Kemurahan Hati Allah

oleh: Dr. Marcellino D’Ambrosio, Ph.D

“Tapi itu tidak adil!” Sering orang tua pernah mendengar kalimat ini kesekian kali. Ide dari keadilan ini, dibangun didalam diri kita. Hal ini membuat kita sadar bahwa setiap dari kita memiliki hak tertentu untuk perlu dihormati.

Tapi hal itu juga berarti bahwa kita memiliki tugas. Jika seseorang memiliki hak untuk di bayar setelah mereka bekerja, mereka yang mendapatkan keuntungan dari pekerjaan itu memiliki tugas untuk membayar mereka. Jika orang lain memiliki hak untuk hidup, kebebasan, dan mencari kebahagiaan, kita memiliki tugas untuk tidak membiarkan kebahagiaan yang kita cari itu melanggar hak mereka.

Tapi kita harus melebarkan perspektif kita sedikit. Allah, pencipta segala hal, bertanggung jawab atas semua berkat yang kita nikmati. Kehidupan didunia ini telah diberikan kepada kita masing-masing yang semestinya tidak diberikan, gratis. Kita memiliki talenta fisik yang tidak sama, keistimewaan, dan kemampuan, plus bermacam-macam rohani dan hadiah intelektual juga. Mereka berbeda satu sama lain, tapi apa yang mereka miliki didalam persamaan adalah mereka datang sebagai hadiah gratis dari Allah yang tidak harus menciptakan kita.

Ini adalah latar belakang yang perlu untuk mengerti secara penuh sebuah cerita perumpaan yang pada awalnya mengejutkan perasaan kita. Matius (20:1-16) mencatat sebuah cerita dari seorang tuan rumah yang mengupah pekerja untuk memanen anggur. Ia mengupah beberapa kru dengan waktu yang berbeda, jadi pada akhir hari, beberapa telah bekerja hanya beberapa jam ketika yang lainnya telah bekerja sepanjang hari. Ada yang menggerutu ketika semua orang dibayar dengan standar upah yang sama, dengan tanpa melihat seberapa lama mereka bekerja. Untuk menambahkan penghinaan ke luka, mereka yang mulai bekerja diakhir waktu, dibayar lebih dulu. “Tidak adil!”

Tunggu dulu. Tuan membayar mereka yang bekerja sepanjang hari, tepat seperti yang ia katakan kepada mereka. Ia hanya memutuskan untuk murah hati dan membayar semua, bahkan yang datang terlambat, gaji satu hari penuh. Keadilan tidak menghalangi kemurahan hati.

Para Farisi berpikir bahwa mereka selalu melakukan kehendak Allah dan berhak mendapatkan lebih dari yang lain, terutama si pengacau Yesus muncul dengan kebaikan hati – termasuk pemunggut pajak dan berdosa. Hal itu menimbulkan gejolak bagi mereka untuk berpikir bahwa Joni ini yang -datang- terlambat akan duduk bersama dengan mereka didalam Kerajaan Allah.

Sejujurnya, baik mereka, ataupun kita, sebenarnya menyukai orang-orang yang secara konsisten melakukan kehendak sang Tuan, bekerja tanpa henti pada tugas yang telah diberikan. Tugas kita adalah untuk mencintai Allah Tuhan kita dengan SEGENAP hati, SEGENAP jiwa, dan SEGENAP kekuatan kita (Ul 6:4-5) setiap hari dari hidup kita. Hal ini adil sejak kita berhutang kepada Allah mutlak segala sesuatunya. Tapi kita semua telah secara tidak adil pergi meninggalkan tugas pada berbagai waktu – mengejek Dia lewat ketidaktaatan, kesombongan dan keegoisan kita. Beberapa telah pergi absen tanpa mendapat cuti, lebih lama dari orang lain, dan beberapa dosa lebih spektakular dari pada lainnya. Tapi intinya adalah bahwa, dalam terminologi dari keadilan yang tepat, Allah tidak berhutang apapun dari kita kecuali, mungkin, hukuman.

Tapi dalam kemurah hatian-Nya yang luar dari biasanya, Tuhan telah menawarkan kepada kita sebuah perjanjian – jika kita mau menerima anak-Nya yang dikasihi didalam iman sebagai penyelamat dan Tuhan, dan melalui kekuatan dari Roh Kudus mencari untuk melakukan kehendakNya, dan jika kita mau menyesali setiap waktu kita gagal, Ia akan memberikan kepada kita apa yang sebenarnya tidak pantas kita menerimanya – persahabatan dengan-Nya disini yang terbuka untuk kemuliaan kekal kelak. Yang pertama mengambil tawaran ini biasanya mereka yang telah menyadari keperluan mereka untuk belas kasih. Dan inilah kenapa yang akhir biasanya menjadi yang pertama ketika datang ke Kerajaan Allah. Sepertinya adil untukku.

Refleksi pada bacaan Minggu Biasa ke XXV, Yes 55:6-9; Mzm 145; Flp 1:20-24,27; Mat 20:1-16

sumber

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: