Menanggapi Keberatan-Keberatan Komuni Di Lidah Sambil Berlutut

Tulisan ini dibuat untuk menanggapi beberapa keberatan yang pernah saya baca dari internet tentang Komuni di lidah sambil berlutut, keberatan-keberatan yang sama juga kembali muncul setelah artikel terjemahan tentang Kardinal Canizares yang merekomendasikan Katolik agar Komuni di lidah [klik] dipublish beberapa hari lalu di beberapa page facebook, dan sempat menjadi perdebatan. Sedikit saya ambil beberapa komentar tersebut dibawah ini, beserta tanggapan saya dengan tulisan merah di bold.

Usulan yg bagus,tp knpa hrus kmbali k tradisi lama[karena tradisi lama yang agung ini ditinggalkan begitu saja, karena dianggap tidak sesuai dengan jaman lagi. Ekaristi, roti yang ditransubstansi menjadi Tubuh Kristus dan anggur menjadi Darah Kristus, Tuhan di antara manusia, harus disambut dengan takjub, hormat dan sikap adorasi yang rendah hati.]

errrr…haruskah langsung ke lidah? menurut saya ditaruh di lidah atau di tangan bukanlah esensi dari penerimaan komuni, tetapi kesiapan hati untuk menerima tubuh dan darah Kristus-lah yang utama[tidak tepat bahwa kesiapan hati untuk menerima Tubuh Kristus adalah yang utama, yang benar dan yang utama adalah kita harus dalam kondisi berahmat alias tidak dalam berdosa besar untuk menerima Tubuh dan Darah Kristus, persiapkan diri dengan baik melalui Sakramen Pengampunan Dosa (klik)

bukankah Tuhan Yesus memecah2 roti dan membagikannya kepada murid2nya? tidak tercantum di kitab suci bahwa Tuhan sendiri yang menyuapi murid2nya…mohon petunjuknya…[di ayat Yohanes 13: 26 apakah Tuhan meletakkan roti di tangan Yudas?]

Tp kalo dg lidah n berlutut, bisa dibayangkan saat nyambut komuni; antriannya bisa panjang sekali[kenapa kita mengeluh Misa itu lama? sedangkan kalau kita jalan-jalan ke mal, atau hang out bareng temen-temen mau berlama-lama, tapi dengan Tuhan tidak? ‎’The Mass is long’, you say, and I add: ‘Because your love is short.’ (The Way, 529) St. Josemaria Escriva]

kasihan yg punya penyakit tulang shg tdk bs berlutut..
Untuk orang yang sudah lanjut usia, susah deh mau berlutut, nanti malah jatuh….[tentunya Gereja memberikan kelonggaran jika seseorang tersebut sakit atau sudah lanjut usia, dan seseorang masih bisa membungkuk/ berlutut dengan satu kaki (genuflect) sebelum menerima Komuni untuk menunjukkan sikap hormat]

Boleh sy bertanya, bagaimana dg segi medisnya yah, krn, maaf, bila memberikan hosti lgsg ke mulut bukankah kurang baik dilihat dari segi kesehatan. Tuhan memberkati kita semua..[saya bener-bener gak mengerti, pikiran seperti ini dapetnya dari mana?]

apapun posisinya.. Asal menerima dg hati yg tulus.. Penuh kerendahan hati..Kita akan pantas menjadi bagian dr diriNya..Lg pula, yg menyatakan pantas dan tdk bukanlah manusia..[pendapat ini benar-benar meremehkan Misa itu sendiri, ada alasannya kenapa kita harus menghadap kearah altar, kenapa kita harus membuat tanda salib, kenapa kita harus berlutut, kenapa kita harus berdiri, kenapa Komuni dilidah dll, Gereja telah membuat tata cara dalam menyembah Allah secara universal, kenapa kita sangat susah sekali untuk mengikutinya? bahkan terkesan asal-asalan? dan bahkan jadi ajang kreatifitas]

berlutut bukan budaya kita [saya kutip dari buku yang ditulis oleh Paus Benediktus XVI, yang berjudul “The Spirit of The Liturgy”, saya menyarankan anda untuk membaca buku ini, khususnya bagi anda pecinta liturgy, di chapter 2; no. 3 posture: kneeling; hal. 185 disana tertulis “berlutut tidak datang dari budaya manapun, tapi berasal dari Alkitab dan ini pengetahuan dari Allah.” lihat di Joshua 5:15, Tuhan berbicara kepada Joshua dan Joshua berlutut didepanNya. Markus 1:40, Seorang kusta berlutut di depan Yesus. Markus 10:17, Matius 17:14, 27:29; Matius 14:33; Yohanes 9:35-38 dan masih banyak lagi, mari berlutut dihadapan Tuhan]

saya siap,tp kalo gak serempak..smuany…takut malu diliatin org banyak…n takut dikatain….gimanaaaa geetoo…hhe..tp aku setuju.[fokuskan pada Yesus, jangan pedulikan apa kata orang-orang]

saya jijik jika tangan saya harus tersentuh lidah umat..[jika saja petugas yang membagikan ataupun umat yang menerima Komuni di lidah melakukannya dengan benar, maka hal seperti itu tidak perlu terjadi, lihat foto diatas ini sang penerima Komuni kepalanya agak sedikit mendongak kebelakang, pandangan menghadap kedepan, membuka lebar mulutnya dan menjulurkan lidahnya, demikian juga tangan Bapa Suci, jari yang mengapit Hosti posisi jari jempolnya berada diatas dan jari telunjuknya berada di bawah, mari kita mencontoh pemimpin kita sendiri yang memimpin dengan memberikan contoh bukan cuma kata-kata…Paus Benediktus XVI]

Penjelasan Tambahan Atas Beberapa Pertanyaan

“jadi yang benar itu bagaimana?” 

Ada kebiasaan Gereja sejak dahulu sebelum menyambut Komuni, tapi sekarang sudah jarang dilakukan, yaitu seseorang harus memeriksa dirinya dengan mendalam, dan bahwa setiap orang yang sadar telah melakukan dosa berat tidak boleh menyambut Tubuh Tuhan kalau tidak terlebih dahulu menerima Sakramen Tobat, kecuali jika ada alasan berat dan tidak tersedialah kemungkinan untuk mengaku dosa; dalam hal itu ia harus membuat doa tobat sempurna, dan dalam doa ini dengan sendirinya tercantumlah maksud untuk mengaku dosa secepat mungkin. [Redemptionis Saramentum No. 81]

Adapun Pernyataan Tobat pada awal Misa dimaksudkan untuk menyiapkan para hadirin untuk merayakan misteri suci ini; akan tetapi “ini tidaklah membuahkan hasil yang sama seperti Sakramen Pertobatan”, dan tidak dapat dipandang sebagai pengganti Sakramen Pertobatan untuk memberi ampun atas dosa-dosa berat. [Redemptionis Sacramentum No. 80]

“Dilidah atau ditangan?”

Menurut instruksi dari Memoriale Domini [klik], Bapa Suci memutuskan untuk tidak mengubah cara pelayanan komuni kudus kepada umat beriman seperti yang berlaku sekarang ini [yaitu komuni di lidah]. Komuni ditangan hanya dilakukan di negara yang sudah mendapatkan ijin dari Tahta Suci. Baik Komuni di lidah atau di tangan dua-duanya benar, walaupun menurut Uskup Athanasius Schneider, Komuni di tangan sekarang ini tidak seperti pada abad 4 [klik].

“Berlutut atau berdiri?”

Menurut PUMR, Komuni diterima dengan cara berlutut (ini cara tradisional dan universal) atau berdiri, tergantung dari keputusan para uskup di negara itu ….. Meskipun normanya adalah berdiri [i.e. Indonesia], jika anda mau berlutut, anda tetap bebas untuk menerima Komuni dengan berlutut.

Pedoman Umum Misal Romawi

160 …Umat menyambut entah sambil berlutut entah sambil berdiri, sesuai ketentuan Konferensi Uskup. Tetapi, kalau menyambut sambil berdiri, dianjurkan agar sebelum menyambut Tubuh ( dan Darah ) Tuhan mereka menyatakan tanda hormat yang serasi, sebagaimana ditentukan dalam kaidah-kaidah mengenai komuni.

“saya mau menerima Komuni di lidah, tapi saya ditolak oleh Diakon, dan memaksa saya untuk menerima Komuni ditangan, saya dibuat malu jadinya”

Menurut dokumen Redemtionis Sacramentum, tidak seorangpun yang boleh menolak umat yang mau menerima Komuni di lidah.

Redemptionis Sacramentum

91. Perlu diingat bahwa, bila membagi Komuni, para petugas suci tidak boleh menolak sakramen-sakramen kepada semua orang yang ingin menerimanya dengan suatu cara yang wajar, yang sungguh siap untuk itu dan tidak terhalang oleh hukum untuk menerimanya”. Oleh sebab itu, setiap warga Katolik yang tidak terhalang oleh hukum, harus diperbolehkan menyambut Komuni Suci. Maka tidak dapat dibenarkan jika Komuni Suci ditolak kepada siapa pun di antara umat beriman hanya berdasarkan fakta – misalnya – bahwa orang yang bersangkutan mau menyambut Komuni sambil berlutut atau sambil berdiri.

92. Walaupun tiap orang tetap selalu berhak menyambut Komuni pada lidah jika ia menginginkan demikian, namun kalau ada orang yang ingin menyambut Komuni di tangan, di wilayah-wilayah di mana Konferensi Uskup setempat – dengan recognitio oleh Takhta Apostolik – telah mengizinkannya, maka hosti kudus harus harus diberikan kepadanya. Akan tetapi harus diperhatikan baik-baik agar hosti dimakan oleh si penerima itu pada saat masih berada di hadapan petugas Komuni; sebab orang tidak boleh menjauhkan diri sambil membawa Roti Ekaristi di tangan. Jika ada bahaya profanasi, maka hendaknya Komuni Suci tidak diberikan di tangan.

Catatan: Saya tetap taat dan setia kepada hierarki, jika ada kesalahan dalam artikel ini saya siap dikoreksi.

4 komentar

  1. romofarano · · Balas

    Reblogged this on Romo Farano and commented:

    Berlutut dengan kedua kaki, sebagai tanda hormat dan takluk pada Allah

  2. Maximillian Reinhart · · Balas

    Siapa yang menolak untuk memberikan komuni di lidah, semoga rahmat pengampunan turun atas dirinya.

  3. daniel dananjaya · · Balas

    saya menerima komuni di lidah tetapi seorang pastur menegur saya lalu saya jawab katanya bila seseorang menerima komuni dengan berlutut tetap diperbolehkan twtapi dia ngotot katanya gak boleh

    1. Shalom Daniel Dananjaya,

      Ya, cukup disayangkan masih ada imam yang tidak memperbolehken umat menerima Komuni di lidah sambil berlutut. Anda telah berusaha menjelaskan posisi anda dengan baik, saya salut atas keberanian anda. Semoga anda tetap dapat memberikan penghormatan yang mendalam kepada Yesus dengan menerima Komuni di lidah sambil berlutut. Jangan sampai kejadian seperti ini menggoyahkan niat baik anda.

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: