Saat Hening

Dalam perayaan Ekaristi, seyogyanya terdapat beberapa kali kesempatan untuk hening sejenak bagi Imam dan seluruh umat yang hadir. Saat hening juga merupakan bagian dari perayaan yang menuntut partisipasi penuh. Hening berarti diam secara total tanpa diganggu suara siapapun dan apapun seperti misalnya suara musik. Hening juga dapat dipandang sebagai rekoleksi singkat, berupa permenungan akan kebaikan Allah yang tertuang dalam hidangan Sabda dan Tubuh-Nya sendiri.

Untuk melaksanakan sebuah saat hening dalam suatu perayaan Ekaristi, tidak hanya menuntut keterlibatan umat yang hadir, tapi juga Imam dan para petugas liturgi lainnya karena saat hening berhubungan dengan sebuah ritus yang telah/akan diadakan. Tulisan ini akan menyampaikan bagian-bagian mana saja yang sebaiknya diadakan saat hening, apa tujuannya, dan koordinasi apa saja yang perlu untuk terlaksanananya keheningan tersebut.

1. Saat Hening Sebelum Perayaan Dimulai

Sebelum perayaan Ekaristi, hendaknya keheningan dilaksanakan di dalam gereja, sakristi, juga area sekitar gereja (bds. PUMR 45). Tujuannya adalah agar umat dapat menyiapkan diri untuk melaksanakan ibadat dengan cara yang khidmat dan tepat. Dalam kesempatan hening ini, setiap umat bisa merenungkan apa saja yang patut disyukurinya, sukaduka selama hari yang lalu, serta segala kekurangan dan dosa. Kesempatan ini juga dapat dipakai untuk berdoa pribadi agar dapat memusatkan perhatian, perasaan dan akal budi secara penuh dalam Misa yang akan dilangsungkan.

Untuk mewujudkan kondisi ini diperlukan kerjasama semua pihak. Dari Umat dituntut untuk menjaga ketenangan dengan tidak berbicara satu sama lain. Dari pihak Imam dan para petugas liturgi pun dituntut hal yang sama, apalagi ketika mereka berada di sakristi, tempat dimana mereka menyiapkan diri. Begitu pula petugas lainnya seperti petugas parkir, tata tertib, penyambut jemaat, dll agar turut serta berpartisipasi menciptakan suasana ibadat.

2. Saat Hening Sebelum Pernyataan Tobat

Sebelum pernyataan tobat, juga diadakan saat hening biasanya didahului ajakan Imam “marilah kita hening sejenak untuk menyesali dosa dan kelemahan kita.” Demikian tujuan saat hening ini, untuk menyadari dan menyesali dosa dan kelemahan daging.

Persoalannya kadang muncul karena saat hening ini tidaklah terlalu lama sedangkan untuk menyadari dan menyesali dosa diperlukan waktu yang lebih lama. Maka permenungan ini juga dapat dilakukan ketika saat hening sebelum Misa, dan dosa yang disadari sedari awal itu kemudian disesali pada saat pernyataan tobat ini. Perayaan Ekaristi akan dapat berbuah jika para peraya membawa pula semangat pertobatan yang sejati yang mendamaikan dirinya dengan Allah. Alangkah baiknya bila semangat pertobatan ini dibawa sejak dari rumah, direnungkan sebelum perayaan dimulai, dan dalam pernyataan tobat diakui dan disesali di hadapan Allah dan sesama.

3. Saat Hening Setelah Ajakan “Marilah Berdoa” saat Doa Pembuka

Setelah Madah Kemuliaan, dimulailah Doa Pembuka yang merupakan akhir dan sekaligus puncak ritus pembuka. Doa Pembuka diawali dengan ajakan “Marilah berdoa” oleh Imam. Setelah ajakan ini, sepatutnya diadakan saat hening sejenak, tujuannya adalah untuk menyadari kehadiran Tuhan dan mengungkapkan doa/keprihatinan pribadi dalam hati. Ujud pribadi ini kemudian disatukan dalam Doa Pembuka yang diucapkan Imam atas nama seluruh jemaat. Doa Pembuka juga biasanya mengungkapkan inti dari perayaan hari yang bersangkutan.

Keheningan ini dapat terlaksana jika Imam yang memimpin perayaan menyediakan waktu yang cukup. Dari pihak Umat pun juga dituntut untuk menyiapkan ujud pribadi yang disampaikan dalam hati pada waktu ini. Maka waktu hening sebelum perayaan dimulai juga berguna untuk merenungkan lebih lama ujud pribadi apa yang hendak disampaikan kepada Tuhan.

4. Saat Hening Sesudah Bacaan Pertama, Bacaan Kedua, dan Homili

Pedoman Umum Misale Romawi (PUMR) artikel 56 menulis demikian: “Liturgi Sabda haruslah dilaksanakan sedemikian rupa sehingga mendorong umat untuk merenung. Oleh karena itu, setiap bentuk ketergesa-gesaan yang dapat mengganggu permenungan harus sungguh dihindari. Selama Liturgi Sabda, Sangat cocok disisipkan saat hening sejenak, tergantung pada besarnya jemaat yang berhimpun. Saat hening ini merupakan kesempatan bagi umat untuk meresapkan sabda Allah, dengan dukungan Roh Kudus, dan untuk menyiapkan jawaban dalam bentuk doa. Saat hening sangat tepat dilaksanakan sesudah bacaan pertama, sesudah bacaan kedua, dan sesudah homili.”

Buku Suplemen PUMR yang diterbitkan Komisi Liturgi KWI menjelaskan demikian: “Saat hening sungguh merupakan bagian dari ibadat. Saat hening di sini diperlukan untuk meresapkan bacaan, atau untuk membiarkan satu kata atau satu kalimat bergema terus dalam hati. Inilah saat hening bersama: pelayan ibadat dan semua anggota jemaat yang lain harus berhening. Tak seorang pun boleh sibuk dengan musik, buku atau kertas (misalnya mencari-cari teks nyanyian mazmur) atau mencarikan tempat duduk untuk orang yang datang terlambat. Harus diusahakan agar lamanya saat hening selalu sama, sehingga umat tidak merasa gelisah.”

Menjadi jelas, bahwa pada waktu yang ditentukan di atas sebaiknya disediakan saat hening sejenak yang memberi kesempatan kepada semua orang untuk merenungkan Sabda Allah. Untuk mewujudkan saat hening ini diperlukan kerjasama banyak pihak: Imam, Lektor, Pemazmur, Dirigen dan Organis. Umat pun perlu didorong untuk mengetahui adanya saat hening ini, misalnya lewat katekese sebelum Misa atau bila ada teks Misa, diberi keterangan “hening sejanak” sesudah bacaan dan homili.

5. Saat Hening Sesudah Penerimaan Komuni

Saat hening ini dilakukan ketika Umat sudah menyambut komuni, dan Imam serta misdinar sudah membereskan bejana-bejana di altar. Tujuannya adalah untuk bersyukur atas Komuni yang baru saja disambut, juga doa untuk membiarkan Allah berbicara dalam hati dan siap melakukan kehendak-Nya. Saat hening ini juga berhubungan dengan Doa Sesudah Komuni yang biasanya berisikan permohonan agar lewat Komuni yang disambut, seluruh Umat dapat berbuah dalam hidup sehari-hari.

Saat hening ini bisa diganti dengan sebuah madah syukur atau nyanyian pujian, atau mendaraskan mazmur oleh seluruh jemaat. Bila cara ini yang dipakai, hening sejenak tetap dilakukan sesudah ajakan “Marilah berdoa” pada Doa Sesudah Komuni.

Untuk mewujudkan keheningan ini Imam pemimpin perayaan perlu menyediakan waktu yang cukup bagi Umat merenung. Sering terjadi dimana sesudah membereskan bejana-bejana, Imam langsung mengucapkan Doa Sesudah Komuni tanpa menyediakan saat hening. Juga pernah terjadi dimana organis yang keasyikan memainkan musik instrumental, atau koor yang terlalu antusias menyanyikan nyanyian komuni sehingga menggeser hak umat untuk mendapatkan kesempatan hening ini. Maka untuk mewujudkan ini diperlukan koordinasi khususnya segenap petugas liturgi.

Artikel ini ditulis oleh saudara Onggo Lukito, awam Katolik dari Keuskupan Agung Jakarta, pecinta liturgi, penulis lagu dan pemilik blog Qui Bene Cantat, Bis Orat (silahkan diklik, kunjugi blognya, disana banyak lagu-lagu bagus karya dari bapak ini).

2 komentar

  1. Luar biasa… ini katolik banget. hening memang sangat dibutuhkan dalam ibadat kita untuk menciptakan koneksi dengan Sang Pencipta…

  2. tiovila · · Balas

    sy sangat suka skl dg tulisan anda, dmn kt bs smkin khimat mengikuti perayaan ekaristi dg ada saat hening….di paroki sy dah mulai d terapkan saat2 hening itu.

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: