Hari Raya Kristus Sang Raja: Penghakiman Terakhir Dan Dosa Kelalaian

oleh: Marcellino D’Ambrosio, Ph.D.

Hari Raya Yesus Kristus Raja Alam Semesta ditetapkan oleh Paus Pius XI pada tahun 1925 dan dirayakkan pada Minggu terakhir kalender liturgi Katolik Roma. Ini menyebabkan kita untuk merenungkan pada kedatangan kedua dan yang terakhir Kristus, penghakiman terakhir, dan akhir dunia.

Pada Minggu terakhir kalender liturgi Katolik Roma, sudah waktunya untuk mengingat beberapa hal yang lebih suka kita lupakan. Untuk permulaan, kita
mengingat bahwa ada perbedaan kwalitatif yang tidak terbatas antara kita dan
Allah. Allah adalah abadi dan tidak terbatas. Kita tidak. Setiap masing-masing dari kita akan meninggal. Begitu juga dengan masyarakat kita, dunia kita, bahkan alam semesta kita.

Hal lain untuk diperhatikan pada hari ini bahwa ketika Putra Allah datang
pertama kali dengan cara yang kedua-duanya sangat rendah dan tersembunyi,
pada suatu hari Ia akan datang dengan dua cara yaitu publik dan kemuliaan. Ya, Ia adalah Anak Domba Allah. Tapi Ia juga Singa dari Yehuda. Ia menghapus dosa mereka yang mau menerimaNya. Tapi Ia juga membawa hal yang tersembunyi didalam kegelapan menjadi terang, mengatakan kebenaran walaupun itu tidak menyenangkan, dan bersikeras semua harus menanggung konsekuensi pilihan mereka.

Inilah yang setiap hakim lakukan. Dan Ia akan datang dalam kemuliaan, mengatakan syahadat, untuk menghakimi yang hidup dan yang mati. Tapi seperti apa nantinya Pengadilan Terakhir itu?Dengan kriteria apa kita akan di hakimi?

Hanya satu kalimat didalam Injil yang memberikan petunjuk pendahuluan pada hari pembalasan – Matius 25:31-46. Pertama-tama, patut dicatat bahwa kebanyakan perumpamaan-perumpamaan Yesus memiliki bagian pokok yang menggetarkan. Ia selalu membingungkan semua orang, khususnya kelompok orang yang paling religius saat itu, entah apakah mereka itu orang Farisi atau murid-murid.

Dengan jelas, kita semua mengharapkan bahwa Penghakiman tersebut akan
mengutuk kejahatan dan menjatuhkan vonis bersalah. Dan kita cenderung
berpikir yang melakukan kejahatan itu seperti melebihi garis batas dan
melanggar hak orang lain, menggambil barang milik orang lain, mungkin bahkan membunuh. Kalimat di doa Bapa Kami memberi interpretasi dari dosa itu sendiri ketika hal tersebut diucapkan “ampuni kesalahan kami”.

Masalahnya dengan pengertian tentang dosa ini tidaklah lengkap, bahkan
dangkal. Kebanyakan orang-orang berpikir bahwa selama mereka tidak
berbohong, menipu, dan mencuri, tapi hanya menjaga diri mereka sendiri dan
mengurusi urusan mereka sendiri, mereka layak mendapatkan hadiah yang
besar dari Allah.

Kisah Pengadilan Terakhir berbicara soal “orang-orang yang baik”. Bayangkan keterkejutan mereka yang berjalan dengan sikap yang angkuh puas dengan diri sendiri sampai di kursi hakim hanya mengharapkan pujian, dikirim ke tempat penghukuman yang kekal. Mengapa? Karena mereka mengabaikan untuk melakukan kasih yang baik yang diperlukan untuk mereka. Mereka tidak “melakukan” kejahatan atau pelanggaran hukum, mereka tidak melakukan apapun yang positif merusak. Mereka hanya, pada saat kehadiran penderitaan, dengan tanpa ampun tidak melakukan apapun. Dosa mereka bukanlah dosa “melakukan” tapi dosa “kelalaian”. Tapi patut dicatat – dosa kelalaian ini segel akhir dari yang terkutuk.

Banyak kata-kata perintah-perintah yang negatif, sering diekspresikan seperti ini “kamu jangan”. Tapi dua perintah yang paling penting yang kata-katanya positif “kamu harus”. ” kamu harus mengasihi Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan kamu harus mengasihi sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Perintah-perintah ini memerlukan disposisi dari dalam hati yang memberikan tindakan keluar. Jika anda lapar, anda begitu mengasihi diri anda sendiri untuk pergi kulkas atau pergi ke McDonald. Jika anda begitu mengasihi sesamamu yang kelaparan seperti dirimu sendiri, anda tidak cuma berdoa dan memberikan simpati (Yakobus 2:15-17). Mengasihi Allah dengan sepenuh hati tidak berarti memberikan rasa hormat kepada Allah dan kemudian pergi dengan sukacita. Ini berarti pergi keluar dengan cara kita sendiri, dengan semangat mencari untuk mengasihi-Nya dan melayani-Nya didalam semua hal yang kita lakukan.

Pada adegan Pengadilan terakhir ini kita melihat bagaimana dua perintah ini, dua cinta ini, sebenarnya satu. Yesus membuatnya dengan jelas bahwa mengasihi Allah dengan sepenuh hati adalah dengan mengekspresikan didalam mengasihi sesama kita seperti kita mengasihi diri sendiri. Dan bilamana saja anda mengasihi sesama anda dengan cara ini, anda sebenarnya mengasihi Putra Allah.

Jadi pada akhirnya, penghakiman adalah sederhana. Ini semua bermuara pada kasih. Raja dari seluruh hati-lah yang akan menghakimi semuanya.

sumber

5 komentar

  1. thank.s for all GBU

  2. dosa “kelalaian”. Tapi patut dicatat – dosa kelalaian ini segel akhir dari yang terkutuk.

  3. Yuliana · · Balas

    Sangat menyentuh hati, Tuhan Yesus mampukan diriku utk bs mengasihi sesama lebih baik lg terutama yg sdg menderita….

  4. Nurhayati · · Balas

    Siiiiiip. Bagus

  5. Mariunus Tulak · · Balas

    Luar biasa homilix dan sangat menyejukkan serta menambah semangat pesiarahan kita yg masih mengembara didunia ini.moga2 kita dikananx Sang Penguasa Alam semesta nanti

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: