Keputusasaan dan Iman

oleh : Felix Lengkong, Ph.D*

“Putus asa merupakan kejahatan besar terhadap Bapa yang Maharahim. Pengalaman menunjukkan bahwa kecenderungan seseorang untuk putus asa dapat membahayakan kesehatan jasmani dan mental dan tidak jarang menyebabkan seseorang menjerumuskan diri ke aneka kejahatan”

Dalam sebuah diskusi baru-baru ini seorang romo pembimbing para frater (calon pastur) di Manado berkata :”Putus asa kadang melekat dengan kehidupan kita dan kita terlibat di dalamnya”

“Secara tidak sengaja,” ia melanjutkan, “saya membuka tulisan tentang putus asa dalam Ensiklopedi Gereja.” Disitu tertulis, “Putus asa merupakan kejahatan besar terhadap Bapa yang Maharahim. Pengalaman menunjukkan bahwa kecenderungan seseorang untuk putus asa dapat membahayakan kesehatan jasmani dan mental dan tidak jarang menyebabkan seseorang menjerumuskan diri ke aneka kejahatan. Cukup banyak orang beriman merasa tidak dikasihani Allah, karena kurang beruntung dibandingkan orang lain. Maka, mereka menjauhi Allah. Sikap seperti ini berbahaya untuk iman.”

Antara Psikologi/Psikoterapi dan Teologi/Religiositas

Topik keputusasaan ini menarik untuk disimak. Di dalam topik ini terkandung nuansa psikologi dan teologi. Penjelasan teologis dalam cuplikan diatas seakan-akan menegasi analisis psikologis tentang keputusasaan. Saya ingin menyimaknya satu per satu. “Putus asa merupakan kejahatan besar terhadap Bapa yang Maharahim. Pengalaman menunjukkan bahwa kecenderungan seseorang untuk putus asa dapat membahayakan kesehatan jasmani dan mental dan tidak jarang menyebabkan seseorang menjerumuskan diri ke aneka kejahatan.” Kalimat pertama mengandung proposisi teologis. Sementara kalimat-kalimat sesudahnya berisi analisis fakta sosiopsikologis. Namun, hati-hati dengan pernyataan berikut :” Cukup banyak orang beriman merasa tidak dikasihani Allah, karena kurang beruntung dibandingkan orang lain.” Kalimat ini mengandung analisis tentang realitas sosiopsikologis yang dibungkus dalam proposisi teologis. Realitas religio-sosiopsikologis itu dilanjutkan dengan pernyataan “. Maka, mereka menjauhi Allah.” Persoalan muncul pada judgement (penilaian/penghakiman) berikut : “Sikap seperti ini berbahaya untuk iman.”

Jawaban Realitstis terhadap Derita

Saya kira, kutipan-kutipan tersebut perlu diberi penjelasan. Logislah bahwa orang yang kurang beruntung ‘menjauhi’ Allah. Atau paling kurang mereka mempertanyakan kerahiman Allah. Apalagi jika mereka sudah berusaha hidup baik, namun hidup tidak berpihak pada mereka. Bukankah banyak contoh orang menderita secara sosio-ekonomis itu adalah justru orang-orang yang memilih hidup baik secara moral? Mereka ini diwakili oleh Ayub dalam Perjanjian Lama. Jadi, pernyataan dalam kutipan diatas bukan jawaban realitstis bagi derita manusia.

Menurut pendapat saya, jika derita terlalu disangkutpautkan dengan kerahiman Allah, maka iman justru dibahayakan. Dalam banyak kasus trauma klinis yang saya hadapi, klien akan sampai pada tahap ‘questioning God’ (=mempertanyakan Allah). Orang yang mengalami gejala psikis seperti ini tidak bisa disalahkan. Biasanya derita traumatis membuat emosi mengalahkan kognisi. Gejala ‘questioning God’ merupakan konsekuensi logis dari pemahaman (yang selalu ditanamkan orangtua bahwa “Semua itu datang dari Allah”). Pernyataan short cut semacam itu dalam jangka panjang akan berdampak keliru. Kita sebaiknya lebih sabat untuk menjabarkan proses pikiran sebelum berkesimpulan “Semua itu datang dari Allah.”

Keputusasaan dan Kepribadian

Jika menghadapi klien yang secara klinis berputus asa, saya biasanya mengkaitkan keputusasaan itu dengan peristiwa-peristiwa traumatis. Saya berusaha menganalisis peristiwa traumatis yang dialami klien. Namun, sebelum mencari tahu dampak peristiwa traumatis itu secara psikis dan secara imaniah, saya biasanya meneropong ke kondisi psikologis klien dengan meneropong gaya kepribadian : Apakah ia mempunyai kepribadian ‘sehat’ (tipe kepribadian) atau ‘sakit’ (gangguan kepribadian)? Biasanya orang yang mempunyai tipa kepribadian sehat akan menghadapi peristiwa traumatis secara positif. Ia mampu memaknai derita traumatis. Kalau toh orang itu terganggu maka gangguan itu hanya sementara, yang disebut posttraumatic stress reaction (PTSR). Setelah satu atau dua minggu intensitas traumka akan mereda.

Keputusasaan itu merupakan gejala psikis dan sebaiknya kita tidak terburu-buru menafsirkannya secara teologis. Keputusasaan itu merupakan salah sati ciri orang depresif (gangguan kepribadian depresif). Bisa juga terjadi bahwa keputusasaan itu berlatar belakang genetis seperti pada tipe mercurial atau gangguan borderline. Jika ini yang menjadi penyebab maka penyembuhan membutuhkan waktu yang lama; itupun bukan kesembuhan total. Boleh jadi, keputusasaan hanya bersifat sementara akibat dari tekanan hidup sehari-hari (daily hussles) yang berlebihan. Kesembuhan bisa lebih mudah dicapai.

Keputusasaan dan Motivasi

Keputusasaan tampak jelas dalam bentuk emosi seperti sedih, pilu, tertekan; serta perilaku bingung dan menarik diri secara sosial. Kendati demikian putus asa itu sebenarnya merupakan gejala kognitif dimana orang kehilangan harapan. Dampak dari kehilangan harapan itu adalah lenyapnya motivasi. Padahal motivasi itu merupakan daya dorong untuk berperilaku positif.

Guna mendeteksi keputusasaan kognitif itu, saya bertanya kepada klien : (1) apa pikiran/pandangan/keyakinannya tentang dirinya? (2) pikiran tentang orang lain, tentang dunia/hidup ini? (3) tentang masa depan, Jika gambaran kognitif itu berciri negatif (seperti irrational thinking dan/atau illogical thinking), maka dengan sendirinya keputusasaan itulah konsekuensinya. Contoh jawaban terhadap tiga pertanyaan tersebut : (1) saya orang yang tak pantas dikasihani (2) Orang lain hanya mementingkan diri mereka sendiri; hidup ini kejam; dunia ini merupakan tempat penuh ancaman; dan (3) hidupku tak tentu arah; tak ada gunanya hidup lebih lama.

Ketiga pertanyaan diatas merupakan pertanyaan existensial yang hakiki. Jawaban terhadap ketiga pertanyaan itu juga sangat berpengaruh pada ada tidaknya motivasi hidup. Kendati orang dikatakan sangat religius, ia akan melakukan tindakan ‘bodoh’ jika kondisi psikisnya itu berindikasi hopelessness (keputusasaan)

Harapan dan Hidup

Jangan lupa, banyak psikologi menandai hakikat manusia dengan masa depan. Artinya, masa depan merupakan elemen penting ada manusia dan hidup. Psikologi Adlerian (psikologi individual) mengatakan : Manusia itu selalu ingin menjadi superior (ingin lebih…seperti lebih baik). Sementara psikologi humanistic/eksistensialis berpostulasi : Manusia ingin “merealisasikan” diri. Carl Yung menyebut realisasi diri sebagai proses individuasi. Dan Viktor Frankle dengan logiterapi menggunakan istilah “Man’s search for meaning”(upaya pemaknaan). Semua itu berarti bahwa masa depan yang disimbolisasi oleh harapan dan eschaton (istilah teologi tentang yang akan datang) itu penting bagi manusia.

Bukan hanya dalam konteks psikologi, harapan itu penting. Dalam konteks teologi, harapan (theology of the hope dan/atau eschatology) itu justru melahirkan agama seperti kristianitas. Menghadapi keputusasaan akan realitas kematian, manusia berharap akan hidup kekal. Lahirnya kristianitas ditandai dengan kebangkitan. Kebangkitan Yesus menandai teologi harapan itu sekaligus memulai komunitas kristiani yang disebut Gereja. “Jika Yesus tidak bangkit, maka sia-sialah kerigma (=pekabaran),” kara Rasul Paulus. Guna membangkitkan harapan klien (dan menyembuhkan trauma), saya biasanya tidak serta merta menghubungkan derita itu dengan kerahiman Allah. Contohnya Ayub. Ia terus menerus bertanya kepada Allah : Mengapa ia ditimpa derita? Orang yang traumatis secara klinis biasanya kehilangan kewarasannya, termasuk kewarasan iman.

Saya biasanya mengajak klien untuk memahami bahwa hidup ini bukan hitam-putih. Ada begitu banyak actor yang terlibat pada derita, peristiwa traumatis. Saya juga membantu klien menghindari cara berpikir katastrofik : Klien traumatis memperbesar peristiwa menjadi bencana. Lalu, saya membantu klien melepaskan diri dari aloneness dan loneliness. Semakin alone dan semakin lonely, klien merasa semakin teralienasi (bahasa filsafat) atau traumatis (bahasa psikologis.)

Semakin menderita klien itu, semakin alone dan lonely lah dia. Maka saya member contoh-contoh konkrit tentang orang-orang yang mengalami keserupaan pengalaman guna menunjukkan : ”So you are not alone.” Itu biasanya saya tegaskan pada klien. Bukankah di bukit salib itu, Yesus tidak sendiri. Dua penjahat yang disalib itu berdampak psikis pada Yesus bahwa Ia tidak sendiri.

Selanjutnya, saya menunjukkan bahwa ada orang lain yang bersedia memberi dukungan sosial (social support), paling kurang saya sebagai konselor adalah social support. Kemudian, saya membantu klien untuk memahami bahwa derita itu merupakan bagian dari perjalanan hidup manusia. “Mengapa derita ini menimpa saya?” Ini juga menjadi pertanyaan Ayub. Pertanyaan ini sebaiknya dihindari, karena terlalu banyak faktor yang terlibat dan tak mungkin kita menemukan jawaban bagi semua faktor tersebut. Saya membantu klien berujar : Begitulah hidup! That is life, man! Setelah itu masih ada beberapa teknik cognitive-behavioral diterapkan guna memantapkan penyembuhan seperti cognitive restructuring.

Tiga Serangkai : Iman, Harap, dan Kasih

Nah, setelah klien waras secara psikis, barulah kita menampilkan topik kerahiman Allah. Kendati demikian, kerahiman itu sebaiknya jangan disampaikan dalam bentuk judgement alias penghakiman bentuk baik-buruk hidup orang tersebut. Derita bukanlah penghakiman Allah. Derita adalah kesempatan untuk merealisasikan diri. Kesempatan untuk menjadi ‘superior’ (menjadi lebih baik). Kesempatan untuk menemukan makna. Itulah namanya, mencari hikmah dalam derita.

Disinilah harapan (teologi harapan) itu mendapatkan arti yang sebenarnya. Yang terpenting sebenarnya bukanlah secara obyektif ada kebangkitan (surga, hidup kekal), melainkan adanya harapan dan iman akan apa yang diharapkan. Harapan adalah proses, bukanlah end point. Lebih penting berharap daripada apa yang diharapkan. Itulah sebabnya, muncul tiga serangkai : Iman (=percaya akan kerigma), Harap (=tidak putus asa menghadapi derita), dan Kasih (=terus berikhtiar mewujudkan harapan). Jadi, waras psikis harus diikuti waras iman. Manusia baru mampu melihat kerahiman Allah dalam deritanya jika ia memiliki kesehatan mental (jiwa).

Sumber : Warta Atma Jaya, Edisi X – No. 2, Agustus 2011

* Felix Lengkong, Ph.D adalah dosen di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Unika Atma Jaya Jakarta.

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: