Minggu Gaudete: Apa Yang Yohanes Pembaptis Ajarkan Kepada Kita Tentang Kerendahan Hati Dan Kegembiraan?

oleh: Dr. Marcellino D’Ambrosio

Pada Minggu ke tiga masa Adven, warna ungu yang berkenaan dengan masa pertobatan berubah menjadi pink dan kita merayakan Minggu “Gaudete” atau “bersukacita”. “Bersorak-sorailah, hai puteri Sion” kata Zefanya. “menimba air dengan kegirangan dari mata air keselamatan,” kata Yesaya. “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan!” kata St. Paulus. “Bertobatlah karena sang hakim akan tiba” kata Yohanes Pembaptis.

Tunggu dulu. Apa yang orang kudus dari gurun ini lakukan berteriak tentang hal itu disini, pada “Minggu sukacita”? Panggilan kerasnya untuk bertobat sepertinya tidak pas.

Percaya atau tidak, Yohanes Pembaptis adalah santo pelindung sukacita rohani. Bagaimana pun, ia melonjak kegirangan didalam kandungan ibunya dihadapan Yesus dan Maria (Lukas 1:44). Dan ia berkata bahwa ia bersuka cita karena mendengar suara pengantin pria (Yohanes 3:29-30).

Sekarang hal ini menjadi menarik. Kerumunan orang berdatangan untuk mendengar Yohanes dari seluruh Israel bahkan sebelum orang mendengar sedikit pun dari tukang kayu yang berasal dari Nazaret. Sesungguhnya, Yohanes membaptis sepupunya. Hal ini meluncurkan pelayanan publik Tuhan, diggembar-gemborkan bakal jatuhnya karir Yohanes.

Kebanyakan dari kita tidak menghargai kompetisi. Orang Farisi dan Saduki pasti tidak suka. Mereka merasa terancam oleh kepopuleran Yesus. Tetapi Yohanes sesungguhnya menyarankan murid-muridnya untuk meninggalkan dia demi Yesus, Anak Domba Allah. Ketika orang datang, bersiap untuk menghormati Yohanes sebagai mesias, ia menetapkan mereka langsung. Ia bersikeras bahwa ia bukanlah bintang utama pertunjukkan, hanya aktor pendukung terbaik. Yohanes mungkin telah menjadi pusat perhatian untuk sementara, tetapi sekarang sang bintang utama telah muncul, ia tahu sudah waktunya bagi dia untuk menyelinap pergi diam-diam ke ruang ganti.

Atau untuk menggunakan contoh Yohanes, ia seperti pendamping pria terbaik di pernikahan. Tentu saja sebuah kehormatan ditunjuk sebagai “pendamping pria terbaik”. Tetapi pendamping pria terbaik tidak mendapatkan pengantin wanita. Menurut budaya Yahudi, peran pendamping pria membawa pengantin wanita kepada pengantin pria, dan kemudian keluar dengan bijaksana. Dan Yohanes menemukan sukacita didalam ini. “Dan sekarang sukacitaku itu penuh. Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.”

Pembaptisan tersebut penuh suka cita karena ia sangat rendah hati. Sebenarnya, ia menunjukkan kepada kita kodrat alami dari kebajikan ini. Kerendah hatian bukanlah berarti memukul diri kita sendiri, menyangkal bahwa anda memiliki karunia, talenta, atau arti penting. Yohanes tahu bahwa ia memilik peran penting dimana telah ia mainkan dengan agresif, dengan otoritas dan percaya diri. Orang yang rendah hati tidak malu-malu memandang rendah dirinya sendiri. Sesungguhnya, ia tidak melihat kepada dirinya sendiri sama sekali. Ia melihat jauh dari dirinya sendiri kepada Tuhan.

Kebanyakan umat manusia, pada suatu waktu atau yang lainnya, bertempur mengomel atas rasa kekurangan. Kesombongan adalah pendekatan dosa untuk berhadapan dengan ini. Orang yang angkuh mengasyikan dirinya sendiri, melihat semua orang sebagai pesaing. Orang yang angkuh terus menerus memuliakan dirinya sendiri diatas orang lain dengan berharap hal ini akan memberikan perasaan berharga dan kedamaian didalam. Tentu saja, tidak. Sejarah manusia telah membuktikan hal itu waktu ke waktu. Bahkan pendongeng kafir Yunani pun tahu bahwa keangkuhan atau kesombongan adalah akar dari tragedi. Kesombongan selalu datang sebelum kejatuhan, seperti yang telah terjadi di Taman Eden.

Kerendah hatian membawa kebebasan dari perbudakan kegilaan. Mencoba di setiap kesempatan untuk menegaskan, memuliakan dan melindungi diri sendiri adalah sebuah usaha yang melelahkan. Menerima kehormatan orang lain dan penghargaan terhadap diri sendiri sebagai karunia dari Allah membebaskan kita dari beban berat. Bebas dari kebutaan tekanan untuk mendominasi, kita bisa mengenal kehadiran Allah dan merasakan sebuah rasa kepuasan ketika orang lain mengenal bahwa Allah adalah Allah, dan menghormati-Nya. Kita bahkan bisa bebas untuk mengenal keilahian didalam diri orang lain dan bersukacita ketika orang lain menyadarinya dan menghormati orang ini.

Tetapi bagaimana tentang teriakan Yohanes untuk bertobat? Bagaimana hal ini merupakan Kabar Gembira? Karena bertobat adalah tentang kerendah hatian dan kerendah hatian adalah semuanya tentang kebebasan. Dan kebebasan memimpin kepada kedamaian didalam dan sukacita, sukacita didalam kehadiran sang Pengantin Pria.

Refleksi atas bacaan Minggu ke-3 Masa Adven. Tahun Liturgi B (Yesaya 61:1-2, 10-11; Lukas 1: 46-54; I Thesalonika 5:16-24; Yohanes 1: 6-8, 19-28) dan Tahun Liturgi C (Zefanya 3:14-18a; Yesaya 12:2-6; Filipi 4:4-7; Luke 3:10-18)

sumber

One comment

  1. […] Oleh: Dr. Marcellino D’Ambrosio Sumber […]

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: