Karismatik : Sebuah Refleksi

NB : Tulisan berikut hanyalah pengalaman saya,  komentar (dan kritik) yang diberikan terhadap retret karismatik. Saya merasa perlu mempublikasikan tulisan tersebut, agar para anggota karismatik yang membacanya memberi perhatian terhadap kritik tersebut sebagai sebuah refleksi dan perbaikan ke depannya.

Berikut ini adalah hasil pengamatan saya selama mengikuti retret karismatik beserta kritik yang saya berikan. Tulisan berwarna merah adalah kutipan dari artikel : A Closer Look at Charismatic Catholic.

Beberapa sesi retret tersebut :

Sesi 1 : God’s Love

Intinya : Allah begitu mencintai manusia sehingga Ia mengutus Putra-Nya

Sesi 2 : Salvation

Intinya : Yesus wafat di salib untuk menebus dosa manusia dan menyelamatkannya

Sesi 3 : Hidup Baru dalam Roh

Intinya : 3 Penyakit manusia modern : Alienasi, Zapping, Sekulerisme

Sesi 4 : Menerima Karunia-Karunia Roh

Intinya : Penjelasan tentang tujuh karunia Roh, secara khusus menjelaskan tentang bahasa roh dengan bacaan Kis 2

Sesi 5 : I’m renewed

Intinya : Sejarah karismatik katolik

Sesi 6 : Growing up in Him (Bertumbuh dalam Roh)

Intinya : Bertumbuh dalam roh melalui doa, karena orang yang menerima karunia belum tentu bisa bertumbuh.

Hari Pertama

Retret dimulai dengan misa pembukaan ala karismatik, dimana lagu-lagu yang dinyanyikan adalah lagu-lagu pop dan bukan lagu dari ordinarium. Saya sendiri masih belum mengetahui apakah hal tersebut diperbolehkan menurut aturan liturgi.

Lalu juga pada hari pertama, pada doa pembukaan  peserta retret diminta untuk saling mendoakan temannya dengan menumpangkan tangan.

Kemudian dilaksanakan sesi 1-3,  dari segi materi tidak ada masalah.

Di waktu malam ada adorasi ekaristi, yang diisi dengan lagu-lagu Taize. Pada saat adorasi ini Imam membawa sakramen mahakudus dan meletakannya di atas kepala peserta retret lalu berdoa. Ini sesuatu yang baru dan kelihatannya tidak lazim, saya sendiri masih belum mengetahui apakah hal tersebut diperbolehkan. Sebelum romo meletakkan sakramen maha kudus diatas kepala teman saya, maka sudah ada teman yang resting in the spirit. Lebih lanjut akan dijelaskan dibawah.

Hari Kedua

Acara di hari kedua adalah sesi 4-5 dan ada pengakuan dosa dan konseling. Kemudian puncak acaranya adalah “True Celebration” dimana ada peneguhan janji baptis, lalu diikuti oleh pencurahan Roh Kudus dimana para panitia akan menumpangkan tangan dan membagi karunia berbahasa Roh.

Hari Ketiga

Acara hari ketiga adalah sesi 6 dan diikuti dengan Misa. Kemudian peserta bersiap2 untuk pulang.

Komentar Terhadap Beberapa Acara Karismatik     

1.      Sejarah karismatik

Pada sesi 5 dibahas tentang sejarah masuknya karismatik ke Gereja Katolik, tapi tidak dibahas bahwa karismatik pada awalnya berasal dari Protestan. Penyampaian sejarah yang cukup bias dan bisa menyesatkan, karena sejarah awalnya adalah mahasiswa katolik yang ditumpang-tangan oleh protestan dan setelahnya mereka mulai speak in tongue. Sedangkan pada sesi tersebut dikatakan bahwa seseorang berdoa di hadapan sakramen Maha Kudus, lalu mendapat pencurahan Roh Kudus.

Berikut ini adalah kutipan yang menjelaskan sejarah karismatik (dari topik Heterodoksi Gerakan Karismatik)  :

A. Berawal Dari Protestantisme
John Wesley, pendiri Methodism, bisa dikatakan pelopor dari Pentecostalism yang berujung ke Gerakan Karismatik. Wesley berkhotbah tentang baptisan Roh Kudus atau “pemberkatan kedua,” yaitu satu pengalaman pribadi yang intensif dengan Allah. Namun kebanyakan pengikut Wesley lebih cenderung ke Methodism daripada Pentecostalism. Mereka yang lebih bermentalitas Pentecostal masih sebagai minoritas diantara pengikut Wesley.

Pada 1900 di Topeka, Kansas (USA) sebuah sekte Protestant kecil dengan Charles P. Parham, seorang pendeta Methodist, sebagai pemimpinnya, merasa bahwa ada yang kurang dalam hidup menggereja mereka. Setelah Parham dan jemaatnya mempelajari Kitab Suci, Parham tiba pada kesimpulan bahwa berbahasa Roh adalah tanda bahwa seorang Kristen telah menerima Baptisan Roh Kudus.

Salah satu umat, Nona Agnes N. Ozmen mengingatkan para jemaat lain akan peristiwa Pentakosta di Kisah Para Rasul. Dia merasa Roh Kudus akan datang bila ada penumpangan tangan. Beberapa jemaat kemudian menumpangkan tangan mereka kepada Ozmen sambil berdoa. Sesaat kemudian Ozmen mampu berbahasa Roh begitu juga jemaat yang lain dalam beberapa hari selanjutnya.

Parham menghabiskan lima tahun berikut sebagai pengkhotbah keliling sebelum membuka sekolah Kitab Suci baru, kali ini, di Houston. Salah satu muridnya, seorang pendeta kulit hitam bernama W.J. Seymore, membawa pesan “kepenuhan injil” ke Los Angeles. Sebuah kebangunan [rohani] tiga tahun lamanya di kota California tersebut (ie: Los Angeles) menarik orang dari berbagai negara, dan orang-orang ini menanamkan Pentecostalism di kebanyakan kota-kota besar di Amerika Serikat dan juga banyak di negara-negara Eropa.” – Minority Religions in America,William J. Whalan. Halaman 179-180. (sumber)


Mgr. Vincent Walsh, seorang Uskup Katolik yang karismatik dan antusiastik dari acara Toronto Blessing, menulis, “Melalui pelayanan Parham dan Seymore, Pentecostalism yang modern dan mendunia telah diluncurkan.” (sumber)

B. Masuknya Pentecostalism ke Gereja Katolik (ie: Gerakan Karismatik)
Pada tahun 1966, Ralph Keifer dan William Storey dua orang staf pengajar dari Universitas Duquesne, Pittsburgh menghadiri Kongres Gerakan Cursillo (Cursillo movement). Kehadiran mereka di Kongres tersebut didorong oleh keinginan untuk “pengalaman spiritual baru” setelah pencarian mereka akan “gerakan yang ekumenis liturgikal, apostolik dan damai” berujung kepada kefrustrasian. Di Kongres tersebut mereka bertemu dengan Steve Clarke dan Ralph Martin, koordinator aktivitas siswa/i dari Paroki St. John di East Lansing, Michigan (sumber).

Keempatnya kemudian bertemu dan membicarakan kisah dari satu buku yang mengesankan mereka, The Cross and the Switchblade (note: “switchblade” adalah pisau tangan yang sering dipakai anggota geng) karangan David Wilkerson. Buku ini adalah sebuah autobiography. Wilkerson dulunya adalah seorang pendeta Pentecostal yang digaji oleh satu paroki Protestant. Karena ketidakpuasannya atas kehidupan sebagai pendeta gajian, Wilkerson kemudian meninggalkan pekerjaannya menuju ke tempat kumuh di Brooklyn dimana banyak geng, kriminalitas dan narkoba (sumber). Bab 21 dari buku Wilkerson yang berjudul “Baptisan Roh Kudus” menimbulkan kesan yang mendalam bagi keempat umat Katolik yang membacanya. Mereka merasa telah menemukan apa yang “hilang dari gerakan-gerakan yang lain.”

Keifer juga menunjukkan buku lain sebagai sharing, yaitu They Speak in Other Tongueskarangan John Sherrils, seorang Episcopalian (cabang luar Inggris dari Anglicanism). Buku ini menjadi semacam buku patokan di pertemuan empat Katolik tersebut. Buku ini berisi penyelidikan sang pengarang atas fenomena bahasa roh (sumber).

Di musim gugur tahun yang sama (1966) keempat umat Katolik awam itu bertemu kembali sesuai yang mereka rencanakan. Mereka merasa sangat ingin tahu tentang fenomena Baptisan dalam Roh Kudus dan Bahasa Roh sehingga mereka berhubungan dengan sekte-sekte Pentecostal. Mereka kemudian bertemu dengan seorang Pendeta Episkopal bernama W. Lewis(sumber). Lewis kemudian mempertemukan mereka dengan seorang anggota jemaatnya bernama Florence Dodge (RIP 17 Jan 2004, umur 84) yang terlibat dengan Gerakan Karismatik (note: Gerakan Karismatik protestant). Sedikit latar belakang mengenai Florence Dodge:

Nona Dodge dibesarkan di sebuah rumah tangga Presbyterian yang saleh di Ben Avon. Setelah lulus dari SMU, Dodge bekerja di Kaufman’s Department Store dan di hari kedepan bertanggung jawab atas pelatihan 5,000 pegawai. Pada 1962, mungkin melalui kontak dengan gerakan karismatik yang mulai muncul di komunitas Episkopalnya, dia menerima apa yang disebut oleh para karismatik “Baptisan Roh Kudus,” yang menuntun ke kehidupan spiritual yang lebih dalam dan penjelmaan [dari kehidupan spiritualitas yang mendalam tersebut] dalam bentuk seperti bahasa Roh. (sumber[1])

Pada 6 Januari tahun 1967 sebuah undangan diterima oleh empat sekawan tersebut. Undangan itu mengajak mereka untuk menghadiri pertemuan doa interfaith pada tanggal 13 Januari. Berikut terjemahan dari situs Karismatik atas pertemuan tersebut: 

Di pertemuan tersebut, lebih banyak keraguan muncul atas bagaimana perkara-perkara dilakukan [pada pertemuan itu]. Ralph [ketika itu mengalami] kebingungan di pertemuan doa [tanggal 13 Januari tersebut]. Tidak diragukan dia memandang positif mengenai sharing tingkat tinggi dan teologi yang hidup, tapi pikiran intelektualnya terskandalisasi atas penafsiran literal dari Kitab Suci dan gagasan akan komunikasi langsung dengan Allah. Dari empat orang yang menghadiri pertemuan ini, hanya Ralph yang kembali minggu berikutnya, namun dengan membawa seorang lagi Professor Theology, Patrick Bourgeois dan pada akhir pertemuan kedua orang tersebut meminta untuk menerima Baptisan Roh Kudus. Satu kelompok berdoa atas Ralph, meletakkan tangan mereka, dan satu kelompok lagi [melakukan hal yang sama atas] Patrick. Ralph diminta untuk melakukan sebuah “tindakan iman” (“an act of faith”) agar kuasa Roh bekerja. Dia [Ralph] berdoa dalam bahasa Roh dengan cepat. Ralph dan kelompok lain mulai memiliki pengalaman doa yang dalam dan indah. Hasil dari semua ini adalah upaya untuk mencari suatu kelompok doa interdenominasi dan informal yang telah mengalami pengalaman yang disebut “baptisan Roh Kudus” (Kisah Para Rasul dan 1Korintus 12-14 dibaca secara literal oleh kelompok ini). (sumber)


Beberapa pertemuan doa kemudian diadakan di rumah teman Ralph Keifer yaitu Kevin Ranaghan dan Dorothi Ranaghan (suami-istri). Berikut apa yang diingat Kevin Ranaghan sendiri, dia mengatakan ini pada ulang tahun ke 30 Catholic Charismatic Renewal (CCR): 

Pada awalnya, kontak dengan [jemaat] Pentakostal di daerah kita, membantu kita untuk bertumbuh dalam pemahaman dan pengalaman Karisma. Kami bertemu di rumah wakil dari Full-Gospel Businesman (catatan: semacam sekte Protestant). Dan ketika dia mendengar bahwa sekumpulan Katolik datang [ke tempatnya], dia mengumpulkan anak buahnya, [dia] membawa beberapa pendeta Pentakosta dan sekamar penuh pejuang doa (prayer warriors) untuk berhadapan dengan apa yang mereka yakini sebagai pertempuran yang sulit untuk dilakukan. Apa yang mereka sadari [setelah bertemu dengan para Katolik dan melakukan doa bersama], ternyata [doa bersama tesebut] adalah waktu-doa yang paling mudah yang mereka pernah tahu. Kami (para Katolik) mengklaim bahwa kami telah dibaptis oleh Roh Kudus, yang sukar dipercaya oleh mereka karena kami adalah Katolik … :disini hadirin pesta perayaan ulang tahun CCR ke 30, tertawa keras: … Kami mengatakan bahwa kami (para Katolik) hanya menginginkan bantuan mereka dan nasehat mereka untuk menempa dan menggunakan karunia-karunia ini. Mereka (Protestant) kemudian menumpangkan tangan diatas kita, dan satu persatu di kamar penuh tersebut mulai berdoa dan bernyanyi dalam bahasa Roh. Tidak ada pertempuran, hanya perayaan kemenangan. :tepuk tangan meriah dari para hadirin: … :beberapa saat kemudian, pada penghujung pidatonya, Ranaghan berkata: … Pujilah Allah untuk Pentacosta jaman-lalu dan untuk semua pengikut Karismatik independen yang dikirim Allah kepada kami … Ya, sejak awal, ini (Karismatisme) adalah perayaan ekumenikal. (sumber)

2. Pencurahan Roh Kudus dan Bahasa Roh

Hal pertama yang ingin saya komentari adalah mengenai pencurahan Roh Kudus. Pencurahan Roh Kudus ini sebenarnya bertujuan untuk mengaktifkan Roh Kudus yang ada dalam diri kita. Dianalogikan seperti berikut : Kita adalah segelas teh tawar, dan Roh Kudus adalah gula pasirnya. Saat gula dimasukkan, maka ia hanya mengendap di bawah. Proses pengadukan gula tersebut lah yang dimaksud Pencurahan Roh Kudus.

Pada sesi ini kita diajarkan untuk membuka diri dan meminta karunia Roh, khususnya karunia berbahasa Roh. Dikatakan bahwa halangan-halangan dalam menerima karunia tersebut antara lain merasa tegang, khawatir, takut, menonton dan menilai. Lalu ciri-ciri yang dirasakan saat dicurahkan Roh Kudus adalah merasa panas di bagian punggung, ingin jatuh (bila merasa ingin jatuh jangan dilawan), dll.

Sesi ini dibantu oleh tim BPK-PKK KAJ beserta panitia. Sebelum dimulai sesi ini, saya menilai bahwa para peserta tampaknya “dipersiapkan” terlebih dahulu untuk menerima karunia ini dari segi emosional, dengan memutar lagu2 yang bersukacita yang menekankan pujian kepada Tuhan. Lalu peserta juga diminta untuk meminta karunia bahasa Roh (seperti yang dilakukan oleh ketua sel kelompok saya yang menyuruh saya memintanya, dan saat itu saya berkata bahwa karunia bahasa roh bukanlah karunia yang saya perlukan)

Saat sesi berlangsung, lampu dipadamkan. Diputar lagu-lagu pujian bernuansa pop ala karismatik atau protestan yang bersemangat, lalu secara serentak semua panitia berbahasa roh : syalalalalawas atau sikyalalalalala. Kurang lebih demikian bunyi bahasa roh tersebut.

Kemudian panitia mulai menumpangkan tangan diatas kepala peserta, lalu mulai mendoakan. Saat saya ditumpangi tangan oleh salah seorang panitia, ia mendoakan saya, dan dalam hati saya mendoakannya juga. Kemudian ia berbahasa roh sylalalalala dan meminta saya untuk mengulanginya. Karena merasa tidak enak kepadanya saya pun mengulanginya meskipun dalam hati saya berkata kepada Yesus bahwa bukan karunia bahasa roh yang saya inginkan. Lalu ia berkata kurang lebih begini :”Ambillah karunia bahasa roh ini (diucapkan saat saya sedang mengulang syalalalala itu)”. Doa pun selesai, panitia itu pergi dan saya tetap berdiri.

Lalu ada seorang lagi yang menumpangkan tangan dan berdoa sambil menyentuh kepala dan dada saya, ia pun berkata, meminta saya untuk membuka pintu hati saya dan membayangkan Yesus berada 1 meter di depan saya. Sedangkan saya saat itu berpikiran bahwa saya sudah terlebih dahulu membuka pintu hati saya, dan saat itu saya membayangkan Yesus, Bunda Maria, Para Kudus yang saya minta doa mereka seperti St. Thomas Aquinas, St. Agustinus, St. Mikael dll berada di sebelah saya. Lalu sambil agak mendorong badan saya sedikit ia pun mulai berbahasa Roh sikyalalalalalala sambil diulan-ulang beberapa kali hingga selesai. Saya tetap berdiri dan tidak terjatuh, tidak lama kemudian saya duduk.

Saat duduk saya mulai berdoa salam Maria dalam bahasa latin dan doa kepada St. Mikael. Lalu orang pertama yang menumpangkan tangan pada saya pun duduk disebelah saya, sambil memegang tangan saya, mengajak untuk berdoa lagi dan mencurahkan Roh, lalu ia berkata-kata dalam bahasa Roh sikyalalalallaa. Setelah doa selesai ia pun pergi.

Nah, dari pengalaman ini, saya menyimpulkan bahwa apa yang mereka katakan bukanlah bahasa Roh seperti pada Kis 2 : 1-12.

Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat. Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya. Waktu itu di Yerusalem diam orang orang yahudi yang saleh dari segala bangsa di bawah kolong langit. Ketika turun bunyi itu, berkerumunlah orang banyak. Mereka bingung karena mereka masing-masing mendengar rasul-rasul itu berkata-kata dalam bahasa mereka sendiri. Mereka semua tercengang-cengang dan heran, lalu berkata:”Bukankah mereka semua yang berkata-kata itu orang Galilea? Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar rasul-rasul itu berkata-kata dalam bahasa mereka sendiri. Mereka semua tercengang-cengang dan heran, lalu berkata:”Bukankah mereka semua yang berkata-kata itu orang Galilea? Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri, yaitu bahasa yang kita pakai di negeri asal kita: kita orang Partia, Media, Elam, penduduk Mesopotamia, Yude dan Kapadokia, Pontus dan Asia, Frigia dan Pamfilia, Mesir dan daerah-daerah Libia yang berdekatan dengan Kirene, pendatang-pendatang dari Roma, baik orang Yahudi maupun penganut agama Yahudi, orang Kreta dan orang Arab, kita mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah.” Mereka semua tercengang-cengang dan sangat termangu-mangu sambil berkata seorang kepada yang lain: “Apakah artinya ini?” Tetapi orang lain menyindir: “Mereka sedang mabuk oleh anggur manis.”

Pertama, ada 2 jenis bahasa Roh :

1. Bahasa roh yang tidak memerlukan penerjemahan, karena bisa langsung dimengerti.  Contohnya adalah bahasa roh yang dilakukan Petrus di Kis 2:1-12.

2. Bahasa roh yang perlu penerjemahan. Contohnya adalah di 1Kor 14:13.

Para rasul saat pentekosta berbicara dengan bermacam bahasa-bahasa lain (seperti bahasa arab, dll) yang tidak mereka pelajari namun bisa dimengerti, sedangkan para panitia karismatik ini hanya mengucapkan non-sense syllable words yang tidak bisa dimengerti dan memerlukan penafsiran. Dan sejauh yang saya amati memang bahwa mereka yang mengucapkan syalalalala ini dalam keadaan sadar, tidak ada perubahan kondisi psikologis, diucapkan saat menyanyikan lagu pujian yang penuh suka cita, dan mereka meyakini bahwa ini adalah bentuk pujian (baca : komunikasi) kepada Tuhan, dan adanya penumpangan tangan kepada mereka yang belum bisa berbahasa roh agar mereka mendapatkan karunia tersebut. Berikut ini kutipan yang mendukung argumen saya (Bahasa Roh tidak dibahas panjang lebar disini, karena sudah ada artikel lain yang membahasnya seperti artikel Heterodoksi Gerakan Karismatik ) :

Glossolalia is effortless speech, requiring no rational formulation of speech sounds.

1.  The individual can control the facility of speaking in tongues consciously at will.

2. There is the feeling that one can communicate with God with perfect expressiveness (in a way that is unsuitably achieved by ordinary language).

3. There is the feeling of emotional release.

4. The experience does not appear to involve an altered mental state, or induction of trance, except during the initial acquisition of the “gift,” and then not always.

5. The communication is a joyful experience.

6. Many adherents perceive an increase in religious fervor and psychological integrity.

7. The laying on of hands is not a necessary procedure in the acquisition of tongues, but may enhance the process. (Sumber : A Closer Look at Charismatic Renewal)

Dan menurut saya, proses pencurahan Roh dan penumpangan tangan ini lebih mirip kepada sugesti, setelah sebelumnya peserta “dikondisikan” secara psikologis (khususnya dalam segi emosional). Menurut artikel yang saya kutip, metode seperti ini, menurut saya, seperti induksi (NB : Bagian yang ditebalkan adalah bagian yang benar2 terjadi dan dilakukan pada saat pencurahan roh) :

It is clear that there is a method of induction used to foster the acquisition of tongues, in the aforementioned instances. My observations of the process of induction lend themselves to the following outline of the technique:

  1.  Frequently, though not always, there is a period of group training, during which are achieved the following: a) desire to receive the experience, fostered by exegetical and theological explanation and exhortation and b) encouraged reduction of inhibitions, enabling the surrender of conscious control of one’s vocal chords.
  2.  The induction of the experience within the group’s prayer service or “experience.” This is sometimes accompanied by the laying on of hands.
  3. Continual exhortations and suggestions related to remaining open to the “gift,” sometimes including recommendations for habitual reinforcement of the use of this gift, or practice to acquire it fully.

Though the above discussion is in no way exhaustive, it is applicable to vast numbers of individuals who have, within recent decades received the “gift of tongues.” The implications of a “formula” for producing such a desired effect strike most obviously at the very heart of the Charismatic and Pentecostal Movements. A gift acquired by skillful planned effort, or at worst, subterfuge, can hardly be gratuitous.

From our brief study we can readily conclude that the phenomena “appears” at first to be supernatural in character, as it is essentially precipitated in the context of prayer. However, a deeper examination reveals some interesting elements, namely:

a) There is well-founded evidence to indicate that the phenomenon is produced through a systematic method of induction. This involves on occasion self-suggestion (telling oneself) and other methods of psychological manipulation. A correlation can be drawn between the use of such techniques and the favorable results obtained (i.e., ability to speak in tongues).

Kedua, saat saya didoakan ketiga kalinya, orang yang mendoakan berkata “Kamu tidak perlu memikirkan ini benar atau tidak”. Tentu saja kita harus mengetahui apakah hal tersebut benar atau salah, berasal dari Roh Kudus atau bukan, karena bisa saja bahasa roh tersebut tidak berasal dari Roh Kudus melainkan dari Roh Jahat. Kitab Suci sendiri mengatakan :

2 Kor 11 : 4 :”Iblis pun dapat menyamar sebagai malaikat terang”

1 Yoh 4 : 1 :”Janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah; sebab banyak nabi palsu yang muncul dan pergi ke seluruh dunia”

Oleh karena itu Discernment atau pembedaan Roh sangat perlu dilakukan mengecek apakah sesuatu berasal dari Allah atau bukan. Terlebih ada yang seperti mendapat penglihatan, dengan berkata bahwa “Yesus menepuk bahu anda sekalian” yang dijawab beberapa orang lain dengan berkata “Saya meneguhkan.”

Ketiga, mereka semua berbahasa Roh secara bersamaan, sedangkan 1 Kor 14 : 27-28 mengatakan bahwa hanya 2-3 orang yang boleh berbahasa Roh secara bergantian dan harus ada seorang yang menerjemahkannya :

“Jikalau ada yang berkata-kata dengan bahasa roh, biarlah dua atau sebanyak-banyaknya tiga orang, seorang demi seorang, dan harus ada seorang lain yang menafsirkannya. Jika tidak ada yang dapat menafsirkannya, hendaklah mereka berdiam diri dalam ‘pertemuan Jemaat’ (kata aslinya ‘ekkalesia’ sehingga mestinya diterjemahkan ‘Gereja’) dan hanya boleh berkata-kata kepada dirinya sendiri dan kepada Allah. (1Kor 14:27-28)”

Roh Kudus tidak mungkin menentang kitab suci. Jadi tampak jelas bahwa ini fenomena ini tidak berasal dari Roh Kudus. Lebih lanjut silakan membaca artikel : Kesesatan (Heterodoksi ) Gerakan Karismatik

Terakhir, dikatakan bahwa melalui pencurahan Roh kita bisa mengalami Allah secara nyata. Bukankah kita sudah mengalami Allah secara nyata dengan menyantap Tubuh dan Darah-Nya saat Ekaristi? Jika demikian, apakah masih diperlukan pencurahan Roh? Menurut saya tidak.

3.      Resting in the spirit

Selama 3 hari 2 malam, seorang teman mengalami resting in the spirit, yaitu :

Francis MacNutt dalam bukunya “The Power to Heal” mengatakan bahwa resting in the Spirit adalah kekuatan yang berasal dari Roh Kudus yang memenuhi seseorang. Kekuatan Roh Kudus ini memuncak dari dalam kesadarannya di mana energi tubuh menghilang jauh hingga dia tidak dapat berdiri lagi.

Dan Morton Kelsey berkomentar bahwa resting in the Spirit ini adalah adanya kuasa Roh kudus atau energi yang mengalir ke bagian terdalam, yang membuat mereka tenang dan kemudian jatuh.

 Kerjasama kita dalam memperoleh karunia ini adalah dengan penyerahan secara total kepada Allah. Ini adalah “saat yang hening” ketika hati kita dalam keadaan yang siap mengizinkan Roh Kudus masuk dan bekerja lebih dalam untuk mencurahkan berkat, penyembuhan atau karunia-karunia yang lain. (Sumber)

Gejala yang tampak saat resting ini ialah : Ketika didoakan, maka seseorang akan terjatuh, lalu terlihat seperti pingsan, dan nafasnya pun menjadi tidak teratur.

Ia mengalami hal tersebut lebih dari 4 kali. Hal yang menurut saya cukup aneh karena resting ini terjadi sebelum Romo meletakkan Sakramen Maha Kudus di kepalanya dan mendoakan ia, serta saat ia akan berdoa melakukan penitensi di ruang doa dimana terdapat Sakramen Maha Kudus. Bukankah akan lebih baik bila kita bisa menyembah Tuhan yang hadir dalam rupa Hosti secara sadar? Bagaimanapun, saya berpendapat bahwa resting in the spirit ini, sejauh yang saya ketahui, tidak pernah dialami oleh para kudus. Para kudus ada yang mengalami stigmata, ekstase yang diwujudkan dalam levitasi (tubuhnya melayang ke udara), namun saya tidak pernah mendengar ada para kudus yang resting in the spirit ataupun dancing in the spirit. Jadi, hipotesa sementara adalah bahwa fenomena resting atau dancing ini tidak berakar dalam Tradisi Gereja (serta dalam Kitab Suci). Selain itu, saya sendiri berpendapat bahwa bisa saja fenomena ini merupakan sesuatu hal yang bersifat psikologis dan bukan merupakan hal yang spiritual. Diperlukan discernment untuk menentukan apakah resting in the spirit merupakan sesuatu yang berasal dari Roh Kudus atau bukan.

4.      Lainnya

Pelanggaran Liturgi

Terjadi beberapa pelanggaran liturgi : Misa tanpa menggunakan lagu2 ordinarium (masih belum jelas apakah ini diperbolehkan), adanya praktek intinction (peserta mengambil Hosti dan Mencelupkan ke Anggur), padahal praktek intinction ini dilarang dalam dokumen Redemptionis Sacramentum :

[104.] The communicant must not be permitted to intinct the host himself in the chalice, nor to receive the intincted host in the hand. As for the host to be used for the intinction, it should be made of valid matter, also consecrated; it is altogether forbidden to use non-consecrated bread or other matter. 

Bila memang penerimaan komuni adalah dua rupa, maka seharusnya imam yang mencelupkan Hosti sebagian ke dalam anggur, memperlihatkan kepada umat sambil berkata : “Tubuh dan Darah Kristus”, lalu umat menjawab Amen dan imam memberikan kepada umat di lidah dengan patena dibawah dagu, berikut ini kutipan dari General Instruction of the Roman Missal atau Pedoman Umum Misale Romawi :

287. If Communion from the chalice is carried out by intinction, each communicant, holding a communion-plate under the chin, approaches the priest, who holds a vessel with the sacred particles, a minister standing at his side and holding the chalice. The priest takes a host, dips it partly into the chalice and, showing it, says, Corpus et Sanguis Christi (The Body and Blood of Christ). The communicant responds, Amen, receives the Sacrament in the mouth from the priest, and then withdraws. 

Lagu Pujian

“Worship is no longer going up to God, but drawing God down into one’s own world. He must be there when he is need, and he must be the kind of God that is need. Man is using God, and in reality, even if it is not outwardly discernible, he is placing himself above God” (Pemujaan tidak lagi naik kehadapan Allah, tapi menarik Allah turun kedalam dunia seseorang. Ia harus ada disana ketika Ia diperlukan, dan Ia harus menjadi semacam Allah yang diperlukan. Manusia menggunakan Allah, dan dalam realitas, bahkan jika kelihatannya tidak dapat dibedakan, manusia menempatkan dirinya diatas Allah ) – Joseph Ratzinger (now Pope Benedict XVI), The Spirit of Liturgy

Lalu lagu-lagu yang diputar adalah lagu pop yang menekankan pujian kepada Tuhan, anda tidak akan menemukan lirik lagu yang bermakna : “Terjadilah padaku menurut kehendak-Mu”. Semua lirik lagu menekankan bahwa Allah maha baik, tapi apakah cukup dengan menyadari bahwa Allah maha baik? Jika lirik lagu bisa menggugah hati dan menyampaikan pesan dalam diri kita, bukankah akan lebih baik bila ada lagu yang menekankan pada ketaatan dan kesiapan melakukan kehendak Tuhan?

Kita harus ingat bahwa lagu-lagu pujian yang digunakan hendaklah ditujukan untuk menyembah dan memuliakan Allah, dan mendorong kita dalam suasana doa. Dan perlu sekali bila kita tidak menjadi orang yang terlalu banyak menuntut kepada Allah, seakan-akan Allah harus ada disaat Ia diperlukan. Apakah kita siap bila suatu saat kita menghadapi masalah berat dimana rasanya pertolongan Allah tidak kita rasakan? Apakah kita siap untuk tetap setia dan taat kepada Allah disaat kita menghadapi persoalan yang sangat berat dan bahkan mungkin bisa menghilangkan iman kita kepadanya?

Lagu-lagu pujian yang menekankan bahwa Allah maha baik, Ia baik bagiku, dst.. itu memang tidak masalah. Namun hendaknya jangan dilupakan bahwa masih banyak hal lain yang bisa kita perhatikan dan ditunjukkan dalam sebuah lagu (seperti tentang melaksanakan kehendak Allah, setia dalam penderitaan, dst).

Pada akhirnya, jangan sampai pujian yang dilakukan malah menarik Allah ke dalam dunia kita, dan menempatkan kita diatas Allah.

Artikel lain seputar Karismatik

A Closer Look at Charismatic Catholic.

Heterodoksi Gerakan Karismatik

Terjemahan : Errors of Charismatics

Kontroversi Pentakosta

5 komentar

  1. Mikhael · · Balas

    Salam saudara Cornelius

    setelah membaca artikel saudara, saya sangat tertarik untuk membahas beberapa hal yang anda tulis di atas.

    Baiklah kita mengetahui terlebih dahulu sejarah karismatik dgn bahasa Roh dan karunia Roh Kudus lainnya dalam gereja katolik kita.

    Memang awal gerakan Karismatik sering dihubungkan dengan apa yang terjadi pada tanggal 1 Januari di suatu Bible college di Topeka Kansas, Amerika Serikat, atau tanggal 18 April 1906 di pertemuan doa Apostolic Faith Mission di Azusa St. Los Angeles, juga di Amerika- yang keduanya bukan komunitas Katolik-; saat terjadi apa yang kemudian dikenal dengan karunia bahasa roh. Selanjutnya, gerakan yang kemudian mempraktekkan karunia- karunia karismatik Roh Kudus ini dikenal dengan sebutan gerakan karismatik.

    Walaupun gerakan ini nampak marak bertumbuh sekarang ini, namun sebenarnya karunia bahasa roh dan karunia karismatik Roh Kudus ini sudah ada sejak jaman para rasul, dan walaupun tidak banyak disorot, karunia inipun sudah ada dalam sejarah Gereja Katolik. Mari bersama kita melihatnya:

    Dasar Kitab Suci tentang bahasa roh dan karunia karismatik lainnya:

    Karunia bahasa roh yang dikenal dengan istilah glossolalia, disebut di beberapa ayat di kitab Perjanjian Baru, seperti:

    1. Mark 16:17: nubuat Yesus tentang orang- orang percaya, “….mereka akan berbicara dalam bahasa- bahasa yang baru bagi mereka”.

    2. Kis 2: ketika Roh Kudus mengurapi keduabelas rasul, maka orang- orang dari kelimabelas bangsa yang berkumpul di Yerusalem mendengar para rasul itu berkhotbah dalam bahasa mereka sendiri.

    3. Kis 10: Kornelius yang menerima karunia bahasa roh setelah menerima pewartaan Injil dari Rasul Petrus.

    4. Kis 19:1-6: mengisahkan anggota jemaat di Efesus yang menerima karunia bahasa roh setelah menerima baptisan dalam nama Yesus.

    5. 1Kor 12-14: mengisahkan bahwa gereja/ jemaat di Korintus menerima karunia bahasa roh dan karunia- karunia karismatik lainnya. Di 1Kor 12:7-11 disebutkan macam- macam karunia tersebut, sedangkan di 1Kor 12:28, disebutkan urutannya, mulai dari karunia sebagai rasul, nabi, pengajar, mukjizat, penyembuhan, pelayanan, pemimpin, bahasa roh.

    Selanjutnya, Kitab Suci menyebutkan bahwa manifestasi Roh Kudus dalam bahasa roh itu dapat merupakan: 1) bahasa asing/ bahasa suatu bangsa tertentu, seperti terjadi pada Kis 2, Kis 11:15, dan 1Kor 14:21, ataupun 2) bahasa yang tidak terucapkan (ecstatic utterance), yang tidak dimengerti (1Kor 14:2), seperti secara implisit dikatakan dalam Rom 8:26-27. Karunia ini adalah karunia doa untuk mengucap syukur kepada Tuhan (1Kor 14:16-17) dan Rasul Paulus-pun menggunakan bahasa roh ini di dalam doa- doanya (lih. 1Kor 14: 18-19). Namun, karena tidak dimengerti, sering orang yang tidak percaya menyangka bahwa mereka yang menerima karunia ini sebagai orang yang tidak waras (lih. 1Kor 14:23). Oleh karena itu, dikatakan bahwa bahasa roh tersebut perlu diinterpretasikan (1 Kor 14:13) oleh orang lain dalam jemaat (1Kor 14:27-28). 3) Bisa juga terjadi alternatif ketiga bahwa bahasa roh tersebut dapat merupakan bahasa spiritual dan bahasa surgawi yang tak berdasarkan atas bahasa yang dikenal di dunia, namun yang dapat diinterpretasikan menurut bahasa yang dikenal di dunia, seperti yang mungkin terjadi dalam Kis 2:6-8; di mana para rasul berkata- kata dengan bahasa yang baru itu secara bersamaan, namun dapat terdengar oleh orang- orang yang berada di sana, yang datang dari berbagai bangsa, sebagai bahasa mereka sendiri (lih. Kis 2:6)

    Dalam tradisi Gereja Katolik

    Menarik disimak di sini adalah perkembangan yang terjadi setelah jaman para rasul. Montanus (135-177), adalah seorang yang dikenal sebagai pelopor gerakan karismatik pertama di abad kedua, dengan menekankan adanya karunia nubuat. Ia menekankan bahasa roh dan kehidupan asketisme (mati raga) yang ketat; dan ia mengklaim sebagai penerima wahyu Tuhan secara langsung, sehingga membahasakan diri sebagai orang pertama dalam nubuat-nubuatnya, seolah- olah ia sendiri adalah Tuhan. Gerakan Montanism ini akhirnya memecah Gereja di Ancyra menjadi dua; dan karena itu Uskup Apollinarius menyatakan bahwa nubuat Montanus adalah palsu (Eusebius 5.16.4) Gerakan Montanus akhirnya ditolak oleh para pemimpin Gereja.

    Montanus dan para pengikutnya lalu memisahkan diri dari kesatuan dengan Gereja yang ada pada saat itu. Oleh karena itu, tak mengherankan bahwa para Bapa Gereja pada abad- abad awal menekankan agar jemaat tunduk pada pengajaran para uskup yang adalah para penerus rasul; dan mereka relatif tidak terlalu menekankan karunia bahasa roh [kemungkinan mengingat bahwa hal itu faktanya dapat menimbulkan perpecahan]. St. Policarpus (69-159) yang hidup di jaman Rasul Yohanes, tidak menyebutkan tentang bahasa roh, demikian pula St. Yustinus Martir (110-165). St. Irenaeus (120-202) hanya menyebutkan secara sekilas dalam tulisannya Against Heresies. Selanjutnya karunia bahasa roh ini disebutkan dalam tulisan-tulisan St. Hilarius dari Poitiers (300-367) dan St. Ambrosius (340-397), walaupun tidak dikatakan secara eksplisit bahwa mereka mengalaminya. Juga pada masa itu, seorang pertapa Mesir, Pochomius (292-348) dilaporkan memperoleh karunia bahasa roh, yang disebut sebagai “bahasa malaikat”, dan di suatu kesempatan dapat menguasai bahasa Yunani dan Latin yang tidak dipelajarinya terlebih dahulu.

    Namun sejak abad ke-3, dengan matinya sekte Montanus dan relatif urungnya para Bapa Gereja untuk mengekspos tentang bahasa roh, maka bahasa roh tidak lagi menjadi praktek yang umum di dalam Gereja. Beberapa Bapa Gereja yang tergolong skeptis tentang bahasa roh di antaranya adalah Eusebius (260 – 340) dan Origen (185 – 254). St. Krisostomus (344-407), uskup Konstantinopel dalam homilinya kepada jemaat di Korintus (lih. Homilies on First Corinthians, xxix, 1, NPNF2, v. 12, p. 168), mempertanyakannya, mengapa karunia bahasa roh tidak lagi terjadi di dalam Gereja; dan selanjutnya mengatakan bahwa di antara karunia- karunia Roh Kudus yang disebutkan di 1Kor 12:18, karunia bahasa roh menempati tingkatan yang ter-rendah (Homily xxxii, NPNF2, v. 12, p. 187).

    Selanjutnya, St. Agustinus (354-430) memberikan pengajaran demikian tentang bahasa roh, dan prinsip inilah yang kemudian dipegang oleh Gereja untuk tujuh ratus tahun berikutnya:

    “Pada awal mula, Roh Kudus turun atas mereka yang percaya: dan mereka berkata-kata dalam bahasa lidah (bahasa roh) yang tidak mereka pelajari, yang diberikan oleh Roh Kudus untuk mereka ucapkan. Ini adalah tanda- tanda yang diberikan pada saat di mana diperlukan bahasa roh untuk membuktikan adanya Roh Kudus di dalam semua bahasa bangsa-bangsa di seluruh dunia. Hal itu dilakukan sebagai sebuah bukti dan [kini] telah berlalu…. Sebab siapa yang di masa sekarang ini yang menerima penumpangan tangan berharap bahwa saat mereka menerima Roh Kudus juga akan dapat berkata- kata dalam bahasa roh?” (Homilies on 1 John VI 10; NPNF2, v. 7, pp. 497-498).

    “… Bahkan sekarang Roh Kudus diterima, namun tak seorangpun berkata- kata dalam bahasa semua bangsa, sebab Gereja sendiri telah berbicara dalam bahasa semua bangsa: sebab barangsiapa tidak di dalam Gereja tidak menerima Roh Kudus.” (The Gospel of John, Tractate 32).

    Maka menurut St. Agustinus, bahasa roh adalah kemurahan khusus di jaman apostolik demi kepentingan evangelisasi, yang tidak lagi terjadi di saat itu.

    Paus Leo I Agung (440-461) mendukung pandangan St. Agustinus. Maka setelah kepemimpinannya sampai abad ke- 12, tidak ada literatur yang menyebutkan tentang bahasa roh.

    Namun demikian, walaupun tidak umum, beberapa kejadian sehubungan dengan bahasa roh terjadi di dalam kehidupan beberapa orang kudus. Seorang biarawati Benediktin St. Hildegard dari Bingen (1098 – 1179) dilaporkan menyanyikan kidung dengan bahasa yang tidak diketahui yang disebutnya sebagai “konser Roh”. Sekitar seratus tahun kemudian St. Dominic (1221) kelahiran Spanyol dilaporkan dapat berbicara dalam bahasa Jerman setelah berdoa dengan khusuk. St. Antonius dari Padua (wafat 1231) menuliskan tentang pengalaman rohaninya bahwa lidahnya menjadi pena Roh Kudus. Demikian pula St. Joachim dari Fiore (1132-1202) yang memulai kebangunan rohani yang mempengaruhi masa akhir Abad Pertengahan.

    St. Thomas Aquinas (1247) menyinggung tentang bahasa roh dalam bukunya Summa Theology (ST II-II, q.176, a.1&2), dan mengutip kembali pengajaran St. Agustinus. St. Thomas mengatakan bahwa pada awalnya memang diberikan karunia bahasa roh kepada para rasul, agar mereka dapat menjalankan tugas mereka untuk mewartakan Kabar Gembira kepada segala bangsa. Sebab tidaklah layak bagi mereka yang diutus untuk mengajar orang lain harus diajar terlebih dahulu oleh orang lain. Selanjutnya ia mengatakan bahwa karunia bernubuat adalah lebih tinggi daripada karunia bahasa roh (lih. 1Kor 14:5).

    Setelah sekitar seabad berlalu, St. Vincentius Ferrer (1350) dicatat telah berbicara dalam bahasa roh. Di Genoa, para pendengarnya yang terdiri dari bangsa yang berbeda- beda, dapat mendengarnya bicara dalam bahasa mereka. Setelah ditanyakan tentang hal ini, St. Vincent menjawab, “Kamu semua salah, dan [sekaligus] benar, sahabat- sahabatku,” katanya dengan senyum, “Saya berbicara dalam bahasa Valencian, bahasa ibu saya, sebab selain Latin dan sedikit bahasa Ibrani, saya tidak mengenal bahasa Spanyol. Adalah Tuhan yang baik, yang membuat perkataan saya dapat kamu mengerti.” Hal ini adalah salah satu yang diuji dalam proses kanonisasi St. Vincentius, dan dinyatakan benar oleh lebih dari 100 orang saksi …. (Angel of the Judgment: A Life of St. Vincent Ferrer, 1953, p. 137-138). Selain dari bahasa roh, St. Vincent dapat (tentu hanya karena rahmat Tuhan) menyembuhkan orang buta, tuli, lumpuh dan mengusir setan pada orang- orang yang kerasukan; dan juga membangkitkan beberapa orang dari mati. Mukjizat-mukjizat publiknya ini mencapai ribuan.

    Di abad ke-16 kejadian-kejadian serupa termasuk berkata- kata dalam bahasa roh dicatat dalam kehidupan dua orang Santo, yaitu St. Fransiskus Xavier dan St. Louis Bertrand (Kelsey, p. 50). Selanjutnya, beberapa orang mistik seperti St. Yohanes dari Avila (1500 – 1569), St. Teresa dari Avila (1515 – 1582), St. Yohanes Salib (1542 – 1591) dan St. Ignatius Loyola (1491-1556), menulis tentang banyaknya pengalaman rohani yang mereka alami, termasuk bahasa roh. (Laurentin. pp 138-142).

    Selanjutnya, di abad 19-20, kita mengetahui bahwa St. Padre Pio (1887-1968) juga mempunyai berbagai karunia Roh Kudus dan juga karunia khusus lainnya seperti karunia nubuat, mukjizat, menyembuhkan, membeda- bedakan roh, membaca pikiran/ hati orang lain, karunia dapat mempertobatkan orang, karunia bilocation, dan termasuk juga karunia bahasa roh.

    Yang lebih ditekankan dalam Gereja Katolik

    Maka, meskipun Gereja Katolik juga mengakui adanya karunia bahasa roh, Gereja Katolik lebih menekankan kepada sapta karunia Roh Kudus (lih. Yes 11) yaitu takut akan Tuhan, keperkasaan, kesalehan, nasihat, pengenalan, pengertian, kebijaksanaan. Mengapa? Karena ketujuh karunia tersebut lebih tinggi tingkatannya daripada karunia- karunia karismatik (seperti karunia bahasa roh, nubuat, menyembuhkan, mukjizat, dll), sebab sapta karunia Roh Kudus adalah karunia yang menguduskan seseorang, sedangkan karunia- karunia karismatik tidak otomatis menguduskan seseorang, namun lebih bertujuan untuk membangun jemaat. Oleh karena itu, dapat terjadi misalnya, mereka yang dapat menyembuhkan tersebut tidak kudus hidupnya, dan jika ini yang terjadi, orang itu juga akhirnya tidak berkenan di hadapan Allah, seperti yang dikatakan oleh Yesus sendiri dalam Mat 7:21-23. Maka tantangannya bagi orang yang memperoleh karunia karismatik Roh Kudus adalah juga berjuang untuk hidup kudus dan bertumbuh di dalam ketujuh karunia Roh Kudus tersebut.

    sekarang saya akan menanggapi artikel anda mengenai retret yang saudara ikuti.

    hari pertama

    …”Di waktu malam ada adorasi ekaristi, yang diisi dengan lagu-lagu Taize. Pada saat adorasi ini Imam membawa sakramen mahakudus dan meletakannya di atas kepala peserta retret lalu berdoa. Ini sesuatu yang baru dan kelihatannya tidak lazim, saya sendiri masih belum mengetahui apakah hal tersebut diperbolehkan. Sebelum romo meletakkan sakramen maha kudus diatas kepala teman saya, maka sudah ada teman yang resting in the spirit. Lebih lanjut akan dijelaskan dibawah.”

    mengenai Sakramen Maha Kudus di letak kan di atas kepala teman saudara, saya tak berani berkomentar karena memang bagi saya itu juga suatu hal yang baru, Mending anda tanyakan langsung kepada Romo yang bersangkutan daripada anda menerimana penjelasan yang simpang siur.

    hari ke dua

    point 2. pencurahan Roh Kudus dan bahasa Roh

    Ada beberapa hal yang harus di luruskan disini.

    Sebenar nya dalam kegiatan ini, kita di ajak untuk merenungkan kasih Allah dan bagaimana agar kita dapat hidup diperbaharui di dalam Roh Kudus. Maka umumnya karunia yang di terima, pertama-tama adalah pengalaman dikasihi oleh Allah dan di ikuti dengan pertobatan kita, jadi keliru lah motivasi kita jika yang di incar adalah karunia karisma Roh Kudus.

    mengenai metode yang mereka gunakan, saya se paham dengan anda, ada beberapa tindakan mereka yang saya tidak setuju yang sesuai dengan tulisan artikel anda yang seperti agak memaksa anda untuk berbahasa Roh, jelas tindakan ini salah.

    pengalaman saya waktu mengikuti SHBDR, pada waktu malam pencurahan ( sekali lagi ini pengalaman saya, dan saya bersaksi bahwa apa yang saya tuliskan ini benar apa adanya, dan saya bersedia mempertanggungjawabkan kesaksian ku ), anggota panitia berkumpul didepan dan mereka berdoa, dan kami semua anggota yang ikut SHBDR itu pun larut dalam doa kami. sekonyong-konyong terdengar suara angin yang sangat keras dan setelah suara angin itu, tiba-tiba banyak anggota yang mengalami ekstase, dan tidak sedikit yang resting ( tanpa di dorong atau apalah yang anda sebutkan dalam artikel anda ), juga banyak peristiwa yang terjadi, contoh seorang gadis yang terus menerus muntah, dan ternyata waktu di doakan anggota panitia, di dapatilah ternyata gadis itu menyimpang jimat-jimat.

    yang ingin saya sampaikan disini, terlepas dari apa yang anda tulis di atas, kita tak bisa menjudge bahwa karismatik itu sesat, karena nampaknya kita terlalu naif kalau mau berkata demikian.

    Saya tidak mengerti dengan retreat yang anda ikuti, karena retreat SHBDR yang saya ikuti selama ini, tidak menampakkan adanya kegiatan yang menyimpang seperti yang saudara sebutkan diatas, mungkin saudara bisa langsung berkonsultasi dengan BPK-PKK KAJ untuk menanyakan langsung perihal yang seperti yang anda tulis di atas.

    mengenai karismatik sendiri, kita ketahui bahwa ada ICCRS ( International Catholic Charismatic Renewel Services ) yang berpusat di Vatikan, pemimpin nya di tunjuk dan di restui oleh Paus. Di Asia ada ISAO dan di negara-negara seperti Indonesia ada BPN-PKKI, yang telah dikukuhkan oleh Konferensi Waligereja Indonesia, dengan dokumennya Surat Gembala PKK Aneka Karunia-Satu Roh, 1993, dan Pembaruan Hidup Kristiani Sebagai karisma Roh ( pedoman PKK ), 1995. Dan KWI memberi Episcopal Advicer, sedang di tingkat Keuskupan, Uskup menunjuk adanya moderator PKK-nya. dan setiap Pastor Paroki adalah ex officio Moderator PD KK paroki setempat.

    Akhir kata, dalam menyikapi suatu pengajaran Gereja, mari kita kesampingkan perasaan/ pendapat pribadi. Karena kalau demikian halnya, kita menempatkan penilaian pribadi kita di atas ajaran/ keputusan Magisterium. Jika kita terus mempertahankan sikap seperti ini, kita menempatkan diri di posisi yang beresiko, apalagi jika kemudian disertai dengan sikap menganggap diri lebih benar daripada Magisterium; dan karenanya dengan keras menentang pengajaran Magisterium. Sikap demikian tidak menampakkan buah Roh Kudus yang utama dan pertama (lih. Gal 5:22-23), yaitu kasih yang menghendaki persatuan daripada perpecahan, dan kasih yang tidak memegahkan diri dan tidak sombong (lih. 1 Kor 13:4).

    1. Shalom Mikhael,

      Terima kasih atas tanggapannya. Berikut ini adalah tanggapan dari saya :

      mengenai Sakramen Maha Kudus di letak kan di atas kepala teman saudara, saya tak berani berkomentar karena memang bagi saya itu juga suatu hal yang baru, Mending anda tanyakan langsung kepada Romo yang bersangkutan daripada anda menerimana penjelasan yang simpang siur.

      Saya tidak pernah menerima penjelasan yang simpang siur. Tulisan saya diatas didasarkan pada observasi serta pengetahuan saya tentang liturgi. Oleh karena itulah saya mengatakan bahwa saya sendiri belum mengetahui apakah hal tersebut diperbolehkan.

      Sebenar nya dalam kegiatan ini, kita di ajak untuk merenungkan kasih Allah dan bagaimana agar kita dapat hidup diperbaharui di dalam Roh Kudus. Maka umumnya karunia yang di terima, pertama-tama adalah pengalaman dikasihi oleh Allah dan di ikuti dengan pertobatan kita, jadi keliru lah motivasi kita jika yang di incar adalah karunia karisma Roh Kudus.

      mengenai metode yang mereka gunakan, saya se paham dengan anda, ada beberapa tindakan mereka yang saya tidak setuju yang sesuai dengan tulisan artikel anda yang seperti agak memaksa anda untuk berbahasa Roh, jelas tindakan ini salah.

      Bagus sekali, berarti kita sependapat dalam hal ini.

      pengalaman saya waktu mengikuti SHBDR, pada waktu malam pencurahan ( sekali lagi ini pengalaman saya, dan saya bersaksi bahwa apa yang saya tuliskan ini benar apa adanya, dan saya bersedia mempertanggungjawabkan kesaksian ku ), anggota panitia berkumpul didepan dan mereka berdoa, dan kami semua anggota yang ikut SHBDR itu pun larut dalam doa kami. sekonyong-konyong terdengar suara angin yang sangat keras dan setelah suara angin itu, tiba-tiba banyak anggota yang mengalami ekstase, dan tidak sedikit yang resting ( tanpa di dorong atau apalah yang anda sebutkan dalam artikel anda ), juga banyak peristiwa yang terjadi, contoh seorang gadis yang terus menerus muntah, dan ternyata waktu di doakan anggota panitia, di dapatilah ternyata gadis itu menyimpang jimat-jimat.

      Faktanya memang begitu yang terjadi pada retret yang saya ikuti (yaitu bahwa saya memang merasa agak sedikit didorong).

      Mengenai ekstase, resting in the spirit masalahnya adalah, bagaimana kita tahu bahwa mereka yang mengalami resting itu karena Roh Kudus? Apakah sudah dilakukan discernment oleh imam yang ada? Disecernment sangat perlu untuk mengetahui apakah suatu fenomena yang dialami berasal dari Roh Kudus atau bukan, karena bukan tidak mungkin kuasa jahat ikut bisa merasuk pada diri orang lain khususnya bila ia menginginkan karunia-karunia. Berikut ini kutipan dari tulisan Romo William G. Most, Errors of Charismatic :

      St. Teresia dari Avila, yang memiliki banyak pengalaman (dalam hidupnya) akan karunia khusus (yang dimilikinya), akan sangat terkejut. Dalam tulisannya Interior Castle 6.9 ia mengingatkan bahwa ketika seseorang belajar atau mendengar bahwa Tuhan memberikan karunia-karunia yang khusus kepada orang-orang, “kamu tidak boleh meminta atau menginginkan Dia untuk menuntunmu di jalan itu.” Ia memberikan alasannya: Pertama, itu menunjukkan kurangnya kerendahan hati; kedua, orang membuat dirinya terbuka bagi “bahaya yang besar karena setan dapat melihat pintu dan hanya memerlukan sedikit celah untuk masuk, (Link :https://luxveritatis7.wordpress.com/2011/09/03/terjemahan-errors-of-charismatics/)

      Saya tidak mengerti dengan retreat yang anda ikuti, karena retreat SHBDR yang saya ikuti selama ini, tidak menampakkan adanya kegiatan yang menyimpang seperti yang saudara sebutkan diatas, mungkin saudara bisa langsung berkonsultasi dengan BPK-PKK KAJ untuk menanyakan langsung perihal yang seperti yang anda tulis di atas.

      Mungkin anda tidak mengerti tapi memang seperti itulah faktanya.

      mengenai karismatik sendiri, kita ketahui bahwa ada ICCRS ( International Catholic Charismatic Renewel Services ) yang berpusat di Vatikan, pemimpin nya di tunjuk dan di restui oleh Paus. Di Asia ada ISAO dan di negara-negara seperti Indonesia ada BPN-PKKI, yang telah dikukuhkan oleh Konferensi Waligereja Indonesia, dengan dokumennya Surat Gembala PKK Aneka Karunia-Satu Roh, 1993, dan Pembaruan Hidup Kristiani Sebagai karisma Roh ( pedoman PKK ), 1995. Dan KWI memberi Episcopal Advicer, sedang di tingkat Keuskupan, Uskup menunjuk adanya moderator PKK-nya. dan setiap Pastor Paroki adalah ex officio Moderator PD KK paroki setempat.

      Terima kasih atas tambahan informasinya.

      Akhir kata, dalam menyikapi suatu pengajaran Gereja, mari kita kesampingkan perasaan/ pendapat pribadi. Karena kalau demikian halnya, kita menempatkan penilaian pribadi kita di atas ajaran/ keputusan Magisterium. Jika kita terus mempertahankan sikap seperti ini, kita menempatkan diri di posisi yang beresiko, apalagi jika kemudian disertai dengan sikap menganggap diri lebih benar daripada Magisterium; dan karenanya dengan keras menentang pengajaran Magisterium. Sikap demikian tidak menampakkan buah Roh Kudus yang utama dan pertama (lih. Gal 5:22-23), yaitu kasih yang menghendaki persatuan daripada perpecahan, dan kasih yang tidak memegahkan diri dan tidak sombong (lih. 1 Kor 13:4).

      Sedikit catatan dari saya :
      Mohon bila anda mengutip sebuah tulisan, tolong sertakan sumbernya yaitu katolisitas.org (Link : http://katolisitas.org/2011/06/22/apakah-gerakan-karismatik-katolik-sesat/). Sebagian besar tulisan anda adalah tulisan dari Ibu Inggrid Listiati. pengasuh katolisitas.org. Bila anda hanya melakukan copy paste tanpa menyebutkan sumber atau referensinya, maka anda melakukan suatu tindakan plagiarsime dimana anda menjadikan tulisan orang lain sebagai tulisan anda, dan tindakan ini adalah dosa. Saya berharap hal seperti ini tidak terjadi lagi.

      Salam,
      Cornelius.

      1. mikhael · ·

        ‎​‎​‎​‎​Ŏ˚ƘЄëë Saudara Cornelius..saya juga masih belajar kok…oh ia sebagian besar yang saya tulis di αtαs tadi, saya ambil dari web katolisitas dan info lainnya dari bpn-PKKI…semoga kita bisa belajar banyak dari artikel anda

      2. mikhael · ·

        Ia, saya mengaku saya tadi salah karena tidak mencantumkan sumber yang saya kutip,saya mohon maaf karena baru tadi saya menyadari kalau tdk mencantum kan sumber nya…saya mohon maaf..

      3. Shalom Mikhael,

        Tidak masalah, manusia memang bisa berbuat salah. Tentunya kita bisa belajar dan memperbaiki kesalahan kita.

        Mari kita juga tetap belajar memperdalam ajaran iman katolik kita.

        Salam,
        Cornelius.

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: