Rasa Hormat Dan Penghargaan Terhadap Sakramen Mahakudus

Uskup Thomas G Doran, Uskup dari Keuskupan Rockford

Dari waktu ke waktu orang membuat penyelidikan terhadap kantor Uskup yang meminta jawaban yang lebih dari jawaban pribadi. Satu hal yang lebih menggangu bahwa umat Katolik yang dalam mempraktekkan imannya, kelihatannya kurang menghormati dan menghargai Tuhan kita didalam Sakramen Mahakudus didalam liturgi dan didalam devosi kita.

Saat saya pergi ke berbagai paroki dan mengamati orang-orang, yang mengejutkan beberapa dari orang tidak berlutut ke arah Tabernakel pada saat memasuki atau meninggalkan gereja dan banyak lagi tidak mengetahui cara melakukannya (kaki kanan, bukan kaki kiri yang menyentuh lantai ketika berlutut dengan satu kaki/ genuflect). Ucapan syukur terhadap Sakramen Mahakudus hampir hilang karena bahkan klerus ataupun awam yang tahu bagaimana untuk melakukannya, dan hymne indah yang biasanya dinyanyikan pada saat perayaan, semuanya penuh dengan arti yang mendalam tentang Ekaristi Kudus, sebagian besar dilupakan.

Seorang wanita baru-baru ini menulis surat kepada saya, bahwa dia baru saja diberitahu oleh seorang diakon bahwa menerima Ekaristi Kudus sambil berlutut merupakan tindakan yang tidak taat kepada Konferensi Uskup-Uskup dan kepada saya sebagai Uskup itu sendiri. Saya bersyukur untuk ini mengingat bahwa ini adalah sebuah subjek yang kita semua harus memerlukan hati.

Pertama-tama, harus diingat bahwa banyak orang kesulitan untuk bergenuflect dan akan kesulitan untuk berlutut saat Komuni Kudus. Sungguh-sungguh, jika hal itu membahayakan kesehatan atau kebaikannya, seseorang tidak berkewajiban untuk melakukannya. Penghormatan terhadap Sakramen Mahakudus mulai didalam hati. Baik itu tercermin didalam sikap kita tergantung pada banyak hal.

Satu hal yang sangat penting bagi saya adalah praktek dari Bapa Suci, Paus Benediktus, ketika ia memberikan Komuni Kudus. Prakteknya dalam memberikan Komuni Kudus adalah di lidah si penerima yang berlutut disaat mereka menerima Komuni. Hal itu harus mengatakan sesuatu kepada kita semua. Saya akan membuat penyelidikan pribadi bahwa saya biasanya tidak membagikan Komuni Kudus ketika saya memimpin Misa di paroki-paroki karena setiap paroki memiliki ciri khasnya sendiri dalam memberi Komuni Kudus dan saya bingung dengan keanekaragaman praktek, dan jadi karena kebijaksanaan adalah bagian yang lebih baik dari keberanian, saya tidak terlibat didalamnya.

Lalu pada kenyataanya bahwa banyak dari kita mengidentifikasi kesatuan dengan keseragaman. Dua hal itu berbeda. Kita terikat pada kesatuan didalam iman, tidak perlu untuk seragam dan bagaimana kita menerima Komuni Kudus. Sekarang, Pedoman Umum Misale Romawi yang ketiga sekarang diberlakukan, di no. 160, mengijinkan menerima Komuni Kudus berlutut atau berdiri, di lidah atau ditangan. Instruksi yang sama juga mengijinkan Konferensi Wali Gereja Amerika Serikat untuk menetapkan norma untuk praktek ini. Hal ini sudah dilakukan oleh Uskup Agung Wilton Gregory ketika ia menjabat sebagai Ketua Konferensi pada tahun 2002. Para Uskup memutuskan bahwa berdiri adalah postur tubuh yang normatif.

Oleh karena itu, mengijinkan umat Katolik untuk menerima Komuni Kudus berdiri, menerima Komuni Kudus dilidah atau ditangan, tergantung pilihan mereka, dan hal ini cara yang biasa dimana Komuni Kudus didistribusikan di gereja kita. Kardinal George bertanya tentang hal ini pada tahun 2003 dan Tahta Suci merespon bahwa sikap tubuh saat Komuni Kudus tidak begitu kaku diatur, agar tidak menggangu kebebasan orang dalam menerima Komuni Kudus. Jika anda harus membaca ini dua atau tiga kali untuk memahami apa yang telah dikatakan, tidak apa-apa. Seluruh masalah ini agak membingungkan.

Saya sudah terlalu tua untuk mengingat kapan, dalam sebuah kebingungan “aku-juga-isme,” Communion rail (communion rail merupakan tempat berlutut untuk menerima komuni, biasanya diletakkan di depan altar sebagai pemisah antara altar dan bangku umat) direnggut keluar dari gereja kami, sesuatu yang tidak pernah disarankan, diperintahkan atau dipaksakan. Kebanyakan gereja-gereja mempunyai communion rail yang cocok dengan bantal empuk diatasnya dimana para penerima komuni bisa berlutut. Dan tampaknya bagi saya melihat kembali hari-hari awal imamat saya, bahwa komuni dibagikankan dengan lebih hormat dan diterima dengan lebih hormat ketika orang berlutut untuk Komuni Kudus. Beberapa orang merasa sulit dan bahkan kemudian mereka yang kesulitan untuk berlutut bisa berdiri. Sedikit yang melakukan, tapi hal itu diijinkan. Tampaknya jika ada orang yang ingin kembali ke metode ini menerima Komuni Kudus, mereka akan menemukan bahwa komuni harus diterima dengan hormat, dengan lebih teratur dan dalam waktu yang kurang dari sekarang ini yang diperlukan. Tapi waktu bukanlah hal yang paling penting dan bukanlah urutan dari kebijaksanaan, tapi lebih menggunakan waktu yang sebaik-baiknya.

Satu hal yang harus diperjelas pada saat ini, untuk menerima Komuni Kudus dengan berlutut bukanlah tanda ketidakpatuhan kepada semua Uskup atau siapapun. Saya akan menambahkan, bagaimanapun juga, bahwa umat Katolik yang mempraktekkan imannya secara umum ingin mengikuti permohonan yang wajar dari pastor mereka sehingga Komuni Kudus dapat diagikan dengan hormat dan dengan cara yang bermartabat. Hal ini juga benar bahwa diantara mereka dalam Tahbisan Suci, Para Uskup dan Para Imam adalah guru-guru kita.

sumber

2 komentar

  1. imelda waruna · · Balas

    saya sudah mulai menerima komuni di lidah, tidak di tangan lagi. Saya infin menerima komuni dengan berlutut, ingin sekali, tapi saya masih malu dan takut bila jadi heboh atau jadi aneh sendiri di gereja nantinya….saya juga ingin pakai mantila, kerudung doa di gereja, tapi juga masih belum berani sendiri. Seandainya bisa diumumkan resmi dan semua melakukannya, tentu lebih baik…

    1. Mungkin bagi saya mengenai pakai MANTILA..sangat setuju, tetapi kita sebagai wanita menggunakannya kerudung tersebut hanya apabila pada saat menerima KOMUNI SUCI dan para diakon wanita sebaiknya membagikan KOMUNI SUCI dengan memakai KERUDUNG DOA tersebut. Juga apabila sebagai wanita awam, apabila hendak menginjak ALTAR SUCI mohon dengan menggunakan kerudung tersebut. seperti di negara Arab, untuk menginjak altar dan untuk menerima KOMUNI SUCI disediakan kerudung apabila ada yg tidak membawa pada saat menerima KOMUNI SUCI tersebut…..

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: