sulit untuk memberikan masukan terhadap contoh yang anda berikan, karena deskripsi yang kurang detail dan terlalu umum sehingga saya sendiri mungkin tidak akan bisa memberikan jawaban yang memuaskan. Terlebih, saya sendiri bukanlah ahli dalam hal-hal seputar masalah yang berhubungan dengan pernikahan dan keluarga. Namun sekiranya saya mencoba untuk memberikan beberapa hal yang mungkin bisa berguna :

      1.Dikatakan bahwa pasangan ini sudah melakukan hubungan badan namun “terpaksa” putus. Lalu apakah si pria harus bertanggung jawab? Pria tersebut harus bertanggung jawab apabila si wanita ternyata hamil. Namun seperti apakah bentuk tanggung jawab yang harus dilakukan? Ini agak sulit dijawab.

      2.Satu hal yang pasti adalah baik pria dan wanita tidak boleh melakukan aborsi terhadap anaknya. Tidaklah bijaksana bahkan termasuk dosa berat apabila membunuh anak tak berdosa yang dikandung dalam rahim.

      3.Bentuk pertanggung jawaban untuk menikah juga sulit, dikarenakan adanya ketidaksiapan secara ekonomi (si pria belum bekerja) dan mungkin secara mental. Selain itu, tidak adanya dukungan dari pihak keluarga juga akan sulit bagi si pria bila ia ingin menikahi wanita itu jika si wanita tersebut hamil. Namun apabila si pria benar-benar mencintai wanita ini dan siap untuk bertanggung jawab secara financial, sosial dan mental, maka tidak ada salahnya untuk mencoba membicarakan hal tersebut kepada masing-masing keluarga.

      4.Namun bila si pria tidaklah sungguh mencintai wanita tersebut, dan mungkin hubungan mereka bukanlah suatu hubungan yang baik dan si pria hanya memanfaatkan wanita saja, maka menurut saya pernikahan bukanlah bentuk tanggung jawab yang perlu dilakukan, karena toh untuk mewujudkan pernikahan dengan dasar yang kuat juga tidak mudah dan ada banyak hal yang perlu dipersiapkan. Memaksa pria untuk menikah hanya demi menjaga nama baik keluarga dan anak, menurut saya, bukanlah suatu hal yang bijaksana dan mungkin kondisi yang lebih buruk bisa terjadi setelah pernikahan. Semoga saja ada pria lain yang bisa menerima kondisi wanita tersebut apa adanya dan bersedia untuk mencintainya secara tulus

      5.Baik pria dan wanita harus diberitahu akan seriusnya kesalahan yang mereka lakukan (yaitu hubungan seks di luar nikah). Mereka tidak boleh mengulangi kesalahan ini dan harus mengupayakan kemurnian di luar pernikahan (Silakan baca artikel ini : Kemurnian Diluar Perkawinan http://katolisitas.org/2010/11/01/kemurnian-di-luar-perkawinan/).

      Ada baiknya juga bila mereka mengaku dosa kepada imam, karena bila mereka sudah terlanjur berhubungan badan namun si wanita tidak hamil, mereka telah melakukan dosa yang melawan kemurnian. Menyesali dosa yang dilakukan, niat untuk bertobat, keberanian untuk mengaku dosa dan diikuti niat dan tindakan untuk tidak mengulangi perbuatan tersebut adalah hal-hal yang perlu dipersiapkan sebelum mengaku dosa.

      6.Bila perlu mungkin mereka bisa mengikuti retret luka batin (jika memang ada pihak yang tersakiti entah itu secara psikologis atau spiritual). Berdoa serta berusaha mencari solusi yang terbaik juga perlu dilakukan bersamaan.

      7.Ada baiknya juga bila menghubungi pastor paroki ataupun konselor keluarga dalam menghadapi permasalah seperti ini, karena seharusnya mereka bisa lebih baik dalam memberikan jawaban sesuai permasalahan yang dihadapi.

      Demikian jawaban saya, semoga membantu.

      Salam,
      Cornelius.

  4. Ya Saudaraku…terima kasih banyak.. saya tunggu artikel selanjutnya demi tercapainya sebuah pemahaman yang lengkap…. Salam!!

  5. Ulasan yang menarik tentang cinta yang autentik… kalau boleh saya rangkup, cinta yang autentik muncul bila seorang pribadi mampu mengangkat ketertarikan emosionalnya pada tahap yang lebih tinggi. melihat orang lain yang dicintai sebagai pribadi yang utuh…..

    tapi yang menjadi pertanyaan, bagaimana mungkin orang bisa bertahan ketika menghadapi situasi yang sulit klo memang cinta itu didasari pertama-tama pada fisik? sementara cinta, harus mampu bertahan dalam kondisi apa pun… Unconditional love…

    1. Shalom Subandri Simbolon,

      Memang bisa dikatakan seperti itu, namun ada baiknya bila anda menunggu kelanjutan artiklel selanjutnya, agar pemahaman kita menjadi lebih lengkap dan utuh.

      Mengenai pertanyaan “bagaimana mungkin orang bisa bertahan ketika menghadapi situasi yang sulit klo memang cinta itu didasari pertama-tama pada fisik?”, kalau cintanya hanya didasari pada ciri fisik saja, maka cinta yang seperti ini sangat rapuh dan tidak bertahan lama.

      Lalu bagaimana agar cinta tersebut benar-benar cinta yang sejati dan autentik? Silakan tunggu kelanjutan dari artikel ini.

      Salam,
      Cornelius.

  6. don sapu · · Balas

    Makasih atas pengetahuan yang di berikan…

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: