PD : 5. Argumen Rancangan

Argumen jenis ini memiliki daya tarik yang luas dan abadi. Hampir semua orang mengakui bahwa refleksi terhadap keteraturan dan keindahan alam menyentuh sesuatu yang sangat mendalam didalam kita. Tapi apakah keteraturan dan keindahan adalah produk rancangan intelijen dan tujuan yang sadar? Bagi theist jawabannya adalah iya. Argumen-argumen rancangan adalah upaya untuk membuktikan kebenaran jawaban ini, untuk menunjukkan mengapa jawabn ini adalah jawaban yang paling masuk akal untuk diberikan. Argumen-argumen ini telah diformulasikan dalam cara yang kaya beragam seperti pengalaman didalamnya mereka diakarkan. Tulisan berikut ini menampilkan inti atau pemahaman pusatnya.

  1. Alam semesta memperlihatkan jumlah yang mengejutkan dari hal-hal yang dapat dimengerti, baik didalam benda-benda yang kita amati dan dalam cara dimana benda-benda ini berhubungan dengan hal lain diluar diri mereka. Maksudnya : Cara mereka ada dan hidup berdampingan memperlihatkan keteraturan indah yang rumit dan regularitas (keteraturan) yang bisa memenuhi pengamat yang paling sederhana dengan ketakjuban. Ini adalah norma di alam untuk banyak keberadaan berbeda yang bekerja bersama menghasilkan akhir yang bernilai – contohnya, organ-organ dalam tubuh bekerja untuk kehidupan dan kematian kita (lihat argument 8)
  2. Keteraturan yang dapat dimengerti ini adalah produk kebetulan atau berasal dari rancangan intelijen.
  3. Bukan kebetulan
  4. Oleh karena itu alam semesta adalah produk rancangan intelijen
  5. Rancangan hanya berasal dari pikiran, sebuah perancang
  6. Karenanya alam semesta adalah produk Perancang Intelijen

Premis pertama pasti benar bahkan bagi mereka yang menentang argument ini. Orang yang tidak setuju hal ini hampir menjadi orang bodoh yang sangat menyedihkan. Molekul Protein tunggal adalah sebuah hal keteraturan yang sangat mengesankan, dan secara luar biasa juga untuk organ seperti mata, dimana bagian-bagian kompleksitas dan rumit bekerja bersama dengan bagian lain yang tak terhitung untuk mencapai akhir tunggal tertentu. Bahkan elemen-elemen kimia diatur untuk mengkombinasikan dengan elemen lain dalam cara dan dalam kondisi tertentu. Ketidakteraturan adalah masalahnya karena penyebaran keteraturan dan regularitas yang berlimpah. Jadi premis pertama bertahan.

Jika semua keteraturan ini bukanlah produk rancangan intelijen – jadi apa? Jelas, keteraturan “hanya terjadi”. Hal-hal hanya jatuh begitu saja secara “kebetulan”. Alternatifnya, jika semua keteraturan ini bukan produk kebutaan, kekuatan tanpa tujuan, maka ini dihasilkan dari semacam tujuan. Tujuan itu hanya bisa dari rancangan intelijen. Jadi premis kedua tetap bertahan.

Tentu premis ketiga yang krusial. Akhirnya, orang tidak beriman memberitahu kita, bahwa memang oleh kebetulan dan bukan oleh rancangan bahwa alam semesta dari pengalaman kita ada seperti sekarang. Kebetulan saja alam semesta memiliki keteraturan ini, dan beban pembuktian berada pada orang beriman untuk menunjukkan bahwa hal ini tidak disebabkan oleh kebetulan saja.

Namun hal ini sedikit mundur. Tentu terserah orang tidak beriman untuk menghasilkan alternatif kredibel bagi rancangan. Dan “kebetulan” bukan hal yang kredibel (dapat dipercaya). Karena kita bisa mengerti bahwa kebetulan hanya menentang background keteraturan. Untuk mengatakan sesuatu terjadi “oleh kebetulan” sama seperti berkata bahwa ini tidak terjadi seperti yang kita harapkan, atau ini terjadi dalam cara yang kita tidak harapkan. Tapi pengharapan tidak mungkin tanpa keteraturan. Jika kamu membuang keteraturan dan berbicara tentang kebetulan saja sebagai semacam sumber akhir, kamu telah membuang hanya latar belakang yang mengijinkan kita berbicara dengan makna dari kebetulan sama sekali. Bukannya memikirkan kebetulan menentang latar belakang keteraturan, kita diundang untuk memikirkan keteraturan- yang rumit dan terlihat dimana-mana melawan latar belakang kekacauan yang acak dan tak bertujuan. Sejujurnya, ini luar biasa. Oleh karena itu, ini sangat masuk akal untuk menegaskan premis ketiga, bukan kebetulan, dan menegaskan kesimpulan, bahwa alam semesta ini adalah produk rancangan intelijen.

Pertanyaan 1 : Bukankah teori evolusi Darwin menunjukkan kita bahwa adalah mungkin bagi semua keteraturan di alam semesta muncul karena kebetulan?

Jawaban : Tidak. Jika teori Darwin telah menunjukkan apapun, teori itu telah menunjukkan dalam cara yang umum, bagaimana spesies turun dari lainnya melalui mutasi acak; dan bagaimana upaya bertahan hidup spesies ini dijelaskan melalui seleksi alam – melalui kepantasan beberapa spesies untuk bertahan hidup dalam lingkungan mereka. Ini tidak menjelaskan keteraturan dan inteligibilitas alam. Tapi, teori ini mengasumsikan keteraturan. “Upaya bertahan hidup dari spesies yang paling pantas mendahului kedatangan yang pantas”. Jika Darwinian ingin mengekstrapolasi dari teorinya yang murni biologis dan mempertahankan bahwa semua keteraturan disekitar kita adalah kebetulan secara acak, maka mereka mengatakan sesuatu yang tidak dikonfirmasi oleh bukti empiris; dimana tidak ada ilmu empiris yang bisa mendemonstrasikannya; dan yang mana,; hal ini melampaui kepercayaan.

Pertanyaan 2 : Mungkin hanya di area alam semesta ini bahwa keteraturan ditemukan. Mungkin ada bagian lain yang tidak kita ketahui yang sama sekali chaotic/kacau – atau mungkin alam semesta suatu hari di masa depan menjadi chaotic. Apa argumennya kemudian?

Jawaban : Umat beriman dan tidak beriman mengalami alam semesta yang sama. Masalahnya apakah alam semesta tersebut dirancang atau tidak. Dan dunia pengalaman bersama ini adalah dunia dengan keteraturan yang menyebar dan inteligibilitas. Fakta ini harus dihadapi. Sebelum kita berspekulasi tentang kita akan menjadi apa di masa depan atau apa yang akan terjadi di tempat lain sekarang, kita perlu jujur menghadapi apa yang ada. Kita perlu menyadari dalam cara tegas dari keteraturan dan inteligibilitas. Maka kita bisa bertanya pada diri kita : Apakah kredibel untuk beranggapan bahwa kita tinggal dalam pulau kecil keteraturan yang dikelilingi lautan kekacauan (chaos) yang luas – lautan yang suatu hari mengancam untuk menelan kita?

Pertimbangkan bagaimana dalam dekade terakhir kita telah memaksakan secara fantastis batas-batas pengetahuan kita; kita telah melempar penglihatan kita jauh melampaui planet ini dan jauh dalam elemen-elemen yang menyusunnya. Dan apa yang telah ditunjukkan oleh ekspansi horizon ini? Selalu hal yang sama : lebih – dan tidak kurang – inteliligibilitas; lebih – dan tidak kurang – keteraturan yang kompleks dan rumit. Tidak hanya tidak ada alasan untuk percaya dalam kekacauan yang mengelilingi, tidak ada alasan untuk mempercayainya. Hal ini terbang dalam permukaan pengalaman semua orang – umat beriman dan bukan –  secara umum.

Sesuatu yang mirip bisa dikatakan tentang masa depan. Kita tahu cara hal-hal di alam semesta ini berprilaku dan sedang berprilaku. Dan sampai kita memiliki alasan untuk berpikir sebaliknya, ada setiap alasan untuk percaya bahwa hal ini akan tetap berlanjut dalam jalan keteraturan. Tidak ada spekulasi yang bisa membatalkan apa yang kita ketahui.

Dan kekacauan yang bagaimana yang dibayangkan? Efek mendahului sebab? Bahwa hukum kontradiksi tidak berlaku? Bahwa tidak perlu apa yang seharusnya ada untuk membuat jadi ada hal-hal yang sekarang ada? Saran-saran ini sama sekali tidak bisa dimengerti; jika kita memikirkannya, kita hanya bisa menolaknya karena [saran] tersebut tidak mungkin. Bisakah kita membayangkan keteraturan yang agak kurang teratur? Ya. Suatu susunan ulang dari keteraturan yang kita alami? Ya. Kekacauan dan ketidakteraturan total? Ini tidak bisa dianggap sebagai kemungkinan nyata. Berspekulasi tentang hal ini sungguh membuang waktu.

Pertanyaan 3 : Tapi bagaimana bila keteraturan yang kita alami adalah produk dari pikiran kita? Walaupun kita tidak bisa memikirkan kekacauan (chaos) dan ketidakteraturan (disorder), mungkin inilah yang dimaksud realita yang sebenarnya itu.

Jawaban : Pikiran kita adalah satu-satunya sarana yang memampukan kita mengetahui realita. Kita tidak memiliki akses yang lain. Jika kita setuju bahwa sesuatu tidak bisa ada dalam pikiran, kita tidak bisa maju dan berkata bahwa sesuatu tersebut bisa ada dalam realita. Karena kemudian kita berpikir apa yang kita klaim tidak bisa kita pikirkan.

Anggaplah kamu mengklaim bahwa keteraturan adalah produk dari pikiran. Hal ini menempatkanmu dalam posisi yang kaku/sulit. Kamu berkata bahwa kita harus berpikir tentang realita dalam hal keteraturan dan inteligibilitas, tapi hal-hal tidak bisa ada dalam cara itu. Sekarang, untuk mengajukan sesuatu untuk pertimbangan adalah untuk memikirkannya. Dan kamu berkata : (a) kita harus berpikir tentang realitas dalam cara tertentu, tapi (b) karena kita berpikir bahwa hal-hal tidak bisa ada dalam cara itu, maka (c) kita tidak perlu berpikir tentang realitas dengan cara yang kita harus pikirkan! Apakah kita rela membayar harga mahal untuk menyangkal keberadaan alam semesta yang menunjukkan rancangan intelijen?  It does not, on the face of it, seem cost effective.

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: