Terjemahan : Errors of Charismatics

Errors of Charismatics

oleh Rev. William G. Most

Diterjemahkan oleh -O- di Ekaristi.org, sumber aslinya bisa diklik disini

Catatan DeusVult: 
Tulisan yang warnanya 
marron adalah sedikit tambahan, koreksi dan penjelasan 

Ayat klasik yang membicarakan tentang karunia karunia karismatik terdapat di 1 Kor bab 12 dan 14. Meskipun St. Paulus tidak menggunakan istilah-istilah teknis seperti yang kita pakai sekarang, namun kita tetap dapat mencari makna sebenarnya.  Rahmat secara umum berarti pemberian dari Allah kepada manusia. Ada dua kategori yang besar: Pengudusan dan Karismatik. Rahmat Pengudusan bertujuan untuk membuat penerimanya menjadi kudus. Termasuk disini rahmat habitual (disebut juga rahmat pengudusan) (kata “habitual” kalau diterjemahkan secara kasar adalah “kebiasaan” [ex: “reading is my habbit” –> “membaca adalah kebiasaanku”]. Rahmat pengudusan disebut juga rahmat habitual karena rahmat pengudusan menanamkan suatu kualitas dalam jiwa seseorang sehingga perbuatan baik adikodrati [ex: berdoa, kasih, takut akan Allah etc] menjadi suatu kebiasaan dan tidak menjadi sesuatu yang bersifat impulsif seperti sifat dari rahmat aktual) dan rahmat aktual. Rahmat pengudusan membuat penerimanya menjadi kudus; rahmat aktual bertujuan agar penerimanya (suatu saat) bisa menjadi kudus.

Rahmat Karismatik tidak membuat penerimanya menjadi kudus; rahmat tersebut diperuntukkan bagi keuntungan orang lain, biasanya bagi komunitasnya. Ada dua kelompok, normal (rahmat untuk menjadi orang tua yang baik, guru yang baik, dll. Yang diberikan secara luas dan bebas) dan luar biasa (karunia lidah, penyembuhan, membuat mukjizat, dll.

Posisi Tuhan juga sangat berbeda di dua kategori tersebut. Pada Rahmat Pengudusan, Dia memberikan segalanya tanpa batasan, karena dalam perjanjian, Dia telah menerima harga tak terbtas untuk penebusan (Catatan: pengorbanan Kristus adalah harga mahal bagi penebusan manusia, 1Kor 7:23), dan karena [harga yang mahal dari penebusan itu, Allah] berhutang pada diriNya sendiri untuk memberi tanpa batas. Batasan satu satunya berasal dari kita sendiri, karena keterbatasan penerimaan kita.

Posisi Tuhan dalam Rahmat Karismatik adalah : Sang Roh memberikan apa yang Dia inginkan, kapanpun dan dimanapun Dia mau. Dan [pemberian] rahmat-rahmat ini tidak bergantung dari status kekudusan (orang yang memilikinya). Ada satu teks yang menakutkan yaitu Mat 7:22-23: “Pada hari terakhir banyak orang akan bersru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!”

Jadi jelaslah disini: ada keharusan di setiap situasi untuk meneliti apakah karunia tersebut berasal dari roh yang baik atau yang jahat, atau karena sugesti. Dan St. Paulus menulis di 1 Kor 12 bahwa ketika mereka masih seorang kafir, mereka pergi ke berhala-berhala bodoh ketika diperintahkan oleh pemimpin-pemimpin mereka. Jadi ia harus mengingatkan mereka : Jika seseorang berbicara dalam Roh Tuhan, ia tidak akan berkata “Terkutuklah Yesus.” Orang kafir seringkali mengutuk tuhan yang telah merasuki mereka. Dan juga, tidak ada seorangpun yang dapat bersaksi bahwa Kristus adalah Tuhan jika tidak karena Roh Kudus.

St. Paulus tidak menyebutkan tentang sugesti, tapi kita patut [mempertimbangkan mengenai sugesti]. Banyak gerakan Karismatik saat ini yang tidak suka mengakui bahwa mereka memerlukan pengawasan dan pemeriksaan. Mereka hanya berkata : Lihat, ini adalah apa yang dikatakan oleh St. Paulus. Namun seperti kita ketahui, St. Paulus (di perikop tersebut) sedang memperingatkan kita tentang roh jahat. Beberapa tahun yang lalu saya menulis suatu seri yang panjang bagi National Catholic Register tentang gerakan Karismatik. Banyak surat yang masuk. Seorang wanita di pantai barat mengatakan bahwa ia memiliki teman teman yang mengerti beberapa bahasa. Mereka datang ke sebuah pertemuan Karismatik, dan mereka bisa mengerti bahasa roh. Mereka menemukan bahwa beberapa orang benar benar memuliakan Tuhan dengan sangat indah – namun sisanya malah mengutuk Dia. Inilah mengapa St. Paulus di 1 Kor 14 menekankan bahwa dalam sebuah pertemuan tidak boleh lebih dari dua orang yang berbicara dalam bahasa roh, dan hanya boleh dilakukan jika ada seseorang disitu yang mampu menerjemahkan bahasa roh tersebut. Alasannya jelas : mereka dapat saja mengutuk Tuhan!

Patut disesalkan, banyak kelompok Karismatik yang meremehkan aturan-aturan yang dikatakan oleh St. Paulus. Lebih dari dua orang yang berbahasa roh (pada saat yang bersamaan), bahkan beratus-ratus orang yang berbicara dalam bahasa roh pada saat yang sama. Mereka mencoba berdalih bahwa berbicara dalam bahasa roh berbeda dengan berdoa dalam bahasa roh. Namun St. Paulus tidak pernah membuat pembedaan seperti itu, dan ini dilakukannya dengan alasan yang baik, dimana peristiwa yang baru saja ditulis diatas telah menjelaskan dengan jelas (adanya kesalahan).

St. Paulus juga mengetahui bahwa umat Korintus mengalami kekosongan sia-sia karena bahasa roh. Padahal di 1 Kor 14: ia berkata bahwa mereka harus menjadi seperti anak kecil [maksudnya mempunyai hati yang polus dan lugu sepeti anak kecil] tapi tidak menjadi kekanak-kanakan.

St. Paulus juga menekankan untuk tidak terlalu meninggi-ninggikan bahasa roh. Sehingga di 1 Kor 12 ia menuliskan peran peran spesial seseorang dalam Gereja. Ia berkata bahwa Allah telah menetapkan peran dalam Gereja Nya : pertama, rasul, kedua sebagai nabi, ketiga sebagai pengajar dan kemudian pembuat mukjizat, lalu mereka yang memperoleh karunia untuk menyembuhkan, karunia untuk melayani, untuk memimpin dan berkata-kata dalam bahasa roh. Kita lihat bahwa St. Paulus menyebutkan karunia berbahasa roh paling akhir, dan tidak memberi nomor urut setelah 3 peran yang pertama – yang tidak termasuk karunia yang khusus, melainkan karunia yang umum. (kenabian, dalam pandangan St. Paulus bukan berarti bernubuat, namun memberikan dorongan dan nasihat kepada jemaat). Hampir semua ayat di 1 Kor 14 membandingkan karunia lidah dan kenabian, dimana karunia lidah dalam setiap kesempatan selalu ditempatkan di prioritas kedua.

Bahaya dari sugesti sangatlah dahsyat. Dalam sebuah pertemuan Catholic Biblical Association di New York beberapa tahun yang lalu saya berbincang bincang dengan seorang profesor wanita yang juga adalah seorang Karismatik, tentang Alkitab. Ia menyatakan bahwa apa yang dialami oleh orang-orang pada kebanyakan kasus hanyalah sugesti. Seorang Romo Dominikan yang sering melakukan kegiatan bersama dengan mereka juga berpendapat sama.

Dalam journal utama mereka (kelompok Pentakosta Katholik) New Covenant, saya membaca sebuah kisah tentang seorang wanita – anggota dari keluarga penyanyi, Trapp – yang pada sebuah pertemuan, meskipun tidak memiliki karunia lidah, namun menginginkannya. Seorang lak-laki berdiri dan mengajari wanita itu: Buka mulutmu, jika terasa ada suara yang akan keluar, biarkanlah itu (keluar). Tidak lama kemudian ia berbicara sesuatu yang baginya terdengar seperti bahasa Hawai, karena kebanyakan yang diucapkan adalah huruf hidup.

Dalam Catholic Team Manual, Finding New Life in the Spirit, hal. 25 setelah beberapa upacara persiapan si kandidat diinstruksikan untuk berkata : “Saya memohon anda untuk membaptis saya dalam Roh Kudus dan memberikan kepada saya karunia lidah.”

Ini sangat bertentangan dengan (Konsili) Vatikan II. Di bagian Tentang Gereja §12 Konsili membedakan karisma biasa dan karisma khusus: “karunia khusus tidak bisa diminta secara paksa, dan buah karya apostolik juga tidak boleh diharap-harapkan dan dibangga-banggakan dari [karya apostolik tersebut]; namun keputusan akan ke-asli-an dari [karunia khusus dan buah karya apostolik] dan juga aturan mengenai penggunaan [karunia khusus dan buah karya apostolik tersebut] diberikan kepada mereka yang berkepentingan di Gereja (ie: hierarkhi Gereja)…”

St. Teresia dari Avila, yang memiliki banyak pengalaman (dalam hidupnya) akan karunia khusus (yang dimilikinya), akan sangat terkejut. Dalam tulisannya Interior Castle 6.9 ia mengingatkan bahwa ketika seseorang belajar atau mendengar bahwa Tuhan memberikan karunia-karunia yang khusus kepada orang-orang, “kamu tidak boleh meminta atau menginginkan Dia untuk menuntunmu di jalan itu.” Ia memberikan alasannya: Pertama, itu menunjukkan kurangnya kerendahan hati; kedua, orang membuat dirinya terbuka bagi “bahaya yang besar karena setan dapat melihat pintu dan hanya memerlukan sedikit celah untuk masuk,” ketiga, “ketika seseorang mempunya keinginan yang besar, dia meyakinkan dirinya sendiri [bahwa] dia melihat dan mendengarkan apa yang diinginkannya.” Ia menambahkan bahwa banyak orang kudus tidak memiliki hal hal tersebut [ie. karunia-karunia khusus], dan juga banyak orang yang memilikinya namun (mereka) tidak (hidup secara) kudus. Tentu saja (peringatan ini) sejalan dengan peringatan Tuhan Kita sendiri di Mat 7:22-23.

Buku Finding New Life in the Spirit (Servant, 1872) telah terjual sebanyak 1,690,000 copy. Buku tersebut adalah sebuah buku panduan yang diberikan kepada semua peserta seminar Life in the Spirit, yang diadakan oleh komunitas Word of God di Ann Arbor, Michigan. Peserta (seminar) diajarkan bagaimana mengundang karunia lidah, dan memiliki kelimpahan (karunia) itu – St. Teresia, seperti yang kami tulis diatas, akan (bertambah) khawatir bahwa pintu itu sekarang lebih terbuka daripada sekedar celah kecil. Tentu ini membuka kesempatan bagi setan dan/atau sugesti pribadi. Di hal.25 si kandidat diinstruksikan untuk berkata : “Saya memohon anda untuk membaptis saya dalam Roh Kudus dan memberikan kepada saya karunia lidah (bahasa roh).”

Apakah karunia lidah ini adalah karunia yang sama yang dimiliki Para Rasul pada hari pertama Pentakosta? Dimana orang-orang yang memiliki bahasa ibu yang berlainan bisa mengerti (apa yang diucapkan para rasul). Orang yang berbicara (dalam bahasa roh) yang diceritakan oleh St. Paulus biasanya tidak mengerti (apa yang dikatakannya sendiri). Apakah Para Rasul mengerti (apa yang mereka katakan sendiri)? Kemungkinan ya. Atau apakah ada sebuah mukjizat kala itu, sehingga Para Rasul berbicara menggunakan satu bahasa, dan orang banyak mengerti dalam berbagai bahasa? Kita tidak tahu secara pasti.

Seperti yang telah kita tulis diatas, di 1 Kor 14 St. Paulus membandingkan dan mengkontraskan kenabian dan karunia lidah. Ia mengajarkan:banyak barang tak hidup yang bisa bersuara, seperti suling ataupun harpa. Tapi bila hanya ada suara yang tidak jelas, siapa yang akan tahu apa yang dimainkan seruling atau harpa tersebut? jika nafiri mengeluarkan bunyi yang tidak jelas, tidak ada satupun yang akan bersiap untuk berperang. Begitu juga, jika ada seseorang yang berbahasa roh mengeluarkan suara yang tidak bisa dimengerti, bagaimana orang lain bisa mengerti apa yang dimaksudkannya? Dia itu [bagaikan] berbicara kepada udara!

St. Paulus meneruskan: Ada banyak suara di dunia – hampir semua mempunyai suara. Tapi bila si pendengar tidak mengetahui maksudnya maka si pembicara dan si pendengar bagaikan orang asing terhadap satu sama lain.

Jadi, jika banyak orang sangat menginginkan karunia karismatik, mereka harus mencarinya bagi kekayaan spiritual Gereja. Jadi mereka yang mendapatkan karunia roh, harus juga berdoa untuk mendapatkan karunia untuk menafsirkannya. Jika seseorang berdoa dalam bahasa roh, rohnya berdoa, tapi pikirannnya tidak melakukan apa apa. Jadi bagaimana seharusnya? Jika seseorang berdoa di dalam Roh, hendaknya ia juga berdoa dengan pikirannya. Jika seseorang bernyanyi di dalam Roh, hendaknya ia juga bernyanyi dengan pikirannya.

Jika kamu memuliakan Tuhan dalam Roh, bagaimana orang lain mengerti apa yang kamu katakan? Kamumungkin saja memanjatkan syukur yang indah untuk Tuhan – tapi orang lain tidak mendapatkan manfaat spiritual sama sekali.

St. Paulus berkata bahwa ia lebih suka mengucapkan lima kata yang dapat dimengerti untuk mengajar orang lain, daripada mengucapkan sepuluh ribu kata dalam bahasa roh yang tidak dapat dimengerti.

Ia memohon umat supaya tidak bersikap kekanak-kanakan, melainkan bersikap seperti anak-anak yang tidak menyimpan dendam atau ingin berbuat jahat. Ia menginginkan mereka untuk berpikir secara dewasa.

Kemudian St. Paulus memperingatkan mereka dengan mengutip kitab Yesaya: “Aku berkata kata kepada mereka dalam bahasa yang lain dan melalui mulut mulut yang lain. Tapi mereka tidak mau mendengarkan aku, kata Tuhan.”

Kalau seluruh jemaat berkumpul bersama-sama dan semua orang berkata-kata dengan bahasa roh, lalu masuklah satu orang luar: tidakkah dia akan berpikiran kalau mereka (para jemaat) gila? Tapi bila banyak yang menggunakan karunia bernubuat, dan seorang luar datang, dia akan yakin akan dosa-dosanya, dia akan berintrospeksi terhadap dirnya. Rahasia-rahasia didalam hatinya akan dibuka [padanya]. Jadi, dia akan jatuh dengan muka menghadap tanah dan memuliakan Allah dan berkata: Allah memang benar-benar berada di komunitas ini.

Jadi apa kesimpulan praktisnya? Ketika mereka berkumpul bersama, misalnya beberapa memiliki mazmur, (karunia) mengajar, nubuat, (karunia) lidah, dan karunia untuk mengartikan. Semuanya harus dikontrol (diatur) bagi kepentingan spiritual. Dan jika akan ada bahasa roh, hanya boleh ada dua atau maksimum tiga orang (yang melakukannya), dan satu per satu. Dan harus ada yang menafsirkannya. Namun jika tidak ada orang yang dapat menafsirkan, hendaknya mereka yang memiliki karunia lidah tetap diam di dalam Gereja, dan berbicara dalam hati dan kepada Tuhan.

Dua atau tiga nabi boleh berbicara pada satu pertemuan dalam komuniats, dan yang lain harus menilai apakah nubuat mereka datang dari roh baik atau roh jahat. jika seseorang yang duduk di situ mendapat wahyu, maka orang yang pada waktu itu sedang berbicara harus diam. Karena semua dapat mempunyai kesempatan untuk bernubuat, tapi itu harus dilakukan satu persatu, sehingga semua bisa belajar dan mendapat kekuatan. Karunia nabi takluk kepada nabi-nabi. Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera.

Secara umum ini adalah bentuk spiritualitas yang benar asalkan dilakukan dengan sangat berhati hati. Pertama, seseorang harus meneliti setiap kasus, seperti yang telah kami tulis diatas, apakah sesuatu berasal dari roh baik, roh jahat atau sugesti pribadi. Banyak orang kharismatik menolak dengan keras untuk men-check. Ada juga bahaya besar akan sifat elitism. Beberapa kelompok Karismatik berpendapat bahwa orang-orang Katholik lainnya “mati”. Ini dapat membawa kepada kesombongan spiritual, racun yang paling mematikan. Mereka (kelompok kharismatik) harus tahu bahwa ada banyak macam rahmat spiritual, dan tidak semua orang mendapatkan karunia yang sama. Tentunya, dalam hal hal yang mendasar, semua orang harus mengikuti prinsip-prinsip yang sama. Tapi pada level berikutnya, ada banyak kemungkinan variasi, contoh, bandingkan St. Fransiskus de Sales, seorang yang terpandang, dengan St. Benedict Joseph Labre, yang hidup seperti seorang gelandangan, kemungkinan (tubuhnya) berkutu.
Beberapa kelompok juga menolak devosi kepada Bunda Kita – sebuah tanda yang jelas bahwa ada sesuatu yang secara mendasar sangat keliru. Beberapa menolak apa yang dianjurkan oleh Gereja, seperti Medali Wasiat atau Scapula – sekali lagi, sebuah tanda akan adanya kesalahan serius. Dan beberapa yang lain mengatakan bahwa mereka tidak membutuhkan Gereja, mereka memiliki sambungan langsung kepada Roh Kudus. Ini benar benar kesalahan yang serius. Beberapa kelompok memiliki sebuah struktur otoritas yang kaku – meskipun tidak ada seorangpun yang benar benar memiliki autoritas yang sah. Orang-orang [kharismatik] yang [mengklaim] memiliki otoritas ternyata tidak bertanggungjawab kepada siapapun – ini sangat berbahaya.

Dan kemudian juga ada bahaya akan emosi yang berlebihan: biasanya Tuhan memang memberikan hadiah (kepuasan dalam beragama) kepada mereka yang mengalami semacam pertobatan kedua (umat yang mulai menjadi serius untuk menyenangkan Allah). Namun hal ini biasanya tidak tanpa batas: St. Fransiskus de Sales memperingatkan jika hadiah perasaan puas dalam beragama tersebut berlangsung terus menerus mereka mungkin akan mencintai hadiah dari Tuhan lebih daripada Tuhan yang memberikan hadiah (tersebut) (Cf. tulisannya Introduction to the Devout Life 4.13).

Beberapa orang Karismatik mengklaim bahwa yang mereka alami hanyalah peng-aktif-an Karunia dari Roh Kudus, yang umumnya tidak terjadi pada umat-umat biasa. Mereka memberinya istilah : Baptisan Roh. Hal ini juga merupakan kesalahan yang fatal. Semua orang memperoleh Karunia-karunia ini bersama sama dengan rahmat pengudusan, dan mereka mendapatkan (karunia-karunia) tambahan pada (sakramen) penguatan dan kesempatan kesempatan lainnya. Namun biasanya (karunia karunia) tersebut tidak menunjukkan hasil yang benar benar jelas sampai orang tersebut memiliki tingkat kehidupan spiritual yang tinggi – pada mulanya, mungkin sudah terlihat tanda tanda. Lebih lanjut, hasil dari Karunia-karunia ini bukan berupa mukjizat – itu akan mengaburkan perbedaan kategori rahmat pengudusan dan rahmat kharismatik (catatan: pada Baptisan manusia menerima Roh Kudus sendiri bersama rahmat pengudusan dan karunia lainnya yang bersifat pengudusan, ie: tujuh karunia Roh Kudus [Yesaya 11:2] dan 12 buah Roh Kudus [Gal 5:22]. Semua itu adalah karunia yang menguduskan. Karunia lainnya yang bersifat tidak menguduskan [meskipun mengarah kekudusan] adalah karunia kharismatik seperti bahasa roh, penyembuhan etc. Karunia kharismatik bisa dilakukan seseorang yang tidak kudus sekalipun dan TIDAK SELALU diberikan, bahkan jarang diberikan, pada saat baptisan). Beberapa orang juga cenderung bersikap lebih fundamental dalam mengerti Kitab Suci.

Banyak orang Karismatik sekarang ini mencoba mengatakan bahwa semua orang Katholik harus menjadi karismatik, bahwa “baptisan roh” lazim dilakukan pada jaman Patriarkh (maksudnya para Bapa Gereja Awal). Kita menemukan (pernyataan) ini dengan jelas di sebuah booklet, Fanning the Flame, oleh Kilian Mc Donnell (Liturgical Press, 1991). Ia mengutip sedikit teks dari beberapa patriarkh untuk menunjukkan bahwa fenomena ini (baptisan roh) rutin dilakukan pada jaman tersebut. Namun hanya sedikit teks yang dikutip, hanya tiga yang diberikan: Yang paling jelas adalah yang ditulis oleh Tertullian, St. Hilarius, dan St. Cyril dari Yerusalem. Namun booklet tersebut mengakui di hal.18 bahwa: “Baik Basilius dari Caesarea… dan Gregorius dari Nazianzus… menempatkan karisma nubuat dalam [ritual] inisiasi Kristen (babtisan dan Krisma), namun mereka (Basilius dan Gregorius) lebih berhati-hati dalam tulisan mereka daripada Paulus.” Tidak ada kutipan yang diberikan. Kemudian kita membaca [di buku Mc Donnell] sebuah pengakuan yang mengejutkan dari St. Yohanes Chrisostom, yang dikutip di halaman yang sama, “Chrisostom mengeluh, bahwa ‘kharisma-kharisma sudah lama hilang.’” St. Augstinus, dalam tulisannya City of God (21.5), harus berargumen dengan keras bahwa mukjizat itu mungkin terjadi, untuk melawan mereka yang pada masanya menolak kemungkinan adanya mukjijat. Ia berkata bahwa jika mereka (lawan bicara St. Agustinus) berkata bahwa Para Rasul mempertobatkan dunia tanpa melakukan mukjizat – maka itu adalah sebuah mukjizat yang besar. Jika karunia mukjijat sering terjadi [di jaman St. Agustinus], St. Agustinus tinggal menunjukkan terjadinya mukjijat di sekitarnya [untuk membuktikan kepada mereka yang tidak percaya akan mukjijat]. Tapi ia tidak melakukannya (melainkan memberikan contoh mukjizat dari Para Rasul).

Masih berdasarkan sejarah, karunia mukjizat adalah hal yang biasa di jaman St. Paulus, namun menjadi makin jarang terjadi di Gereja di pertengahan abad selanjutnya, namun [justru] banyak terjadi di kelompok kelompok heretik. Gerakan (karismatik) sekarang ini dimulai pada tahun 1901 diantara orang Protestant. Sampai tahun 1925 ada sekitar 38 denominasi (karismatik Protestant) di Amerika saja. Beberapa dekade kemudian, di tahun 1966, beberapa orang Katholik, karena pergaulannya dengan orang Protestant, meminta kepada orang Protestant untuk meletakkan tangan kepada mereka, untuk mendapatkan karunia lidah – karena [menurut mereka] (karunia) lidah adalah tanda bahwa seseorang sudah dibaptis dalam Roh.

Tapi bukankah Paus Paulus VI menyetujui gerakan (karismatik)? Ya, karena mungkin ditemukan contoh-contoh (kelompok karismatik) yang benar. Namun bahaya yang ditimbulkan adalah sangat nyata dan cukup sering ditemui.

Alan Schreck, di Catholic and Christian (Servant, 1984) menulis di hal.11, dengan mengutip dari “Kilian McDonnell, O.S.B.”: “Memang sejarah Gereja, Katholik dan Protestant, banyak berhutang pada jaman Pentecostal klasik atas kesaksian akan peran roh [kudus] dan karuniaNya.” [Schreck berkata bahwa pengakuan akan hutang terhadap suatu jaman Pentakosta klasik] ini diperlukan bagi “kepenuhan Injil”.

Kilian McDonnnell, di hal.1 disebut sebagai “eukumenis Katholik yang terkenal.” Dia juga seorang anggota Karismatik yang terkenal – salah seorang editor dari Fanning the Flame, Liturgical Press, 1991. Booklet dan karya karya Schreck tersebut berusaha untuk meyakinan semua orang bahwa karismatik benar benar dibutuhkan bagi “kepenuhan Injil.” Mereka kelihatannya ingin menyatakan bahwa fenomena karismatik hanyalah aktualisasi dari Karunia Roh Kudus, yang diterima pada Baptisan.

Kita harus membuat pembedaan disini: Secara umum, semua rahmat adalah karunia dari Roh Kudus. Namun ada dua kategori utama: (1) Rahmat pengudusan – yang ditujukan untuk menguduskan penerimanya. Istilah Karunia Roh Kudus biasanya mengacu pada hal ini; (2) karunia karismatik – yang ditujukan bagi kepentingan komunitas, dan tidak langsung ditujukan untuk menguduskan penerimanya. Termasuk dalam kategori (kedua) ini adalah karunia lidah, berbicara dalam bahasa roh, dan (karunia) penyembuhan.

Fenomena yang kita lihat pada pertemuan karismatik pastilah berada di kategori yang kedua (kategori karunia karismatik) – tidak ada tanda tanda pengudusan seperti yang biasa dijumpai sebagai efek dari Karunia Roh Kudus. Pastinya, tidak ada contoh kontemplasi mendalam yang diberikan secara masal – memang ini tidak terjadi – apalagi rutin. Fenomena yang dijumpai adalah karunia lidah, berbicara dalam bahasa roh, penyembuhan dll. (Karunia-karunia) ini tentu termasuk dalam kategori (karunia) karismatik, dan bukan kategori pengudusan. Jadi (fenomena-fenomena ini) bukanlah aktualisasi dari Karunia Roh Kudus, yang berada di kategori pengudusan. Schreck telah mencampur adukkan kedua kategori ini.

Jadi pernyataan yang mengisyaratkan bahwa semua orang Katholik harus menjadi karismatik adalah tidak benar. Booklet, Fanning the Flame, yang mengutip teks dari jaman Patriarkh berusaha membuktikan hal yang sama – bahwa kita telah mengabaikan hal hal yang perlu untuk “kepenuhan Injil”. Kita melihat kutipan diatas, terlalu sedikit, dan tidak cukup jelas (untuk dapat ditarik kesimpulan demikian).

Alan Schreck sendiri bukanlah seorang saksi yang meyakinkan. Di Catholic dan Christian, Servant, 1984, ia berkata:

Pada hal.2: “Saya harap ini menjadi jelas bagi semua orang bahwa buku ini tidak ditulis untuk menyatakan Katholikisme sebagai satu-satunya bentuk yang sah dari keKristenan dan tentu bukan untuk mengkritik (denominasi) Kristen lain, ataupun untuk membuktikan bahhwa ‘mereka memiliki kesalahan’ dalam kepercayaannya.”

KOMENTAR: Semua bentuk keKristenan (lain) adalah heretik (sesat) dan/atau skismatik. Mereka (bentuk keKristenan selain Katolik) tidak memiliki legitimasi. Dan kita memang harus mengkritik mereka dan membuktikan kesalahan dalam kesesatan mereka.

Paus Gregorius XVI (DS 2730.Cf. Pius IX, DS 2915. Leo XIII. DS 3250) mengutuk “sebuah pendapat yang sesat bahwa orang dapat memperoleh keselamatan kekal dengan membuat sembarang pengakuan iman (maksudnya mempunyai artikel iman yang lain), [asalkan] moral mereka mengikuti aturan yang benar.”

Hal.3”… kita akan mengasumsikan bahwa semua kesalahan yang ditunjukkan dalam kehidupan atau doktrin dari (denominasi) Kristen lainnya adalah kesalahan yang tidak disengaja yang juga dapat dilakukan oleh semua orang Kristen yang saleh.”

KOMENTAR: Kita bisa berkata bahwa kebanyakan Protestant memiliki iman yang baik – namun kita tidak boleh menganggap kekeliruan yang mereka lakukan relatif kecil. Kekeliruan tersebut berkenaan dengan kebenaran mutlak. Luther mengajarkan pembenaran melalui iman – tapi ia tidak mengerti apa yang dimaksud St. Paulus dengan kata iman. Ia mengajarkan (bahwa iman berarti) percaya bahwa aku telah mendapatkan rahmat Kristus – tidak ada dukungan pelajar Kitab Suci sama sekali tentang hal itu. St. Paulus sebenarnya bermaksud mengatakan (bahwa iman adalah) : 1) percaya pada wahyu Allah 2) percaya pada janji-janjiNya; 3) patuh pada perintah-perintahnya (Rom 1:5), yang semuanya dilakukan di dalam kasih. (Hal ini) sangat berbeda dari (apa yang diajarkan) Luther. Sehingga dasar dari gereja [Luther] menjadi hilang. Luther menolak (adanya) kuasa mengajar dari (Magisterium) Gereja. Luther mengajarkan, dalam Epistle 501: “Meskipun kamu berdosa berat, percaya masih lebih besar daripada (dosa) itu.” Seseorang tidak perlu melakukan apapun jika ia telah berdosa, cukup dengan percaya maka semua (dosa) akan terbayar. Ini bukan kekeliruan yang kecil atau kesalahan yang tidak disengaja. Semua orang memiliki kewajiban untuk meneliti dan mencari kebenarannya. Kita tidak boleh membuat mereka merasa nyaman dalam kesalahan mereka dengan mengatakan bahwa (kesalahan) itu hanyalah kesalahan yang tidak disengaja dimana setiap orang Kristen yang saleh dapat melakukannya.

Hal. 63: “Dekrit tentang Eukumenne menyatakan bahwa penyembahan dan tindakan liturgis dari denominasi Kristen lain ‘dapat mengkondusifkan hidup dalam rahmat dan dapat secara tepat digambarkan sebagai memiliki potensi menyediakan akses kedalam komunitas keselamatan.’”

KOMENTAR: Kalimat yang ingin dikutip berasal dari On Ecumenism 3. Yang disayangkan adalah, bagian yang dikutip hanya sebagian dari kalimat yang lengkap, mengabaikan konteks, dan menambahkan sebuah subject yang tidak ada dalam (teks) aslinya, yaitu “penyembahan dan tindakan liturgis dari denominasi Kristen lain.” Berikut ini adalah teks asli dari Dektrit tersebut: “Sebagai tambahan, diluar elemen elemen kebaikan, yang olehnya Gereja sendiri dibentuk dari dan dihidupkan, beberapa hal, atau lebih tepat banyak hal yang baik dapat hadir diluar batas yang kelihatan dari Gereja Katholik: (yaitu) Firman Allah yang tertulis, kehidupan dari rahmat, iman, pengharapan dan kasih, dan karunia Roh Kudus lainnya dan elemen elemen yang kelihatan: semua hal ini, yang berasal dari Kristus dan mengarah kepadaNya, adalah milik Gereja Kristus yang satu dan satu satunya. Tidak sedikit kegiatan religius dari denominasi Kristen dilaksanakan diantara saudara saudara yang terpisah dari kita…, yang tanpa perlu diragukan memiliki potensi menghasilkan hidup dalam rahmat, dapat dikatakan sesuai untuk membuka jalan masuk kedalam umat yang diselamatkan.”
Kami melihat beberapa hal disebutkan : (1) Alkitab – orang Protestanpun membacanya. (2) hidup dalam rahmat – ya, seseorang dapat mencapai kehidupan dalam rahmat tanpa secara formal menjadi anggota Gereja Katholik, seperti tercantum dalam Lumen Gentium 16 : “Mereka yang tanpa salah tidak mengenal Injil Kristus dan GerejaNya, namun mencari Tuhan dengan hati yang tulus, dan dengan bantuan rahmat benar benar mencoba untuk memenuhi keinginanNya, dengan mengikuti suara hatinya, dapat mencapai keselamatan kekal.” Bahkan orang kafir pun dapat melakukannya. (CATATAN PENTING: Meskipun tulisan Romo Most disini tidak sepenuhnya salah, namun kesan yang terbaca dari tulisannya seakan-akan mengatakan bahwa Kehidupan Berahmat mudah didapatkan bagi orang-orang yang tanpa salahnya tidak mengenal Kristus dan GerejaNya tapi mencoba dengan tulus untuk mencari Tuhan dan memenuhi keinginanNya. Romo Most disini berbicara mengenai Baptisan Keinginan. Dan mengenai Baptisan Keinginan ini berikut adalah ketetapan dari Kongregasi Ajaran Iman dalam deklarasi Suprema Haec Sacra: Tapi tidaklah boleh dipikirkan bahwa sembarang keinginan untuk memasuki Gereja cukup agar seseorang bisa selamat. Adalah perlu bahwa keinginan dimana seseorang dihubungkan dengan Gereja ini digerakka oleh kasih sempurna. Tidak juga [boleh dipikirkan] bahwa sebuah keinginan yang implisit menghasilkan efek [dimasukkan dalam Gereja], kecuali seseorang memiliki iman supernatural: “Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia” (Ibr 11:6). Konsili Trent menyatakan (Sessi VI, bab 8): “Iman adalah permulaan keselamatan manusia, dasar dan akar dari semua pembenaran, tanpanya tidaklah mungkin untuk menyenangkan Allah dan mendapatkan persekutuan dengan anak-anakNya” [Denzinger, n. 801]). (3) Iman – ya, orang diluar (Gereja Katholik) pun dapat memiliki iman, paling tidak jika mereka tidak disesatkan oleh ajaran Luther yang salah mengenai iman. (4) Harapan dan kasih – sekali lagi, orang kafir pun bisa memilikinya. (catatan: jangan lupa baca CATATAN PENTING diatas mengenai ini. Tidak gampang memiliki kasih sempurna) (5) karunia Roh Kudus yang lain – ya, jika seseorang (meskipun tidak menjadi anggota Gereja Katholik) mencapai kondisi berahmat, mereka pun dapat memiliki Karunia Roh Kudus. (catatan: sekali lagi, harap ingat-ingat CATATAN PENTING diatas mengenai ini) (6) dan elemen elemen yang kelihatan – Baptisan dapat diakui sebagai valid. NAMUN kita harus mencatat kata kata berikutnya dalam dekrit tersebut: “semua hal ini…. adalah milik Gereja Kristus yang satu dan satu satunya. Dengan kata lain, bukan gereja protestant seakan-akan mengatakan bahwa Protestant bisa menyediakan hal-hal ini – hal hal ini adalah milik dari Gereja Katholik, yang tidak ditolak secara mutlak oleh orang Protestant. (7) Kalimat berikutnya menyatakan bahwa beberapa kegiatan religius yang dilaksanakan oleh denominasi Protestant dapat menghasilkan hidup berahmat. Ya, (Sakramen) Pembabtisan menjadikannya mungkin. Membaca Alkitab, berdoa, dan hal hal lainnya, yang diperinci dalam 6 point diatas dapat membuatnya terjadi. Tapi sekali lagi, bukan penyembahan orang protestant sebagai orang protestant yang menghasilkan rahmat – ini adalah hal hal yang tetap dapat dinikmati oleh orang protestant setelah mereka memisahkan diri dari Gereja Kristus yang satu dan satu satunya. Karena kalimat sebelumnya berbunyi: “semua hal ini adalah milik Gereja Kristus yang satu dan satu satunya.”

Jika kita menerimanya seperti pengertian Schreck maka kita melanggar larangan dari Gregorius XVI, Pius IX, dan Leo XIII yang dikutip diatas.

Hal. 62: (urutan pembahasan sengaja dibalik untuk memasukkannya dalam konteks pembahasan hal 63 yang baru saja dibahas diatas): “Konsili Vatikan II tidak membuat pembedaan antara ‘gereja yang sejati’ (Gereja Katholik), dan gereja gereja lain ‘yang palsu,’ … ini berarti bahwa orang Katholik dapat secara tulus mendekati orang Kristen lainnya sebagai saudara dan saudari di dalam Kristus, tanpa perlu memiliki keinginan untuk ‘membawa mereka kembali kedalam kesatuan’ dari Gereja Katholik.

KOMENTAR: Jadi, Schreck tidak melihat pentingnya mempertobatkan (orang protestant) – biarkan saja mereka seperti itu. Memang bagian yang sama dalam dekrit tersebut menyatakan bahwa mereka yang telah menerima pembabtisan yang valid “telah dipersatukan di dalam Kristus… dan telah dikenal sebagai anak dalam Gereja Katholik dan sebagai saudara-saudari di dalam Tuhan.” Dipersatukan dengan Kristus artinya menjadi sebagai murid Kristus, yaitu, sebagai anggota dari Tubuh Mistik Kristus. Tapi Tubuh Mistik itu adalah Gereja Katholik. Jadi orang Protestant yang menerima pembabtisan yang valid, meskipun mereka tidak merasa, mereka adalah benar benar anggota Gereja Katholik, sehingga dapat disebut sebagai saudara saudari yang terpisah. Tapi kita harus berusaha untuk menjauhkan mereka dari bahaya kesesatan yang besar, yang dapat membawa kebinasaan kekal – yaitu kesalahan besar dari Luther seperti yang dituliskan diatas.

Hal.166: “… Injil Markus, yang mungkin adalah Injil yang pertama kali ditulis, menghadirkan Maria sebagai tokoh yang secara negative, sebagai seorang kerabat Yesus yang tidak mengerti Dia atau misiNya. Ini tidak terlalu mengejutkan; menurut Injil Markus, tidak ada seorangpun yang mengerti Yesus atau misiNya, tidak juga murid murid terdekatnya, sampai Dia disalib.”

KOMENTAR: 1) Ayat yang dipakai disini adalah Markus 3:20-35. Schreck tidak menyebutkan bahwa ada tiga bagian di dalam ayat ini: (a) 20-21: hoi par’ autou bermaksud mengatakan bahwa Ia tidak punya waktu untuk makan. Mereka berkata bahwa Ia tidak waras, mereka datang untuk membawaNya. (b) 22-30: Para ahli Taurat menuduhnya mengusir setan dengan kuasa setan. (c) 31-35: Ibu dan saudara saudaraNya datang ke kerumunan orang dimana Ia sedang berbicara. Hal ini diberitahukan kepada Yesus. Ia berkata: Siapa ibu-Ku, dan siapa saudara-saudara-Ku? Barang siapa melaksanakan kehendak Allah, dialah saudara-Ku, saudari-Ku dan ibu-Ku.”

2) Schreck berasumsi tanpa bukti bahwa hoi par’ autou, apa yang mereka pikir tentang Dia, termasuk juga didalamnya Maria ibuNya. Ini bukanlah tidak mungkin, tapi Schreck menyatakannya dengan tanpa bukti. Kemudian, Schreck menyamaratakan ketiga bagian diatas. Sudah berulang kali muncul keberatan tentang ayat ayat yang disatukan (penafsirannya) dan bukannya ditafsirkan secara indipenden. Kita tidak dapat memastikan bahwa karena ibuNya disebutkan di bagian ketiga, ia juga hadir di bagian pertama. Terutama karena bagian kedua terasa janggal dan tidak menghubungkan (kedua bagian lainnya), juga sangat panjang bila dibandingkan dengan kedua bagian lainnya.

3) Schreck juga mengasumsikan, tidak saja bahwa ibu Yesus juga ada di bagian pertama – tidak pernah dibuktikan – juga bahwa ia tidak mengerti Yesus. Fakta bahwa murid murid yang lambat tidak bisa mengerti, tidak (otomatis) membuktikan bahhwa ia juga tidak bisa mengerti (jalan pikiran Yesus). Tapi lebih dari itu, Schreck, seperti Brown dan yang lainnya, telah melanggar (konsili) Vatikan II, §12 tentang Wahyu, [dengan] mengabaikan hubungan dari satu Injil ke (Injil) yang lainnya. St. Lukas dengan jelas menggambarkannya (Maria) sebagai yang pertama dari orang percaya – bagaimana mungkin kemudian imannya mengalami kekenduran? Kemudian juga, (dokumen konsili) Vatikan II, Lumen Gentium § 56 menyatakan bahwa pada awalnya, saat annunciation (Maria menerima kabar), “menyambut keinginan Allah untuk menyelamatkan (umat manusia), dengan sepenuh hati dan karena bersih dari noda dosa, ia benar benar mendedikasikan dirinya bagi pribadi (Yesus) dan pekerjaan anaknya.”

(4) Schreck menggambarkan Maria lebih rendah dari seorang ibu biasa. Seorang ibu biasa, meskipun tahu anaknya berbuat salah, biasanya akan melindunginya. Schreck benar benar yakin bahwa Maria tidak melakukannya, bahwa ia tidak mempercayaiNya. Meskipun kita setuju Maria juga mungkin mempunyai pikiran yang sama dengan kerabat Yesus di bagian pertama [yang telah disebutkan diatas], sama sekali tidak ditunjukkan bahwa ia juga tidak percaya seperti yang lainnya. Ia mungkin berada diantara mereka berusaha untuk menenangkan mereka.

(5) Dan mengenai kalimat bahwa barang siapa melaksanakan kehendak Allah adalah saudaraku dan ibuku dst.—(dokumen konsili) Vatikan II, Lumen Gentium § 58 menyatakan bahwa walaupun Ia menyatakan bahwa kerajaan surga lebih tinggi dibandingkan alasan alasan daging, “Terberkatilah mereka yang mendengar dan menyimpan firman Tuhan,” seperti yang dijalankan dengan setia olehnya (Maria). Benar, salah satu kategori lebih tinggi daripada yang lainnya, tapi ia (Maria) berada di puncak kedua kategori tersebut.

Jadi Schreck, yang berusaha menarik (pengertian) untuk memberikan sinyal positif bagi orang Protestant, (ternyata juga) menarik (pengertian) ke arah yang berlawanan sehingga menimbulkan gambaran yang negatif terhadap Maria.

Kesimpulan: Ada banyak bahaya besar yang sedang terjadi sekarang:

1) Sugesti-otomatis. Karunia karismatik diberikan dimanapun dan kapanpun Roh menginginkannya: 1 Kor 12:11. Karunia karunia itu tidak boleh diminta secara paksa. St. Teresia dari Avila seperti yang kita tahu, khawatir akan sugesti dan/atau (masuknya) setan.

2) (Gerakan) Karismatik umumnya melanggar perintah St. Paulus di 1 Kor 14:27-28 bahwa di sebuah pertemuan kelompok, maksimum 2 atau 3 orang yang boleh berbicara dalam bahasa roh, itupun jika ada seseorang yang bisa mengartikannya. Di pertemuan pertemuan Karismatik, banyak sekali orang, kadang ratusan, berbicara (bahasa roh) pada saat yang bersamaan, dan tidak ada yang mengartikan. Ada kasus kasus dimana beberapa orang yang pandai berbahasa bisa mengerti (apa yang mereka ucapkan), dan menemukan banyak dari mereka sedang mengutuk Tuhan.

3) Karismatik sangat salah dengan bersikeras bahwa semua orang Katholik harus menjadi karismatik. Kita bisa melihat bahwa mereka tidak memiliki dasar Patriarkhi yang kuat, dan mereka juga mencampur adukkan kategori, mengasumsikan bahwa karunia karismatik dapat membawa berkah seperti yang ada di kategori pengudusan.

4) Dalam kasus kasus tertentu karismatik menyamakan semua Gereja, dan juga Maria (sebagai manusia yang sama dengan murid murid Yesus lainnya). Seorang karismatik dalam surat pribadi yang dikirimkan kepada saya mengatakan bahwa pastur harus lebih terlibat (dalam kegiatan karismatik), karena karismatik membutuhkan bimbingan. (Menurut saya) Mereka benar benar membutuhkan bimbinngan. Namun ketika saya menawarkan beberapa panduan teologis – ia menolaknya mentah mentah.

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: