Kenapa Saya Harus Merubah Cara Saya Berpakaian? Jika Seorang Pria Memiliki Imajinasi Yang Buruk, Itu Masalah Dia.

oleh: Jason Evert

Jika anda muak dengan cara kaum pria sering memperlakukan kaum perempuan dan berpikir apa yang bisa dilakukan untuk mengembalikan rasa hormat, berpakaian dengan sopan (modesty) adalah solusinya. Masalahnya adalah ini: Banyak pria sekarang ini tidak mengetahui bagaimana berelasi dengan wanita. Bagian dari obat untuk penyakit ini terletak di tangan-tangan kaum wanita. Wendy Shalit berkata, “Pada akhirnya, tampaknya hanya pria yang bisa mengajarkan pria lainnya bagaimana caranya untuk bersikap didekat wanita, tetapi pria-pria tersebut harus terinspirasi oleh wanita terlebih dahulu; cukup terinspirasi untuk berpikir wanita tersebut patut untuk dihormati.” [1]

Bagaimana hal ini bisa terjadi? Baiklah, banyak wanita muda sadar bahwa mereka mempunyai kekuatan untuk mengoda seorang pria, tetapi sedikit perempuan tidak sadar bahwa kewanitaan mereka juga mempunyai kekuatan untuk mendidik seorang pria. Cara seorang perempuan berpakaian (tidak mencantumkan caranya berjalan, menari dan seterusnya) memiliki kemampuan luarbiasa untuk membantu membentuk seorang pria menjadi seorang gentleman atau menjadi seorang monster.

Saya telah membaca puluhan ribu halaman dari teologi, konseling dan informasi tentang hubungan dan seksualitas manusia, tetapi saya tidak pernah mempelajari bagaimana cara memperlakukan wanita sampai saya berpacaran dengan seorang yang berpakaian dengan sopan. Hal ini menawan hati, dan saya menyadarinya untuk pertama kali bahwa cara berpakaian yang tidak sopan akan menangkap suatu cara dalam melihat seorang wanita itu siapa dirinya. Pakaian yang tidak sopan akan menarik seorang pria kepada tubuh wanita, tetapi mereka mengalihkan pria dari melihat seorang wanita sebagai seorang pribadi. Seperti seorang pria berkata, “Jika kamu ingin seorang pria menaruh hormat padamu, dan mungkin akhirnya jatuh cinta denganmu, maka kamu harus menunjukkan kepadanya bahwa kamu menghormati dirimu sendiri dan bahwa kamu mengenal martabatmu dihadapan Allah.” [2]

Wanita yang berpakaian dengan sopan menginspirasi pria dalam berbagai cara bahwa saya tidak malu untuk mengakuinya, bahwa saya tidak dapat menjelaskannya. Saya rasa memang aman untuk mengatakan bahwa ia menyampaikan berharganya dirinya kepada kita. Ketika wanita berpakaian dengan sopan, saya bisa ambil kesimpulan dari dirinya dengan serius sebagai seorang wanita karena ia tidak kelihatan seperti ia sedang mengemis untuk mendapatkan perhatian. Ia tahu bahwa ia berharga untuk ditemukan. Kerendahan hati seperti itu adalah bersinar-sinar. Sayangnya, kebanyakan wanita terlalu asik dengan memutar kepala pria daripada melihat kekuatan mereka untuk membelokkan hati kita.

Terkadang kaum wanita dibingungkan dengan kelemahan, tetapi tidak ada yang bisa jauh dari kebenaran. Seorang wanita yang benar-benar wanita juga menyadari bahwa ia bisa berpakaian seperti koleksi dari anggota tubuh dan menerima tatapan tak terhitung dari pria-pria. Tetapi ia juga mempunyai kekuatan untuk meninggalkan suatu ruang misteri, daripada berpakaian dengan cara mengundang pria untuk bernafsu. Caranya berpakaian seperti mengatakan, “saya layak untuk ditunggu”. Ia percaya pemilihan waktu Allah, dan ia tahu bahwa ia tidak perlu untuk membuat pria melongo guna menangkap perhatian pria yang sudah Allah rencanakan untuknya.

Dalam suratnya “pada martabat wanita”, Paus Yohanes Paulus II mengutip sebuah dokumen dari Vatikan II, mengatakan: “Waktunya sudah tiba, pada faktanya sudah datang, ketika panggilan untuk wanita telah diakui kepenuhannya, waktu dimana wanita memiliki pengaruh di dunia, efek dan kekuatan yang sampai sekarang tidak pernah tercapai. Inilah kenapa, pada saat ini ketika umat manusia menjalani suatu transformasi yang begitu dalam, wanita yang diilhami dengan semangat dari Injil bisa melakukan sesuatu yang lebih untuk membantu umat manusia agar tidak jatuh.” [3]

Jadi apa itu kesopanan dalam berpakaian (modesty)? Ini bukan tentang terlihat berpakaian seburuk mungkin. Ini tentang mengambil kecantikan alami dari kaum wanita dan menghiasi dengan cara yang merefleksikan identitas sejati seseorang. Ketika seorang wanita tahu bahwa ia adalah anak perempuan dari Raja surgawi, ia tidak membiarkan pakaian-nya, percakapan, dan kelakuannya mengalihkan dari hal ini. Ia sadar bahwa tubuhnya adalah kudus karena tubuhnya adalah bait Roh Kudus. Ini membawa kerendah hati dari tubuh, karena kerendah hati adalah sikap yang pantas menuju kebesaran. Didalam hal ini kebesaran karena dibuat dalam gambar dan rupa Allah.

Ini bukan “saya wanita, dengarkan saya mengaum!” sedikit, tapi rasa tenang daripada sebuah rasa yang seperti mencari-cari untuk menarik perhatian yang sebenarnya tidak perlu. Tentu saja, pria akan melonggo kepada wanita yang berpakaian provokativ, tetapi didalam hatimu apakah anda ingin di tatap saja atau di cintai? anda ingin cinta sejati. Ketika wanita berpakaian tidak sopan, ia sering tidak menyadarinya bahwa ia merampok dirinya sendiri dari keintiman yang dia rindukan.

Ketika wanita mengenakan pakaian yang ketat, para pria akan berpikir ia mencoba berkata kepada mereka, “Hai, pria, hal yang terbesar tentang saya adalah tubuh saya!” mereka akan melihat dan mungkin akan setuju. Tetapi jika tubuhnya adalah yang hal terbesar tetang dirinya, itu semua merendahkan dia. Jika hal itu yang terbaik yang bisa ia tawarkan, kenapa mereka harus mengenal hatinya, impiannya, pribadinya, dan keluarganya? mereka hanya mau mengenal tubuhnya saja.

Berpakaian dengan tidak sopan juga melukai kesempatan wanita tersebut untuk dicintai. Tipe dari pria yang tertarik padanya tidak akan seperti tipe dari pria yang akan memperlakukan ia seperti anak perempuan dari Allah. Tidak peduli bagaimana perempuan itu berpakaian, dia mengirimkan undangan tak terucapkan bagi pria untuk memperlakukan dia seperti yang terlihat. Sebagai contoh, mempertimbangkan sebuah majalah yang sering saya lihat di stan surat kabar lapangan terbang. Pada cover majalah adalah seorang wanita memakai rok pendek yang bisa saja saya salah lihay atau tali pinggang yang lebar. Atasannya yang ketat nyaris ukuran sebuah serbet yang tidak dilipat, dan dalam huruf tebal besar disampul itu “Suzie [atau apapun namanya-aku tidak ingat] ingin orang menghormati dia!” Saya berharap yang terbaik untuknya dan mulai berjalan ke gerbang, setelah menutupi majalah tersebut dengan majalah Oprah. (Saya pikir ini sebuah karya perusahaan dari pengampunan-memberi pakaian kepada yang telanjang.)

Meskipun seorang perempuan layak untuk dihormati tidak peduli apa yang dia pakai, seorang pria bisa mengetahuinya bagaimana seorang wanita menghormati dirinya sendiri melalui caranya berpakaian. Jika dia tidak menghormati dirinya sendiri, anehnya para pria akan mengikutinya. Didalam hati seorang perempuan, tidak ada keinginan untuk menjadi objek seks. Apakah ada keinginan untuk menerima perhatian, kasih sayang dan cinta? tentu saja. Tapi apakah ada keinginan untuk mengurangi diri menjadi objek? tidak ada perempuan yang ingin pergi kesana, tetapi banyak juga yang melakukannya demi menerima kepuasan emosional.

Ketika seorang perempuan memakai pakaian yang menunjukkan perut, baju dengan tali bahu seperti spaghetti, dia tidak memikirkan tentang bagaimana dia berharap untuk memimpin pria berbuat dosa. Dia mungkin berpikir, “Baju atasan itu cute sekali, dan itu kelihatan serasi dengan sepatuku.” Tapi dibawah alam sadar keinginan sederhana untuk menjadi menarik adalah keinginan yang lebih dalam agar bisa diterima. Jika seorang perempuan mengerti bagaimana para pria mem-visualkan seksualitas, dia akan melihat pakaiannya sebagai sarana untuk menerima perhatian. Dia mungkin melihat manekin yang mini dan berpikir, “pakaian itu memalingkan kepala pria. Jika saya memakainya, para pria akan melihat saya. Mungkin saya akan bertemu dengan orang yang baik.” Tetapi logikanya tidak akan seperti itu.

Kita asumsikan bahwa perempuan tersebut berpakaian provokatif dan dia menjumpai seorang yang benar-benar baik. Pria itu tidak lebih baik karena pakaiannya. Pria lebih terangsang secara visual daripada wanita, dan ketidaksopanan dengan mudah dapat memicu pikiran yang penuh dengan nafsu. Ketika pria melabuhkan ide-ide yang tidak murni ini, nafsu memisahkan kita dari Kristus, sumber kasih yang tidak bersyarat. Apakah seorang wanita ingin memisahkan pria dari sumber kasih yang tidak bersyarat yang dia cari? jika tidak, kenapa tidak memilih pakaian yang lebih sopan? tidak ada yang salah dengan berpakaian yang membuatmu terlihat cute, tetapi pakaian yang menggoda dan seksi seharusnya tidak ada di lemari pakaian seorang wanita Kristiani.

Jika hatimu berkata, “apakah ini terlalu pendek?” atau “Apakah ini terlihat terlalu ketat?” dengarkan suara itu. Itu sudah menjawab pertanyaan anda. Dengarkan suara ini untuk kebaikanmu dan kita. Demi kebaikanmu, menyadari bahwa seperti parit yang mengelilingi kastil, kesopanan berpakaian melindungi harta kemurnian. Untuk kebaikan kita, ingat ketika Kain membunuh Abel didalam Kitab Kejadian? ketika Allah bertanya kepada Kain dimana saudaranya, Kain menjawab, “Apakah saya penjaga saudara saya?” Dalam cara yang sama, hal ini terlalu mudah untuk para pria dan wanita untuk mengelak dari tanggung jawab untuk saling menolong satu sama lain mempertahankan dalam kemurnian. Mengadopsi sikap Santo Paulus, dan hidup di dalam cara yang tidak menyebabkan saudaramu tersandung (Roma 14:21).

Beberapa wanita menghabiskan energi mencoba untuk membuat para pria memperhatikan mereka (bahkan jika mereka tidak tertarik dengan pria itu) daripada mereka mencoba menghabiskan untuk memusatkan perhatian pria pada Allah. Sebagai wanita Allah, gunakan kecantikanmu untuk menginspirasi kebajikan pria. Sekali lagi, tidak ada masalah agar terlihat cute. Masalahnya, bagaimanapun, ketika berpakaian dikenakan secara tidak sopan, atau ketika seseorang jatuh kedalam kesia-siaan dan kekhawatiran yang berlebihan tentang mencari yang sempurna. Tubuhmu adalah berharga dihadapan Allah, dan anda tidak perlu terlihat seperti model Cosmo yang di airbrush agar pantas dicintai.

Catatan Kaki:

[1]. Wendy Shalit, A Return to Modesty (New York: Touchstone, 1999), 157.
[2]. Mike Mathews, “Sexy Fashions? What Do Men Think?” Lovematters.com (newspaper supplement), 4:2001:10.
[3]. Pope John Paul II, Mulieris Dignitatem 1.

sumber

4 komentar

  1. bagi saya yang paling sulit adalah mengendalikan pikiran dan nafsu sex saya yang salah. Pengetahuan yang benar tentang Tubuh, sex dan perkawinan adalah langkah awal untuk menjadi bijak dalam memaknai ketiga hal diatas. Maka sayalah yang pertama-tama harus bertobat.

  2. thomas dedy kuntjoro · · Balas

    wanita , artikel yang tak kan pernah pudar pembahasan nya dan selalu akan membawa bahan yang sangat berwarna , perempuan lebih sederhana menurut saya , karena dia pada jaman nya hanya mempunyai 3 kebutuhan : memasak , bersolek dan beranak. pakaian yang dikenakan perempuan akan sama dimata lelaki jika lelaki tersebut juga anak Allah dan percaya bahwa ia – ( lelaki ) tsb mengakui bahwa ia berasal dari yang kudus. Pergulatan atas mata dan hasrat hati untuk sex hanya terjadi pada mereka yang slalu atau masih membekukan diri nya pada nafsu ( walau sesaat – walau saat perlu ). Masih ada perempuan dan laki laki yang memiliki citra , rahmat dan upaya untuk bersaksi bahwa mereka ( saksi – saksi ) adalah berasal dari kebenaran , toh jika mereka melakukan sex , hubungan mereka tetap pada sex atas rahmat Allah. Tanpa nafsu nanpa hasrat dan tanpa tekanan , bagaimana bisa merasakan sex pada rahmat Allah adalah dengan menelanjangi diri dan memperkenankan Iman mereka larut dalam sex , percaya bahwa kelaki lakian dan kewanitaan mereka berdua telah menyatu oleh kasih karunia Allah yang terjadwal , bukan karena mereka berhitung dan menjadwalkan , melainkan Allah lah yang menyatukan mereka untuk menikmati kehadiran Allah pada saat mereka menyatukan diri dalam kedua tubuh mereka. satu pemikiran awal dari saya adalah : sudah terbiasakah kita menelanjangi diri di hadapan Allah …. atau membiarkan diri telanjang dihadapan Allah atau kah kita tidak mampu mengenakan pakaian kita dihadapan Allah – karena Allah melihat kita !?
    adalah wajar bila saya membedakan indra kita untuk merasakan ke ADA an Allah dan indra untuk melihat pakaian sesama kita. Kecondongan untuk berbuat dosa masih melekat pada manusia walau ia sudah dibabtis , walau kecondongan itu masih ada , Iman lah sbagai penopang indra untuk memilah : antara nafsu , hasrat , keinginan , gelora dan penyerahan hati. bersambung.

  3. Artikel yang manis dan menarik. alurnya baik dengan maksud yang sangat jelas. Wanita harus mengahargai dirinya sendiri melalui pakaian yang ia kenakan, sehingga ia dengan seutuhnya pantas dicintai. Namun pertanyaan saya, apakah setelah berpakaian dengan sopan menurut tolak ukur masyarakat Indonesia, kemudian saya mampu menghalangi cara pikir berpikir seorang pria terhadap saya? Apakah pakaian saya yang sopan mampu membendung pikiran pria, yang tidak semuanya seperti tolak ukur yang telah disampaikan pada paragraf di atas? Moral merupakan masalah penting yang harus di tanamkan pada masing-masing individu, pikiran merupakan sesuatu yang terlalu dalam untuk dapat diatur oleh sebuah pakaian. Terima Kasih.

    1. Shalom Paskah Widrani,

      Saya akan mencoba menjawab pertanyaan anda :

      “Namun pertanyaan saya, apakah setelah berpakaian dengan sopan menurut tolak ukur masyarakat Indonesia, kemudian saya mampu menghalangi cara pikir berpikir seorang pria terhadap saya?”

      Tanggapan : Menurut saya, dengan berpakaian sopan setidaknya anda sudah berusaha untuk mengurangi jumlah pria yang berpikiran kotor terhadap wanita. Mungkin hal tersebut tidak akan sangat efektif, karena pria juga mudah jatuh ke dalam dosa. Tapi, setidaknya hal tersebut sudah sangat membantu pria untuk tidak jatuh ke dalam godaan dan dosa yang bersifat seksual (terlebih, pria memang lebih mudah tergoda secara visual). Memang tidak bisa kalau hanya satu pihak yang berusaha, melainkan kedua pihak (pria dan wanita) harus saling bekerja sama.

      “Apakah pakaian saya yang sopan mampu membendung pikiran pria, yang tidak semuanya seperti tolak ukur yang telah disampaikan pada paragraf di atas?”

      Tanggapan : Hampir sama seperti diatas, tidak semua pikiran pria mungkin bisa dibendung. Oleh karena itu, baik pria dan wanita harus bekerja sama dalam menghormati tubuh mereka masing-masing. Dan Paus Yohanes Paulus II memiliki ajaran yang sangat baik tentang hal ini, yaitu Teologi Tubuh.

      Salam,

      Cornelius

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: