Gadis Penggiring Mempelai Yang Bodoh Dan Bijaksana

Oleh: Dr. Marcellino D’Ambrosio

“Hal-hal tentang agama bisa menunggu. Lagi pula, saya percaya dengan Allah dan pada dasarnya saya orang yang baik. Saya benar-benar berusaha untuk pergi ke gereja pagi ini, tapi pesta malam tadi asik sekali, lebih daripada yang saya kira dan saya minum terlalu banyak. Saya akan coba lagi nanti minggu depan. Saya akan berdoa nanti saja.”

Ketololan adalah soal prioritas. Orang yang bodoh lebih mengutamakan yang tidak penting, menginvestasikan uang dan waktunya pada hal yang tidak mendapatkan hasil yang baik. Kebijaksanaan adalah soal menempatkan yang pertama terlebih dahulu dari yang pertama, bukan yang akhir. Kehati-hatian, adalah mempraktekkan sisi dari kebijaksanaan, adalah soal membuat rencana untuk mengejar dan mencapai hal-hal yang lebih penting (Kebijaksanaan 6:12-16), hal-hal yang benar-benar terakhir.

“Allah adalah kasih. Jika saya gagal dalam tujuan saya, Ia akan menutupi saya. Saya terlalu sibuk untuk mulai sekarang.” Tidak berkeringat saat hal itu datang dan tidak siap untuk ujian terakhir bukanlah tidak penting bagi iman. Jika kita meremehkan untuk melakukan persiapan yang diperlukan, ini bukanlah soal hasil dari iman tetapi lebih dari dosa kesombongan. Ketika kita mempercayai Dia untuk mengampuni kita yang mengerjakan sesuatu secara serampangan untuk mencoba patuh pada-Nya, Allah senang. Ketika kita melepaskan persiapan karena kita kira Dia membebaskan tiket masuk kita, Allah tidak tertawa.

Takut pada Allah adalah awal mula dari kebijaksanaan. Melupakan tentang Tuhan adalah lambang dari ketololan. Jadi melupakan bahwa kita bukanlah Tuhan, bahwa kita tidaklah abadi, bahwa walaupun Allah adalah abadi, kita tidak. Bangsa kita, perusahaan, dan bahkan tubuh kita, yang tentu saja fana. Mereka tidak akan bertahan selamanya tapi akan berakhir dengan tiba-tiba, atau mati secara perlahan hancur secara bertahap. Sangat sulit untuk percaya, tetapi waktu akan habis – untuk America, untuk saya, bahkan untuk Starbucks.

Yesus berkata berkali-kali bahwa lebih dulu dunia ini dan urusannya terlihat sangat nyata, sangat penting, masyarakat dunia suatu hari akan hilang dan semua urusan mendesak akan dilupakan. Ia akan kembali untuk menuntut pengantin-Nya. Kita juga entah akan tertangkap dengan minyak didalam lampu kita – siap dan bersemangat – atau akan menjadi seperti kejutan yang kasar dari tamu yang datang lebih cepat untuk makan malam ketika rumah masih berantakan. Hanya tamu ini akan tidak datang untuk makan, tapi untuk memeriksa dan menghakimi.
Kita semua pernah bermimpi buruk berada kembali kesekolah lagi dan menemukan diri kita sejenak mengambil ujian yang penting yang kita benar-benar tidak siap. Baiklah, mungkin mimpi ini, sama seperti perumpamaan dari pendamping mempelai yang bodoh, dimaksudkan untuk menjadi peringatan bagi kita. Walaupun kita bukanlah generasi yang akan menjadi saksi akhir dari dunia (1 Tesalonika 5:13-18), masing-masing dari kita akan mengalami akhir dunia pribadi kita. Ia akan datang, mungkin tiba-tiba, untuk masing-masing dari kita, pada waktu yang Dia pilih sendiri, bukan pilihan kita.

Banyak yang telah berspekulasi tentang kapan Dia akan datang. Mereka mencermati buku Wahyu dan bagian-bagian lain dari Kitab Suci seperti yang Paulus deskripsikan kita akan diangkat lalu menyongsong Tuhan di angkasa di 1 Tes 4. Akankah ada rapture rahasia sebelum Dia datang? Akankah hal itu terjadi sebelum kesusahan besar, atau setelahnya? Apakah yang terjadi saat ini di Timur Tengah meramalkan didalam Alkitab dan oleh karena itu akhir dunia sudah dekat?

Keasyikan dengan hal seperti ini hanyalah sebuah bentuk kesalehan tertidur saat bekerja. Pada akhirnya, faktanya sudah dekat. Peran kita bukanlah untuk menghitung hari, tapi untuk mempersiapkan hari itu. Jika kita hidup selalu siap, dengan cadangan minyak untuk lampu kita, tidak pernahterpikat bagi kita setidaknya untuk melihat keluar demi Dia dengan mengelilingi area, kita tidak akan tertangkap tidak siap. Kita bisa menikmati hidup ini ketika menggunakan hal itu sebagai batu loncatan ke berikutnya.

Refleksi dari bacaan Minggu biasa ke 32 (Kebijaksanaan 6:12-16, Mazmur 63, 1 Tesalonika 4:13-18; Matius 25:1-13).

sumber

2 komentar

  1. boleh saya bertanya tidak? terimakasih. Gbu

    1. Shalom Peni,

      Tentu saja boleh. Silakan tuliskan pertanyaan anda, dan kami akan membantu menjawabnya.

      Salam,
      Cornelius.

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: