Kesombongan Orang Farisi

oleh: Dr. Marcellino D’Ambrosio

Seratus lima puluh tahun sebelum Yesus, mereka adalah orang-orang yang baik. Orang-orang Yunani yang berwenang memutuskan bahwa, jika mereka hendak menyatukan kerajaan mereka secara politis, mereka harus bersatu dengan taat. Jadi mereka membebankan cara orang Yunani pada orang Yahudi, termasuk menyembah berhala dan memakan babi. Anda bisa membacanya tentang perlawanan militer Yahudi terhadap tirani ini di dua buku Makabe.

Didalam buku yang sama isinya ini, anda bisa membaca tentang perlawanan batin dari orang saleh yang berdiri tegak demi Hukum dan tradisi dari para Rabi (guru), yang berusaha memelihara iman Israel dan menghidupinya dengan bersemangat. Anggota-anggota dari gerakan pembaharuan dikenal sebagai Farisi. Namun jelas menjadi suatu yang sangat keliru dengan sang juara Allah ini. Karena hanya beberapa generasi kemudian, ketika Putra Allah muncul ditengah-tengah mereka, mereka menolakNya. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Mereka kalah pada penyakit busuk hati yang bahkan mereka sendiri tidak tahu mereka memiliki itu. Saat ini, ada penyakit seks yang menular seperti ini. Salah satunya, HPV, adalah virus yang tidak mempunyai gejala sama sekali. Seorang wanita tidak mengetahui bahwa ia terkena virus ini…sampai, dia di diagnosa terkena kanker serviks yang mematikan.

Orang Farisi akan mengibaskan jari-jari mereka kepada wanita seperti yang mereka lakukan terhadap wanita yang tertangkap berzinah (Yoh 8). “Layani mereka dengan benar – upah dari dosa adalah mati!”

Perbuatan zina adalah dosa yang sangat serius. Faktanya, mereka termasuk dari tujuh dosa maut – nafsu. Banyak yang mengasumsikan bahwa nafsu dipertimbangkan oleh agama Kristen sebagai lambang dari dosa, sifat buruk yang sangat parah. Sebenarnya, didalam hirarki (atau harusnya saya sebut “lowerarchy”) dari dosa maut, yang paling penting dan tujuh dosa yang paling mematikan bukanlah nafsu tapi kesombongan. Nafsu dengan salah mencari kesenangan seksual terlepas dari cinta dan kehidupan. Kesombongan mencari kebesaran terlepas dari Allah. Triknya dengan rangkaian mempromosikan kebesaran Allah.

Begini cara kerjanya – seraya orang-orang mulai menyambut dengan tepuk tangan sambil anda melakukan pekerjaan Allah, anda pikir mereka bertepuk tangan ke anda. Ini adalah kesalahan yang sangat menyedihkan. Bayangkan keledai yang Yesus naiki ke Yerusalem berpikir bahwa kerumunan banyak itu ternyata untuk menyambut dia!

Tepuk tangan seperti itu, bagaimanapun, bisa menjadi candu. Orang yang sombong pada akhirnya akan melakukan apa saja untuk membuat sambutan sorak sorai terus terjadi dan membuat hal itu terus berjalan. Tapi hanya boleh ada satu bintang. Kesombongan adalah pada dasarnya kompetitif. Jadi siapapun yang mengancam untuk mencuri pertunjukannya menjadi musuh besar. Bahkan jika itu adalah Allah sendiri.

Orang yang sombong tidak mengajar untuk mencerahkan, tapi lebih memberi wejangan, untuk membuat orang terkesima, untuk muncul sebagai orang yang mempunyai kuasa. Jadi orang Farisi menempatkan beban moral yang berat diatas bahu orang-orang tanpa mengangkat jari untuk membantu mereka (Mat 23:4). Mereka iri hati pada gelar “guru” (rabi berarti guru) dan “bapa” (guru dalam jaman purbakala dimana dianggap sebagai bapa spiritual), tetapi sangat tidak menginginkan tanggung jawab.

Ketika Yesus berkata untuk menghindari untuk dipanggil guru dan bapa, Ia tidak berbicara tentang gelar pengajar dan orang tua, harus dan tidak harus digunakan. Ia berbicara tentang sikap. Orang yang rendah hati menyadari bahwa kebijaksanaan dan ajaran datang dari Allah, bahkan jika Allah menginstruksikan orang lain melalui mulut mereka. Mereka tahu bahwa tepukan pada akhirnya adalah untuk Dia, dan mereka senang untuk mengembalikan itu kepada-Nya seperti yang Maria lakukan ketika ia dipuji oleh sepupunya Elisabeth (Lukas 1: 42-55). Kesombongan adalah mematikan karena itu membusukkan hati. Lebih jauh penyakit itu berkembang, semakin buta sang korban sampai tidak mungkin lagi untuk dia menggenali keadaan buruknya. Jalannya sebagai orang sombong dan perawakan dari kesombongan tidak lebih dari rasa puas dari rasa ketidakamanan mereka. Kaisar yang meyedihkan tidak bisa melihat apa yang biasanya sempurna pada orang lain- yaitu, bahwa ia tidak memiliki pakaian.

Orang yang rendah hati, pada lain hal, adalah aman didalam kasih Allah dan oleh karena itu tidak memiliki kemegahan dan keadaan. Ia tidak takut untuk melihat pada kekerdilannya, baginya sangat jelas untuk melihat kebesaran Allah yang bukanlah seorang kompetitor, tetapi Bapa yang mengasihi.

Refleksi atas bacaan hari Minggu Biasa ke 31, (Mal 1:14-2:2, 8-10, Mzm 131:1-3, 1 Tes 2:7-9;13; Mat 23:1-12)

sumber

One comment

  1. Febrina Widihapsari · · Balas

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: