PD : Mengapa Pantas Bagi Kristus untuk Wafat di Salib?

Berikut sedikit terjemahan dari Question 46 article 4 yang menjawab apakah Kristus harus menderita di salib (St. Thomas Aquinas menjawab secara positif):

Aku menjawab bahwa, adalah sangat pantas bagi Kristus untuk mati di kayu salib .

Pertama, sebagai contoh kebajikan. Karena Agustinus menuliskan (QQ. 83, Q25): “Hikmat/Kebijaksanaan Allah menjadi manusia (catatan: seperti Roh Kudus adalah ‘kasih’ Allah, maka sang Sabda, ie. Yesus, adalah ‘hikmat/kebijaksanaan’ Allah. Untuk lebih jelasnya silahkan baca ‘PS’ dibawah) menjadi manusia untuk memberi contoh kepada kita dalam kebenaran dari hidup. Tapi adalah bagian dari hidup yang benar untuk tidak takut terhadap hal-hal yang tidak perlu ditakuti. Sekarang ada beberapa orang, meskipun mereka tidak takut terhadap kematian, tapi dibebani mengenai cara mereka mati. Supaya, karenanya, tidak ada cara mati apapun yang membebani orang yang baik, salib dari Orang ini (ie. Kristus) harus dihadapkan kepada orang itu (ie. orang yang takut terhadap cara dia akan mati tapi tidak takut kematian itu sendiri), karena, diantara semua jenis (cara) kematian, tidak ada yang lebih menginspirasikan rasa takut daripada ini (ie. Salib)

Kedua, karena kematian jenis ini adalah secara spesial lebih cocok untuk menebus dosa orang tua pertama kita (ie. Adam dan Hawa), yang adalah pengambilan apel dari pohon terlarang melawan perintah Allah. Dan karenanya, untuk menebus dosa itu, adalah cocok bahwa Kristus harus menderita dengan dikencangkan pada sebuah pohon, seakan-akan mengembalikan apa yang telah diambil Adam tanpa ijin; menurut Mazmur: “Lalu aku membayar apa yang aku tidak ambil.” Karenanya Agustinus berkata dalam khotbahnya mengenai Sengsara (Sermone 101 de Tempore): “Adam jijik terhadap perintah itu, mencomot apel dari pohon: tapi semua yang dihilangkan Adam, ditemukan Kristus diatas salib.”

Alasan ketiga adalah karena, seperti yang dikatakan Chrysostom dalam khotbahnya mengenai Sengsara (De Cruce et Latrone i,ii): “Dia menderita diatas salib tinggi dan tidak dibawah atap, supaya kodrat dari udara termurnikan: dan Bumi juga merasakan keuntungan yang sama, karena [Bumi] dibersihkan oleh mengalirnya darah dari sampingNya.” Dan atas Yohanes 3:14: “Anak manusia harus diangkat keatas,” Theophylact berkata, “Ketika kau mendengar bahwa dia diangkat keatas, pahamilah menggantungnya Dia di ketinggian, sehingga Dia bisa menguduskan udara yang [juga telah] menguduskan Bumi dengan berjalan diatasnya.”

Alasan keempat adlah, karena, dengan mati diatasnya (ie. salib), Dia menyiapkan bagi kita untuk naik ke Surga, seperti yang dkatakan Chrysostom (Athanasius, Vide A, III,r 2). Karena itulah Dia mengatakan (Yohanes 12:32): “Bila aku diangkat dari Bumi, Aku akan menarik semuanya kepada Diriku sendiri.”

Alasan kelima adalah karena [kematian di salib] adalah cocok untuk penyelamatan dunia semesta. Karenanya Gregorius dari Nyssa mengamati (In Christi Resurrectione, Oratione 1) bahwa “bentuk salib memanjang ke empat ektrim dari titik pusatnya menunjukkan kuasa dan penyelenggaraan tersebar kesemua tempat dari Dia yang tergantung diatasnya.” Chrysostom (Athanasius, Vide A,III,r 2) juga berkata bahwa diatas salib “Dia mati dengan tangan-tangan yang terentang agar dapat menarik dengan satu tangan para orang terdahulu, dan dengan [tangan yang lain] mereka-mereka yang muncul dari kaum bukan Yahudi.”

Alasan keenam adalah karena berbagai kebajikan yang tertunjukkan oleh kematian jenis ini (ie. kematian di salib). Karenanya Agustinus di bukunya mengenai rahmat Perjanjian Lama dan Baru (Ep. 140) mengatakan: “Tidaklah tanpa alasan Dia memilih jenis kematian ini, sehingga Dia bisa menjadi seorang guru dengan kelebaran, dan ketinggian, dan kepanjangan, dan kedalaman,” seperti yang dikatakan sang Rasul (Efesus 3:18): “Karena kelebaran adalah dalam baloknya (ie. bidang horizontal dari salib), yang terpancangkan merentang diatas; ini berkaitan dengan perbuatan-perbuatan baik, karena tangan-tangan [kristus] terantang diatasnya. Panjang adalah jangkauan pohon dari balok ke tanah (yang dimaksud ‘pohon’ adalah bagian vertikal salib); dan disanalah ditanamkan – yaitu, [pohon] itu berdiri dan menancap – yang merupakan tanda kepanjangan. Ketinggian adalah bagian dari pohon (ie. bagian vertikal salib) yang masih tersisa dari balok yang melintang menuju keatas, dan ini adalah pada kepala sang Tersalib, karena Dia adalah keinginan tertinggi dari jiwa-jiwa dan dari harapan baik. Tapi bagian dari pohon (ie. bagian vertikal salib) yang tersembunyi dari pandangan dan yang menjaga agar [salib] tetap [tegak] (maksudnya bagian kayu yang tertanam di tanah), dan yang darimana seluruh salib bersumber, menunjukkan kedalaman rahmat karunia.” Dan, seperti yang dikatakan Agustinus (Tractatus 119 in Joannis): “Pohon dimana diatasnya terkencangkan anggota-anggota tubuhNya yang mati bahkan adalah kursi dari sang Guru pengajar.”

Alasan ketujuh adalah karena kematian seperti ini ber-responsif pada banyak gambaran-gamabran. Karena, sebagaimana Agustinus berkata dalam sebuah khotbah mengenai Sengsara (Sermone 101 de Tempore), sebuah kayu bahtera yang disimpan oleh umat manusia dari air Banjir Besar; pada saat keluaran umat Allah dari Mesir, Musa dengan sebuah tongkat memisahkan laut, menggulingkan Firaun dan menyelamatkan umat Allah. Musa yang sama mencelupkan tongkatnya ke air, merubahnya dari pahit menjadi manis; dengan sentuhan tongkat kayu sebuah sumber air kehidupan mancur keluar dari batu spiritual; begitu juga, untuk mengatasi Amalekh, Musa merentangkan tangannya dengan tongkat ditangan; terakhir, hukum Allah dipercayakan kedalam Tabut Perjanjian berbentuk kayu; semua ini adalah tahap-tahap dimana kita [nantinya akan] terpancangkan kepada kayu di salib.

Sumber.

3 komentar

  1. “Sebab mereka yang tanpa bersalah tidak mengenal Injil
    Kristus serta Gereja-Nya, tetapi dengan hati tulus mencari Allah, dan berkat pengaruh rahmat berusaha melaksanakan kehendak-Nya yang mereka kenal melalui suara hati dengan
    perbuatan nyata, dapat memperoleh keselamatan kekal” (LG 16)

    terus terang saya tersentuh dengan kata-kata di atas. betapa kasih sayang tuhan meliputi segalanya, tak mengenal batas ruang dan waktu.

  2. menarik sekali
    terima kasih atas pencerahannya

    oh iya,…
    bagaimanakah kelak nasib orang-orang yang tidak percaya dengan penyaliban, bukan karena mereka tidak percaya tetapi karena belum sampai kepada mereka pemberitaan injil dan juga nasib dari orang-orang yag mati sebelum penyaliban?

    mohon pencerahannya
    thanks before…..

    1. Gereja mengajarkan bahwa seluruh keselamatan datang dari Kristus sebagai Kepala melalui Gereja, yang adalah Tubuh-Nya:

      “Berdasarkan Kitab Suci dan Tradisi, konsili mengajarkan, bahwa Gereja yang sedang mengembara ini perlu untuk keselamatan. Sebab hanya satulah Pengantara dan jalan keselamatan, yakni Kristus. Ia hadir bagi kita dalam Tubuh-Nya, yakni Gereja. Dengan jelas-jelas menegaskan perlunya iman dan baptis, Kristus sekaligus menegaskan perlunya Gereja, yang dimasuki orang melalui baptis bagaikan pintunya. Maka dari itu andaikata ada orang, yang benar-benar tahu, bahwa Gereja Katolik itu didirikan oleh Allah melalui Yesus Kristus sebagai upaya yang perlu, namun tidak mau masuk ke dalamnya atau tetap tinggal di dalamnya, ia tidak dapat diselamatkan” (LG 14)

      tapi Penegasan ini tidak berlaku untuk mereka, yang tanpa kesalahan sendiri tidak mengenal Kristus dan Gereja-Nya:

      “Sebab mereka yang tanpa bersalah tidak mengenal Injil Kristus serta Gereja-Nya, tetapi dengan hati tulus mencari Allah, dan berkat pengaruh rahmat berusaha melaksanakan kehendak-Nya yang mereka kenal melalui suara hati dengan perbuatan nyata, dapat memperoleh keselamatan kekal” (LG 16)

      Meskipun Allah melalui jalan yang diketahui-Nya dapat menghantar manusia, yang tanpa bersalah tidak mengenal Injil, kepada iman yang merupakan syarat mutlak untuk berkenan kepada-Nya, namun Gereja mempunyai keharusan sekaligus juga hak yang suci, untuk mewartakan Injil” (AG 7) kepada semua manusia.

      Salam,
      Andreas

      sumber: Katekismus Gereja Katolik no 846-848

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: