Kekayaan Iman Gereja Katolik

Seorang pembaca mengirimkan email kepada kami (saya kutip sebagian saja, karena bagian selanjutnya akan ditanggapi dalam artikel yang berbeda) :

“Beberapa hari ini, saya agak terusik karena teman saya (meski saya tidak mengenalnya in-person) yang berpindah agama dari Katolik Roma ke Protestan … Alasan yang membuatnya pindah: dia selalu tersentuh oleh khotbah yang dibawakan oleh pendeta di kebaktian tempat dia sering “jajan” (ia merasa Tuhan yang berbicara langsung padanya lewat khotbah itu), dia merasa bisa bertumbuh di Gereja tersebut dan menganggap semua Gereja itu sama (katanya, “Semua Gereja itu sama, tinggal kita cari tempat penggembalaan dimana kita bisa bertumbuh.”).”

Saya pernah mendengar cerita yang serupa. Orang-orang katolik meninggalkan Gereja Katolik karena mereka merasa lebih bisa bertumbuh di gereja lain, atau mereka merasa lebih bersemangat dan bersuka cita ketika menghadiri ibadat di protestan, dan ada yang merasa bahwa Misa itu membosankan, homily romo jelek, tidak menyentuh dan membuat ngantuk, koor yang biasa saja dan lagunya itu-itu saja dan tidak menyentuh hati, serta banyak alasan lainnya.

Mendengar hal ini cukup menyedihkan bagi saya, karena berdasarkan cerita dari pembaca tersebut, saya bisa menyimpulkan bahwa temannya ini belum secara serius mendalami dan menemukan kekayaan yang ada dalam Gereja Katolik. Padahal, ada banyak kekayaan yang hanya ada dalam Gereja Katolik dan tidak ada di gereja lain, contoh :

  1. Hanya didalam Gereja Katolik kita bisa mengalami persatuan dengan Tuhan Yesus, dengan menyambut Tubuh dan Darah-Nya yang kudus.
  2. Hanya Hanya didalam Gereja Katolik kita bisa menerima pengampunan melalui sakramen tobat, dimana Yesus berbicara melalui imam tersebut ketika mengampuni dosa kita. Kuasa mengampuni dosa berasal dari Yesus sendiri ketika Ia berkata, “Ketika kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, jika kamu menyatakan dosanya tetap ada, maka dosanya tetap ada”
  3. Hanya didalam Gereja Katolik kita bisa menyembah Yesus yang hadir dalam rupa roti dalam Adorasi Sakramen Maha Kudus.
  4. Hanya didalam Gereja Katolik, bila kita selalu menghadiri Misa di hari Minggu selama 3 tahun, maka kita sudah mendengar hampir seluruh isi Kitab Suci.
  5. Hanya didalam Gereja Katolik kita bisa meminta perantara doa dari Para Kudus dalam berbagai hal (Misalnya, sebagai seorang pelajar, saya memohon bantuan doa dari St. Thomas Aquinas dan St. Agustinus, serta masih banyak profesi lainnya dimana para kudus menjadi pelindung profesi tersebut)
  6. Dan masih banyak lagi yang akan terlalu penjang jika saya sebutkan.

Lihat, banyak sekali kan kekayaan iman yang sangat menguntungkan bagi kita? Jadi untuk apa kita mencari sesuatu diluar Rumah kita sendiri, padahal kita sendiri belum atau mungkin tidak mencari tahu kekayaan yang ada didalam Rumah kita? Silakan menonton video Mengapa Aku Seorang Katolik, dan video We are Catholic yang menurut saya menunjukkan kebanggaan dan identitas kita sebagai orang katolik.

Tapi bisa saja ada yang berkeberatan,”Tapi iman saya tidak bertumbuh di Gereja Katolik, Misa itu membosankan dan homili romo tidak menyentuh hati saya dan tidak membuat saya bertumbuh. Lebih baik saya mencari gereja lain dimana saya bisa bertumbuh, toh semua gereja itu sama.”

Teman, kita menghadiri Misa bukan untuk mendengar homili yang membangkitkan semangat atau menyentuh hati,  bukan itu hakekat Misa.

Misa adalah tindakan kurban. Kurban Kristus sekali untuk selamanya di kalvari, dihadirkan kembali dalam Perayaan Ekaristi, yang adalah puncak dan sumber kehidupan kristiani. Di dalam Misa, kita datang untuk menyembah dan menghormati Allah, Pencipta Kita. Kita menghadiri Misa, seharusnya karena ada kerinduan dalam hati kita untuk menyembah dan menyambut Tubuh dan Darah Kristus. Penjelasan lebih lanjut, baca artikel Apakah Mengabaikan Misa itu Dosa Berat?

Sebenarnya, dengan memperdalam iman katolik kita, kita bisa menemukan cara untuk bertumbuh, baik dalam iman, harapan, dan kasih. Dan kita akan selalu menemukan sesuatu yang baru, yang sangat bermanfaat bagi perkembangan rohani kita, yang tidak akan habis untuk digali.

Lalu mengenai pernyataan “semua gereja itu sama”, pernyataan tersebut sangat salah. Satu perbedaan fundamental antara Gereja Katolik dan gereja protestan lainnya adalah, hanya Gereja Katolik yang didirikan oleh Tuhan Yesus Kristus. Penjelasannya bisa dibaca di artikel ini : Mengapa Kita Memilih Gereja Katolik.

Bagi pembaca yang mengirimkan email tersebut, saran saya : Cobalah untuk mengajak teman anda memperdalam iman katolik dengan memberikan buku-buku katolik atau dengan berdiskusi. Dan berdoalah untuk dia, agar ia bisa pulang ke dalam Gereja Katolik.

Bagi mereka yang membaca tulisan ini, temukanlah kekayaan iman Gereja dengan mempelajari iman katolik melalui Katekismus Gereja Katolik, Kompendium KGK, buku-buku karangan Scott Hahn, Peter Kreeft, Karl Keating, Paus Benediktus XVI, dan membaca web katolik (ekaristi.org, katolisitas.org, dan tentu saja blog ini :D )

Saya tutup artikel ini dengan kutipan dari Paus Benediktus, dalam Pengantar Youth Catechism, Katekismus untuk orang muda katolik :

Kamu perlu tahu apa yang kamu percaya. Kamu perlu mengetahui imanmu dengan ketepatan yang sama seperti spesialis IT mengetahui kerja bagian dalam sebuah computer. Kamu perlu memahaminya seperti musisi yang baik yang mengetahui karya musik yang ia mainkan. Ya, kamu perlu diakarkan secara lebih mendalam dalam iman daripada generasi orang tuamu agar kamu bisa menghadapi tantangan-tantangan dan godaan-godaan zaman sekarang dengan kekuatan dan determinasi.” – Paus Benediktus XVI

4 komentar

  1. Shalom Cornelius,

    Terima kasih sudah memberikan balasan dan tanggapan.
    Namun hati kecil saya sedikit merasa sedih membaca tanggapan Anda, karena apa yang sebenarnya ingin saya sampaikan belum bisa membawa Anda kepada pengertian yang sesungguhnya akan pentingnya Misa dalam Gereja.

    Tapi saya sangat maklum dengan pandangan Anda yang tertuang dalam ulasan diatas, karena saya memang sejak SD hingga SMP sekolah di Sekolah Katolik, meskipun saya dari keluarga Kristen Protestan aliran Pentakosta. Selepas SMP hingga saat ini, saya tetap mengamati perkembangan Gereja (khususnya di Indonesia) , dan saya melihat sesuatu yang istimewa dalam Gereja Katolik, yaitu adanya orang2 seperti Cornelius ini :), karena Anda, dan mayoritas umat Katolik lainnya sudah tertanam dan berakar di gereja lokal, (dan memang seharusnya demikian). Dogma Gereja Katolik yang baku sudah tertanam sejak kecil, membuat banyak umat seperti Anda tidak perlu berpikir dan menafsirkan macam-macam diluar yang sudah dibakukan oleh Roma Katolik. Hal inilah yang membuat perbedaan antara Gereja Katolik dengan Gereja2 aliran Protestan (terlebih Pentakosta) : Gereja Katolik lebih solid, tidak seperti Protestan yang terpecah-pecah dengan munculnya berbagai aliran baru, seperti Baptis, Advent, Pentakosta, Injili, dsb. Bahkan munculnya aliran Katolik Kharismatik di awal abad ke 20 (yang menurut saya justru “jauh lebih kharismatik” daripada aliran Kristen kharismatik dan Pentakosta), itu pun tidak membuat mereka keluar dari Gereja Katolik atau membuat kelompok Gereja sendiri, namun mereka kembali ke “rumah” atau ke Gereja lokal masing2 pada hai Minggu. Disini menimbulkan kekaguman saya akan solidnya Gereja Katolik, meskipun seperti yang anda katakan, homily romo jelek, tidak menyentuh dan membuat ngantuk, koor yang biasa saja dan lagunya itu-itu saja dan tidak menyentuh hati,, dsb. tetapi mereka tetap setia datang ke Misa.

    Itu salah satu sisi, yaitu sisi kekaguman saya, tapi di satu sisi yang lain, saya melihat sesuatu yang sudah terlanjur BIASA, dan telah menjadi KEBIASAAN… “rasanya kalau hari Minggu kalo nggak ke Gereja nggak enak ya .. kayak ada yang kurang..” , itu yang saya sering dengar dari rekan2 dan bahkan famili2 saya yang juga beragama Katolik. Meskipun homily tidak menyentuh.. bikin ngantuk… pokoknya ke Gereja. Datang Misa, .. Pulang Misa , ya gak dapat apa2… dapatnya hanya satu : “Yang penting sudah memenuhi kewajiban datang ke Gereja hari Minggu”. Jadi yang saya amati sebenarnya lebih banyak yang seperti itu daripada yang benar2 memiliki pemahaman yang benar dan menyeluruh akan ajaran iman Katolik. Maaf, itu pengamatan saya dan sama sekali tidak bermaksud menghakimi.

    Tapi ketahuilah bahwa sebenarnya umat yang pindah Gereja BUKAN karena minimnya pengetahuan dan kesadaran umat akan kekayaan yang dimiliki Gereja Katolik, bukan itu ! Percayalah…! Saya setuju dengan Anda, ‘JANGAN SALAHKAN UMAT’, tapi Gereja harus berani membuka diri / interospeksi. Saya memiliki kerinduan dan keinginan yang begitu sangat kuat, agar umat Katolik yang datang ke Gereja untuk mengikuti Misa, bukan sekedar datang karena rutinitas belaka. Saya ingin, mereka datang ke Misa , pulang diperkaya akan kebenaran Firman Tuhan, bukan hanya lewat buku-buku, artikel2 apalagi rujukan2 link web saja, kalau dengan begitu saja sudah cukup untuk memperkaya iman, lalu buat apa lagi mereka datang ke Gereja? Justru sebaliknya, umat datang ke Gereja seharusnya lebih UTAMA untuk mendapatkan pengajaran yang memperkaya wawasan dan pengetahuan tentang keimanan, selanjutnya buku-buku, artikel2 web dsb itu hanyalah “suplemen tambahan” yang lebih menambah, mempertajam dan memperdalam lagi pengetahuan iman kita.

    Inti sebenarnya yang ingin saya sampaikan adalah : kehadiran umat di Misa seharusnya TIDAK HANYA untuk menyembah dan menghormati Allah saja, tapi juga diperkaya dengan suatu perenungan yang bisa memperkaya wawasan keimanan umat itu sendiri. Bagi saya itu satu paket utuh yang tidak terpisahkan. Kalau Anda menganut paham / pandangan : bahwa datang ke Misa hanya untuk menyembah dan menghormati Allah saja, selebihnya bisa diperkaya lewat buku2, artikel2 dan web yang bisa diperoleh diluar waktu Misa, dan Anda juga tetap berpegang teguh terhadap paham seperti itu, maka saya tidak bisa berbuat banyak selain memaklumi saja bahwa itu adalah hak dan cara pandang masing-masing kita yang memang sudah berbeda, dan saya hanya berdoa agar umat Katolik di Indonesia adalah orang2 yang seperti Anda, tetap setia datang ke Misa meskipun homily & liturgi ibadahnya bikin bete & ngantuk. Semoga Gereja di Indonesia tetap exist dan solid, tidak seperti Gereja2 di negara2 Barat yang mulai banyak kosong karena ditinggalkan umatnya, beberapa Gereja terpaksa dijual untuk pertunjukan teater, karena sudah tidak ada lagi Misa yang bisa diselenggarakan karena tidak ada umat yang mau datang ke Gereja, mereka lebih memilih hal-hal diluar Gereja yang lebih bisa memenuhi kebutuhan jiwa mereka daripada Gereja yang monotonous.

    Ini adalah saatnya Gereja di Indonesia untuk berani interospeksi terhadap kekurangan yang ada dan mau melakukan perubahan-perubahan yang memenuhi kebutuhan umat akan penyegaran dan pengembangan iman secara lebih tajam dan mendalam namun tidak membosankan. Para imam harus belajar melipat-gandakan talenta homily yang mereka miliki, dan bukan terpatok pada keterbatasan diri sendiri, tapi harus mulai belajar mengembangkan kemampuan homily mereka. Liturgi Gereja yang monoton juga harus lebih dikembangkan dengan gaya yang tidak konvensional. Dengan demikian, harapan kita agar Gereja di Indonesia tetap exist dan solid dapat terwujud karena kesadaran kita semua bersama membangun umat yang memiliki dasar iman yang kokoh, sehingga menghadiri ibadah bukan lagi karena rutinitas belaka, namun adalah karena adanya kesadaran penuh untuk lebih meningkatkan iman sekaligus membangun komunitas dengan Kristus dan sesama.

    Tuhan Yesus memberkati kita semuanya, Amin

    1. Shalom pak Taufik Wibowo,

      Terima kasih mau berkomentar panjang lebar disini, saya hargai pendapat anda, …benar bahwa hari Minggu adalah hari, di mana umat beriman berkumpul untuk perayaan liturgi, “untuk mendengarkan Sabda Allah dan ikut serta dalam perayaan Ekaristi, dan dengan demikian mengenangkan sengsara, kebangkitan dan kemuliaan Tuhan Yesus, serta mengucap syukur kepada Allah, yang melahirkan mereka kembali ke dalam pengharapan yang hidup berkat kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati” (SC 106).[KGK 1167]

      Kekuatiran anda tentu saja kekuatiran kita bersama, khususnya homili yang membosankan dibawakan oleh para Imam, saya juga merasakan apa yang anda rasakan. Mungkin benar kata anda para Imam harus memperbaiki cara mereka memberikan homili.

      Setelah saya baca di beberapa komentar anda, ada pendapat-pendapat dari umat yg menunjukkan memang ada yang kurang dalam katekese kita tentang Ekaristi itu sendiri, saya akan mengutip dari Katekismus:

      1324 Ekaristi adalah “sumber dan puncak seluruh hidup kristiani” (LG 11). “Sakramen-sakramen lainnya, begitu pula semua pelayanan gerejani serta karya kerasulan, berhubungan erat dengan Ekaristi suci dan terarahkan kepadanya. Sebab dalam Ekaristi suci tercakuplah seluruh kekayaan rohani Gereja, yakni Kristus sendiri, Paska kita” (PO 5).

      Ekaristi merupakan sakramen paling utama dalam Gereja kita, karena dalam Ekaristi kita merayakan misteri sengsara, wafat dan kebangkitan Kristus dalam rupa roti dan anggur. Gereja lahir, berpangkal, berpusat dan bersumber dari misteri Paskah Kristus. Dalam Perayaan Ekaristi, Gereja merayakan Misteri Paskah Kristus, misteri pembebasan dari belenggu dosa, misteri penyelamatan umat manusia.

      Pendapat yang seperti ini: “Saya ingin, mereka datang ke Misa , pulang diperkaya akan kebenaran Firman Tuhan”

      Misa bukan pendalam Kitab Suci dimana kita bisa diperkaya dengan firman, kalo ingin diperkaya atau mencari jawaban atas tafsiran-tafsiran sulit didalam Kitab Suci, sering-seringlah ikut Pendalaman Iman/ kelompok studi Kitab Suci di Parokinya masing-masing.

      Juga pendapat yang seperti ini: “Datang Misa, .. Pulang Misa , ya gak dapat apa2”. Benarkan kita tidak mendapatkan apa-apa? malangnya umat kita, mereka tidak tahu apa yang mereka sudah dapatkan, sekali lagi saya kutipkan dari Katekismus:

      1331 Komuni, karena didalam Sakramen ini kita menyatukan diri dengan Kristus yang mengundang kita mengambil bagian dalam tubuh dan darah-Nya, supaya kita membentuk satu tubuh Bdk. 1 Kor 10:16-17..

      1391 Komuni memperdalam persatuan kita dengan Kristus. Buah utama dari penerimaan Ekaristi di dalam komuni ialah persatuan yang erat dengan Yesus Kristus. Tuhan berkata: “Barang siapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia” (Yoh 6:56). Kehidupan di dalam Kristus mempunyai dasarnya di dalam perjamuan Ekaristi: “Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barang siapa memakan Aku, akan hidup oleh Aku” (Yoh 6:57).

      1416 Penerimaan tubuh dan darah Kristus yang kudus mempererat hubungan antara yang menerima komuni dengan Tuhan, mengampuni dosa-dosanya yang ringan, dan melindunginya dari dosa-dosa berat. Oleh karena ikatan cinta antara yang menerima komuni dan Kristus diperkuat, maka penerimaan Sakramen ini meneguhkan kesatuan Gereja, Tubuh Mistik Kristus.

      Apakah datang Misa untuk memenuhi kewajiban dari salah satu perintah Gereja? hm…ya ini ada benarnya
      1389 Gereja mewajibkan umat beriman, “menghadiri ibadat ilahi pada hari Minggu dan hari raya” (OE 15) dan sesudah mempersiapkan diri melalui Sakramen Pengakuan, sekurang-kurangnya satu kali setahun menerima komuni suci, sedapat mungkin dalam masa Paska Bdk. CIC, can. 920.. Tetapi Gereja menganjurkan dengan tegas kepada umat beriman, supaya menerima komuni suci pada hari Minggu dan hari raya atau lebih sering lagi, malahan setiap hari.

      Kita sebagai umat Katolik perlu menyadari, “Perayaan Ekaristi adalah tindakan Kristus sendiri bersama umat Allah yang tersusun secara hirarkis. Baik bagi Gereja universal dan Gereja partikular, maupun bagi setiap orang beriman, Ekaristi merupakan pusat seluruh kehidupan Kristen, sebab dalam perayaan Ekaristi terletak puncak karya Allah menguduskan dunia, dan puncak karya manusia memuliakan Bapa lewat Kristus, Putra Allah dalam Roh Kudus” (Pedoman Umum Misale Romawi [PUMR] 2000 no.16)

      KGK 1348 Semua orang datang berkumpul. Warga Kristen datang berkumpul di suatu tempat untuk merayakan Ekaristi. Kristus sendiri mengetuainya; Ia adalah pelaku utama Ekaristi. Ia adalah Imam Agung Perjanjian Baru. Secara tidak kelihatan Ia sendiri memimpin tiap upacara Ekaristi. Sebagai wakil-Nya, Uskup atau imam (yang bertindak “atas nama Kristus, Kepala”) memimpin umat, mengangkat bicara sesudah bacaan, menerima bahan persembahan dan mengucapkan doa syukur agung. Semua orang ikut mengambil bagian secara aktif dalam perayaan itu, tiap orang menurut caranya sendiri-sendiri: para lektor, mereka yang membawa bahan persembahan, pembagi komuni, dan seluruh umat yang menyatakan keikutsertaannya dengan perkataan “amin”.

      Pengertian umat yang kurang terhadap Ekaristi, membuat Misa akan nampak membosankan, monoton, ingin mencoba hal-hal yang baru, menambahkan sesuatu didalamnya [padahal hal ini jelas-jelas dilarang untuk menambah, menghapus atau mengubah sesuatu didalam perayaan Ekaristi, Kan. 846, § 1], hal ini akan menjadi perhatian kita bersama, bukan saja tugas Uskup, tapi juga tugas kita semua untuk memberikan katekese yang benar tentang Ekaristi dan bagaimana merayakannya dengan benar [khususnya pendalaman iman tentang Ekaristi dikeluarga kita sendiri]. Well…saya rasa sudah cukup, time to get busy.

      Terima kasih sekali lagi sudah mau berkomentar,

      Andreas

  2. Menarik sekali membaca tulisan per Tanggal 9 September 2011 dengan judul “Kekayaan Iman Gereja Katolik” …

    Namun sayang sekali Cornelius … ada beberapa hal yang sangat kurang yang saya amati dalam tulisan Anda, dimana kebutuhan rohani umat untuk lebih memperoleh berkat lewat homili yang disampaikan romo tidak Anda respons secara baik, bahkan kekeliruan terbesar dalam tulisan ini adalah penggalan kalimat berikut “menghadiri Misa bukan untuk mendengar homili…….Misa adalah tindakan kurban…Di dalam Misa, kita datang untuk menyembah dan menghormati Allah, Pencipta Kita”

    Memang benar bahwa kedatangan kita ke Gereja adalah untuk menyembah dan menghormati Allah yang melalui Putera-Nya Tuhan Yesus Kristus telah menjadi Pendamai dan Penyelamat umat Manusia. Tapi ketahuilah.. cukupkah umat tahu akan hal itu ? Kalau sudah tahu … sudah dijalankan…so .. what next? Umat perlu penyegaran Iman lewat Firman Tuhan yang disampaikan. Kehadiran umat dalam Misa / Kebaktian adalah PERSEKUTUAN DENGAN KRISTUS , namanya PERSEKUTUAN bukan Satu Arah , Allah tidak menghendaki umat saja yang berinteraksi searah terhadap-Nya, tetapi Allah juga mau memberkati umatnya lewat Firman-Nya yang disampaikan oleh imam pilihan-Nya (romo/pastur/pendeta). Nah .. bagaimana imam itu bisa menyampaikan secara baik kepada umat, diperlukan suatu usaha dan keahlian imam yang menyampaikannya. Ini SANGAT PENTING untuk menumbuhkan Iman orang percaya. Nah .. kalau memang kebutuhannya seperti itu, berarti Gereja lokal seharusnya interospeksi diri jika umatnya pindah ke gereja lain karena kebutuhannya tidak terpenuhi. Kalau materi homili yang disampaikan yang menjadi masalah, yah .. seorang imam harus meningkatkan teknik homili secara baik sehingga umat bisa terpuaskan dan menyadari betapa dia diberkati dengan kebenaran Firman yang disampaikan. Kalau sudah begitu… saya jamin UMAT TIDAK AKAN PINDAH GEREJA LAIN… Mereka akan berkata “buat apa pindah? Di Gereja sendiri ada koq !” Kalau Gereja Katolik menyadari hal ini, saya percaya kekayaan iman Gereja Katolik akan makin terus bertambah-tambah dan menjadi berkat bagi umat-Nya ! Amin .

    1. Shalom Taufik Wibowo,

      Terima kasih atas tanggapannya. Berikut ini adalah tanggapan dari saya :

      Memang benar bahwa kedatangan kita ke Gereja adalah untuk menyembah dan menghormati Allah yang melalui Putera-Nya Tuhan Yesus Kristus telah menjadi Pendamai dan Penyelamat umat Manusia. Tapi ketahuilah.. cukupkah umat tahu akan hal itu ? Kalau sudah tahu … sudah dijalankan…so .. what next?

      Saya sendiri tidak pernah mengatakan bahwa itu saja cukup (yaitu bahwa tujuan utama menghadiri Misa adalah “untuk menyembah dan menghormati Allah… karena ada kerinduan dalam hati kita untuk menyembah dan menyambut Tubuh dan Darah Kristus.), bahkan dalam paragraph selanjutnya saya berkata :

      Sebenarnya, dengan memperdalam iman katolik kita, kita bisa menemukan cara untuk bertumbuh, baik dalam iman, harapan, dan kasih. Dan kita akan selalu menemukan sesuatu yang baru, yang sangat bermanfaat bagi perkembangan rohani kita, yang tidak akan habis untuk digali.

      temukanlah kekayaan iman Gereja dengan mempelajari iman katolik melalui Katekismus Gereja Katolik,Kompendium KGK, buku-buku karangan Scott Hahn, Peter Kreeft, Karl Keating, Paus Benediktus XVI, dan membaca web katolik (ekaristi.org, katolisitas.org, dan tentu saja blog ini :D )

      Nah, pada paragraf diatas saya memberikan beberapa referensi seperti buku2 dan website katolik yang tentunya bisa diakses secara online dan gratis. Sebenarnya bila umat bisa mendapat akses ke buku ataupun web katolik, maka seharusnya sekalipun umat merasa homily romo membosankan, jelek, membuat ngantuk,dsb, hal tersebut tidak akan berpengaruh terhadap perkembangan iman umat.

      Umat perlu penyegaran Iman lewat Firman Tuhan yang disampaikan. Kehadiran umat dalam Misa / Kebaktian adalah PERSEKUTUAN DENGAN KRISTUS , namanya PERSEKUTUAN bukan Satu Arah , Allah tidak menghendaki umat saja yang berinteraksi searah terhadap-Nya, tetapi Allah juga mau memberkati umatnya lewat Firman-Nya yang disampaikan oleh imam pilihan-Nya (romo/pastur/pendeta).

      Bahwa umat memerlukan penyegaran melalui firman Tuhan, itu benar. Tapi itu bukan hal yang utama dan bukan alasan utama kita dalam menghadiri Misa.

      Nah .. bagaimana imam itu bisa menyampaikan secara baik kepada umat, diperlukan suatu usaha dan keahlian imam yang menyampaikannya. Ini SANGAT PENTING untuk menumbuhkan Iman orang percaya.

      Apa yang anda katakan memang benar, namun kita juga harus bisa memahami bahwa tidak setiap imam pandai membawakan sebuah homily yang menarik, menyentuh hati (dimana hal ini sangat subjektif), dsb dikarenakan keterbatasan kemampuan sang imam.

      Namun dalam hal menumbuhkan iman, tentu saja masih ada banyak cara lainnya. Umat yang melek teknologi tentu bisa mendapatkan materi2 tentang katolisitas secara gratis dan bisa membagikannya Hal tersebut tentu dapat menumbuhkan dan menguatkan iman mereka.

      Nah .. kalau memang kebutuhannya seperti itu, berarti Gereja lokal seharusnya interospeksi diri jika umatnya pindah ke gereja lain karena kebutuhannya tidak terpenuhi. Kalau materi homili yang disampaikan yang menjadi masalah, yah .. seorang imam harus meningkatkan teknik homili secara baik sehingga umat bisa terpuaskan dan menyadari betapa dia diberkati dengan kebenaran Firman yang disampaikan.

      Tidak melulu semua kebutuhan umat harus dipenuhi, karena bisa saja apa yang diinginkan umat tidak sesuai dengan apa yang diajarkan Gereja.

      Bahwa mungkin Gereja lokal harus mengetahui kebutuhan umat dan imam harus meningkatkan teknik homil, saya setuju dengan hal ini. Tapi kita juga jangan lupa bahwa tidak semua kebutuhan umat bisa dipenuhi serta keterbatasan kemampuan sang imam. Dan juga tidak selalu imam yang harus dipersalahkan karena tidak bisa menyampaikan homily yang baik. Justru disini umat awam bisa berperan dalam mengisi kekosongan tersebut melalui katekese, penyediaan buku-buku katolik yang berkualitas, pemberian artikel yang bisa diperoleh secara gratis melalui web katolik, dll. Tentunya semua memiliki peran sesuai kemampuan masing-masing.

      Kalau sudah begitu… saya jamin UMAT TIDAK AKAN PINDAH GEREJA LAIN… Mereka akan berkata “buat apa pindah? Di Gereja sendiri ada koq !” Kalau Gereja Katolik menyadari hal ini, saya percaya kekayaan iman Gereja Katolik akan makin terus bertambah-tambah dan menjadi berkat bagi umat-Nya ! Amin .

      Menurut saya, permasalah mendasarnya adalah masih minimnya pengetahuan dan kesadaran umat akan kekayaan yang dimiliki Gereja Katolik. Mengapa? Hal ini dikarenakan kurangnya katekeses yang baik. Bahkan kalau kita melihat mata pelajaran agama di beberapa sekolah katolik, pelajaran agama katolik digantikan menjadi pendidikan religiusitas dimana hal ini sama sekali tidak menumbuhkan pengetahuan dan kebanggaan sebagai orang katolik.

      Oleh karena itu, sebenarnya umat katolik lebih membutuhkan materi-materi yang bisa menumbuhkan dan memperdalam iman katolik mereka (silakan anda berkunjung ke katolisitas.org dan ekaristi.org, dimana mereka memiliki artikel2 yang sangat bagus). Materi-materi yang terdapat pada web tersebut lah yang seharusnya lebih banyak diajarkan kepada umat katolik (khususnya bagi Orang Muda Katolik).

      Pemahaman yang benar dan menyeluruh akan ajaran iman katolik tidak akan membuat seorang katolik meninggalkan Gereja, melainkan akan semakin mencintai Yesus dan Gereja-Nya. Tidak peduli apakah misa itu membosankan, homily imam yang tidak menyentuh, dsb.

      Hal ini sudah terbukti di antara para teman-teman saya sendiri. Bahkan ajaran iman katolik pun bisa menarik para Protestan untuk kembali ke dalam Gereja Katolik (dan ini pun sudah terbukti pula diantara teman-teman saya. Contoh yang paling terkenal adalah Kisah Perjalanan Scott Hahn dan istrinya yang bergabung dalam Gereja Katolik)

      Sekian tanggapan dari saya. Mari kita berdoa agar semakin sedikit umat katolik yang meninggalkan Gereja-Nya

      Salam,
      Cornelius.

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: