Pemberkatan Basilika St. Yohanes Lateran

999454707_44be9d26b1_b

Oleh : Dr. Marcellino D’Ambrosio

Pesta Pemberkatan Basilika St. Yohanes Lateran di Roma pada 9 November menimbulkan pertanyaan penting: “kenapa orang Katolik Roma dan orang Kristen lainnya menghabiskan begitu banyak uang pada gedung-gedung Gereja ketika sebenarnya oranglah yang disebut Gereja dan bait Allah?”

Sebagai anak remaja yang pemberontak, saya pikir gereja Katolik harus menghentikan membuang uang pada gereja-gereja yang mahal. Kita harus menjual semuanya dan membelikan makanan pada orang miskin, itu pendapat saya.

Lucunya. Yesus, yang begitu sangat peduli pada orang miskin, tidak memiliki sikap seperti ini. Sebagai anak remaja ia menghabiskan waktunya di Bait Allah buatan Herodes yang mewah (Lukas 2). Sebagai orang dewasa, ia membela integritasnya melawan para penukar uang (Yoh 2). Fransiskus dari Asisi, yang memberikan semua kepunyaannya, mengemis uang untuk membeli material untuk mengembalikan gereja yang sudah runtuh dimana ia bangun kembali dengan tangannya sendiri.

Kenapa hormat diberikan begitu tinggi pada gedung gereja? Yehezkiel 47 memberikan pada kita satu alasan penting. Karena liturgi penyembahan yang berlangsung didalamnya, khususnya Ekaristi, yang adalah “sumber dan puncak” dari seluruh hidup Kristiani kita.

Dunia begitu berdebu, tempat melelahkan yang sering membawa kita jatuh. Gedung Gereja adalah tempat singgah, tempat perlindungan yang sunyi, sebuah tempat bertemu dengan Allah. Disini kita minum air kehidupan dari firman dan sakramen yang membangkitkan kembali roh kita yang terkulai lemah (Mzm 23). Rahmat yang mengalir dari altar memikul kita kembali ke dunia, berubah, dan mampu untuk mengubah sesama, membawa kesembuhan dan menghasilkan buah.

Santo Paulus, di 1 Korintus 3, memberikan kita alasan lain untuk menghormati Gereja. George Fox, pendiri Quakers, menyimpulkan dari bagian ini bahwa jika kita orang Kristen adalah Gereja, kita harus menyebut tempat menyembah kita “rumah-menara”. Untuk menyebut gedung “gereja” mengaburkan faktanya bahwa kita adalah Gereja.

Tradisi Judeo-Kristian melihatnya secara berbeda. Gedung Gereja adalah cermin yang, diadakan dihadapan kita, mengingatkan kita siapa diri kita. Dunia memberitahukan kepada kita bahwa kita konsumen, pegawai dan pemberi suara, dan ikon kilat yang berkedip secara konstan pada kita setiap hari untuk mengingatkan kepada kita tentang ini. Gedung Gereja adalah ikon yang mengigatkan kepada kita identitas kita yang paling dalam. Ketika kita berkumpul untuk menyembah-Nya pada hari Minggu , kita yang tersebar oleh bermacam-macam loyalitas, profesi, dan gaya hidup, sekarang bersatu sebagai Tubuh Kristus dan tempat tinggal Roh.

Bagaimana seorang pribadi memasuki Gereja? Melalui penyucian air baptisan. Mungkin itulah kenapa ada tempat air suci didekat pintu disetiap gereja Katolik. Mungkin patung-patung dari para orang kudus disana untuk mengingatkan kepada kita bahwa kita adalah “kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah” (Efesus 2:19).

Jadi untuk apa semua harta karun yang mahal mulai dari arsitektur, lukisan, seni pahat, dan stained glass? Jual semua dan gunakan semua itu untuk membeli makanan bagi orang miskin? Apa yang nanti orang miskin bisa dapatkan?

Di Texas, kami memiliki hukum rumah dan perkarangannya yang memiliki jaminan bahwa apapun jeleknya keuangan orang tersebut, mereka tidak akan kehilangan rumahnya. Kehilangan rumah sama saja berarti kehilangan martabat. Gereja kita, mulai dari kapel lokal sampai Basilika St. Petrus, bukan saja milik hirarki, tapi seluruh keluarga. Mereka telah berikan kepada kita oleh kerja keras dan kontribusi dari nenek moyang kita untuk mengingatkan martabat kita sebagai putra dan putri dari Allah yang hidup.

Basilika Lateran, yang pemberkatannya kita rayakan setiap November, dulunya di sumbang kepada Gereja oleh Konstantine segera setelah ia melegalkan agama Kristen pada tahun 313. Sejak saat itu, resmi sebagai katedral Paus, ibu gereja dari semua umat Kristen, katedral dunia.

Pada waktu itu Paus yang paling berkuasa di abad pertengahan, Innocent III, bermimpi sebuah gereja megah yang hampir runtuh hanya ditopang oleh orang miskin dalam jubah pengemis. Segera setelah itu, sebuah kelompok pengemis dari Asisi tiba, dipimpin oleh orang yang bernama Fransiskus, meminta persetujuannya untuk gaya hidup dan karya mereka. Disiapkan oleh mimpinya, ia menyadari tangan Allah, dan menganjurkan gerakan yang membaharui Gereja.

Seperti yang kita renungkan pada pesta ini, mari kita ijinkan semangat terhadap rumah Allah terus berkobar dalam diri kita seperti yang terjadi pada Yesus dan Fransiskus, bahwa kita boleh merangkul tugas pemurnian, pembaharuan dan membangun kembali, diberikan kepada kita lewat Konsili, yang bertemu di basilika Romawi besar di tempat yang berbeda, sekitar empat puluh tahun yang lalu.

sumber

One comment

  1. YTerima kasih admin.

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: