Apologetika Terhadap Perayaan Natal – Revisi

Updated 26 Desember 2011

Tulisan yang dicetak miring, dibold dan berwarna merah adalah tulisan yang berjudul Sejarah Natal, oleh Herbert W. Armstrong. Berikut ini adalah apologi [pembelaan iman] atas tulisan tersebut.

Kata Christmas (Natal) yang artinya Mass of Christ atau disingkat Christ-Mass, diartikan sebagai hari untuk merayakan kelahiran “Yesus”. Perayaan yang diselenggarakan oleh non-Kristen dan semua orang Kristen ini berasal dari ajaran Gereja Kristen Katholik Roma. Tetapi, dari manakah mereka mendapatkan ajaran itu ? Sebab Natal itu bukan ajaran Bibel (Alkitab), dan Yesus pun tidak pernah memerintah para muridnya untuk menyelenggarakannya. Perayaan yang masuk dalam ajaran Kristen Katholik Roma pada abad ke-4 ini berasal dari upacara adat masyarakat penyembah berhala.

Iman Katolik tidak hanya didasarkan pada kitab suci saja. Karena itu tidak masalah apabila perayaan Natal tidak terdapat di Kitab Suci, dan tentu saja perayaan Natal tidak berasal dari upacara adat penyembah berhala.

Terdapat tiga teori mengapa hari Natal dirayakan tanggal 25 Desember.

The first theory is the simplest. An old story says that, in about the year 350, Pope Julius I looked up the date of Jesus’ birth in the census records. Certainly there is nothing outlandish in the idea of census records holding that information even three and a half centuries later. We know from Luke’s Gospel that Jesus was born during a census. The Romans, with their almost compulsive love of order, might well have kept those records forever in some bureaucratic hole in Rome.

The second theory has it that Christians, unable to stamp out a pagan midwinter celebration, simply took it over. Throughout history, people have celebrated the passing of the shortest day in the year, the solstice. When the days begin to lengthen again, it means that the death of winter will certainly pass, and the world will be reborn in spring.

The third theory to account for the specific date December 25 is that it corresponded with the early Church’s notion of Jesus’ perfect life. Tradition had it that Jesus died on March 25. In order for His life to be appealingly perfect, the theologians reasoned, He must also have been conceived on March 25, then born exactly nine months later – (Source)

Update :

Penjelasan Paus Benediktus XVI bahwa 25 Desember adalah tanggal historis kelahiran Yesus Kristus :

Tahun 2000, Joseph Cardinal Ratzinger menulis dalam bukunya The Spirit of the Liturgy bahwa tradisi Yahudi menganggap bahwa Abraham hampir mengurbankan Ishak di gunung Moriah pada 25 Maret. Gunung Moriah berada di Yerusalam (lih. 2 Chron 3:1), dan 25 Maret adalah tanggal dimana Kristus disalib pada kalender  solar (Paskah seperti Paskah Mosaic dikalkulasi oleh fenomena lunar). Anda bisa melihat bahwa ada hubungan geografis dan temporal disini. Kita memahami bahwa Bapa dengan rela mempersembahkan Putra-Nya yang tunggal.

Kardinal Ratzinger juga mencatat bahwa 25 Maret merupakan hari pertama penciptaan. Karenanya, 25 Maret memiliki makna kosmis.  Hal yang penting adalah bahwa 25 Maret adalah tanggal tradisional untuk penciptaan dunia, untuk kurban Abraham, dan untuk kurban Allah Putra.

Pada halaman 107-108, Kardinal Ratzinger membuat observasi bahwa kematian Kristus juga dianggap sebagai hari dimana Ia dikandung oleh Roh Kudus dalam rahim Perawan Maria. 25 Maret, adalah hari dimana Malaikat Gabriel memberi kabar sukacita pada Bunda Maria. Tambah 9 bulan maka anda akan tiba pada 25 Desember sebagai hari kelahiran Yesus.

Ratzinger juga membuang apa yang ia sebut “teori-teori lama” yang mengajarkan bahwa 25 Desember dipilih untuk menggantikan hari raya pagan. Namun Bapa Suci mengakui 25 Desember sebagai hari kelahiran Kristus Tuhan yang sebenarnya. Ia mengembangkan bahwa kesejajaran makna ini memiliki makna liturgis.

Paus St. Leo Agung berbicara tentang makna kelahiran Kristus pada musim salju :

Tapi kelahiran Yesus ini yang disembah di surga dan diatas bumi ditunjukkan bagi kita pada hari ini, dengan terang awal yang masih memancarkan sinarnya di alam, [terang] ini memperlihatkan bagi indra kita kegemilangan misteri yang menakjubkan ini (St. Leo Magnus, Sermo 26)


Argumen Berdasarkan Tulisan Bapa Gereja
Kutipan paling eksplisit berasal dari St. Agustinus, yang menunjukkan bahwa Yesus lahir pada 25 Desember :

For Christ is believed to have been conceived on the 25th of March, upon which day also he suffered; so the womb of the Virgin, in which he was conceived, where no one of mortals was begotten, corresponds to the new grave in which he was buried, wherein was never man laid, neither before him nor since. But he was born, according to tradition, upon December the 25th.” 

“Karena Kristus dipercaya bahwa Ia dikandung pada tanggal 25 Maret, juga pada tanggal itu Ia menderita; sehingga rahim sang Perawan, dimana Ia diakndung, dimana tidak ada manusia lain yang dilahirkan dari rahim tersebut, berhubungan dengan makam baru dimana Ia dikubur, tempat dimana tidak pernah manusia dibaringkan, tidak sebelum Ia juga sejak itu. Tapi Ia lahir, menurut Tradisi, pada 25 Desember” –

– Saint Augustine, De trinitate, Book 4, 5.


Berikut ini kutipan dari Bapa Gereja yang menyatakan bahwa kelahiran Kristus dirayakan tanggal 25 Desember (dikutip dari Indonesian-Papist) : 


Bapa Gereja Teofilus, Uskup Caesarea di Palestina (115-181 M), yang hidup dalam masa pemerintahan Kaisar Commodus mungkin adalah orang pertama yang secara eksplisit memberikan pernyataan mengenai Natal:

“Kita harus merayakan hari kelahiran Tuhan kita pada tanggal 25 Desember yang akan berlangsung.” [Magdeurgenses, Cent. 2.c.6. Hospinian, de Origin Festorum Christianorum]

Sextus Julius Africanus
 (220 AD), walau tidak berbicara mengenai adanya perayaan Natal, ia secara implisit menyatakan bahwa 25 Desember sebagai tanggal kelahiran Kristus. Dalam bukunya Chronographia, ia mengatakan bahwa dunia diciptakan pada tanggal 25 Maret berdasarkan kronologi Yahudi dan sejarah Kristen Perdana. Ia mengatakan bahwa pada tanggal 25 Maret ini, Sang Firman Allah menjelma menjadi manusia; hal ini membuat sense simbolis yang sempurna karena pada saat Penjelmaan ini, penciptaan yang baru dimulai. Berdasarkan Julius Africanus, karena Sang Firman Allah menjelma menjadi manusia sejak masa Dia dikandung oleh Perawan Maria, hal ini berarti setelah 9 bulan, Sang Firman Allah yang telah menjadi manusia itu lahir pada tanggal 25 Desember.

St. Hipolitus dari Roma
, pentobat yang dulunya seorang anti-Paus pada masa penggembalaan Paus St. Zephyrinus, Paus St. Kallistus I, Paus St. Urbanus I dan Paus St. Pontianus, secara eksplisit juga menyatakan bahwa Yesus Kristus lahir pada tanggal 25 Desember:
Untuk kedatangan pertama Tuhan kita dalam daging, [terjadi] ketika Ia lahir di Betlehem,eight days before the kalends of January (25 Desember), hari keempat (Rabu) dalam minggu ketika Augustus (kaisar Romawi) dalam 42 tahun [pemerintahannya] tetapi dari Adam 5500 tahun. Ia (Yesus) menderita pada [usia] 33 tahun, eight days before the kalends of April(25 Maret), tahun kelimabelas Kaisar Tiberius ketika Rufus dan Roubellion dan Gaius Caesar, untuk keempat kalinya, dan Gaius Cestius Saturninus menjadi konsul [di Roma]. (St. Hippolytus of Rome (c. 225 AD), Commentary on Daniel 4.23.3)

Sedangkan, Bapa Gereja Yohanes, Uskup Nicea, memberitahu kita bahwa Paus St. Julius I (336-352)dengan bantuan tulisan-tulisan dari sejarawan Yahudi,Josephus, telah memastikan bahwa Kristus lahir pada tanggal 25 Desember.

Pada akhir abad keempat, Uskup Epifanius dari Salamis (salah satu sejarahwan Gereja) memberikan kronologi kehidupan Tuhan Yesus Kristus di mana menurut Kalender Julian (saat ini Gereja Katolik Roma menggunakan Kalender Gregorian) tanggal 6 Januari adalah hari kelahiran Tuhan dan 8 November adalah hari pembaptisan Tuhan di Sungai Yordan.

Pada permulaan abad kelima, biarawan terpelajar, St. Yohanes Kassianus dari Konstantinopel, pergi ke Mesir untuk mempelajari peraturan-peraturan biara di sana. Antara tahun 418 hingga 425, St. Yohanes Kassianus menulis laporan pengamatannya. Dia memberitahukan kita bahwa uskup-uskup di wilayah itu, pada masa tersebut, menganggap Pesta Epifani (Penampakan Tuhan) sebagai hari kelahiran Tuhan dan tidak ada perayaan terpisah dalam menghormati kelahiran Tuhan. Dia menyebut hal ini “tradisi kuno”. Kebiasaan lama ini segera memberi jalan bagi tradisi baru. Sementara mengunjungi St. Sirillus, Patriark Alexandria;

Uskup Paulus dari Emesa
 berkhotbah pada perayaan kelahiran Tuhan Yesus pada 25 Desember tahun 432 M. Natal telah diperkenalkan kepada Mesir sebelum waktu kunjungan ini, dapat dikatakan sekitar 418 dan 432 M dan peristiwa ini menjadi bukti kuat berdasarkan kalender yang telah ada.

St. Gregorius dari Nazianzus,
 Bapa Gereja dan Uskup, selama tinggal di daerah Seleucia di Isauria (Turki sekarang) merayakan Natal untuk pertama kalinya di Konstantinopel pada tanggal 25 Desember 379.

St. Yohanes Krisostomos
, Bapa Gereja dan Uskup, berkhotbah di Antiokia pada tanggal 20 Desember 386 dan karena kefasihan pewartaannya, ia berhasil mengajak umat beriman untuk menghadiri Natal 25 Desember 386. Sejumlah besar umat beriman hadir di Gereja ketika Natal dirayakan. Kita memiliki salinan khotbah St. Yohanes Krisostomos. Pada Pengantar khotbah, ia berkata bahwa ia berharap dapat berbicara kepada mereka mengenai perayaan Natal yang telah menjadi kontroversi besar di Antiokia. Dia mengusulkan kepada para pendengarnya untuk menghormati dan merayakan Natal dengan tiga dasar: Pertama, karena Natal telah menyebar dengan cepat dan pesat dan telah diterima dengan baik di berbagai daerah. Kedua, karena waktu pelaksanaan sensus pada tahun kelahiran Yesus dapat ditentukan dari berbagai dokumen kuno yang tersimpan di Roma; Ketiga, waktu kelahiran Tuhan Yesus dapat dihitung dari peristiwa penampakan malaikat kepada Zakarias, ayah Yohanes Pembaptis, di Bait Allah. Zakarias, sebagai Imam Agung, masuk ke dalam Tempat Mahakudus pada Hari Penebusan Dosa Yahudi (The Jewish Day of Atonement). Hari tersebut jatuh pada bulan September menurut kalender Gregorian. Enam bulan sesudah peristiwa ini, malaikat Gabriel datang kepada Maria dan enam bulan kemudian Yesus Kristus lahir, yaitu pada bulan Desember. St. Yohanes Krisostomos menyimpulkan khotbahnya dengan sanggahan telak terhadap orang-orang yang menolak bahwa Sang Allah telah menjadi manusia dan tinggal di dunia. St. Yohanes Krisostomos, dengan mengacu pada khotbah di atas, mengatakan dengan jelas bahwa pada masa tersebut, ketika perayaan Natal diperkenalkan di Timur, Natal telah dirayakan di Roma lebih dulu.(Sumber)


Karena perayaan Natal yang diselenggarakan di seluruh dunia ini berasal dari Katholik Roma, dan tidak memiliki dasar dari kitab suci, maka marilah kita dengarkan penjelasan dari Katholik Roma dalam Catholic Encyclopedia, edisi 1911, dengan judul : Christmas, Anda akan menemukan kalimat yang berbunyi sebagai berikut :

”Christmas was not among the earliest festivals of Church…the first evidence of the feast is from Egypt. Pagan customs centering around the January calends gravitated to Christmas”.

Artinya : “Natal bukanlah upacara Gereja yang pertama….melainkan ia diyakini berasal dari Mesir. Perayaan yang diselenggarakan oleh para penyembah berhala dan jatuh pada bulan Januari, kemudian dijadikan hari kelahiran Yesus” [selesai].

Mari kita melihat apa yang dikatakan Catholic Encylopedia : Christmas

Early celebration

Christmas was not among the earliest festivals of the Church.Irenaeus and Tertullian omit it from their lists of feasts; Origen, glancing perhaps at the discreditable imperial Natalitia, asserts (in Lev. Hom. viii in Migne, P.G., XII, 495) that in the Scriptures sinners alone, not saints, celebrate their birthday; Arnobius (VII, 32 in P.L., V, 1264) can still ridicule the “birthdays” of the gods.

Alexandria

The first evidence of the feast is from Egypt. About A.D. 200, Clement of Alexandria (Stromata I.21) says that certain Egyptian theologians “over curiously” assign, not the year alone, but the day of Christ’s birth, placing it on 25 Pachon (20 May) in the twenty-eighth year of Augustus. [Ideler (Chron., II, 397, n.) thought they did this believing that the ninth month, in which Christ was born, was the ninth of their own calenda.]…

Ini adalah kutipan yang lebih lengkap pada kalimat pertama dan kalimat kedua (lihat yang dibold). Sang penulis hanya mengutip sebagian, sehingga mengaburkan makna yang sesungguhnya. Terkesan bahwa karena Natal itu berasal dari Mesir, maka pasti berasal dari kaum pagan.

Dari kutipan diatas, memang dikatakan bahwa Natal [tidak ada] diantara festival pada masa awal Gereja. Irenaeus dan Tertullian mengabaikan dari daftar pesta mereka. Namun setelah ditelusuri lebih jauh, terlihat bahwa kutipan tersebut memiliki makna yang berbeda dari yang dimaksudkan. Juga bila kita membaca kutipan Bapa Gereja diatas, paling awal perayaan Natal mungkin dirayakan sekitar tahun 100 AD.

Kalimat kedua bisa dibaca lebih lengkap di link CE. Konteks kalimat tersebut berbeda dan tampaknya penulis sengaja menggabungkan bagian kalimat tersebut untuk mendukung pernyataannya (i.e. bahwa Natal berasal dari perayaan pagan)

Liturgy and custom

Cards and presents

Pagan customs centering round the January calends gravitated to Christmas.Tiele (Yule and Christmas, London, 1899) has collected many interesting examples. The strenæ (eacute;trennes) of the Roman 1 January (bitterly condemned by Tertullian, de Idol., xiv and x, and by Maximus of Turin, Hom. ciii, de Kal. gentil., in P.L., LVII, 492, etc.) survive as Christmas presents, cards, boxes.

Kutipan diatas tepatnya membicarakan tentang budaya hadiah, natal, kartu (mungkin maksudnya kartu natal). Lalu terjemahan yang diberikan dalam kutipan tadi rasanya tidak tepat, jadi silakan bandingkan sendiri dengan bahasa inggrisnya.

Dalam Ensiklopedi itu pula, dengan judul Natal Day; Bapak Katholik pertama mengakui bahwa :

”In the Scriptures, no one is recorded to have kept a feast or held a great banquet on his birthday. It is only sinners (like Pharaoh and Herod) who make great rejoicings over the day in which they were born into this world”.

Artinya : “Di dalam kitab suci, tidak ada seorang pun yang mengadakan upacara atau menyelenggarakan perayaan untuk merayakan hari kelahiran Yesus. Hanyalah orang-orang kafir saja (seperti Fir’aun dan Herodes) yang berpesta-pora merayakan hari kelahirannya di dunia ini” [selesai].

Mari kita lihat kutipan dari Origen :

of all the holy people in the Scriptures, no one is recorded to have kept a feast or held a great banquet on his birthday. It is only sinners (like Pharaoh and Herod) who make great rejoicings over the day on which they were born into this world below” (Origen, in Levit., Hom. VIII, in Migne P.G., XII, 495)

Kalimat “merayakan hari kelahiran Yesus” adalah terjemahan yang keliru dari “held a great banquet on his birthday” karena hari kelahiran yang dimaksud tidak ditujukan kepada hari kelahiran Yesus.

Dulu, orang-orang lebih merayakan hari kematian mereka daripada hari kelahiran mereka di dunia ini. Nah, hari kematian tersebut merupakan hari kelahiran mereka di dunia yang baru. Silakan dibaca kutipan dari Catholic Encyclopedia : Natal Day dibawah ini

In Greek genesia came to be frequently used in connection with the annual commemoration of a dead person by sacrifices and other rites (cf. Herodotus IV, 26). This commemoration is said to have taken place not upon the anniversary of the day of death but upon the actual birthday of the defunct person (C.I.G. 3417, and Rhode, Psyche, 4th ed., I, 235). When, therefore, the Christians of Smyrna about A.D. 150 write to describe how they took up the bones of St. Polycarp, “which are more valuable than precious stones and finer than refined gold and laid them in a suitable place, where the Lord will permit us to gather ourselves together, as we are able, in gladness and joy and to celebrate the birthday of his martyrdom” (epitelein ten tou martyriou autou hemeran genethlion), it is not easy to say how far they were influenced by pre-existing pagan usages. This phrase “the birthday of his martyrdom” certainly seems to indicate the commemoration of the day on which he died, and all the subsequent history of the Church confirms the practice of keeping this as the usual feast of any saint or martyr.

None the less a certain stress was often laid in Christian sermons and in mortuary inscriptions upon the idea that the day of a man’s death was his birthday to a new life. Thus St. Ambrose (Serm. 57, de Depos. St. Eusebii) declares that “the day of our burial is called our birthday (natalis), because, being set free from the prison of our crimes, we are born to the liberty of the Saviour”, and he goes on “wherefore this day is observed as a great celebration, for it is in truth a festival of the highest order to be dead to our vices and to live to righteousness alone.” And we find such inscriptions as the following

PARENTE FILIO MERCURIO FECE
RUNT QUI VIXIT ANN V ET MENSES VIII
NATUS IN PACE ID FEBR

Where “natus in pace” clearly refers to eternal rest. So again Origen had evidently some similar thought before him when he insists that “of all the holy people in the Scriptures, no one is recorded to have kept a feast or held a great banquet on his birthday. It is only sinners (like Pharaoh and Herod) who make great rejoicings over the day on which they were born into this world below” (Origen, in Levit., Hom. VIII, in Migne P.G., XII, 495)

Jadi kutipan dari Origen tersebut mendukung pemikiran dari St. Amborse : the day of our burial is called our birthday dan all the subsequent history of the Church confirms the practice of keeping this as the usual feast of any saint or martyr. Karena itu tepatlah apa yang dikatakan Bapa Gereja Origen. Artikel dari Catholic Encyclopedia diatas sama sekali tidak membahas tentang kelahiran Kristus yang dihubungkan dengan paganisme, melainkan lebih kepada sejarah bagaimana umat Kristen merayakan hari raya martir-martir tertentu ataupun orang yang sudah meninggal pada hari kematiannya.

Encyclopedia Britanica yang terbit tahun 1946 menjelaskan sebagai berikut :

”Christmas was not among the earliest festival of the church…. It was not instituted by Christ or the apostles, or by Bible authority, it was picked up afterward from paganism”.

Artinya : “Natal bukanlah upacara gereja abad pertama. Hal ini tidak pernah diselenggarakan oleh Yesus atau para muridnya, ataupun otoritas Bibel. Upacara ini diambil oleh gereja dari kepercayaan penyembah berhala” [selesai].

Semua benar kecuali kalimat yang terakhir

Encyclopedia Americana terbitan tahun 1944 juga menyatakan berikut :

”Christmas…. It was, according to many authorities, not celebrated in the first centuries of the Christian church, as the Christian usage in general was to celebrate the death of remarkable persons rather than their birth…” (The “Communion”, which is instituted by New Testament Bible authority, is a memorial of the death of Christ). “…A feast was established in memory of this event [Christ’s birth] in the fourth century. In the fifth century the Western Church ordered it to be celebrated forever on the day of the old Roman feast of the birth of Sol, as no certain knowledge of the da of Christ’s birth existed”.

Artinya : “Menurut para ahli, pada abad-abad permulaan, Natal tidak pernah dirayakan oleh gereja Kristen. Pada umumnya, umat Kristen hanya merayakan hari kematian orang-orang terkemuka saja, dan tidak pernah merayakan harikelahrian orang tersebut…”. (”Perjamuan Suci” yang tertera dalam Kitab Perjanjian Baru, hanyalah untuk mengenang hari kematian Yesus). ”…Perayaan Natal yang dianggap sebagai hari kelahiran Yesus, mulai diresmikan pada abad keempat Masehi. Dan pada abad kelima Masehi, Gereja Barat memerintahkan kepada umat Kristen untuk merayakan hari kelahiran Yesus, yang diambil dari hari pesta bangsa Romawi yang merayakan hari Kelahiran Sol (Dewa Matahari). Sebab tidak seorang pun yang mengetahui hari kelahiran Yesus” [selesai].

Kutipan yang sepotong-sepotong seperti ini bisa diambil keluar dari konteksnya (seperti yang dilakukan pada kutipan dari Catholic Encyclopedia), lalu dijadikan satu kesatuan untuk mendukung posisi penulis. Lebih baik hadirkan kutipan yang secara utuh beserta link ke referensi tersebut (bila ada).

Update : Mengenai argumen “Tanggal 25 Desember adalah perayaan kelahiran Kristus yang menggantikan perayaan “Natalis Solis Invicti” (“Birthday of the Unconquered Sun”). Perlu diingat bahwa perayaan tersebut diperkenalkan oleh Kaisar Aurelian di Roma tahun 274 AD.  

Hal terpenting, tidak ada catatan sejarah untuk peryaan Sol Invictus pada 25 Desember sebelum 354 AD. Bahkan pada 354 AD, tanggal tersebut hanya menunjuk pada “Invictus” tanpa menyebutkan hari kelahirannya. Tanggal tersebut secara eksplisit menjadi “Birthday of the Unconquered Son” dibawah pemerintahan Kaisar Yulian Si Murtad (The Apostate), yang sebelumnya beragama Kristen namun pindah menjadi paganisme romawi. Sejarah menunjkkan bahwa Mantan Kaisar Kristen (yang membenci Kristus) yang mendirikan hari libur pagan pada 25 Desember.

Mengapa hal ini penting? Karena artinya bahwa “the Unconquered Son” mungkin bukanlah dewa yang populer di kekaisaran Romawi. Hal ini menunjukkan bahwa rakyat Romawi kuno tidak perlu memikirkan hari libur the Unconquered Son” tersebut. Terlebih, tradisi perayaan 25 Desember tidak ditemukan dalam kalender Romawi sampai setelah Kristenisasi Roma. Hari kelahiran the Unconquered Son” bukan perayaan tradisional dan hampir tidak populer. Saturnalia justru lebih populer, tradisional dan menyenangkan. Hal tersebut malah menunjukkan bahwa Kaisar Julian berupaya untuk mengenalkan hari raya Pagan untuk menggantikan hari Raya Kristen pada 25 Desember! (Sumber)

Sekarang perhatikan ! Fakta sejarah telah membeberkan kepada kita bahwa mulai lahirnya gereja Kristen pertama sampai dua ratus atau tiga ratus tahun kemudian – jarak waktu yang lebih lama dari umur negara Amerika Serikat – upacara Natal tidak pernah dilakukan oleh umat Kristen. Baru setelah abad keempat, perayaan ini mulai diselenggarakan oleh orang-orang Kristen Barat, Kristen Roma, dan Gereja. Menjelang abad kelima, Gereja Roma memerintahkan untuk merayakan sebagai hari raya umat Kristen yang resmi.

Menurut Catholic Encyclopedia, pesta Natal pertama kali di sebut dalam “Depositio Martyrum” dalam Roman Chronograph 354 [edisi Valentini-Zucchetti (Vatican City, 1942) 2:17). Dan karena Depositio Marrtyrum ditulis sekitar tahun 336, maka disimpulkan bahwa perayaan Natal dimulai sekitar pertengahan abad ke-4. Kita juga tidak tahu secara persis tanggal kelahiran Kristus, yang diperkirakan sekitar 8-6 BC. St. Yohanes Chrysostom berargumentasi bahwa Natal memang jatuh pada tanggal 25 Desember, dengan perhitungan kelahiran Yohanes Pembaptis. Karena Zakaria adalah iman agung dan hari Atonement jatuh pada tanggal 24 September, maka Yohanes lahir tanggal 24 Juni dan Kristus lahir enam bulan setelahnya, yaitu tanggal 25 Desember. (sumber: New Catholic Encyclopedia, Vol. 3: Can-Col, 2nd ed. (Gale Cengage, 2002), p.655-656.) (Jawaban dikutip dari katolisitas.org)

YESUS TIDAK LAHIR PADA TANGGAL 25 DESEMBER

Sungguh sangat mustahil jika Yesus dilahirkan pada musim dingin [1]. Sebab Injil Lukas 2:11 menceritakan suasana di saat kelahiran Yesus sebagai berikut :

“Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam. Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan. Lalu kata malaikat itu kepada mereka : ”Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa : Hari ini telah lahir bagimu Juru selamat, yaitu Kristus, di kota Daud” [selesai].

Tidak mungkin para penggembala ternak itu berada di padang Yudea pada bulan Desember. Biasanya, mereka melepas ternak ke padang dan lereng-lereng gunung. Paling lambat tanggal 15 Oktober, ternak tersebut sudah dimasukkan ke kandangnya untuk menghindari hujan dan hawa dingin yang menggigil. Bibel sendiri dalam Perjanjian Lama, kitab Kidung Agung 2; dan Ezra 10:9,13 menjelaskan bahwa bila musim dingin tiba, tidak mungkin para gembala dan ternaknya berada di padang terbuka di malam hari.

Adam Clarke mengatakan :

”It was an ancient custom among Jews of those days to send out their sheep to the field and desert about Passover (early spring), and bring them home at commencement of the first rain” [Adam Clarke Commentary, Vol. 5, Page 370, New York].

Artinya : “Adalah kebiasaan lama bagi orang-orang Yahudi untuk menggiring domba-domba mereka ke padang menjelang Paskah (yang jatuh awal musim semi), dan membawanya pulang pada permulaan hujan pertama” [selesai].

Adam Clarke melanjutkan :

“During the time they were out, the shepherds watch them night and day. As….the first rain began early in the month of Marchesvan, which answers to part of our October and November (begins sometimes in October), we find that the sheep were kept out in the open country during the whole summer. And, as these shepherd had not yet brought home their flocks, it is presumptive argument that October had not yet commenced, and that, consequently, our Lord was not born on the 25th of December, when no flock were out in the fields; nor could He have been born later than September, as the flocks were still in the fields by night. On this very ground, the Nativity in December should be given up. The feeding of the flocks by night in the fields is a chronological fact… See the quotations from the Talmudists in the Lightfoot”.

Artinya : “Selama domba-domba berada di luar, para penggembala mengawasinya siang dan malam. Bila…hujan pertama mulai turun pada bulan Marchesvan, atau antara bulan Oktober dan Nopember, ternak-ternak itu mulai dimasukkan ke kandangnya. Kita pun mengetahui bahwa domba-domba itu dilepas di padang terbuka selama musim panas. Karena para penggembala belum membawa pulang domba-dombanya, berarti bulan Oktober belum tiba. Dengan demikian dapatlah diambil kesimpulan bahwa Yesus tidak lahir pada tanggal 25 Desember, ketika tidak ada domba yang berkeliaran di padang terbuka. Juga tidak mungkin dia lahir setelah bulan September, karena di bulan September inilah domba-domba masih berada di padang waktu malam. Dari berbagai bukti yang ada, kemungkinan lahir di bulan Desember itu harus disingkirkan. Memberi makan ternak di malan hari di padang gembalaan adalah fakta sejarah….sebagaimana yang diungkapkan oleh Talmud dalam bab ”Ringan Kaki” [selesai].

Ah..Adam Clarke adalah seorang methodis yang mengidentifikasi Gereja Katolik = anti Kristus. Silakan cari sumber lain yang lebih kredibel. Lalu pernyataan tentang para gembala dan ternak tidak mungkin berada diluar pada musim dingin di malam hari, sudah terjawab di artikel yang diberikan, terutama di bagian ini yang menunjukkan hal yang bertentangan dari yang dikatakan Herbert W. Armstrong :

As for the objection, “Jesus couldn’t have been born in the winter, since the shepherds were watching their flocks, which they couldn’t have done in winter”: This is really no objection. Palestine has a very mild climate, and December 25 is early enough in winter for the flocks and the shepherds to be out. The superior of our monastery, Brother Francis Maluf, grew up 30 miles from Beirut, which has the same climate as Bethlehem, both being near the Mediterranean coast, and he has personally testified to this fact.

Dan sebagai tambahan :

It is very true that December is winter time in Bethlehem or in Jerusalem. In fact, John 10:22 says that it was winter during the Feast of Dedication or Feast of the Light. The said feast is celebrated by the Jews during the 25th day of Chislev or December (1 Macc. 5:52); it marks the cleansing of the temple under the Maccabees and re-dedicating it to God and hence, it coincides with Christmas. But the problem with our Protestant friends is that, when they read that it was winter, they immediately concluded that the place must have been covered with snow! In logic, this fallacy is called the Confusion of the Absolute and Qualified Statement, that is, using a principle that is restricted in its applicability as though it were absolutely universal principle, and thus applying it to cases for which it was not intended [1] In America for example, though it is winter time during December, there are places which do not experience snow such as California. The same thing can be said about Bethlehem that although it is winter and cold, there is no snow covering the area during December. According to the International Station Meteorological Climate Summary (ISMCS,) the average temperature in Bethlehem is 49 Fahrenheit[2]. The average low i.e. during nighttime is 43 Fahrenheit[3] Therefore it is a mild winter, and not an icy winter, that occurs in Bethlehem during the month of December; so to our dearly separated brethren, the HALO-HALO argument is now a melted argument!

The issue that it is too cold for shepherds to go out during December night is partially addressed above. The temperature, as mentioned earlier, is tolerable for shepherds to withstand the coldness of the night. Moreover, Harper’s Encyclopedia of Bible Life [(C) 1971, pg. 7] explains that what is unique about Israel’s weather is that, winter season is NOT the “dead” season when plants die because of low temperature. On the contrary, it is the time of year when dormant vegetations are revived after the “dead” season of summer by the intermittent winter rains starting in mid-October and ending in mid-March. This being the case, and considering that the surrounding land just went through the dry season, depriving the sheep of sufficient food for months, it is very likely and logical that the shepherds would let their sheep out in the field during this season of revived vegetation so as to feed their flock. – (Source)


Intinya, musim dingin di Bethlehem masih memungkinkan bagi hewan-hewan untuk berada diluar. Superior Brother Andre Marie,  penulis artikel In Defense of Christmas, yaitu Brother Francis Maluf, memberi kesaksian terhadap hal ini seperti yang bisa dibaca di paragraf terakhir artikel teresbut.

Dalam ensiklopedi manapun atau juga dalam kitab suci Kristen sendiri akan mengatakan kepada kita bahwa Yesus tidak lahir pada tanggal 25 Desember. Catholic Encyclopdia sendiri secara tegas dan terang-terangan mengakui fakta ini.]

Namun dari Catholic Encyclopedia kita juga dapat mempelajari bagaimana tanggal 25 Desember dijadikan sebagai hari kelahiran Yesus Kristus.

Tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan hari kelahiran Yesus yang sebenarnya. Jika kita meneliti dari bukti-bukti sejarah dan kitab suci Kristen sendiri, saya bisa mengambil kesimpulan bahwa Yesus lahir pada awal musim gugur – yang diperkirakan jatuh pada bulan September – atau sekitar 6 bulan setelah hari Paskah

Jika Tuhan menghendaki kita untuk mengingat-ingat dan merayakan hari kelahiran Yesus, niscaya Dia tidak akan menyembunyikan hari kelahirannya.

Silakan baca dan pelajari semua link yang diberikan

Proses Natal Masuk ke Gereja

NewSchaff – Herzog Encyclopedia of Religious Knowledge dalam artikelnya yang berjudul “Christmas” menguraikan dengan jelas sebagai berikut :

“How much the date of the festival depended upon the pagan Brumalia (Dec. 25) following the Saturnalia (Dec. 17-24), and celebrating the shortest day of the year and ‘the new sun’…can not be accurately determined. The pagan Saturnalia and Brumalia were too deeply entrenched in popular custom to be set aside by Christian influence… The pagan festival with its riot and marrymaking was so popular that Christians were glad of an excuse to continue its celebration with little change in spirit and in manner. Christian preachers of the West and the Near East protested against the unseemly frivolity with which Christ’s birthday was celebrated, while Christians of Mesopotamia accused their Western brethren of idolatry and sun worship for adopting as Christian this pagan festival”.

Artinya : “Sunguh banyak tanggal perayaan yang terkait pada kepercayaan pagan/penyembah berhala Brumalia (25 Desember) sebagai kelanjutan dari perayaan Saturnalia (17 – 24 Desember), dan perayaan menjelang akhir tahun, serta perayaan menyambut kelahiran matahari baru….tidak dapat ditentukan secara pasti (jumlahnya). Adat kepercayaan pagan Brumalia dan Saturnalia sudah berurat berakar dan populer tersebut dalam adat istiadat tersebut diambil oleh Kristen. Perayaan ini dilestarikan oleh Kristen dengan sedikit mengubah jiwa dan tata caranya. Para pendeta Kristen di Barat dan Timur Dekat menentang perayaan kelahiran Yesus yang meniru agama berhala ini. Di samping itu, Kristen Mesopotamia menuding Kristen Barat telah mengadopsi model penyembahan terhadap dewa Matahari” [selesai].

Perayaan Natal tidak diperoleh dan berakar dari Saturnalia

Catholic Encylopedia : Christmas

Other theories of pagan origin

The origin of Christmas should not be sought in the Saturnalia (1-23 December)nor even in the midnight holy birth at Eleusis (see J.E. Harrison, Prolegom., p. 549) with its probable connection through Phrygia with the Naasene heretics, or even with the Alexandrian ceremony quoted above; nor yet in rites analogous to the midwinter cult at Delphi of the cradled Dionysus, with his revocation from the sea to a new birth (Harrison, op. cit., 402 sqq.).

Baca juga Catholic Encyclopedia : Mithraism terutama bagian Relation to Christianity.

Update : Perayaan Natal bukan berasal dari Saturnalia (Saturnalia diarayakan pada tanggal 1-23 Desember untuk memperingati winter soltice, yang tepatnya jatuh pada 22 Desember, sedangkan Natal pada 25 Desember. Kita bisa melihat bahwa terdapat ketidakcocokan tanggal disini.)

Perlu diingat ! Menjelang abad pertama sampai abad keempat Masehi, dunia dikuasai oleh imperium Romawi yang paganis politeisme. Sejak agama Kristen masih kecil sampai berkembang pesat, para pemeluknya dikejar-kejar dan disiksa oleh penguasa Romawi. Setelah Konstantin naik tahta menjadi kaisar, kemudian memeluk agama Kristen pada abad keempat Masehi, dan menempatkan agama sejajar dengan agama kafir Roma, banyak rakyat yang berbondong-bondong memeluk agama Kristen.

Pertobatan Constantine menjadi Kristen mendorong pertobatan banyak rakyatnya menjadi Kristen. Tentu saja ini dikarenakan Constantine adalah seorang Kaisar yang disegani dan dipanuti oleh rakyat. Tidaklah aneh, bahkan sangat wajar, bila rakyat satu pemerintahan mengikuti perpindahan agama dari pemimpin mereka.

Tetapi karena mereka sudah terbiasa merayakan hari kelahiran dewa-dewanya pada tanggal 25 Desember, mengakibatkan adat tersebut sulit dihilangkan. Perayaan ini adalah pesta-pora dengan penuh kemeriahan, dansangat disenangi oleh rakyat. Mereka tidak ingin kehilangan hari kegembiraan seperti itu. Oleh karena itu, meskipun sudah memeluk agama Kristen, mereka tetap melestarikan upacara adat itu.

Ini didapat dari mana?

Di dalam artikel yang sama – New Schaff – Herzog Encyclopedia of Religious Knowledge menjelaskan bagaimana kaisar Konstantin tetap merayakan hari “Sunday” sebagai hari kelahiran dewa matahari. Dan bagaimana pengaruh kepercayaan kafir Manichaeisme yang menyamakan Anak Tuhan (Yesus) identik dengan ”Matahari”. Kemudian pada abad keempat masehi, kepercayaan itu masuk dalam agama Kristen. Sehingga perayaan hari kelahiran Sun-God (Dewa Matahari) yang jatuh pada tanggal 25 Desember, diresmikan menjadi hari kelahiran Son of God (Anak Tuhan – yaitu Yesus).

Konstantin baru dibaptis menjelang kematiannya.

Catholic Encyclopedia : Constantine

When at last he felt the approach of death he received baptism, declaring to the bishops who had assembled around him that, after the example of Christ, he had desired to receive the saving seal in the Jordan, but that God had ordained otherwise, and he would no longer delay baptism.

Karena itu semasa hidupnya adalah wajar bila konstantin merayakan kelahiran dewa matahari karena saat itu ia belum menjadi Kristen. Agamanya saat itu sama dengan ayahnya.

THE CHURCH IN CRISIS: A History of the General Councils: 325-1870

CHAPTER 1.

The First General Council of Nicaea, 325

His own personal religion at the time was that of his pagan father, the cult suddenly promoted to the supreme place as the official religion about the time that Constantine was born, by the then emperor, Aurelian (269-75). This was the cult of Sol Invictus (the Unconquered Sun),

… Constantine’s father remained faithful to this cult of Sol Invictus even when his seniors, Diocletian and Maximian, reverted to the old cults of Jupiter and Hercules – (Source)

Demikianlah asal-usul ”Christmas” atau Natal yang dilestarikan oleh dunia barat sampai sekarang. Walaupun namanya diubah menjadi selain Sun-Day, Son of God, Christmas, dan Natal; pada hakekatnya sama dengan merayakan hari kelahiran dewa matahari. Sebagai contoh, kita bisa saja menamakan kelinci itu dengan nama singa, tetapi bagaimanapun juga fisiknya tetap kelinci.

Perayaan Natal tidak sama dengan Peryaan hari kelahiran dewa matahari. Kristus juga tidak sama dengan dewa matahari. Bahkan Bapa Gereja pun sepakat dengan hal ini.Tertullian (Apol., 16; cf. Ad. Nat., I, 13; Orig. c. Cels., VIII, 67, etc) had to assert that Sol was not the Christians’ God; Augustine (Tract xxxiv, in Joan. In P.L., XXXV, 1652) denounces the heretical identification of Christ with Sol.

Marilah kita kembali membaca Encyclopedia of Brittanica yang mengatakan sebagai berikut :

“Certain Latins, as early as 354, may have transferred the birthday from January 6th to December 25, which was then a Mithraic feast….. or birthday of the unconquered Sun… The Syrians and Armenians, who clung to January 6th, accused the Romans of suns worship and idolatry, contending…that the feast of December 25th, had been invented by disciples of Cerinthus…”.

Artinya : “Kemungkinan besar bangsa Latin/Roma sejak tahun 354 telah mengganti hari kelahiran dewa Matahari dari tanggal 6 Januari ke 25 Desember, yang merupakan dari kelahiran anak dewa Mitra atau kelahiran dewa Matahari yang tidak terkalahkan. Tindakan ini mengakibatkan orang-orang Kristen Syiria dan Armenia marah-marah. Karena sudah terbiasa merayakan hari kelahiran Yesus pada tanggal 6 Januari, mereka mengecam bahwa perayaan tanggal 25 Desember itu adalah hari kelahiran Dewa Matahari yang dipercayai oleh bangsa Romawi. Penyusupan ajaran ini ke dalam agama Kristen, dilakukan oleh Cerinthus” [selesai].

Silakan baca ini :

Catholic Encyclopedia : Epiphany

The reason why our fathers changed the solemnity celebrated on 6 January, and transferred it to 25 December follows: it was the custom of the heathens to celebrate the birthday of the sun on this very day, 25 December, and on it they lit lights on account of the feast. In these solemnities and festivities the Christians too participated. When, therefore, the teachers observed that the Christians were inclined to this festival, they took counsel and decided that the true birth-feast be kept on this day, and on 6 Jan., the feast of the Epiphanies. Simultaneously, therefore, with this appointment the custom prevailed of burning lights until the sixth day.”

Tentang Cerinthus, menurut Catholic Encyclopedia : Cerinthus, ia adalah A Gnostic-Ebionite heretic

Cerinthus was an Egyptian, and if not by race a Jew, at least he was circumcised. The exact date of his birth and his death are unknown. In Asia he founded a school and gathered disciples. No writings of any kind have come down to us. Cerinthus’s doctrines were a strange mixture of Gnosticism, Judaism, Chiliasm, and Ebionitism. He admitted one Supreme Being; but the world was produced by a distinct and far inferior power. He does not identify this Creator or Demiurgos with the Jehovah of the Old Testament. Not Jehovah but the angels have both made the world and given the law. These creator-angels were ignorant of the existence of the Supreme God. The Jewish law was most sacred, and salvation to be obtained by obedience to its precepts. Cerinthus distinguished between Jesus and Christ…..

Scarcely anything is known of Cerinthus’s disciples; they seem soon to have fused with the Nazareans and Ebionites and exercised little influence on the bulk of Christendom, except perhaps through the Pseudo-Clementines, the product of Cerinthian and Ebionite circles. They flourished most in Asia and Galatia.

Terlihat bahwa Cerinthus bukanlah orang Kristen, melainkan seorang gnostic-ebionite. Dan tidak ada sumber (sejauh yang aku cari) yang mengatakan bahwa the feast of December 25th, had been invented by disciples of Cerinthus

Referensi lain :

In Defense of Christmas https://luxveritatis7.wordpress.com

Calculating Christmas

Catholic Encyclopedia : Christmas

The Sense of Christmas

Asal Usul Perayaan Natal

Was Jesus Really Born on Dec 25? Yes – A Biblical Argument for the Birth of Christ in Late December

5 komentar

  1. hmm..penjelasan yang masuk akal….yach..aku mengikuti semua yang di katakan Roma saja..dari pada pusing hehehe…

  2. Bro Cornelius, link ke situs catholicism.org gak bisa jalan. Ada salah ketikan link di sana. Just info. :D

    1. Thanks bro Severinus, linknya sudah diperbaiki :)

  3. Herlina · · Balas

    wahh trnyata dpt jg ttg hal ini..
    prnah wktu it seorg bragama islam mnghina agma kristen krn Natal 25 desmber ni..
    dya tau bhwa tgl 25 Des ini adlh wkt utk pnyembhan dewa matahari..
    huftt
    miris sekali dngr kalimat2 yg dya katakan..
    :(

    jd intiny gmn dnk ?
    ap pd tgl 25 des it, qt sudh mnyembah dewa matahari gt yaa?
    mohon peneranganny ^^

    1. SHalom Herlina,

      Intinya kita tidak menyembah dewa matahari. Silakan membaca apologetika yang barusan saya revisi diatas.

      Salam,
      Cornelius.

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: