SALVIFICI DOLORIS

SURAT APOSTOLIK SALVIFICI DOLORIS
DARI KEPALA PARA USKUP YOHANES PAULUS II
KEPADA PARA USKUP, PARA IMAM, KELUARGA-KELUARGA BERIMAN, DAN KEPADA JEMAAT GEREJA KATHOLIK YANG SETIA, TENTANG MAKNA PENDERITAAN MANUSIA,

Saudara-saudaraku yang terkasih di Keuskupan dan saudara saudara ku sekalian didalam Kristus,

I
PENGANTAR

1. Kata-kata Rasul Paulus tentang kekuatan dari penderitaan untuk keselamatan: “dan menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuh-Nya, yaitu Gereja” (1).
Kata kata ini kelihatannya selalu ditemukan di setiap ujung jalan panjang penderitaan yang membentuk sejarah panjang manusia dan yang diterangi oleh Firman Allah. Dalam kata-kata ini terkandung nilai pengertian yang tertinggi, yang diiringi oleh suka cita. Untuk alasan inilah St. Paulus menulis : “Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu”(2). Suka cita ini timbul jika kita bisa mengerti makna penderitaan, dan penemuan ini, meskipun merupakan ungkapan pribadi yang ditulis oleh Paulus dari Tarsus, namun pada saat yang sama juga berlaku bagi orang-orang yang lain. Sang Rasul membagikan pengertian dan suka cita yang ia dapatkan untuk membantu semua orang yang berada di situasi yang sama – seperti pengertian itu telah menerangi St. Paulus – untuk mengerti makna dari penderitaan bagi keselamatan.

2. Tema penderitaan – yang ada di dalam makna keselamatan ini – terasa amat cocok dengan konteks dari Tahun Suci Misi Penebusan sebagai Perayaan Khusus dari Gereja. Dan secara kebetulan tema ini juga banyak mendapatkan perhatian pada masa ini. Terlepas dari hal tersebut, tema ini adalah tema universal yang selalu menyertai keberadaan manusia di setiap titik di muka bumi: dengan pengertian yang khusus penderitaan akan selalu ada bersama-sama dengan manusia di dunia, dan dengan demikian menuntut untuk selalu menjadi bahan perenungan. Meskipun St. Paulus, dalam Surat kepada Umat di Roma, menulis “Sebab kita tahu, bahwa sampai sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin“, meskipun manusia mengetahui dan dekat dengan penderitaan yang dialami oleh hewan, namun apa yang kita mengerti sebagai “penderitaan” terasa sangat penting artinya dalam sifat (nature) kemanusiaan (itu sendiri). Sifat penderitaan mengakar sedalam kemanusiaan itu, memanifestasikan diri dengan caranya sendiri sehingga sesuai untuk manusia, dan dengan caranya sendiri melampaui kemanusiaan. Penderitaan dirasakan sebagai bagian dari alam transcendental manusia: sebagai salah satu titik dimana manusia dalam pengertian tertentu, “ditakdirkan” untuk keluar diluar batas batas dirinya, dan ia dipanggil kepada penderitaan dengan cara yang misterius.

3. Tema dari penderitaan dengan cara yang khusus harus dijelaskan dalam konteks Tahun Suci Misi Penebusan, ini disebabkan, pada tempat yang pertama, karena Misi Penebusan dilaksanakan melalui Salib Kristus, yakni, melalui penderitaanNya. Dan pada saat yang sama, selama Tahun Suci Misi kita menghadirkannya kembali dalam Surat Ensiklik Redemptor Hominis: di dalam Kristus “setiap orang menjadi jalan bagi Gereja” (4). Dapat dikatakan bahwa seorang manusia dengan cara yang khusus menjadi jalan bagi Gereja ketika ia mengalami penderitaan dalam hidupnya. Ini terjadi, seperti yang kita telah ketahui bersama, pada saat yang berbeda selama hidup, dengan cara yang berbeda, dalam dimensi yang berbeda; dan walapun dengan bentuk bagaimanapun, penderitaan selalu ada, dan hampir tidak terpisahkan dari keberadaan manusia di muka bumi. Dengan melihat bahwa sepanjang hidupnya manusia berjalan dengan caranya masing masing di jalan penderitaan, inilah (sebabnya) mengapa Gereja pada segala jaman – dan terutama dalam Tahun Suci Misi Penebusan – harus bertemu dengan manusia. Gereja, yang lahir dari misteri Penebusan dari Salib Kristus, harus berusaha untuk bertemu dengan manusia, dengan cara yang khusus di dalam penderitaannya. Dengan pertemuan ini maka manusia akan “menjadi jalan bagi Gereja”, dan jalan ini salah satu (jalan) yang paling penting.

4. Ini adalah awal dari refleksi, yang dilakukan dalam Tahun Misi Penebusan: meditasi (untuk mengetahui) makna penderitaan. Penderitaan manusia mendatangkan belas kasihan; juga (dapat) mendatangkan kehormatan, dan juga dengan caranya tersendiri, ia (mendatangkan) ancaman. Karena dalam penderitaan termuat kebesaran dari sebuah misteri. Penghormatan khusus bagi tiap bentuk penderitaan manusia harus dimengerti dari semula, yang kemudian akan diekspresikan oleh keinginan terdalam dari hati, dan juga oleh tuntutan iman yang terdalam. Terhadap tema penderitaan, kedua alasan ini kelihatannya saling terkait satu sama lain dan menjadi satu: keinginan hati memerintahkan kita untuk mengatasi ketakutan, dan tuntutan iman – yang ditunjukkan, contohnya, pada kata-kata St. Paulus yang dikutip di awal (dokumen ini) – yang menyediakan isi, yang dengan nama dan jasa Nya kita berani untuk menyentuh apa yang terlihat bagi semua manusia sebagai sesuatu yang tidak terlihat: karena bagi manusia, dalam penderitaan yang dialaminya, tersimpan misteri yang tidak kelihatan.

II
DUNIA PENDERITAAN MANUSIA

5. Penderitaan, walaupun berada dalam dimensi subjective, sebagai pengalaman pribadi yang nyata dalam hati dan tubuh manusia, kelihatannya tidak dapat benar-benar diekspresikan dan dinyatakan, dan pada saat yang sama mungkin tidak ada (hal lain) yang lebih membutuhkan, jika dibanding dengan penderitaan, dalam “realitasnya yang objective”, untuk dihadapi, direnungkan, dan dipandang sebagai problem yang eksplisit; sehingga kemudian pertanyaan-pertanyaan mendasar yang menuntut jawaban dapat diarahkan kepadanya. Terbukti disini bahwa pertanyaan ini bukan sekedar menginginkan penjelasan akan (makna) penderitaan. Ada beberapa kriteria yang sulit untuk dijelaskan, yang perlu kita ungkapkan ketika kita ingin memasuki dunia penderitaan manusia.
Obat-obatan, sebagai ilmu dan juga seni penyembuhan, yang paling banyak ditemukan dalam (usaha mengatasi) penderitaan manusia, yang diidentifikasi dengan akurasi yang tinggi dan secara relative diseimbangkan dengan metode “reaksi” (yaitu, dengan metode terapi). Namun demikian, ini hanya satu area saja. Area dari penderitaan manusia (sifatnya) jauh lebih luas, lebih bervariasi, dan bersifat multi-dimensional. Manusia menderita dengan banyak cara, yang tidak selalu dapat diobati, dengan obat yang paling canggih sekalipun. Penderitaan adalah sesuatu yang lebih luas daripada penyakit, lebih kompleks dan pada saat yang sama berakar lebih dalam dalam kemanusiaan itu sendiri. Gambaran tentang penderitaan bisa didapatkan dari pembedaan antara penderitaan fisik dan penderitaan moral. Pembedaan ini dilakukan berdasarkan dimensi ganda dari manusia dan mengindikasikan elemen jasmani dan rohani sebagai subject langsung dari penderitaan. Ketika kata “penderitaan” dan “kesakitan”, pada level tertentu dapat disinonimkan, penderitaan fisik terjadi ketika “tubuh mengalami kesakitan”, sedangkan penderitaan moral adalah “sakit yang dialami oleh jiwa”. Nyatanya, itu adalah sebuah pertanyaan tentang kesakitan dari jiwa, dan bukan hanya (dari) dimensi sakit secara “psikologis” yang menyertai penderitaan moral dan fisik. Banyaknya jumlah dan bentuk dari penderitaan moral dapat dipastikan tidak lebih sedikit dari pada jumlah dan bentuk penderitaan fisik. Dan pada saat yang sama, penderitaan moral kelihatannya lebih sulit untuk diidentifikasi dan dijamah melalui terapi.

6. Kitab Suci adalah sebuah buku yang dapat mengambarkan penderitaan dengan sangat baik. Mari kita mengutip beberapa contoh situasi di Perjanjian Lama, yang dapat dapat memakai label penderitaan, dan diatas segalanya (suatu) penderitaan moral: bahaya kematian (5), kematian anak kandung (6) dan, terutama, kematian dari anak pertama yang tunggal (7); dan juga: kesulitan mempunyai anak (8), kerinduan akan negeri asal (9), kejahatan dan kekejian yang terjadi di sekitarnya (10), ejekan dan cemoohan kepada mereka yang sedang menderita (11), kesepian dan merasa ditinggalkan (12); dan juga: penyesalan setelah sadar (akan dosanya) (13), kesulitan untuk mengerti mengapa orang yang jahat (hidup) bahagia dan orang yang baik (hidup) menderita (14), ketidak-setiaan dan dan ketidak-tahuan terima kasih dari orang orang (yang ada) disekitarnya (15); dan yang terakhir: kemalangan negerinya (16). Ketika manusia dipandang sebagai “kesatuan” psikologis dan fisik, Perjanjian baru sering menghubungkan penderitaan “moral” dengan kesakitan pada bagian bagian tubuh tertentu: tulang (17), ginjal (18), hati (liver) (19), isi dada (20), hati (heart) (21). Sehingga kita tidak dapat mengelak bahwa penderitaan moral memiliki elemen “fisik” atau somatic, dan seringkali terwujud pada kondisi dari seluruh (anggota) tubuh.

7. Seperti yang kita baca dari contoh-contoh diatas, kita dapat menemukan daftar kesakitan situasional manusia dalam Kitab Suci. Variasi yang tertulis dalam daftar ini tentunya tidak mengurangi (arti dari) semua yang telah dikatakan dan terus menerus diulang dalam tema penderitaan dalam buku sejarah manusia (sebuah “buku yang tak tertulis”), dan lebih-lebih dalam buku sejarah kemanusiaan, yang ada dalam sejarah setiap manusia secara individu.
Dapat dikatakan bahwa manusia menderita ketika ia mengalami segala macam kejahatan. Dalam perbendaharaan kata di Perjanjian Lama, penderitaan dan kejahatan selalu dihubungkan satu sama lain. Bahkan, tidak ada kata kata yang khusus untuk menyebutkan “penderitaan”. Sehingga penderitaan didefinisikan sebagai “kejahatan” (22). Hanya bahasa Yunani, dan bersama dengan Perjanjian Baru (dan juga terjemahan bahasa Yunani dari Perjanjian Lama), menggunakan kata kerja ….. = “Aku dipengaruhi oleh… Aku mengalami sebuah perasaan, Aku menderita”; dan, terima kasih karena kata kerja ini, penderitaan sekarang tidak lagi diidentifikasikan secara langsung kepada (object) kejahatan, tapi mengekspresikan sebuah situasi dimana manusia mengalami kejahatan dan karenanya menjadi subyek dari penderitaan. Penderitaan memiliki sifat subyektif dan juga sebuah karakter yang pasif (dari kata “patior”). Bahkan ketika seseorang membawa penderitaan pada dirinya sendiri, ketika dia sendiri adalah penyebab, penderitaan tersebut tetap menjadi sesuatu yang pasif dalam esensi metafisika-nya.

Ini tidak berarti bahwa penderitaan psikologis tidak ditandai dengan sebuah “aktifitas” tertentu. Kenyataannya berbagai “aktifitas” yang beragam dan berbeda secara subjectif, kesakitan, kesedihan, kekecewaan, kekuatiran dan bahkan keputus-asaan, bergantung pada intensitas dari penderitaan subyek dan sensitivitas (orang yang mengalami) nya. Ditengah-tengah wujud psikologi dari penderitaan selalu ada (efek) pengalaman kejahatan disitu, yang menyebabkan seorang individu menderita. Sehingga realitas dari penderitaan membawa pertanyaan tentang esensi dari kejahatan itu sendiri: apa itu kejahatan?
Pertanyaan ini kelihatannya, dengan sudut pandang tertentu, tidak terpisah dari tema penderitaan. Tanggapan Kristiani terhadap (penderitaan) berbeda, contohnya, beberapa budaya dan tradisi agama percaya bahwa adanya (penderitaan) adalah (wujud atau tanda) dari (suatu kuasa) kejahatan yang mana orang tersebut perlu untuk dilepaskan (darinya). Ke-Kristen-an menyatakan bahwa esensi kebaikan (keharmonisan) dan keselarasan ciptaan, menunjuk kepada kebaikan Sang Pencipta dan menyatakan kebaikan ciptaanNya. Manusia menderita karena kejahatan, yang adalah sebuah kekurangan, keterbatasan atau distorsi dari kebaikan. Kita bisa mengatakan bahwa manusia menderita karena ia kehilangan satu (atau sebagian) hal yang baik, yang dari padanya lah (kebaikan) ia dipisahkan, atau yang dari padanya ia telah menjauhkan dirinya sendiri. Ia secara khusus menderita ketika ia merasa harus – dalam urutan prioritas yang normal – memiliki kebaikan tersebut namun (pada kenyataannya ia) tidak memilikinya. Jadi dalam pandangan Kristen, realitas penderitaan dapat dijelaskan melalui kejahatan, yang selalu, dengan cara tersendiri, mengarah kepada sebuah kebaikan.

8. Di dalam dirinya sendiri, penderitaan manusia seperti memiliki satu “dunia” khusus yang selalu mengiringi manusia, dan terlihat didalam dia (manusia) dan kemudian berlalu, kadang kadang tidak mau berlalu, dan malah menyatukan diri dan mengakar sangat dalam di dalam dirinya (manusia). Dunia penderitaan ini, dibagi-bagi kepada subyek-subyek yang sangat banyak, yang seolah-olah “dengan ditebarkan”. Setiap orang, melalui penderitaan pribadi, menjadi bagian dari “dunia” tersebut, dan pada saat yang sama “dunia itu” hadir di dalam dirinya sebagai entitas yang terbatas dan tidak dapat diulangi. Dimensi sosial antar manusia juga terhubung secara paralel dengan (dunia penderitaan) ini. Dunia penderitaan juga memiliki solidaritasnya sendiri. Orang yang menderita menjadi mirip satu dengan yang lain melalui analogi situasi mereka, pencobaan terhadap takdir mereka, atau melalui keinginan untuk dimengerti dan diperhatikan, dan mungkin diatas segalanya dengan terus menerus mepertanyakan makna penderitaan. Jadi, meskipun dunia penderitaan “ditebarkan”, pada saat yang sama ia memiliki di dalam dirinya sendiri sebuah tantangan tunggal terhadap persatuan dan solidaritas (antar manusia). Kita juga perlu mengikuti seruan ini dalam refleksi masa kini.
Dengan mempertimbangkan makna personal dan kolektif dari dunia penderitaan, orang harus mengenal fakta bahwa dunia ini, pada beberapa periode waktu dan dalam beberapa era dalam sejarah manusia, secara khusus menjadi terkonsentrasi. Ini terjadi, contohnya, ketika terjadi bencana alam, epidemic, bencana besar, pergolakan dan macam macam konflik sosial: contohnya, ketika hasil panen yang buruk berakibat – atau dari macam-macam penyebab lain – pada bencana kelaparan.

Akhirnya, kita berpikir tentang perang. Saya memperlakukan ini secara khusus. Saya berbicara tentang dua perang dunia yang terakhir, yang kedua membawa bersamanya sebuah panenan kematian yang lebih besar dan beban penderitaan manusia yang paling berat. Berikutnya, yang terjadi di paruh kedua dalam abad kita ini, yang membawa bersamanya – sebanding dengan kesalahan dan pelanggaran dalam kehidupan kita sekarang – bahaya yang sangat menakutkan seperti (bahaya) perang nuklir yang tidak terbayangkan (akibatnya) kecuali akumulasi penderitaan yang tak terbandingkan, bahkan dengan kemungkinan penghancuran (umat) manusia. Dengan cara ini, dunia penderitaan tersebut yang menjadikan setiap manusia sebagai subyek, dalam jaman kita ini, kelihatannya ditransformasikan – secara lebih (pesat) dibandingkan waktu sebelumnya – ke dalam sebuah “dunia” yang spesial: dunia yang belum pernah diubah oleh pekerjaan manusia dan, pada saat yang sama, yang sebelumnya tidak pernah berada dalam (kondisi) bahaya, (hanya) karena kesalahan dan kecerobohan manusia.

III
PENCARIAN SEBUAH JAWABAN
TERHADAP PERTANYAAN TENTANG MAKNA
PENDERITAAN

9. Di dalam setiap bentuk penderitaan yang dialami oleh manusia, dan pada saat yang sama pada inti dari segala penderitaan di dunia, ada pertanyaan yang tidak terhindarkan: mengapa? Ini adalah sebuah pertanyaan tentang penyebab, alasan, dan juga, tentang manfaat dari penderitaan, dan sebuah pertanyaan tentang maknanya. (Pertanyaan tersebut) tidak hanya menemani penderitaan manusia, namun kelihatannya juga berusaha menentukan nilai manusia (itu sendiri), sesuatu yang membuat penderitaan benar benar menjadi penderitaan manusia.
Jelaslah bahwa sakit, terutama kesakitan fisik, juga terjadi di dunia hewan. Namun hanya manusia yang menderita yang mengetahui bahwa ia sedang menderita dan ingin menanyakan mengapa (ia menderita); dan orang akan berkata bahwa ia akan lebih menderita jika ia tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Ini adalah sebuah pertanyaan yang sulit, sama seperti sebuah pertanyaan lain yang sangat mirip dengannya, pertanyaan akan kejahatan. Mengapa kejahatan ada? Mengapa ada kejahatan di atas bumi? Ketika kita bertanya seperti ini, kita selalu, paling tidak pada level tertentu, menanyakan juga tentang penderitaan.

Kedua pertanyaan tersebut sulit (untuk dijawab), ketika seseorang (mencoba mencari jawabannya) pada orang lain, ketika orang menanyakannya pada orang lain, seperti ketika ia menanyakannya pada Tuhan. Karena manusia tidak menanyakannya pada dunia, meskipun seringkali penderitaan yang dialaminya berasal dari dunia, namun ia menanyakannya kepada Tuhan sebagai Pencipta dan Penguasa dunia. Dan sudah sangat sering terjadi pertanyaan ini tidak hanya menimbulkan (rasa) frustasi dan konflik dalam hubungan manusia dengan Tuhan, namun juga terjadi peristiwa dimana manusia mencapai titik dimana ia benar-benar menolak (adanya) Tuhan, kebijaksanaan, kekuatan dan kehebatan kejahatan dan penderitaan kelihatannya mampu mengaburkan gambaran (akan Tuhan) ini, terkadang dengan cara yang radikal, terutama dalam drama penderitaan yang tidak semestinya (terjadi) dan begitu banyaknya kesalahan yang tidak mendapatkan hukuman yang setimpal, yang kita saksikan setiap hari. Jadi kondisi-kondisi ini menunjukkan – mungkin lebih dari segalanya – pentingnya pertanyaan tentang makna penderitaan; (kondisi-kondisi ini) juga menunjukkan kehati-hatian yang harus diambil ketika menghadapi pertanyaan tersebut dan kemungkinan-kemungkinan jawabannya.

10. Manusia dapat bertanya kepada Tuhan dengan semua emosi dalam hatinya dan dengan pikiran penuh kekecewaan dan keingin-tahuan; dan Tuhan menunggu dan mendengarkan pertanyaan (manusia), seperti yang dapat kita baca seperti di-Wahyu-kan di Perjanjian Lama. Dalam Kitab Ayub pertanyaan tersebut telah diekspresikan secara sangat jelas. Cerita yang terkenal, tentang orang yang lurus, yang tanpa kesalahan yang dilakukannya sendiri, dicobai dengan penderitaan yang sangat hebat dan bertubi tubi. Ia kehilangan harta bendanya, putra dan putrinya, dan akhirnya ia dihinggapi penyakit yang parah. Dalam kondisi yang menyedihkan ini, tiga temannya mengunjungi rumahnya, dan tiap orang dengan caranya masing-masing mencoba untuk meyakinkan dia bahwa karena ia telah mengalami macam-macam penderitaan yang demikian parah, ia pasti telah melakukan suatu kesalahan yang sangat besar. Karena penderitaan – menurut mereka – selalu menimpa orang sebagai hukuman atas kejahatan(nya); sesuatu yang dikirim oleh Allah yang maha adil dan (kemudian) menemukan alasannya dalam tatanan keadilan. Dapat dikatakan disini bahwa teman teman lama Ayub tidak hanya mencoba untuk meyakinkan dia tentang keadilan moral dari kejahatan, tapi juga dengan cara tertentu, mereka mencoba untuk membenarkan penilaian mereka terhadap makna moral dari penderitaan. Dalam pandangan mereka penderitaan dapat memiliki sebuah makna tunggal (yakni) sebagai sebuah hukuman bagi dosa, karenanya hanya ada di level keadilan Allah, yang membalas kebaikan dengan kebaikan dan kejahatan dengan kejahatan.

Referensi ini bertujuan untuk (menunjukkan) doktrin yang ada dalam (kitab) Perjanjian Lama yang berbeda dari yang menunjukkan pada kita tentang penderitaan sebagai penghukuman yang diberikan oleh Tuhan bagi dosa-dosa manusia. (Bahwa) Allah sang Wahyu adalah ‘Pemberi Hukum’ dan Hakim sampai ke tingkat dimana tidak ada otoritas di dunia yang dapat melihatnya (mengerti akan rencanaNya). Karena Allah sang Wahyu pada tempat yang pertama adalah Pencipta, yang dari padaNya juga mengalir, bersama-sama dengan keber”ada”an (itu sendiri), essensi kebaikan dari ciptaan. Karenanya, kesadaran akan kebaikan ini dan pelanggaran (terhadapnya) yang dilakukan secara sadar bukan hanya sebuah pelanggaran terhadap aturan (Tuhan) namun pada saat yang bersamaan adalah sebuah perlawanan terhadap sang Pencipta, yang adalah Pemberi Hukum yang pertama. Pelanggaran seperti ini memiliki karakter dosa, sesuai dengan makna asli dari kata ini, secara biblis dan theologis. (Hal yang) berhubungan dengan moral kejahatan dari dosa adalah penghukuman, yang menjamin keteraturan moral memiliki sifat transendental yang sama seperti ketika keteraturan ini ditetapkan dengan keinginan Sang Pencipta dan Pemberi Hukum Tertinggi. Dari sini jugalah bermula salah satu kebenaran fundamental dari iman, yang juga berasal dari Wahyu, bahwa Allah adalah hakim yang adil, yang membalas kebaikan dan menghukum kejahatan: “Hanya keadilan yang Kaulakukan; perbuatan-perbuatan-Mu tidak salah, jalan-jalan-Mu benar, dan putusan-Mu selalu adil. Sungguh adil hukuman-Mu ketika Engkau menimpakan malapetaka ke atas kami…. Engkau bertindak sesuai dengan kebenaran dan keadilan, sebagai siksa karena dosa-dosa kami”(23).

Pendapat yang dikemukakan oleh teman-teman Ayub mengungkapkan suatu keyakinan seperti juga dapat ditemukan dalam kesadaran moral manusia: keteraturan moral membutuhkan (sebuah) penghukuman bagi pelanggaran, dosa dan kejahatan. Dari sudut pandang ini, penderitaan dipandang sebagai sebuah “kejahatan yang sudah dibenarkan (diperbolehkan untuk terjadi)”. Mereka yang yakin bahwa penderitaan adalah sebuah hukuman bagi dosa menemukan dukungan dalam keteraturan keadilan, dan ini sama dengan keyakinan yang diungkapkan oleh salah satu teman Ayub: “Sebagaimana yang kusaksikan, mereka yang membajak kejahatan atau mereka yang menabur persoalan menuai hasil yang sama”(24).

11. Ayub berusaha melawan prinsip yang mengidentifikasi penderitaan sebagai penghukuman bagi dosa. Dan ia melakukannya atas dasar pendapat pribadinya sendiri. Karena ia sadar bahwa ia tidak seharusnya dihukum seperti itu, dan ia berusaha menyebutkan kebaikan-kebaikan yang telah dilakukannya selama hidupnya. Tuhan sendiri memarahi teman-teman Ayub karena tuduhan mereka karen (Dia sendiri) mengetahui bahwa Ayub tidak bersalah. Penderitaannya adalah penderitaan dari seorang yang tidak bersalah dan (penderitaan) itu harus diterima sebagai sebuah misteri, yang mana tidak dapat seluruhnya dimengerti oleh pikirannya sendiri.
Kitab Ayub tidak melanggar dasar-dasar keteraturan moral transcendental, yang (tetap) berdasarkan keadilan, karena telah disajikan dalam seluruh Wahyu, Perjanjian Lama dan Baru. Pada saat yang sama, dengan segala kepastiannya menunjukkan bahwa prinsip-prinsip dari peraturan ini tidak bisa diaplikasikan dengan cara yang eksklusif dan superficial (di permukaan). Memang benar bahwa penderitaan memiliki makna penghukuman, yaitu ketika (penderitaan) itu dihubungkan dengan sebuah kesalahan, namum sama sekali tidak benar jika semua penderitaan adalah konsekuensi dari kesalahan dan memiliki sifat penghukuman. Figur Ayub yang saleh adalah bukti yang spesial yang ada di Perjanjian Lama. Wahyu, yang adalah ucapan Allah sendiri, dengan demikian terbuka menyatakan bahwa orang yang tidak bersalah pun dapat mengalami penderitaan: penderitaan tanpa kesalahan. Ayub tidak menerima penghukuman, tidak ada alasan untuk menjatuhkan hukuman padanya, bahkan setelah ia menerima pencobaan yang sangat berat. Di bagian awal kitab ini, kita tahu bahwa Allah mengijinkan pencobaan ini karena desakan setan. Karena setan telah mempertanyakan keadilan Tuhan terhadap Ayub: “Apakah Ayub takut akan Allah tanpa pamrih sama sekali?….Engkau telah memberkati dan memakmurkan dia, dengan hewan ternak yang memenuhi seluruh tanah ini. Tetapi sekarang, ulurkanlah tangan-Mu dan hancurkanlah segala sesuatu yang dimilikinya dan aku berani bertaruh, ia akan mengutuk Engkau di hadapan wajah-Mu”(25). Dan jika Tuhan mengijinkan Ayub untuk dicobai dengan penderitaan, Ia melakukannya untuk menunjukkan keadilanNya kemudian. Penderitaan memiliki sifat (nature) pencobaan.

Kitab Ayub bukanlah yang terakhir dalam Wahyu tentang hal (penderitaan) ini. Dengan cara tersendiri, ini adalah sebuah penggambaran Karya Penebusan Kristus. Namun dalam (kitab Ayub) itu sendiri sudah cukup ditemukan bukti mengapa jawaban dari pertanyaan tentang makna penderitaan tidak boleh secara pasti (total) dihubungkan dengan keteraturan moral, berdasarkan keadilan semata. Meskipun jawaban ini memiliki alasan dan validitas yang fundamental dan transcendental, pada saat yang sama (kita) merasa tidak puas ketika melihat kejadian-kejadian yang mirip dengan yang menimpa Ayub yang saleh, dan (kejadian-kejadian) ini membuat konsep keadilan dalam Wahyu menjadi sepele dan turun maknanya.

12. Kitab Ayub mengandung pertanyaan yang sangat tajam tentang “mengapa” (orang) menderita; karena (kitab tersebut) menunjukkan bahwa penderitaan juga dialami oleh (orang-orang) yang tidak bersalah, namun (tetap) masih belum memberi jawaban terhadap pertanyaan tersebut. Kita telah melihat Perjanjian Lama menulis sebuah orientasi yang mulai keluar dari konsep penderitaan sebagai hanya hukuman bagi dosa, dan sekaligus menekankan nilai pendidikan dari penderitaan sebagai sebuah hukuman. Jadi dalam penderitaan yang diberikan oleh Tuhan kepada Orang-Orang yang Terpilih, terdapat sebuah tawaran akan pengampunanNya, untuk mengarahkan (seseorang) pada pertobatan:”…bencana-bencana ini tidak terjadi untuk memusnahkan bani kita, melainkan demi pendidikan kita”(26). Sehingga (ini adalah) konfirmasi bagi (adanya) dimensi personal dari penderitaan. Dimensi ini (menjelaskan bahwa) penghukuman memiliki sebuah makna yang tidak hanya bertujuan untuk membayar kesengsaraan yang berasal dari pelanggaran dengan kesengsaraan lain, namun pada tempat yang pertama dan terutama adalah (untuk) menciptakan kemunngkinan untuk membangun kembali kebajikan di dalam orang yang (mengalami) penderitaan.
Ini adalah aspek yang sangat penting dari penderitaan. Sangat kuat mengakar dalam seluruh Wahyu yang terdapat dalam Perjanjian Lama terlebih di Perjanjian Baru. Penderitaan harus digunakan sebagai (tanda) pertobatan, yaitu untuk membangun kembali (nilai-nilai) kebaikan di dalam diri orang, yang dapat mengenali pengampunan ilahi dalam panggilan pertobatan ini. Tujuan dari laku tobat (silih / penitensi) adalah untuk mengatasi kejahatan, yang menetap sangat dalam, dalam diri seseorang dalam berbagai macam bentuk. Tujuan lain adalah untuk memperkuat (nilai-nilai) kebajikan dalam diri orang tersebut dan juga dalam hubungannya dengan orang lain dan terutama dengan Tuhan.

13. Namun untuk mendapatkan jawaban sesungguhnya terhadap (pertanyaan) “mengapa” (orang) menderita, kita harus meneliti wahyu ilahi, sumber utama dari makna segalanya yang ada. Kasih juga adalah sumber yang kaya tentang makna dari penderitaan, yang selalu merupakan sebuah misteri: kami menyadari ketidak-cukupan penjelasan kami Kristus membiarkan kita memasuki misteri dan menemukan (sendiri) “mengapa” (orang) menderita, sejauh kita mampu mengerti kegagungan kasih ilahi. Untuk menemukan makna terdalam dari penderitaan, untuk mengikuti wahyu Allah, kita harus membuka diri lebar-lebar terhadap faktor manusia dengan berbagai kemungkinannya. Di atas segalanya kita harus menerima penerangan Wahyu bukan hanya karena ia mengekspresikan keteraturan keadilan transendental namun juga karena ia menerangi keteraturan ini dengan Kasih, sebagai sumber definitive segalanya yang ada. Kasih adalah: juga merupakan sumber utama dari jawaban terhadap pertanyaan tentang makna penderitaan. Jawaban ini telah diberikan oleh Allah kepada manusia dalam Salib Yesus Kristus.

IV
PENDERITAAN YESUS KRISTUS
KARENA KASIH

14. “Sungguh, Allah demikian mengasihi dunia, sehingga Ia rela memberikan Putra-Nya yang tunggal, agar semua orang yang percaya kepada-Nya tidak akan binasa, tapi mempunyai hidup yang kekal”(27). Kata-kata yang diucapkan Kristus dalam pembicaraannya dengan Nikodemus ini menjelaskan pada kita inti dari karya penyelamatan Allah. (Kata-kata) ini juga menyatakan essensi terdalam dari soteriologi Kristen, yaitu teologi penebusan. Penebusan berarti kebebasan dari yang jahat, dan karenanya menjadi dekat dengan penderitaan. Seperti kata-kata yang diucapkan kepada Nikodemus, Tuhan memberikan Putera-Nya sendiri kepada “dunia” untuk membebaskan manusia dari yang jahat, yang didalamnya terkandung perspektif yang definitif dan absolut dari penderitaan. Pada saat yang sama, kata “memberikan” menyatakan bahwa pembebasan ini harus diperoleh didalam Putra Tunggal-Nya melalui penderitaanNya sendiri. Dan didalam (penderitaan) ini, kasih diwujudkan, kasih yang tak terbatas dari Sang Putra Tunggal dan Bapa yang untuk alasan tersebut “memberikan” Putera-Nya. Ini adalah kasih bagi umat manusia, kasih bagi “dunia”: kasih yang menyelamatkan.

Kita melihat diri kita – dan kira harus benar-benar menyadari hal ini dalam refleksi kita terhadap masalah (penderitaan) ini – berhadapan dengan sebuah dimensi yang sama sekali baru dari tema (yang sedang) kita (bahas ini). Ini adalah sebuah dimensi yang berbeda dari yang sebelumnya telah dijelaskan dan, dengan cara tertentu, juga menyelesaikan pencarian makna penderitaan dalam batasan keadilan. Dimensi ini adalah (dimensi) Penebusan, dimana dalam Perjanjian Lama, paling tidak yang tertulis dalam teks (kitab) Vulgata, kata-kata dari Ayub yang saleh terlihat sudah mengacu (pada dimensi penebusan tersebut): “Karena kutahu bahwa Penebusku hidup, dan Dia, Yang Akhir….aku akan melihat Allah….”(28). Ketika pembahasan kita terkonsentrasi terutama dan secara eksklusif kepada penderitaan dalam dimensi-dimensi temporalnya (termasuk penderitaan Ayub yang saleh), kata-kata yang dikutip dari pembicaraan Yesus dengan Nikodemus mengacu pada makna penderitaan yang paling mendasar dan definitif. Tuhan memberikan Putera-Nya yang tunggal supaya manusia “tidak akan binasa” dan makna dari kata-kata “tidak akan binasa” ini dijelaskan sepenuhnya dengan kata-kata yang mengikutinya: “tapi memiliki hidup yang kekal”.
Manusia akan “binasa” jika ia kehilangan “hidup yang kekal”. Karenanya, lawan dari keselamatan bukan hanya penderitaan yang bersifat sementara, penderitaan dalam bentuk apapun, namun sebuah penderitaan yang definitif: kehilangan kehidupan yang kekal, ditolak oleh Tuhan, pengutukan (pembuangan). Putra Allah yang tunggal telah diberikan kepada umat manusia terutama untuk melindungi manusia dari kejahatan dan penderitaannya yang bersifat definitif. Dalam misi penyelamatannya, Sang Putra harus menyerang kejahatan pada akar transendentalnya darimana sejarah manusia berasal. Akar kejahatan transendental ini berada dalam dosa dan kematian: karena (hal-hal) itu adalah asal dari hilangnya kehidupan kekal. Misi dari Sang Putra yang Tunggal termuat di dalam penaklukkan dosa dan kematian. Ia menaklukkan dosa melalui kepatuhannya untuk mati, dan Ia mengatasi kematian dengan KebangkitanNya.

15. Ketika kita mengatakan bahwa Kristus menyerang kejahatan pada akarnya yang terdalam, yang ada dalam pikiran kita bukan hanya kejahatan dan, penderitaan eskatologis yang definitif (sehingga manusia “tidak akan binasa, tapi memiliki hidup yang kekal”), tapi juga – dimensi kerja keras dan penderitaan yang bersifat sementara dan historis. Karena kejahatan selalu terikat dengan dosa dan kematian. Dan sekalipun kita harus dengan sangat hati-hati menilai penderitaan seseorang sebagai konsekuensi dari dosa-dosa (nya) yang konkrit (dicontohkan secara tepat oleh apa yang dialami oleh Ayub yang saleh), bagaimanapun juga penderitaan tidak dapat dipisahkan dari dosa awal, yang oleh St. Yohanes dikatakan sebagai “dosa dunia”(29), yang dilatar belakangi oleh dari perbuatan individu dan proses sosial dalam sejarah manusia. Meskipun kriteria sempit seperti hubungan langsung (seperti yang dilakukan ketiga teman Ayub) tidak terlalu tepat diaplikasikan disini, kita juga tidak dapat menolak kriteria, dalam kaitannya dengan penderitaan manusia, ada keterlibatan yang kompleks dari dosa didalamnya.

Sama halnya dengan kematian. (Kematian) sering ditunggu sebagai sebuah pelepasan dari penderitaan dalam hidup. Pada saat yang sama, kita tidak dapat mengabaikan fakta bahwa (kematian) seolah-olah tersusun dari berbagai pekerjaan penghancuran di dalam tubuh organisme dan di dalam psikis. Kematian terutama adalah terurainya kesatuan personality psikis-fisik seorang manusia. Roh akan selamat dan tetap ada secara terpisah dari tubuh, tubuh sendiri akan mengalami pembusukan perlahan-lahan sesuai dengan kata-kata Tuhan, yang diucapkan setelah manusia melakukan dosa pertama pada awal sejarah dunia: “karena engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu”(30). Karenanya, walaupun kematian bukanlah sebuah bentuk penderitaan yang temporal di dunia, dan meskipun dengan cara yang khusus (kematian) mengatasi segala bentuk penderitaan, pada saat yang sama kejahatan, di dalam pengalaman kematian manusia, memiliki karakternya yang definitif dan total. Oleh karya penyelamatanNya, Sang Putra yang tunggal membebaskan manusia dari dosa dan kematian. Pertama Ia menyingkirkan kuasa dosa dari sejarah manusia, yang berakar pada keterlibatan Roh jahat, yang dimulai sejak Dosa Pertama, dan kemudian memberikan kemungkinan bagi manusia untuk hidup di dalam Rahmat Pengudusan. Dalam kemenanganNya terhadap doosa, Ia juga menyingkirkan kuasa kematian, dan melalui KebangkitanNya dimulailah proses kebangkitan badan yang kelak akan terjadi.

Kedua hal diatas adalah kondisi yang mutlak diperlukan bagi “kehidupan kekal”, yaitu kebahagiaan kekal manusia dalam persatuan dengan Tuhan; ini berarti, bagi mereka yang diselamatkan, perspektif eskatologis penderitaan telah dijelaskan secara tuntas. Sebagai buah dari karya penyelamatan Kristus, manusia berada di dunia dengan harapan akan kehidupan kekal dan kesucian. Dan walaupun kemenangan terhadap dosa dan kematian yang diperoleh Kristus dalam Salib dan KebangkitanNya tidak meniadakan penderitaan temporal dari kehidupan manusia, atau membebaskan keseluruhan dimensi historis eksistensi manusia dari penderitaan, namun (dapat) memberikan arah dari dimensi ini dan untuk semua penderitaan: (memberikan) arah keselamatan. Ini adalah arah dari Injil, yaitu, Kabar Gembira. Dan pusatnya adalah kebenaran yang ada dalam percakapan dengan Nikodemus: “Sungguh, Allah demikian mengasihi dunia, sehingga Ia rela memberikan Putra-Nya yang tunggal”(31). Kebenaran ini mengubah gambaran tentang sejarah manusia dan situasi dunia secara drastis: meskipun dosa telah mengakar dalam sejarah (dosa) pertama yang diwariskan turun temurun dan sebagai “dosa dunia” dan sebagai akumulasi dosa-dosa individual, Allah Bapa yang telah mengasihi Putra tunggalNya, selamanya dalam keabadian; dan kemudian dalam waktu, karena kasihnya yang melampaui segala sesuatu, Ia “memberikan” Sang Putra, agar Ia dapat menyerang akar terdalam kejahatan manusia dan kemudian mendekatkan dunia penderitaan sebagai jalan keselamatan dimana manusia terlibat didalamnya.

16. Dalam karya mesianik di tengah-tengah (bangsa) Israel, Kristus membawa (manusia) semakin dekat kepada dunia penderitaan manusia. “Ia berjalan berkeliling sambil berbuat baik”(32), dan karyanya diarahkan terutama kepada mereka yang menderita mencari pertolongan. Ia menyembuhkan orang sakit, menghibur (orang) yang dalam kesusahan, memberi makan (orang) yang lapar, membebaskan orang dari tuli, kebutaan, dari penyakit lepra, dari setan dan dari berbagai kelumpuhan fisik, tiga kali ia membangkitkan orang mati. Ia sangat peduli terhadap penderitaan manusia, baik fisik maupun jiwa. Dan pada saat yang sama ia juga mengajarkan, dan di pusat ajarannya ada delapan berkat, yang ditujukan untuk orang yang sedang mengalami berbagai macam penderitaan dalam hidup sementaranya (di dunia). (Berkat-berkat) ini adalah “roh kemiskinan” dan “meratap” dan “mereka yang lapar dan haus akan kebenaran” dan mereka yang “dianiaya karena kebenaran”, apabila orang menghina dan menganiaya kamu serta memfitnah kamu karena Kristus….(33). Dan seperti Matius; Lukas menuliskan secara eksplisit kamu “yang sekarang ini lapar”(34).

Di Level manapun, Kristus telah mendekati dunia penderitaan manusia dengan cara mengalami sendiri penderitaan ini di dalam dirinya sendiri. Selama melaksanakan misiNya, Ia mengalami sendiri tidak hanya kelelahan, jauh dari rumah (tanpa tempat tinggal), kesalah pahaman dari orang-oranng yang dekat denganNya, namun, diatas segala-galanya, Ia semakin lama semakin terisolasi dan dikelilingi oleh kebencian dan rencana pembunuhan atas diriNya. Kristus menyadari semuanya ini, dan (Ia) sering berbicara kepada para muridNya akan penderitaan dan kematian yang menanti diriNya: “Kalian lihat bahwa kita ke Yerusalem dan Putra Manusia akan diserahkan ke tangan imam-imam besar dan ahli-ahli Taurat. Mereka akan menjatuhiNya hukuman mati, lalu menyerahkannya ke tangan orang-orang kafir yang akan mengolok-olok, meludahi, mendera dan membunuhnya; tetapi setelah tiga hari Ia akan bangkit”(35). Kristus mendekati Penderitaan dan kematianNya dengan kesadaran yang penuh bahwa misiNya memang harus diselesaikan dengan cara tersebut. Dan dengan makna penderitaan yang ini lah Ia melaksanakan (tujuan) “agar manusia tidak binasa, tapi mempunyai hidup yang kekal”. Dengan SalibNya ia harus menyerang akar kejahatan, yang ditanamkan dalam sejarah kemanusiaan dan dalam jiwa manusia. Dengan SalibNya ia harus menyelesaikan tugas penebusan. Tugas tersebut, dalam rencana kasih yang abadi (dari Allah), memiliki sifat penebusan (pemulihan hubungan).

Dan karenanya Kristus menegur Petrus ketika ia ingin agar Yesus melupakan pikiran untuk menderita dan mati di Salib (36). Dan ketika berada di taman Getsemani, ketika Petrus yang sama berusaha untuk melindungiNya dengan pedang, Kristus berkata, “Sarungkanlah pedangmu…Jika menurut Kitab Suci hal ini harus terjadi, bukankah itu harus terjadi?(37)”. Dan Ia juga berkata,”Bukankah Aku harus meminum piala yang telah diberi kepada-Ku oleh Bapa?”(38). Kata-kata tersebut, dan yang lain lainnya terutama yang ada dalam Injil, menunjukkan betapa dalamnya Kristus mengetahui hal hal yang telah dinyatakannya pada pembicaraannya dengan Nikodemus: “Sungguh, Allah demikian mengasihi dunia, sehingga Ia rela memberikan Putra-Nya yang tunggal, agar semua orang yang percaya kepada-Nya tidak akan binasa, tapi mempunyai hidup yang kekal”(39). Kristus (membiarkan) dirinya berjalan menuju penderitaanNya sendiri, karena Ia menyadari betapa kuatnya kuasa penebusan (dalam misinya); Ia tetap melanjutkan misinya karena kepatuhan pada Bapa, terlebih karena ia bersatu dengan Bapa dalam (misi) cinta kasih ini, yang dengannya Ia telah mencintai dunia dan manusia di dalamnya. Dan dengan alasan inilah St. Paulus menyatakan tentang Kristus: “Ia mengasihi aku dan yang telah menyerahkan diri-Nya untuk aku”(40).

17. Injil harus dipenuhi. Ada banyak teks nubuat dalam Perjanjian Lama yang mengisyaratkan penderitaan yang harus dialami oleh Ia yang Diurapi oleh Allah. Nubuat yang paling menyentuh hati, diantara teks-teks tersebut, adalah yang dikenal dengan Lagu yang ke Empat dari Hamba Yahweh (yang Menderita), dalam Kitab Yesaya. Nabi (Yesaya), yang dijuluki “Penginjil ke Lima”, menuliskan sebuah gambaran penderitaan sang Hamba dalam syair tersebut, dengan demikian nyata seolah-olah ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri: mata dari tubuh dan roh. Dalam terang tulisan (nabi) Yesaya, (perjuangan) Penderitaan Kristus terasa seolah-olah menjadi lebih ekspresif dan menyentuh dari pada yang dikisahkan oleh para Penginjil sendiri. Lihatlah, Manusia Penuh Penderitaan yang sejati menunjukkan diriNya dihadapan kita:
“Tidak ada yang menarik dalam rupanya,
tak ada keindahan, tak ada keagungan.
Ia dihina dan ditolak orang,
seorang penuh duka yang biasa menderita,
terhadapnya oranng menyembunyikan muka,
dihina dan dianggap tidak masuk hitungan.
Namun sesungguhnya duka kita yang ditanggungnnya,
derita kita yang dipikulnya,
meskipun kita menganggap dia sebagai seorang yang disiksa Allah,
dipukul dan direndahkan.
Karena dosa-dosa kita dia ditinggalkan,
karena kejahatan kita dia diremukkan,
Oleh siksa yang dideritanya kita disembuhkan;
oleh luka-lukanya kita dipulihkan.
Kita semua telah tersesat seperti domba-domba,
setiap orang mengikuti jalannya masing-masing;
tetapi padanya Yahweh menimpakan semua kejahatan kita”(41).

Lagu dari Hamba Yahweh (yang Menderita) mengandung sebuah penjelasan yang memungkinan untuk mengidentifikasi (perjalanan) Penderitaan Kristus secara mendetail: penangkapan, penghinaan, pemukulan, peludahan, penghinaan bagi pesakitan, penghakiman yang semena-mena, penghinaan, dimahkotai duri dan dicemooh, dipaksa membawa Salib, penyaliban dan kesakitan yang amat sangat. Lebih dari penggambaran Penderitaan, kata-kata sang Nabi yang mengejurkan kita adalah kedalaman pengorbanan Kristus. Lihatlah Dia, yang meskipun tanpa kesalahan, telah menimpakan ke atas diriNya sendiri penderitaan semua orang, karena Ia telah menimpakan dosa semua orang ke atas diriNya: Tuhan telah menimpakan kejahatan kita semua ke atas-Nya”: semua dosa manusia dengan segala keaneka ragaman dan kedalamnya menjadi penyebab utama penderitaan Sang Penebus. Jika penderitaan “diukur” dengan kejahatan yang diderita, kata-kata Nabi (Yesaya) membuat kita mengerti hebatnya kejahatan dan penderitaan yang dibebankan Yesus atas diriNya sendiri. Dapat dikatakan bahwa ini adalah sebuah penderitaan “yang mengantikan”, dan diatas segalanya (adalah sebuah penderitaan) “yang menebus”. Manusia Penuh Penderitaan yang dinubuatkan adalah benar-benar “Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia”(42). Dalam penderitaanNya, dosa-dosa dimusnahkan karena Ia sendiri yang adalah sang Putra yang tunggal yang mampu menampungnya di dalam diriNya sendiri, menerima (dosa-dosa) tersebut karena kasih kepada Bapa yang melampaui kejahatan dari segala dosa; dengan cara tersebut Ia mengenyahkan (tabir) kejahatan antara Tuhan dan kemanusiaan, dan mengisinya dengan kebajikan.

Disini kita menyentuh sifat dualisme dari satu subyek individu yang penderitaannya mampu menyelamatkan. Ia yang dengan semangat Penderitaan dan kematian di kayu Salib yang membawa Penebusan, adalah Putra tunggal yang “diberikan” oleh Tuhan. Dan pada saat yang sama Sang Putra yang berkonsubstansi (menyatu secara substansi) dengan Bapa, menderita sebagai manusia. PenderitaanNya memiliki dimensi manusiawi; yang juga memiliki keunikan dalam sejarah kemanusiaan – kedalaman dan intensitas yang, ketika dalam wujud manusia, memiliki kedalaman dan intensitas penderitaan yang tak terbandingkan, sejauh manusia yang menderita adalah benar-benar Putra Allah yang tunggal sendiri. “Allah dari Allah”. Karenanya, hanya Dia – Sang Putra yang tunggal – yang mampu menahan kedahsyatan kejahatan yang ada di dalam dosa manusia: di setiap dosa dan di “seluruh” dosa, dalam dimensi keberadaan sejarah manusia di atas bumi.

18. Dapat dikatakan bahwa pertimbangan diatas sekarang membawa kita langsung ke Taman Getsemani dan Bukit Golgota, dimana Lagu dari Hamba Yahweh (yang Menderita) yang tertulis di Kitab Yesaya, dipenuhi. Namun sebelumnnya, mari kita membaca ayat-ayat berikutnya, yang menubuatkan Penderitaan di taman Getsemani dan Bukit Golgota.Hamba yang Menderita – yang pada gilirannya nanti sangat penting untuk dapat mengerti keteguhan Penderitaan Kristus – yang menanggung sendiri segala penderitaan yang seperti telah dikatakan, secara suka dan rela:
Dianiaya dan ditindas dia tidak melawan,
Tanpa membuka mulut dia tunduk menyerah.
Seperti seekor anak domba dia diantar ke pembantaian,
seperti seekor domba di hadapan orang yang mencukur bulunya
dia tidak membuka mulutnya.
Dia dibawa ke tahanan dan diadili
Suatu nnasib yang tidak terpikirkan!
Dia diputuskan dari negeri orang-orang hidup,
Didera karena dosa-dosa bangsanya.
Mereka menempatkan kuburnya di antara orang jahat,
Dikubrukan bersama para penindas,
Sekalipun dia tidak melakukan kekerasan
dan tidak ada tipu di dalam mulutnya”(43).

Kristus menderita dengan suka rela dan tanpa kesalahan sedikitpun. Dengan sengasaraNya Ia menerima pertanyaan – yang telah diajukan oleh orang-orang berulang-ulang – yang telah diekspresikan, kadang dengan cara yang radikal seperti (yang ditulis) dalam Kitab Ayub. Kristus, tidak hanya membawa bersamaNya pertanyaan yang sama (dan ini adalah cara yang lebih radikal lagi, karena ia tidak hanya manusia (biasa) seperti Ayub namun (adalah) Putra Tunggal Allah), namun Ia juga membawa jawaban terbaik untuk pertanyaan tersebut. Orang dapat berkata bahwa jawaban ini keluar dari sang guru dari mana pertanyaan tersebut berasal. Kristus memberikan jawaban terhadap pertanyaan tentang penderitaan dan makna penderitaan, tidak hanya melalui apa yang diajarkanNya, yaitu Kabar Gembira, namun diatas segalanya melalui penderitaanNya sendiri, yang terintegrasi secara organik dan tak terpisahkan dengan pemberitaan kabar Gembira. Dan inilah kata yang final dan pasti dari ajaran ini: “ajaran Salib”, seperti yang di kemudian hari dikatakan oleh St. Paulus(44).

“Ajaran Salib” ini dilengkapi dengan realitas definitif gambaran nubuat masa lalu. Cerita dan Ceramah Yesus selama tahun-tahun Ia mengajar menjadi saksi bagi jalan penderitaan yang sejak semula telah diterimaNya yang adalah keinginan dari Bapa bagi keselamatan dunia. Walaupun demikian, doa di taman Getsemani menjadi titik yang penting disini. Kata-kata: “Bapa, jika mungkin, ambillah piala ini dari pada-Ku. Tetapi bukan yang Kukehendaki, tetapi yang Kaukehendaki”(45), dan kemudian: “Bapa, jika piala ini tidak dapat diambil dari pada-Ku dan Aku harus meminumnya, jadilah kehendak-Mu”(46), memiliki beragam makna. (Kata-kata) itu membuktikan bahwa sang Putra yang Tunggal mengasihi Bapa dalam kepatuhanNya. Pada saat yang sama, (kata-kata) itu mengarah kepada kesejatian dari penderitaanNya. Kata-kata dari doa Kristus di taman Getsemani menunjukkan kemurnian cinta melalui kemurniaan penderitaan. Kata-kata Kristus menyatakan dengan segala kesederhanaan kebenaran manusiawi dari penderitaan, inti yang terdalam: penderitaan adalah (sebuah) pengalaman dari yang jahat yang membuat manusia menjadi gemetar. Ia berkata: “ambillah piala ini dari pada-Ku”, seperti yang dikatakan Kristus di Taman Getsemani. Kata-kataNya juga menunjukkan penderitaan yang unik yang kedalaman dan intensitasnya tidak dapat dibandingkan (dengan penderitaan manapun), yang hanya manusia yang adalah sang Putra yang Tunggal yang dapat mengalaminya; (kata-kata) tersebut membantu kita mengerti dengan menunjukkan kedalaman dan intensitas nubuat yang dikutip diatas. Tentu tidak sempurna (karena (untuk mengerti dengan sempurna) kita harus masuk kedalam misteri tuhan-manusia dari Yesus), tapi paling tidak (kata-kata) itu membantu kita untuk mengerti perbedaan (dan pada saat yang sama kesamaan) yang muncul pada setiap bentuk penderitaan manusia dan penderitaan dari Tuhan-manusia. Taman Getsemani adalah tempat dimana penderitaan ini, dengan semua kebenaran yang diekspresikan oleh Nabi (Yesaya) mengenai keberadaan kejahatan di dalamnya, diungkapkan secara demikian jelas dihadapan mata roh Kristus.

Setelah kata-kata di Taman Getsemani, berikutnya diikuti kata-kata di Bukit Golgota, kata-kata yang menjadi saksi kedalaman yang – unik dalam sejarah dunia – kejahatan ini yang dialami oleh penderitaan. Ketika Kristus berkata: “AllahKu, ya AllahKu, mengapa Engkau meninggalkan daku?”, kata-kataNya tidak hanya melukiskan kesendirian (karena ditinggalkan) yang sering ditemukan dalam Perjanjian Lama, terutama di (kitab) Mazmur dan terutama di Mazmur 22 [21] darimana kata-kata tersebut dikutip(47). Orang dapat berkata bahwa kata-kata ini keluar dari persatuan Anak dan Bapa yang tak terpisahkan, dan dicuapkan karena Bapa “menimpakan semua kejahatan kita padaNya”(48). (Kata-kata) itu juga mendahului kata-kata St. Paulus: “Ia tidak berbuat dosa, tetapi Allah telah membuat Dia memikul dosa kita”(49). Bersama dengan beban yang sangat berat ini, dengan membungkus “seluruh” kejahatan karena telah berpaling dari Allah yang termuat di dalam dosa, Kristus, melalui ketuhanan karena persatuanNya dengan Bapa, menerima penderitaan ini dengan cara yang tidak dapat diungkapkan yang adalah keterpisahan, penolakan dari Bapa, pengasingan oleh Allah. Namun melalui penderitaan inilah Ia menyelesaikan (misi) Penebusan, yang dinyatakannya pada nafasnya yang penghabisann: “Sudah selesai”(50).

Orang juga dapat berkata bahwa Kitab Suci sudah digenapi, bahwa kata-kata yang ada dalam Lagu dari Hamba Yahweh (yang Menderita) telah benar benar digenapi: “Tetapi sesungguhnya Yahweh mau meremukkan Dia dengan derita”(51). Penderitaan manusia telah mencapai titik puncaknya dalam keteguhan Penderitaan Kristus. Dan pada saat yang sama (penderitaan) itu telah memasuki sebuah dimensi yang benar-benar baru dan sebuah aturan baru: (penderitaan) telah dihubungkan dengan kasih, dengan kasih yang telah dikatakan Kristus kepada Nikodemus, dengan kasih yang menghasilkan (hal-hal) yang baik, yang didapatkan melalui penderitaan, sama seperti Penebusan dunia didapatkan melalui Salib Kristus, dan dari Salib tersebut (penderitaan) selalu menemukan (titik) awalnya(52). Di dalamnya kita harus mengajukan sebuah pertanyaan baru mengenai makna dari penderitaan, dan mencari di dalamnya, sampai ke dasarnya, jawaban dari pertanyaan ini.

V
AMBIL BAGIAN (BERSATU) DALAM PENDERITAAN KRISTUS

19. Lagu dari Hamba Yahweh (yang Menderita) dalam Kitab Yesaya mengarahkan kita pada ayat-ayat berikut ini, yang berupa sebuah tanya jawab:
“Apabila ia menyerahkan dirinya sebagai korban penebus salah,
ia akan melihat keturunannya,
umurnya akan lanjut,
dan kehendak Tuhan akan terlaksana olehnya.
Sesudah kesusahan jiwanya Ia akan melihat terang
dan menjadi puas;
dan hamba-Ku itu, sebagai orang yang benar,
akan membenarkan banyak orang oleh hikmatnya,
dan kejahatan mereka dia pikul.
Sebab itu Aku akan membagikan kepadanya orang-orang besar sebagai rampasan,
dan ia akan memperoleh orang-orang kuat sebagai jarahan,
yaitu sebagai ganti karena ia telah menyerahkan nyawanya ke dalam maut.
dan karena ia terhitung di antara pemberontak-pemberontak,
sekalipun ia menanggung dosa banyak orang
dan beroda untuk pemberontak-pemberontak”.

Orang dapat mengatakan bahwa dalam Penderitaan Kristus semua penderitaan manusia telah berada dalam situasi yang baru. Seperti Ayub juga telah melihat hal ini ketika ia berkata: “Aku tahu bahwa Penebusku hidup….”, dan meskipun kita telah mengarahkan penderitaanNya sendiri kepadaNya, namun tanpa Penebusan tidak akan mampu menunjukkan kepadaNya kepenuhan maknanya.
Dalam Salib Kristus, tidak hanya Penebusan bisa didapat melalui penderitaan, namun juga penderitaan manusia itu sendiri telah ditebus.. Kristus, – yang tanpa kesalahan sendiri – menimpakan atas diriNya sendiri “seluruh kejahatan akibat dosa”. Pengalaman kejahatan ini menentukan kedalaman penderitaan Kristus, yang adalah harga Tebusan (yang harus dibayar). Lagu dari Hamba Yahweh (yang Menderita) di Yesaya menyatakan hal tersebut. Di waktu kemudian, saksi-saksi Perjanjian Baru, yang dimeteraikan dalam Darah Kristus, (juga) akan mengatakan hal itu.

Berikut ini adalah kata-kata Rasul Petrus di Surat nya yang Pertama: “Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenk moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak ternoda dan tak bercacat”. Dan Rasul Paulus dalam Surat nya kepada Umat di Galatia akan berkata: “yang telah menyerahkan diri-Nya karena dosa-dosa kita, untuk melepaskan kita dari dunia jahat yang sekarang ini”(56), dan dalam Surat nya yang Pertama kepada Umat di Korintus: “Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu”(57). Dengan kata-kata ini dan yang lainnya yang mirip, para saksi Perjanjian Baru menyatakan keagungan Penebusan (Kristus). Sang Penebus menderita karena menjadi pengganti bagi manusia dan untuk manusia. Setiap manusia memiliki perannya sendiri di dalam Penebusan. Setiap orang juga dipanggil untuk berbagi dalam penderitaan tersebut lewat mana Penebusan tersebut telah diselesaikan. Ia juga dipanggil untuk ikut ambil bagian dalam penderitaan dimana semua penderitaan manusia juga telah ditebus. Dengan membawa Penebusan melalui penderitaan, Kristus juga telah mengangkat penderitaan manusia ke tingkat Penebusan. Sehingga setiap orang, dalam penderitaannya, juga dapat ikut serta dalam penderitaan penebusan Kristus.

20. Tulisan-tulisan dalam Perjanjian Baru mengungkapkan konsep ini di banyak tempat. Dalam Surat kedua kepada Umat di Korintus, Rasul (Paulus) menulis: “Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa. Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami. Sebab kami, yang masih hidup ini, terus-menerus diserahkan kepada maut karena Yesus, supaya juga hidup Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami yang fana ini… Karena kami tahu, bahwa Ia, yang telah membangkitkan Tuhan Yesus, akan membangkitkan kami juga bersama-sama dengan Yesus”(58).
St. Paulus menyatakan bermacam-macam penderitaan dan, terlebih, yang membuat umat Kristen pertama ikut serta “demi Kristus”. Penderitaan-penderitaan tersebut membuat (umat) yang menerima Surat tersebut turut serta dalam karya Penebusan, yang dicapai melalui penderitaan dan kematian Sang Penebus. Pesan (yang ingin disampaikan oleh) Salib dan kematian (Kristus), disempurnakan dengan pesan Kebangkitan (Kristus). Manusia menemukan dalam Kebangkitan (Kristus) sebuah cahaya yang benar-benar baru, yang mampu menguatkannya melangkah menembus (lorong) penghinaan. Keraguan, keputus asaan dan fitnah yang gelap dan panjang. Karenanya Rasul (Paulus) juga menulis dalam Surat nya yang Kedua kepada Umat di Korintus: “Sebab sama seperti kami mendapat bagian berlimpah-limpah dalam kesengsaraan Kristus, demikian pula oleh Kristus kami menerima penghiburan berlimpah-limpah”(59). Di tempat lain ia memberikan semangat pada orang-orang: “Kiranya Tuhan tetap menujukan hatimu kepada kasih Allah dan kepada ketabahan kristus”(60). Dan dalam Surat nya kepada Umat di Roma ia menulis: “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati”(61).

Ekspresi apostolik dari keikut-sertaan dalam penderitaan Kristus memiliki dua dimensi. Jika seseorang mengambil bagian dalam penderitaan Kristus, yang dimungkinkan karena Kristus telah membuka penderitaanNya untuk manusia, karena Ia sendiri dalam derita penebusanNya telah mengambil bagian dalam penderitaan semua manusia. Orang yang menemukan (makna) penebusan dalam penderitaan Kristus dalam iman, akan menemukannya juga (makna tersebut) dalam penderitaan mereka masing-masing; mereka menemukan kembali penderitaannya, dalam iman, dilengkapi dengan perjanjian dan makna baru.
Pengertian (baru) ini menyebabkan St. Paulus menuliskan kata-kata yang demikian keras di Surat nya kepada Umat di Galatia: “Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku”(62).
Iman menuntun penulis kata-kata di atas untuk mengerti kasih yang menuntun Kristus menuju Salib. Dan jika Ia demikian mencintai kita, (meskipun harus) menderita dan mati, maka dengan penderitaan dan kematianNya lah Ia hidup di dalam mereka yang kepadanya diberikan cinta tersebut; Ia hidup di dalam manusia Paulus. Dan (Ia) hidup di dalam dia sedemikian rupa sehingga Paulus, yang mengerti hal ini melalui iman, menanggapi cintaNya dan Kristus yang mengasihi kemudian juga besatu dengan manusia, dengan Paulus, melalui Salib. Persatuan ini membuat Paulus menulis, dalam Surat yang sama pada Umat di Galatia, dengan kata-kata lain yang tidak kalah kerasnya: “Tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia”(63).

21. Salib Kristus menawarkan cahaya keselamatan, yang mampu menembus sangat dalam, kedalam kehidupan manusia dan terutama dalam penderitaannya. Karena melalui imanlah (penderitaan) Salib mampu menjangkau manusia bersama-sama dengan Kebangkitan: misteri penderitaan (Kristus) berada di dalam Misteri Paskah. Para saksi mata Penderitaan Kristus pada saat yang sama juga menjadi saksi mata KebangkitanNya. St. Paulus menulis: “Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitanNya dan persekutuan dalam penderitaanNya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati”(64). Sang Rasul benar-benar sudah mengalami “kuasa Kebangkitan” Kristus, pertama ketika dalam perjalanan ke Damaskus, dan kemudian dalam cahaya kebangkitan ini, (sehingga) ia berkata “bersekutu dalam penderitaanNya”, contohnya seperti (tertulis) dalam Surat kepada Umat di Galatia. Jalan St. Paulus adalah (jalan) paskah (kebangkitan): berbagi di dalam Salib Kristus melalui pengalaman Dia yang Bangkit, karenanya melalui suatu persekutuan yang khusus dalam Kebangkitan. Jadi, meskipun St. Paulus (sedang) mengisahkan penderitaan Kristus, seringkali terlihat alasan kemenangan, yang menemukan sumbernya dalam Salib Kristus.

Para saksi (peristiwa) Salib dan Kebangkitan telah mengerti “bahwa untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah kita harus mengalami banyak sengsara”(65). Dan St. Paulus, ketika menulis untuk Umat di Tesalonika, mengatakan ini: “4kami sendiri bermegah tentang kamu karena ketabahanmu dan imanmu dalam segala penganiayaan dan penindasan yang kamu derita: 5suatu bukti tentang adilnya penghakiman Allah, yang menyatakan bahwa kamu layak menjadi warga Kerajaan Allah, kamu yang sekarang menderita karena Kerajaan itu”(66). Jadi, (jika kita) berbagi dalam penderitaan Kristus, (maka) pada saat yang sama, (kita sedang) menderita bagi Kerajaan Allah. Di hadapan Allah yang adil, pada (hari) penghakiman, mereka yang berbagi dalam penderitaan Kristus menjadi layak bagi Kerajaan tersebut. Karena melalui penderitaan mereka, dengan pengertian tertentu, mereka membayar kembali harga yang tak ternilai dari Penderitaan dan kematian Kristus, yang menjadi harga dari Penebusan kita: dengan harga inilah Kerajaan Allah mendapatkan satu anggota baru dalam sejarah manusia, semakin mewujudkan kehadirannya di tengah-tengah manusia. Kristus telah menuntun kita ke dalam Kerajaan ini melalui penderitaanNya. Dan melalui penderitaan lah mereka yang berada dalam misteri Penebusan Kristus menjadi layak untuk memasuki Kerajaan ini.

22. Dalam Kerajaan Allah, ada harapan akan kemenangan yang bersumber pada Salib Kristus. KebangkitanNya mengungkap kemenangan ini – kemenangan eskatologis – yang, dalam Salib Kristus, benar benar tersembunyi di dalam kemegahan penderitaan. Mereka yang berbagi dalam penderitaan Kristus, melalui penderitannya sendiri, juga dipanggil untuk berbagi dalam kemenangan. St. Paulus menyatakan hal ini di beberapa tempat. Kepada Umat di Roma ia menulis: “17Dan jika kita adalah… ahli waris….yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia. 18Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita”.(67). Dalam Suratnya yang Kedua kepada Umat di Korintus kita baca: “17Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami.
18Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal”(68). St. Petrus (juga) akan menyatakan kebenaran yang sama dalam kata-kata berikut ini dalam Suratnya yang Pertama: “13Sebaliknya, bersukacitalah, sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus, supaya kamu juga boleh bergembira dan bersukacita pada waktu Ia menyatakan kemuliaan-Nya”(69).

Penderitaan dan kemenangan memiliki karakteristik pewartaan, yang menjadi jelas dengan menghubungkannya dengan Salib dan Kebangkitan. Kebangkitan menjadi, pada tempat yang pertama, manifestasi kemenangan, yang berhubungan dengan Kristus yang ditinggikan melalui Salib. Jika Salib, di mata manusia dimengerti sebagai Kristus yang berusaha mengosongkan diriNya, pada saat yang sama di mata Allah Ia sedang ditinggikan. Pada Salib, Kristus menggenapi dan menyelesaikan misinya dengan tuntas: dengan memenuhi keinginan Bapa, Ia pada saat yang sama benar-benar menyadari diriNya sendiri. Dalam kelemahan Ia memanifestasikan kekuatanNya dan di dalam penghinaan Ia memanifestasikan semua keagungan karya penyelamatannya. Bukankah semua kata-kata yang diucapkanNya selama penderitaanNya di Golgota adalah bukti dari keagungan ini, terutama kata-kataNya kepada para penjahat disampingNya: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat”(70). Kepada mereka yang mengambil bagian dalam penderitaan Kristus, kata-kata ini benar benar menunjukkan kekuatan contoh yang sangat agung. Penderitaan juga adalah sebuah ajakan untuk menunjukkan kebesaran moral seseorang, kedewasaan spiritualnya. Bukti dari (pernyataan) ini telah diberikan, melalui banyak generasi, oleh para martir dan pengikut Kristus, setia dengan kata-kata: “Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa…
Kebangkitan Kristus telah membuka “kemenangan masa depan” dan, pada saat yang sama, menunjukkan “Kemenangan Salib”: kemenangan yang tersembunyi dalam penderitaan Kristus dan telah dan sering dicerminkan dalam penderitaan manusia, sebagai ekspresi kebesaran spiritual seseorang. Kemenangan ini bisa ditemukan bukan hanya dalam iman para martir namun juga pada orang-orang lain, yang sekalipun tidak percaya pada Kristus, (namun turut) menderita dan memberikan nyawanya bagi kebenaran dan alasan keadilan. Dalam penderitaan dari semua orang ini martabat manusia benar-benar ditunjukkan.

23. Penderitaan selalu adalah sebuah pencobaan – kadang sebuah pencobaan yang sangat berat – yang ditimpakan kepada umat manusia. Paradoks dengan kelemahan dan kekuatan, Injil sering berbicara pada kita dari Surat-Surat St. Paulus, sebuah paradoks yang secara khusus dialami oleh Sang Rasul sendiri dan besama-sama dengannya dialami juga oleh semua orang yang ikut serta dalam penderitaan Kristus. St. Paulus menulis di Suratnya yang Kedua kepada Umat di Korintus:” 9Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku”(72). Dalam Suratnya yang Kedua kepada Timotius kita membaca: “12Itulah sebabnya aku menderita semuanya ini, tetapi aku tidak malu; karena aku tahu kepada siapa aku percaya”(73). Dan dalam Suratnya kepada Umat di Filipi ia bahkan berkata: “13Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku”(74).
Mereka yang turut berbagi dalam penderitaan Kristus melihat Misteri Paskah dari Salib dan Kebangkitan di depan mata mereka, sebagaimana Yesus pun merendahkan diri, pada fase pertama, sampai pada batas kelemahan dan ketidak berdayaan manusia: kemudian ia mati dipaku pada (kayu) Salib. Namun jika pada saat yang sama, dengan kelemahanlah ia ditinggikan, dan diteguhkan dengan kuasa dari Kebangkitan, maka ini artinya kelemahan semua manusia juga dapat diikutsertakan dalam kuasa Allah yang sama yang dimanifestasikan pada Salib Kristus. Dalam konsep seperti ini, menderita berarti menjadi terbuka, terutama terbuka untuk pekerjaan kuasa penyelamatan Allah, yang ditawarkan kepada manusia di dalam Kristus. Di dalam Dia, Allah telah membulatkan keinginan untuk bertindak terutama melalui penderitaan, yang merupakan kelemahan dan pengosongan diri manusia, dan ia berkehendak untuk menyatakan kuasanya khususnya melalui kelemahan dan pengosongan diri tersebut. (Penjelasan) ini juga menjelaskkan desakan yang terdapat dalam Surat Pertama St. Petrus: “16Tetapi, jika ia menderita sebagai orang Kristen, maka janganlah ia malu, melainkan hendaklah ia memuliakan Allah dalam nama Kristus itu”(75).

Dalam Suratnya kepada Umat di Roma, St. Paulus menjelaskan lebih lengkap tentang “lahirnya kekuatan dalam kelemahan”, kemarahan spiritual dari manusia ditengah pencobaan dan kejahatan, yang adalah tugas khusus bagi mereka yang berbagi dalam penderitaan Kristus. 3Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan,4dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. 5Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita”(76). Penderitaan, karena mengandung sebuah tuntutan kualitas dimana manusia harus berlatih dengan caranya sendiri. Dan ini adalah kualitas untuk tetap bertekun dan menahan apapun yang mengganggu dan mengakibatkan rasa sakit. Dengan melaksanakan (semua) hal ini, seorang individu memancarkan harapan, yang mempertahankan keyakinan bahwa penderitaan tidak akan dapat menggoyahkannya, bahwa penderitaan tidak akan menjatuhkan martabatnya sebagai manusia, sebuah martabat yang dihubungkan dengan pemahaman akan makna hidup. Dan memang makna ini dapat dimengerti bersama-sama dengan karya kasih Allah, yang diwujudkan dalam karunia Roh Kudus. Semakin manusia bersatu dengan kasih ini, manusia akan menemukan bahwa dirinya semakin dan makin penuh dalam penderitaan: ia menemukan “nyawa” yang seharusnya “hilang” darinya(77) karena penderitaan.

24. Walaupun begitu, Para Rasul yang mengalami penderitaan bersama-sama dengan Kristus menyatakan lebih dalam lagi. Dalam Surat nya kepada Umat di Kolose kita membaca kata-kata yang seolah-olah menyatakan akhir perjalanan spiritual dalam hubungannya dengan penderitaan: “24Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuh-Nya, yaitu Gereja (Jemaat)”(78). Dan dalam Suratnya yang lain ia bertanya kepada para pembacanya: “15Tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah anggota Kristus?”(79).
Dalam Misteri Paskah, Kristus memulai persatuanNya dengan manusia dalam komunitas Gereja. Misteri dari Gereja dapat dimengerti sebagai berikut: Melalui (Sakramen) Pembabtisan, yang membawa pola Kristus (dalam kehidupan kita), dan kemudian melalui Pengorbanan Nya – secara sakramen melalui (Sakramen) Ekaristi – Gereja terus menerus dibangun secara spiritual sebagai Tubuh Kristus. Dalam Tubuh ini, Kristus ingin untuk bersatu dengan setiap orang, dan Ia bersatu dengan mereka yang menderita dengan cara yang spesial. Kata-kata yang dikutip dari Surat kepada Umat di Kolose diatas menjadi saksi dari sifat khusus dari persatuan ini. Dimana, siapapun yang menderita bersama Kristus – seperti St. Paulus tetap teguh dalam masalah-masalahnya dalam persatuan dengan Kristus – (ia) tidak hanya menerima kekuatan dari Kristus namun juga “menggenapkan” melalui penderitaannya “apa yang kurang pada penderitaan Kristus”. Pandangan evangelis ini menggaris bawahi kebenaran karakter kreatif dari penderitaan. Penderitaan Kristus mendatangkan kebaikan dari penebusan dunia. Kebaikan ini tidak mungkin habis dan (bersifat) tak terbatas. Tidak ada seorang manusiapun dapat menambahkan sesuatu padanya. Namun pada saat yang sama, dalam misteri Gereja sebagai Tubuh Nya, Kristus telah membuka penderitaan Nya sendiri bagi semua penderitaan manusia. Sejauh manusia berbagi dalam penderitaan Kristus – di manapun di dunia dan pada titik manapun dalam sejarah – sehingga ia, dengan caranya sendiri menyelesaikan penderitaan seperti Kristus mendapatkan Penebusan bagi dunia.

Apakah ini berarti bahwa Penebusan yang dikerjakan oleh Kristus masih belum sempurna? Tidak. (Pernyataan) tadi harus dimengerti bahwa Penebusan, yang diperoleh melalui cinta kasih yang sempurna, tetap terbuka bagi semua kasih yang diekspresikan melalui penderitaan manusia. Dalam dimensi ini – dimensi kasih – Penebusan yang telah dituntaskan dengan sempurna, dengan cara tertentu, terus menerus dituntaskan. Kristus mencapai Penebusan secara sempurna sampai pada batas terakhir dan pada saat yang sama tidak mungkin dapat disamai. Dalam penderitaan penebusan ini, yang melaluinya Penebusan dunia terlaksana, Kristus telah membuka dirinya bagi setiap penderitaan manusia sejak semula dan selalu demikian. Penderitaan kita menginginkan untuk menjadi bagian dalam inti penderitaan Kristus dengan demikian (penderitaan kita) tersebut terus menerus menjadi sempurna.
Jadi, dengan membuka kesempatan bagi penderitaan manusia, Kristus telah menyelesaikan Penebusan dunia melalui penderitaanNya. Dan, pada saat yang sama, Penebusan ini, meskipun telah diselesaikan oleh penderitaan Kristus, namun tetap hidup dan dengan cara yang khusus tumbuh dalam sejarah manusia. (Penderitaan) itu hidup dan tumbuh sebagai Tubuh Kristus, menyempurnakan penderitaan Kristus. (Penderitaan) itu menyempurnakan penderitaan sama seperti Gereja menyempurnakan karya penebusan Kristus. Misteri Gereja – Tubuh yang menyempurnakan dalam dirinya sendiri, penyaliban dan kebangkitan Kristus – pada saat yang sama menunjukkan ruang atau isi yang didalamnya penderitaan manusia menyempurnakan penderitaan Kristus. Hanya dalam lingkup dan dimensi Gereja sebagai Tubuh Kristus, yang selalu tumbuh dalam ruang dan waktu, orang dapat berpikir dan berbicara tentang “apa yang kurang” pada penderitaan Kristus. Para Rasul, membuatnya menjadi jelas ketika ia menulis tentang “melengkapi apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk TubuhNya, yaitu Gereja”.

Gerejalah yang terus menerus mengalirkan sumber Penebusan yang tak terbatas, memperkenalkannya dalam kemanusiaan, yang adalah dimensi dimana penderitaan Kristus dapat terus menerus disempurnakan dalam penderitaan manusia. Juga menggambarkan sifat ilahi dan manusiawi dari Gereja. Penderitaan dengan caranya sendiri juga memiliki karakteristik seperti ini. Dan karena alasan ini pula, penderitaan memiliki nilai yang special di mata Gereja. (Penderitaan) adalah sebuah kebajikan, yang dihormati oleh Gereja sebagai inti yang terdalam dari iman (Gereja) akan Penebusan. Gereja mengakui dengan iman yang terdalam yang dengannya ia menerima di dalam dirinya sendiri misteri Tubuh Kristus yang tak tergambarkan.

VI
INJIL PENDERITAAN

25. Para sakti (peristiwa) Salib dan Kebangkitan Kristus telah mewariskan kepada Gereja dan seluruh umat manusia sebuah Injil khusus tentang penderitaan. Sang Penebus sendirilah yang menulis Injil ini, diatas segalanya, melalui penderitaanNya sendiri yang diterima di dalam kasih, sepaya “setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal”(80). Penderitaan ini, bersama-sama dengan ajarannya yaitu firman yang hidup, menjadi sebuah sumber yang kaya bagi semua orang yang berbagi dalam penderitaan Yesus, diantara murid-murid pertamaNya dan orang-orang yang bertobat dan diantara mereka yang mengikuti mereka sepanjang perjalanan sejarah.

Menarik untuk dicatat – dan juga sesuai dengan Injil dan sejarah – yang ada di samping Kristus, di tempat yang pertama dan terutama, selalu ada Ibu Nya yang melalui contoh diri (menunjukkan) bahwa ia membawa Injil penderitaan yang special ini sepanjang hidupnya. Didalam dirinya, berkumpul penderitaan yang bermacam macam dan bertubi tubi dimana (penderitaan-penderitaan) itu tidak hanya merupakan sebuah bukti akan imannya yang tak tergoyahkan namun juga sebuah kontribusi bagi penebusan semua (orang). Nyatanya, sejak pembicaraan rahasianya dengan malaikat, ia mulai merasakan misinya, sebagai seorang ibu yang ”ditakdirkan” untuk berbagi (penderitaan), dengan cara yang khusus dan tidak dapat ditiru (oleh orang yang lain), di dalam misi Putranya. Dan ia dengan segera menerima kepastian akan ini dalam kejadian-kejadian yang menyertai kelahiran Yesus di Bethlehem, dan dalam kata kata yang bijak dari Simeon yang lanjut usia, ketika ia menceritakan pedang yang akan menembus jiwanya sendiri. Bukti yang lain adalah kecemasan dan kekurangan (yang dialami) selama pengungsian ke Mesir, yang diakibatkan oleh keinginan Herodes yang keji.

Dan kemudian, setelah periode kehidupan Anaknya yang tidak tercatat dan kemudian kehidupan publikNya, kejadian-kejadian yang membuanya sangat peka, dan di Kalvari lah penderitaan Maria, disamping tentu saja penderitaan Yesus, mencapai intensitas yang sangat sulit untuk dibayangkan oleh manusia namun secara misterius dan supernatural bermanfaat bagi penebusan dunia. Keikutsertaannya ke Kalvari dan ketegarannya berada di kaki Salib besama dengan para Murid yang Dikasihi (Yesus), adalah sebuah keikut-sertaan yang special dalam kematian penebusan dari Putranya. Dan kata-kata yang diterimanya dari bibir (Putranya) merupakan semacam penyerahan yang khusus dari Injil penderitaan ini agar (Injil tersebut) diteruskan kepada orang-orang yang percaya.
Sebagai saksi hidup Penderitaan Putranya, dan keikut-sertaan di dalamnya melalui empati nya, Maria menunjukkan sebuah kontribusi yang khusus bagi Injil penderitaan, dengan menyatakan keinginan yang diungkapkan oleh St. Paulus seperti yang telah dikutip diatas. Ia benar-benar dapat mengklaim bahwa ia “menggenapkan dalam dagingnya” – seperti yang telah dilakukan dalam hatinya – “apa yang kurang pada penderitaan Kristus”.

Dalam terang teladan Kristus yang tidak tertandingi, (terang tersebut) juga terefleksikan secara jelas dan tunggal dalam kehidupan Sang Ibu, Injil penderitaan, melalui pengalaman dan kata-kata para Rasul, menjadi sebuah sumber abadi bagi generasi-generasi baru yang diwariskan secara turun-temurun dalam sejarah Gereja. Injil penderitaan tidak hanya menekankan kehadiran penderitaan dalam Injil, sebagai salah satu tema dari Kabar Gembira, namun juga pengungkapan kuasa yang menyelamatkan dan pentingnya penyelamatan melalui misi penderitaan Kristus, dan kemudian, dalam misi dan karya Gereja.
Kristus tidak menyimpan keharusan untuk menderita ini dari orang-orang yang mengikutinya. Ia menyatakannya dengan jelas: “Setiap orang yang mau mengikut Aku……ia harus memikul salibnya setiap hari”(81), dan kepada murid-muridnya ia menekankan pentingnya sikap moral yang hanya dapat dipenuhi dengan kondisi dimana mereka harus “menyangkal diri”(82). Jalan menuju Kerajaan Surga adalah “sesak dan sempit”, Kristus membandingkannya dengan jalan yang “lebar dan luas” yang “menuju kepada kebinasaan”(83). Pada beberapa kesempatan Kristus juga mengatakan bahwa murid-murid dan pengikut-pengikut Nya akan banyak mengalami penyiksaan, sesuatu yang – seperti yang kita ketahui – tidak hanya terjadi di abad pertama dalam kehidupan Gereja dibawah Kekaisaran Romawi, namun juga hadir dalam periode-periode dalam sejarah dan di tempat-tempat lain di dunia, dan masih ada sampai sekarang di masa kita ini.

Berikut adalah beberapa perkataan Kristus tentang hal ini: “12kamu akan ditangkap dan dianiaya; kamu akan diserahkan ke rumah-rumah ibadat dan penjara-penjara, dan kamu akan dihadapkan kepada raja-raja dan penguasa-penguasa oleh karena nama-Ku. 13Hal itu akan menjadi kesempatan bagimu untuk bersaksi. 14Sebab itu tetapkanlah di dalam hatimu, supaya kamu jangan memikirkan lebih dahulu pembelaanmu. 15Sebab Aku sendiri akan memberikan kepadamu kata-kata hikmat, sehingga kamu tidak dapat ditentang atau dibantah lawan-lawanmu. 16Dan kamu akan diserahkan juga oleh orang tuamu, saudara-saudaramu, kaum keluargamu dan sahabat-sahabatmu dan beberapa orang di antara kamu akan dibunuh 17dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku.
18Tetapi tidak sehelaipun dari rambut kepalamu akan hilang. 19Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu”(84).
Injil penderitaan pertama kali menyatakan di beberapa tempat tentang penderitaan “bagi Kristus”, “karena nama-Ku”, dinyatakan melalui kata-kata Yesus sendiri maupun kata-kata Para Rasul. Sang Guru tidak menutup-nutupi penderitaan dari murid-murid dan pengikut-pengikutnya. Sebaliknya, Ia mengungkapkannya dengan segala keterus-terangan, menandakan pada saat yang bersamaan, bantuan supranatural yang akan menemani mereka di tengah-tengah siksaan dan masalah “karena nama-Nya”. Penyiksaan dan masalah juga, sebagaimana demikian adanya, sebagai bukti akan kemiripan dengan Kristus dan persatuan denganNya. 18“Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu. 19Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu. 20Ingatlah apa yang telah Kukatakan kepadamu: Seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya. Jikalau mereka telah menganiaya Aku, mereka juga akan menganiaya kamu; jikalau mereka telah menuruti firman-Ku, mereka juga akan menuruti perkataanmu. 21Tetapi semuanya itu akan mereka lakukan terhadap kamu karena nama-Ku, sebab mereka tidak mengenal Dia, yang telah mengutus Aku”(85). 33Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia”(86).

Bab pertama dari Injil penderitaan, yang berbicara tentang penyiksaan, yaitu kejahatan-kejahatan yang dialami karena Kristus, di dalamnya termuat panggilan untuk (menjadi) berani dan kuat, yang bertahan karena keagungan Kebangkitan. Kristus secara pasti telah mengalahkan dunia melalui Kebangkitan Nya. Karena hubungan antara Kebangkitan dan Penderitaan dan kematian Nya, ia pada saat yang sama telah mengalahkan dunia melalui penderitaanNya. Ya, penderitaan telah hadir sendirian dalam kemenangan terhadap dunia yang dimanifestasikan dalam Kebangkitan. Kristus membawa dalam tubuh Nya yang bangkit, tanda-tanda siksaan di kayu Salib, di tangan Nya, di kaki dan perut. Melalui (peristiwa) Kebangkitan, Ia menghadirkan kekuatan kemenangan dari penderitaan, dan Ia ingin menambahkan kepastian kekuatan ini ke dalam hati orang-orang yang dipilihNya sebagai Rasul-Rasul dan mereka yang terus-menerus dipilih dan diutus Nya. Rasul Paulus akan berkata: “12Memang setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya”(87).

26. Ketika bab pertama dari Injil penderitaan ditulis, saat alih generasi, oleh mereka yang mengalami penyiksaan bagi Kristus, pada saat yang sama bab lain dari Injil ini disingkapkan dalam sejarah. Bab ini ditulis oleh mereka yang menderita bersama dengan Kristus, (mereka yang) menyatukan penderitaan mereka dengan penderitaan penyelamatan. Pada orang-orang ini terpenuhilah apa yang dikatakan dan ditulis oleh para saksi mata (peristiwa) Penderitaan dan Kebangkitan, tentang berbagi (bersekutu) dalam penderitaan Kristus. Karenanya di dalam mereka terjadi pemenuhan Injil penderitaan, dan pada saat yang sama, tiap-tiap dari mereka menuliskannya: mereka menulis dan mengabarkannya kepada dunia, mereka mengumumkannya kepada dunia dimana mereka hidup dan pada orang-orang di masanya (masing-masing).
Selama berabad-abad dan bergenerasi-generasi, dapat terlihat bahwa di dalam penderitaan tersembunyi sebuah kuasa khusus yang membawa hati seseorang mendekati Kristus, sebuah karunia yang khusus. Pada karunia inilah yang membuat, banyak orang suci, seperti St. Fransiskus dari Assisi, St. Iganius dari Loyola dan lain-lain, bertobat. Hasil dari pertobatan tersebut tidak hanya bahwa individu tersebut menemukan makna keselamatan dari penderitaan namun di atas segalanya ia menjadi orang yang sama sekali baru. Ia menemukan sebuah dimensi baru, dari keseluruhan hidup dan pengabdiannya. Penemuan ini menunjukkan kematangan spiritualitas yang dimiliki manusia, melebihi (kekuatan) tubuh, yang tak dapat dibandingkan. Ketika tubuh menjadi sangat sakit, benar-benar terluka, dan orang tersebut hampir-hampir tidak dapat hidup dan bergerak., kedewasaan pikiran dan kebesaran spiritual menjadi nyata, sebagai sebuah pelajaran yang menyentuh bagi mereka yang sehat dan normal.

Kedewasaan pikiran dan kebesaran spiritual dalam penderitaan betul-betul adalah hasil dari sebuah pertobatan dan kerjasama dengan karunia Sang Penebus yang Disalib. Dia sendiri berada di tengah-tengah penderitaan manusia melalui Roh kebenaran Nya, melalui Roh penghiburan. Dia lah yang mengubah, dengan cara khusus, inti dari kehidupan spiritual, menyediakan bagi orang yang sedang menderita berada tempat yang dekat dengan diriNya. Dialah – yang menjadi Guru dan Pembimbing pikiran – untuk saudara-saudari yang sedang menderita, tentang peralihan (antara penderitaan dan kemenangan) yang indah ini, yang terletak dalam inti dari misteri Penebusan. Penderitaan, dalam dirinya sendiri, adalah sebuah pengalaman akan kejahatan. Namun Kristus telah membuat penderitaan sebagai dasar yang paling kokoh bagi kebajikan, yaitu keselamatan kekal. Dengan sengsaraNya di (kayu) Salib, Kristus menggapai akar terdalam dari kejahatan, dari dosa dan kematian. Ia menaklukkan penyebab kejahatan, Setan, dan pemberontakan abadinya kepada Sang Pencipta. Kepada saudara-saudari yang menderita, Kristus perlahan-lahan membuka pengertian tentang Kerajaan Surga: pemahaman bahwa dunia harus ditaklukkan kepada Kristus, dunia yang terbebas dari dosa, dunia yang didirikan diatas kuasa kasih yang menyelamatkan. Namun secara perlahan namun efektif, Kristus memimpin manusia yang menderita kedalam dunia ini, ke dalam Kerajaan Bapa, melalui makna terdalam penderitaanNya. Karena penderitaan tidak bisa diubah melalui sebuah karunia dari luar, melainkan harus dari dalam. Karena Kristus melalui penderitaan Nya yang menyelamatkan, sangat hadir dalam setiap penderitaan manusia, dan mampu menyalurkan Roh penghiburan dari dalam penderitaan tersebut, karena kuasa Roh kebenaran Nya.

Ini belum semuanya: Sang Penebus Ilahi ingin berada di dalam tiap jiwa yang menderita melalui hati Ibu Nya yang kudus, (manusia) pertama dan yang paling ditinggikan diantara yang ditebus. Sebagai kelanjutan dari keibuan yang oleh kuasa Roh Kudus telah memberikan kehidupan, Kristus yang sedang sekarat menganugerahkan kepada Perawan Maria, sebuah bentuk baru dari keibuan – (bentuk) spiritual dan universal – bagi seluruh umat manusia, sehingga setiap individu, dalam perjalanan iman, bersama-sama dengan dia, dapat tetap dipersatukan dekat kepada Dia melalui Salib, sehingga semua bentuk penderitaan, mendapatkan (bentuk) kehidupan yang baru oleh kuasa Salib Nya, dan tidak lagi menjadi kelemahan manusia namun kekuatan Allah. Walaupun demikian proses (perubahan kesadaran) dalam diri manusia ini tidak selalu mengikuti pola yang sama. (Proses) itu seringkali dimulai dan (selama proses berlangsung) selalu berada dalam kesulitan yang besar. Bahkan titik permulaannya berbeda: manusia bereaksi terhadap penderitaan (yang dialaminya) dengan berbagai macam cara. Namun secara umum dapat dikatakan bahwa hampir semua individu memasuki (dunia) penderitaan dengan protest manusiawi yang khas dan dengan pertanyaan “mengapa”. Orang mempertanyakan makna dari penderitaan dan mencari sebuah jawaban untuk pertanyan ini (yang dapat dimengerti) oleh pikiran manusia. Pasti ia sering mengarahkan kebingungannya kepada Tuhan, dan kepada Kristus. Lebih lanjut lagi, ia benar-benar ingin tau bahwa ia sebenarnya sedang mengarahkan pertanyaan tersebut kepada penderitaannya sendiri dan (ia sendiri) berusaha untuk menjawab (pertanyaannya sendiri) melalui Salib, dari pusat penderitaannya sendiri. Namun demikian, seringkali dibutuhkan waktu yang lama, supaya jawaban ini benar-benar dapat diterima (olehnya sendiri). Karena Kristus tidak menjawab secara langsung dan tidak memberikan sebuah kesimpulan yang singkat dan jelas terhadap pertanyaan manusia tentang makna penderitaan. Manusia akan mendengar jawaban Kristus ketika ia perlahan-lahan menjadi sekutu dalam penderitaan bersama Kristus.

Jawaban yang didapatkan melalui tanya jawab ini, dengan bertemu dengan sang Guru, adalah sesuatu yang lebih bernilai dari sekedar jawaban yang singkat dan jelas terhadap pertanyaan tentang makna penderitaan. Karena diatas segalanya (penderitaan) adalah sebuah panggilan. Suatu tugas. Kristus tidak memberikan jawaban yang tegas dan jelas tentang alasan (orang mengalami) penderitaan, namun kepada semuanya ia berkata: “Ikutlah denganKu! Mari! Ambil bagian dalam karya penyelamatan dunia, dalam penderitaanmu, penyelamatan yang dapat diperoleh melalui penderitaan-Ku! Melalui Salib-Ku. Perlahan-lahan, ketika orang memanggul salibnya, yang secara spiritual menyatukan dirinya sendiri kepada Salib Kristus, makna penyelamatan dari penderitaan (akan) dibukakan untuknya. Ia tidak menemukan makna ini pada tingkat (penderitaan) manusia, tapi pada tingkat penderitaan Kristus. Pada saat yang sama, dari level Kristus ini, makna penyelamatan penderitaan diturunkan ke level manusia dan menjadi tanggapan pribadi setiap orang. Dan karenanya lah manusia menemukan kedamaian sejati dan bahkan kegembiraan spiritual dalam hati dan pikirannya.

27. St. Paulus berbicara tentang kegembiraan itu di Surat nya kepada Umat di Kolose: “24Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu”(88). Sumber suka cita ditemukan jika orang dapat mengalahkan perasaan tidak berguna (ketika sedang) menderita, sebuah perasaan yang kadang sangat kuat berakar dalam penderitaan manusia. Perasaan (atau sikap) seperti ini tidak hanya menggerogoti pikiran orang itu sendiri, namun juga dapat membebani (orang-orang) yang lain. Orang merasa bergantung pada bantuan dan dukungan dari orang lain, dan pada saat yang sama merasa dirinya tidak berguna. Penemuan makna keselamatan dari penderitaan dalam persatuan dengan Kristus akan mengubah perasaan tertekan ini. Iman akan persekutuan dalam penderitaan Kristus membawa keyakinan dalam diri orang yang sedang menderita, bahwa ia (sedang) “menggenapkan apa yang kurang dalam penderitaan Kristus”; yang dalam dimensi spiritual karya Penebusan adalah keyakinan bahwa ia (sedang) melayani seperti Kristus, (bagi) keselamatan saudara-saudarinya. Karenanya ia sedang menjalankan pelayanan yang tidak mungkin digantikan (oleh orang lain). Di dalam Tubuh Kristus, yang selalu lahir dari Salib Sang Penebus, penderitaan yang tidak terpisahkan dengan keselamatan dunia, yang diilhami oleh semangat pengorbanan Kristus sang perantara yaitu yang tak tergantikan dan sumber segala kebajikan. Ini adalah penderitaan, di atas segalanya, yang memberikan jalan bagi rahmat yang dapat mengubah jiwa manusia. Penderitaan, di atas segalanya, menghadirkan kuasa Penebusan dalam sejarah manusia. Dalam pertempuran “di udara” antara kekuatan roh baik dan jahat, yang dituliskan dalam Surat kepada Umat di Efesus(89), penderitaan manusia, yang disatukan dengan penderitaan Kristus, menghasilkan dukungan spesial bagi kekuatan baik, dan membuka jalan bagi kemenangan kuasa yang menyelamatkan.

Dan Gereja melihat dalam penderitaan saudara dan saudari Kristus sebagai subyek dari kuasa supernatural Nya. Seberapa seringnya untuk mereka pastur-pastur dari Gereja muncul dan kepada merekalah mereka mencari bantuan dan dukungan! Injil penderitaan terus ditulis tanpa lelah, dan (Injil) itu menyatakan secara terus menerus kata-kata paradoks yang ganjil seperti ini: mata air kuasa ilahi mengalir dengan deras di tengah-tengah kelemahan manusia. Mereka yang berbagi dalam penderitaan Kristus menyimpan dalam penderitaan mereka sendiri, sebuah partikel spesial dari harta yang tak terbatas dari Penebusan dunia, dan dapat membagikan harta ini kepada orang-orang lain. Semakin seseorang terancam oleh dosa, semakin besar rencana dosa yang sedang dibawa oleh dunia masa kini (kepadanya), dan semakin lantanglah pesan yang dibawa dalam penderitaannya. Dan semakin Gereja merasa perlu untuk mencari nilai penderitaan manusia bagi keselamatan dunia.

VII
ORANG SAMARIA YANG BAIK

28. Dalam Injil penderitaan juga – secara alamiah – termuat perumpamaan tentang orang Samaria yang Baik. Melalui perumpamaan ini Kristus ingin memberikan jawaban pada pertanyaan: “Siapakah sesamaku manusia?”(90) Karena dari ketiga pengembara di jalan antara Yerusalem ke Yerikho, dimana ada orang yang terbaring sekarat setelah dilucuti dan dipukuli oleh perampok, ternyata orang Samaria lah yang menunjukkan bahwa ia adalah “sesama” yang sebenarnya bagi orang yang malang tersebut: “sesama” berarti orang yang melaksanakan perintah untuk mengasihi sesama. Dua orang yang juga melewati jalan yang sama: yang satu adalah seorang imam dan yang lainnya adalah seorang Levi, masing-masing dari mereka “melihat orang itu tetapi melewatinya dari seberang jalan”. Namun orang Samaria, “melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. 34Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya “, lalu “membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya”(91). Dan ketika ia hendak berangkat, ia mempercayakan orang yang menderita tersebut kepada pemilik penginapan, dan berjanji akan mengganti seluruh biayanya.

Perumpamaan tentang orang Samaria yang Baik adalah bagian dari Injil penderitaan. Karena ini menunjukkan kepada kita, apa yang harus kita lakukan terhadap penderitaan sesama kita. Kita tidak diperbolehkan untuk (hanya) “melewati dari seberang jalan” tanpa peduli sedikitpun, kita harus “berhenti” disampingnya. Siapapun yang berhenti disamping penderitaan orang lain, (penderitaan) dalam bentuk apapun, sudah menjadi orang Samaria yang Baik. Perhentian ini bukan karena (sekedar) ingin-tahu, melainkan supaya (benar-benar) ‘ada’ (bagi orang yang menderita tersebut). Ini seperti membuka diri untuk menentukan sikap hati, yang juga merupakan sebuah ekspresi emosial dari nya. Istilah “orang Samaria yang Baik” cocok bagi semua orang yang peka terhadap penderitaan orang lain, yang “tergerak” oleh kemalangan sesamanya. Jika Kristus, yang mengerti isi hati manusia, menekankan (sikap) belas kasihan ini, ini berarti bahwa sikap kita kepada penderitaan sesama adalah sesuatu yang penting. Karenanya orang harus menjaga kepekaan hati ini, yang menjadi wujud dari belas kasihan kita pada orang yang menderita. Kadang kala perhatian ini menjadi ekspresi yang paling utama dan satu satunya dari kasih dan solidaritas kita bagi penderita.
Dan kemudian, orang Samaria yang Baik dalam perumpamaan Kristus tidak hanya berhenti pada simpati dan belas kasihan saja. (Penderitaan) itu menjadi sebuah dorongan baginya untuk bertindak demi menolong orang yang terluka tersebut. Dengan satu kata, Orang Samaria yang Baik adalah orang yang membantu dalam penderitaan, apapun bentuknya. Bantuan yang, sebisa mungkin, efektif. Ia benar-benar mencurahkan hatinya, dan juga menyisihkan bantuan (berbentuk) materi. Kita dapat berkata bahwa ia benar-benar telah memberikan diri nya, ke”aku”annya, membuka “aku” ini bagi orang lain. Disini kita menemukan salah satu kunci penting dari seluruh anthropology Kristen. Manusia tidak dapat “benar-benar menemukan dirinya kecuali melalui pemberian diri sendiri secara tulus”(92). Orang Samaria yang Baik adalah (contoh) orang yang mampu memberikan dirinya.

29. Masih mengenai perumpamaan dalam Injil, kita dapat berkata bahwa penderitaan, yang hadir dalam begitu banyak bentuk dalam dunia manusia, juga (sebenarnya) ada untuk melepaskan kasih dalam (diri) seseorang, (melalui) pemberian “aku” secara tulus bagi orang lain, terutama kepada mereka yang menderita. Dunia penderitaan manusia terus-menerus memanggil, memang selalu demikian, dunia lain: dunia cinta kasih manusia; dan dapat dikatakan bahwa manusia berhutang pada penderitaan untuk kasih yang tulus yang ada dalam hati dan setiap tindakannya. Manusia yang menjadi seorang “sesama” tidak dapat dengan mudahnya mengabaikan penderitaan orang lain: ini adalah solidaritas fundamental dari manusia, dimana masih banyak (makna lain) yang dapat ditarik dari kasih kepada sesama. Ia harus “berhenti”, (untuk hanya sekedar) “bersimpati”, persis seperti (yang dilakukan oleh) orang Samaria dalam perumpamaan Injil. Perumpamaan tersebut mengekspresikan sebuah kebenaran Kristen yang dalam, yang pada saat yang bersamaan juga bersifat universal. Bukannya tanpa alasan jika, dalam percakapan sehari-hari, setiap kegiatan yang ditujukan untuk (orang-orang) yang menderita dan membutuhkan disebut pekerjaan “orang Samaria yang Baik”.
Dalam perjalanannya, aktifitas ini membutuhkan bentuk-bentuk institusi yang terorganisasi yang terdiri dari (orang-orang) dari berbagai macam profesi. Berapa banyak “orang Samaria yang Baik” dalam profesi dokter, perawat, atau (profesi lain) yang sejenis! Dengan melihat isinya yang bersifat “evanglikal”, kita dapat memandangnya sebagai sebuah pengabdian daripada sebuah profesi. Dan institusi-institusi yang telah melakukan pelayanan “orang Samaria yang Baik” selama beberapa generasi, terus berkembang dan lebih terspesialisasi lagi di masa kini. Sehingga tidak diragukan lagi, bahwa orang-orang sekarang memberikan perhatian yang lebih banyak dan lebih dekat pada penderitaan sesama mereka, (mereka) mencoba mengerti penderitaan-penderitaan tersebut dan mengatasinya dengan kemampuan yang lebih baik. Mereka juga memiliki kapasitas yang lebih besar dan spesialisasi khusus dalam area ini. Dengan memperhatikan semua ini, kita dapat mengatakan bahwa perumpamaan orang Samaria dari Injil telah menjadi salah satu elemen penting dari kultur moral dan peradaban manusia universal. Dan bagi mereka yang dengan pengetahuan dan kepandaian mereka telah menyediakan berbagai macam pelayanan bagi sesamanya yang menderita, kita tidak dapat melakukan apa-apa kecuali mengucapan terima kasih dan penghargaan pada mereka.

Kata-kata ini ditujukan bagi mereka semua yang melakukan pelayanan bagi sesamanya yang menderita dengan cara yang tulus, dengan suka rela melaksanakan untuk menghadirkan bantuan (dari) “orang Samaria yang Baik”, dan mempersembahkan waktu dan tenaga mereka diluar (waktu) kerja professional mereka. Tindakkan-tindakan “orang Samaria yang Baik” atau aktifitas derma ini dapat dinamakan kerja sosial; dapat juga dinamakan karya kerasulan, ketika dilaksanakan untuk alasan evangelisasi, terutama jika ini dihubungkan dengan Gereja dan komunitas Kristen lainnya. Pekerjaan “orang Samaria yang Baik” secara suka rela dilaksanakan melalui organisasi yang sengaja dibentuk untuk alasan ini. Pekerjaan dalam bentuk ini memiliki tingkat kepentingan yang tinggi, terutama jika (pekerjaan) itu melibatkan tugas-tugas yang lebih besar yang membutuhkan kerja-sama dan penggunaan alat-alat teknikal. Dan tidak kalah bernilainya, aktifitas individu, terutama bagi orang-orang yang telah biasa untuk melayani berbagai bentuk penderitaan manusia. Yang hanya dapat dilakukan secara individual atau personal. Terakhir, yaitu bantuan keluarga yang berarti: tindakan kasih yang dilakukan kepada salah satu anggota keluarga dan / atau saling tolong-menolong antar anggota keluarga.
Sulit untuk dapat mendaftar semua jenis dan situasi dari pekerjaan “orang Samaria yang Baik” yang ada dalam Gereja dan masyarakat. Harus diingat bahwa jumlahnya sangat banyak dan kita harus menunjukkan kepuasan dan terima kasih pada nilai-nilai moral yang fundamental, seperti nilai solidaritas antar manusia, nilai kasih Kristiani kepada sesama, dari kaca mata kehidupan sosial dan hubungan antar manusia: perang terhadap kebencian, kekerasan, kebengisan, penghinaan pada orang lain, atau “ketidak pekaan”, dengan kata lain, ketidak pedulian pada sesama dan penderitaan mereka.

Kita sampai pada betapa pentingnya memiliki sikap yang tepat dalam melakukan pendidikan. Keluarga, sekolah dan institusi pendidikan lain, hanya bagi alasan-alasan manusiawi, (kita) harus terus menerus menggugah dan merawat kepekaan terhadap sesama dan penderitaannya seperti yang digambarkan dalam Injil sebagai orang Samaria yang baik. Dan tentunya Gereja juga harus melakukan hal tersebut. Gereja, sebisa mungkin harus lebih menyadari motivasi yang oleh Kristus ditempatkan di dalam perumpamaan (itu) dan di dalam keseluruhan Injil. Pesan yang ingin disampaikan dalam perumpamaan orang Samaria yang Baik, dan keseluruhan Injil, terutama adalah: setiap individu harus merasa terpanggil untuk menjadi orang yang mengasihi dalam penderitaan. Sekalipun institusi adalah sangat penting dan bersifat tidak terpisahkan, namun tidak ada satu institusi pun yang dapat menggantikan hati manusia, belas kasih manusia, kasih ataupun kesadaran manusia, ketika berhadapan dengan penderitaan orang lain. Bukan hanya untuk penderitaan fisik saja, terlebih lagi untuk berbagai macam bentuk penderitaan moral, dan terutama sekali untuk penderitaan jiwa.

30. Perumpamaan orang Samaria yang Baik, yang – seperti yang telah dikatakan – berasal dari Injil penderitaan, berjalan bersama-sama dengan Injil ini melalui sejarah Gereja dan ke-Kristen-an, melalui sejarah manusia dan kemanusiaan. Perumpamaan ini menjadi saksi bahwa makna penderitaan yang disampaikan oleh Kristus tidak mungkin dapat dimengerti dengan tindakan yang pasif. Yang benar adalah yang sebaliknya. Injil ini berusaha bertujuan untuk menjungkir-balikkan kepasifan ketika berhadapan dengan penderitaan. Kristus sendiri sangat aktif dalam hal ini. Dengan cara ini ia menyelesaikan misi penyelamatanNya, seperti yang dinubuatkan para nabi: “Roh Tuhan ALLAH ada padaku, oleh karena TUHAN telah mengurapi aku; Ia telah mengutus aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang sengsara, dan merawat orang-orang yang remuk hati, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan kepada orang-orang yang terkurung kelepasan dari penjara, 2untuk memberitakan tahun rahmat TUHAN dan hari pembalasan Allah kita, untuk menghibur semua orang berkabung”(93). Dengan cara yang megah Kristus menjalankan misi penyelamatannya: Dia berjalan berkeliling sambil “berbuat baik”(94). Dan hasil perbuatan baiknya menjadi nyata sekali dalam wujud penderitaan manusia. Perumpamaan dari orang Samaria yang Baik memiliki keserasian yang dalam dengan perbuatan Kristus sendiri.
Pada akhirnya, perumpamaan ini, melalui isinya yang essensial, akan berada dalam kata-kata tentang Penghakiman Terakhir yang terasa cukup mengganggu, yang dicatat oleh St. Matius dalam Injilnya: “34Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. 35Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; 36ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku”(95). Bagi orang-orang benar, yang bertanya bilamanakah mereka melakukan semuanya itu untuk Nya, Putra Maria akan menjawab: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku”(96). Kalimat yang berlawanan akan ditimpakan kepada mereka yang tidak melakukannya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku”.”

Orang tentunya dapat menambah panjang daftar bentuk penderitaan yang menyentuh belas kasihan manusia, (daftar) empati dan bantuan, atau yang gagal melakukannya (sama sekali)..Bagian pertama dan kedua dari kata-kata Kristus mengenai Penghakiman Terakhir secara jelas menunjukkan betapa pentingnya hal itu bagi kehidupan kekal setiap orang, untuk “menghentikan”, penderitaan sesamanya, seperti yang dilakukan oleh orang Samaria yang Baik, untuk dapat “merasakan” penderitaan tersebut, dan lalu memberikan bantuan. Dalam rencana penyelamatan Kristus, yang pada saat yang sama merupakan rencana Kerajaan Allah, penderitaan hadir di tengah-tengah dunia untuk menghadirkan kasih, untuk melahirkan perbuatan kasih pada sesama, untuk mengubah semua peradaban manusia kepada sebuah “peradaban kasih”. Dalam kasih ini, makna penderitaan terjadi secara lengkap dan menemukan dimensi definitifnya. Kata-kata Kristus tentang Penghakiman Terakhir membuat kita mampu untuk mengerti semuanya ini dengan rendah hati dan kejelasan Injil.
Kata-kata tentang kasih, tentang perbuatan kasih, perbuatan yang berhubungan dengan penderitaan manusia, memperbolehkan kita sekali lagi untuk menemukan, dalam dasar semua penderitaan manusia, penderitaan yang sama (dengan penderitaan) Kristus. Kristus berkata: “Kamu melakukannya juga untuk Aku”. Ia sendirilah yang dalam setiap orang menerima kasih; ia sendirilah yang menerima pertolongan, jika (hal-hal) ini diberikan kepada setiap orang yang menderita tanpa kecuali. Ia sendiri hadir dalam orang yang menderita, karena penderitaanNya yang menyelamatkan telah dibuka sekali dan selamanya bagi setiap penderitaan manusia. Dan semua yang menderita telah dipanggil sekali dan untuk seterusnya untuk bersatu “dalam penderitaan Kristus”(98), sama seperti semuanya telah dipanggil untuk “menggenapkan” dengan penderitaannya masing-masing “apa yang kurang dalam penderitaan Kristu”(99). Pada saat-saat tertentu Kristus mengajar manusia untuk melakukan hal yang benar dalam penderitaanNya dan untuk menolong mereka yang menderita. Dalam kedua aspek ini Ia benar-benar telah mengungkapkan makna penderitaan.

VIII
KESIMPULAN

31. Ini adalah makna dari penderitaan, yang benar-benar (bersifat) supranatural dan pada saat yang sama juga (bersifat) manusiawi. (Penderitaan bersifat) supranatural karena berakar dalam misteri ilahi Penebusan dunia, dan juga (bersifat) sangat manusiawi, Karena di dalamnya manusia menemukan dirinya sendiri, kemanusiaannya sendiri, martabat dan misinya sendiri.
Penderitaan tentunya adalah bagian dari misteri manusia. Bahkan penderitaan tidak dibalut oleh misteri sebanyak manusia (itu sendiri dibalut oleh misteri), yang adalah benar-benar tidak dapat ditembus. Konsili Vatikan II mengungkapkan kebenaran ini “… hanya dalam misteri Firman yang ber-Inkarnasi-lah, misteri manusia mendapatkan penjelasan. Pada kenyataannya… Kristus, Adam terakhir, Oleh wahyu dari Bapa dan karena kasihNya, benar-benar membuat manusia mengerti akan dirinya sendiri dan mengerti akan panggilannya”(100). Jika kata-kata ini mengacu pada semua yang menyangkut misteri manusia, maka tentunya mereka dengan cara yang khusus pasti terhubung dengan penderitaan manusia. Pada titik ini, “pengertian manusia akan dirinya sendiri dan keinginan untuk melaksanakan panggilannya” adalah (dua hal yang) tak tepisahkan. Dapat terjadi – seperti telah terbukti – bahwa (kedua) hal ini dapat (berubah) menjadi dramatis. Namun ketika (penderitaan) tersebut diselesaikan dengan sempurna dan menjadi contoh bagi hidup manusia (lainnya), maka (penderitaan) itu diberkati. “Melalui Kristus dan di dalam Kristus, misteri penderitaan dan kematian tumbuh dengan amat bermakna”(101).

Saya mengakiri penjelasan tentang penderitaan dalam tahun dimana Gereja merayakan (tahun) Jubilee yang istimewa yang dihubungkan dengan peringatan Penebusan (Kristus).
Misteri Penebusan dunia adalah sebuah jalan yang sangat mengagumkan, yang berakar di dalam penderitaan, pada gilirannya, penderitaan yang menemukan titik acuan yang tertinggi dan yang paling pasti dalam misteri Penebusan. Kami ingin hidup di Tahun Penebusan ini dengan persatuan yang khusus dengan mereka semua yang menderita. Dan karenanya mereka yang menderita karena iman mereka didalam Kristus yang Disalib dan Bangkit, harus berkumpul bersama dalam roh dibawah naungan Salib di Kalvari, sehingga penderitaan mereka dapat mempercepat pemenuhan doa dari Sang Penyelamat sendiri supaya mereka semua menjadi satu(102). Biarlah semua orang yang baik hati juga berkumpul dibawah Salib, karena pada Salib ini lah “Sang Penebus manusia”, Manusia Penderitaan, yang telah menanggung atasNya sendiri penderitaan fisik dan moral dari semua orang di segala jaman, sehingga dalam kasih mereka dapat menemukan makna penderitaan mereka dan (menemukan) jawaban yang tepat untuk semua pertanyaan mereka.

Bersama-sama dengan Maria, Bunda Kristus, yang berdiri dibawah Salib(103), kita berhenti sejenak di samping semua salib manusia jaman sekarang.
Kita mengundang semua Orang-orang Kudus, yang selama berabad-abad dengan cara yang khusus berbagi dalam penderitaan Kristus. Kita memohon dukungan (doa) mereka. Dan kami meminta kamu sekalian yang menderita untuk mendoakan kami. Kami meminta kamu yang merasa lemah untuk menjadi sebuah sumber kekuatan bagi Gereja dan kemanusiaan. Dalam pertempuran antara kekuatan baik dan jahat, yang ditunjukkan pada kami pada dunia modern ini, semoga penderitaan mu yang bersatu dengan Salib Kristus memperoleh kemenangan!
Pada kamu sekalian saudara-saudariku yang terkasih, Saya mengirimkan Berkat Apostolik.
Diberikan di Roma, di (Gereja) St. Petrus, dalam Peringatan liturgis Bunda Kita dari Lourdes, 11 Februari 1984, dalam tahun ke enam dari Penggembalaanku.

YOHANES PAULUS II

(1) Col. 1, 24.  Kol. 1, 24.
(2) Col. 1, 24.  Kol. 1,24.
(3) Rom. 8, 22.  Rom. 8,22.
(4) Cfr. IOANNIS PAULI PP. II Redemptor Hominis, 14. 18. 21. 22.
(5) Quod Ezechias subiit (cfr. Is. 38, 1-3).
(6) Sic ut Agar timuit (cfr. Gen. 15, 16)  Kej. 15,16, Iacob mente finxit (cfr. Gen. 37, 33-35)  Kej 37,33-35, David expertus est (cfr. 2 Sam. 19, 1) 2 Sam. 19,1.
(7) Id Anna metuit, Tobiae mater (cfr. Tob. 10, 1-7;  Tob. 10, 1-7 cfr. edam Ier. 6, 26;  Yer. 6, 26 Am. 8, 10;  Ams. 8, 10 Zac. 12, 10  Zak. 12, 10).
(8) Talis fuit Abrahae (cfr. Gen. 15, 2  Kej. 15, 2), Rachelis (cfr. Gen. 30, 1  Kej. 31, 1), Annae, Samuelis matris (cfr. 1 Sam. 1, 6-10  1 Sam 1, 6-10), temptatio.
(9) Ut exsulum Babylonica lamentatio (cfr. Ps. 137 [136]  Maz. 137[136]).
(10) Quibus v. gr. affectus est Psaltes (cfr. Ps. 22 [21], 17-21  Maz. 22[21], 17-21), Ieremias (cfr. Ier. 18, 18  Yer. 18, 18).
(11) Sic ut accidit Iob (cfr. Iob 19, 18; 30, 1. 9  Ayb. 19, 18: 30, 1. 9), nonnullis Psaltibus (cfr. Ps. 22 [21], 7-9; Ps. 42 [41], 11; Ps. 44 [43], 16-17  Maz. 22[21], 7-9; Maz. 42[41]. 11; Maz. 44[43]. 16-17), Ieremiae (cfr. Ier. 20, 7  Yer. 20, 7), Servo patienti (cfr. Is. 53, 3  Yes. 53, 3).
(12) Quibus iterum oppressi sunt nonnulli Psaltes (cfr. Ps. 22 [21], 2-3; Ps. 31 [30], 13; Ps. 38 [37], 12; Ps. 88 [87], 9. 19  Maz. 22[21], 2-3; Maz 31[30]. 13; Maz. 38[37]. 12; Maz. 88[87]. 9, 19); Ieremias (cfr. Ier. 15, 17  Yer. 15. 17) atque Servus patiens (cfr. Is. 53, 3  Yes. 53, 3).
(13) His Psaltes (Ps. 51 [50], 5  Maz. 51[50], 5), testes aerumnarum Servi (cfr. Is. 53, 3-6  Yes. 53, 3-6) et Zacharias Propheta (cfr. Zac. 12, 10  Zak. 12, 10) confusi sunt.
(14) Talia passi sunt tum Psaltes (cfr. Ps. 73 [72], 3-14  Maz. 73[72], 3 – 14), tum Qoelet (cfr. Qo. 4, 1-3).
(15) Haec perpessi sunt sive Iob (cfr. Iob 19, 19  Ayb. 19, 19), sive Psaltes nonnulli (cfr. Ps. 41 [40], 10;  Maz. 41[40], 10; Ps. 55 [54], 13-15  Maz. 55[54], 13-15), sive Ieremias (cfr. Ier. 20, 10  Yer. 20, 10); Siracides vero de hac miseria meditatur (cfr. Sir. 37, 1-6  Sir. 37, 1-6).
(16) Praeter plures Lamentationum locos, cfr. psalmistarum questus (cfr. Ps. 44 [43], 10-17;  Maz. 44[43], 10-17. Ps. 77 [76], 3-11;  Maz. 77[76], 3-11, Ps. 79 [78], 11;  Maz. 79[78], 11. Ps. 89 [88], 51  Maz. 89[88], 51), prophetarum (cfr. Is. 22, 4;  Yes. 22, 4, Ier. 4, 8; 13, 17; 14, 17-18;  Yer. 4, 8; 13, 17; 14, 17-18. Ez. 9, 8; 21, 11-12  Ez. 9, 8; 21, 11-12). Cfr. etiam Azariae orationes (cfr. Dan. 3, 31-40  Dan. 3, 31-40), et Danielis (cfr. Dan. 9, 16-19  Dan. 9, 16-19).
(17) Cfr. e. gr. Is. 38, 13  Yes. 38, 13; Ier. 23, 9  Yer. 23, 9; Ps. 31 (30), 10-11  Maz. 31[30], 10-11; Ps. 42 (41), 10-11  Maz. 42(41), 10 – 11.
(18) Cfr. Ps. 73 (72), 21  Maz. 73(72), 21; Iob 16, 13  Ayb. 16, 13; Lam. 3, 13  Rat. 3, 13.
(19) Cfr. Lam. 2, 11  Rat. 2, 11.
(20) Cfr. Is. 16, 11  Yes. 16, 11; Ier. 4, 19  Yer 4, 19; Iob 30, 27  Ayb. 30, 27; Lam. 1, 20 Rat. 1, 20.
(21) Cfr. 1 Sam. 1, 8  1 Sam. 1, 8; Ier. 4, 19; 8, 18  Yer. 4, 19; 8, 18; Lam. 1, 20-22  Rat. 1, 20-22; Ps. 38 (37), 9. 11  Maz. 38(37), 9. 11.
(22) Meminisse iuvat radicem Hebraicam r” designare in universum quod malum est et bono oppositum (ţōb), nullamque admittere distinctionem inter sensum physicum, psychicum, ethicum. Invenitur etiam in substantiva forma ra’ et rā’ā, significante sine discrimine sive quod malum est in se, sive malam actionem, sive etiam male agentem. In formis verbalibus praeter simplicem illam formam (qal), quae, varia quidem ratione, designat « aliquid malum esse », invenitur etiam forma reflexiva-passiva (niphal), id est « malum subire », « maio corripi », atque forma causativa (hiphil), « malum inferre » seu « irrogare » alicui. Cum autem careat lingua Hebraica verbo Graecae formae respondente, idcirco fortasse verbum id raro in versione a Septuaginta occurrit.
(23) Dan. 3, 27 s.–> Dan. 3, 27s; cfr. Ps. 17 (18), 10  Maz. 17(18), 10; Ps. 36 (35), 7  Maz. 36(35), 7; Ps. 48 (47), 12  Maz. 48(47), 12; Ps. 51 (50), 6  Maz. 51(50), 6; Ps. 99 (98), 4  Maz. 99(98), 4; Ps. 119 (118), 75  Maz. 119(118), 75; Mal. 3, 16-21  Mal. 3, 16-21; Matth. 20, 16  Mat. 20, 16; Marc. 10, 31  Mar. 10, 31; Luc. 17, 34  Luk. 17, 34; Io. 5, 30  Yoh. 5, 30; Rom. 2, 2  Rom. 2, 2.
(24) Iob 4, 8  Ayb. 4, 8.
(25) Iob 1, 9-11  Ayb. 1, 9-11.
(26) Cfr. 2 Macc. 6, 12  2 Mak. 6, 12.
(27) Io. 3, 16  Yoh. 3, 16.
(28) Iob 19, 25-26  Ayb. 19, 25-26.
(29) 1, 29.
(30) Gen. 3, 19  Kej. 3, 19.
(31) Io. 3, 16  Yoh. 3, 16.
(32) Act. 10, 38  Kis. 10, 38.
(33) Cfr. Matth. 5, 3-11  Mat. 5, 3-11.
(34) Cfr. Luc. 6, 21  Luk. 6, 21.
(35) Marc. 10, 33-34  Mar. 10, 33-34.
(36) Cfr. Matth. 16, 23  Mat. 16, 23.
(37) Ibid. 26, 52. 54  Mat. 26, 52. 54.
(38) Io. 18, 11  Yoh. 18, 11.
(39) Ibid. 3, 16  Yoh. 3, 16.
(40) Gal. 2, 20  Gal. 2, 20.
(41) Is. 53, 2-6  Yes. 53, 2-6.
(42) Io. 1, 29  Yoh. 1, 29.
(43) Is. 53, 7-9  Yes. 53, 7-9.
(44) Cfr. 1 Cor. 1, 18  1 Kor. 1,18.
(45) Matth. 26, 39  Mat. 26, 39.
(46) Ibid. 26, 42  Mat. 26, 42.
(47) Ps. 22 (21), 2  Maz. 22(21), 2.
(48) Is. 53, 6  Yes. 53, 6.
(49) 2 Cor. 5, 21  2 Kor. 5, 21.
(50) Io. 19, 30  Yoh. 19, 30.
(51) Is. 53, 10  Yes. 53, 10.
(52) Cfr. Io. 7, 37-38  Yoh. 7, 37-38.
(53) Is. 53, 10-12  Yes. 53, 10-12.
(54) Iob. 19, 25  Ayb. 19, 25.
(55) 1 Petr. 1, 18-19  1 Pet. 1, 18-19.
(56) Gal. 1, 4  Gal. 1, 4.
(57) 1 Cor. 6, 20  1 Kor. 6, 20.
(58) 2 Cor. 4, 8-11. 14  2 Kor. 4, 8-11.
(59) Ibid. 1, 5  2 Kor. 1, 5.
(60) 2 Thess. 3, 5  2 Tes. 3, 5.
(61) Rom. 12, 1  Rom. 12, 1.
(62) Gal. 2, 19-20  Gal. 2, 19-20.
(63) Ibid. 6, 14  Gal. 6, 14.
(64) Phil. 3, 10-11  Fil. 3, 10-11.
(65) Act. 14, 22  Kis. 14, 22.
(66) 2 Thess. 1, 4-5  2 Tes. 1, 4-5.
(67) Rom. 8, 17-18  Rom. 8, 17-18.
(68) 2 Cor. 4, 17-18  2 Kor. 4, 17-18.
(69) 1 Petr. 4, 13  1 Pet. 4, 13.
(70) Luc. 23, 34  Luk. 23, 34.
(71) Matth. 10, 28  Mat. 10, 28.
(72) 2 Cor. 12, 9  2 Kor. 12, 9.
(73) 2 Tim. 1, 12  2 Tim. 1, 12.
(74) Phil. 4, 13  Fil. 4, 13.
(75) 1 Petr. 4, 16  1 Pet. 4, 16.
(76) Rom. 5, 3-5  Rom 5, 3-5.
(77) Cfr. Marc. 8, 35  Mar. 8, 35; Luc. 9, 24  Luk. 9, 24; Io. 12, 25  Yoh. 12, 25.
(78) Col. 1, 24  Kol. 1, 24.
(79) 1 Cor. 6, 15  1 Kor. 6, 15.
(80) Io. 3, 16  Yoh. 3, 16.
(81) Luc. 9, 23  Luk. 9, 23.
(82) Cfr. ibid.
(83) Cfr. Matth. 7, 13-14  Mat. 7, 13-14.
(84) Luc. 21, 12-19  Luk. 21, 12-19.
(85) Io. 15, 18-21  Yoh. 15, 18-21.
(86) Ibid. 16, 33  Yoh. 16, 33.
(87) 2 Tim. 3, 12  2 Tim. 3, 12.
(88) Col. 1, 24  Kol. 1, 24.
(89) Cfr. Eph. 6, 12  Ef. 6, 12.
(90) Luc. 10, 29  Luk. 10, 29.
(91) Ibid. 10, 33-34  Luk. 10, 33-34.
(92) Gaudium et Spes, 24.
(93) Luc. 4, 18-19  Luk. 4, 18-19; cfr. Is. 61, 1-2  Yes. 61, 1-2.
(94) Act. 10, 38  Kis. 10, 38.
(95) Matth. 25, 34-36  Mat. 25, 34-36.
(96) Ibid. 25, 40  Mat. 25, 40.
(97) Ibid. 25, 45  Mat. 25, 45.
(98) 1 Petr. 4, 13  1 Pet. 4, 13.
(99) Col. 1, 24  Kol. 1, 24.
(100) Gaudium et Spes, 22.
(101) Gaudium et Spes, 22.
(102) Cfr. Io. 17, 11. 21-22  Yoh. 17, 11, 21-22.
(103) Cfr. ibid. 19, 25  Yoh. 19, 25.

sumber

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: