Sedang Mencari Masalah!

Oleh: Dr. Marcellino D’ Ambrosio

Dulu saya mengganggap bahwa hukum Allah adalah seperti aturan-aturan konyol yang harus kita tanamkan seperti yang diajarkan di sekolah, seperti “engkau tidak boleh mengunyah permen karet di kelas.” Mereka adalah hukum yang sewenang-wenang dari beberapa birokrat yang datang untuk membuat diri mereka sendiri senang dan kita semua tidak senang. Tujuan dari para murid adalah untuk melanggar aturan-aturan tersebut kapan pun mereka bisa. Satu-satunya akibat yang buruk dari melanggar aturan adalah tertangkap.

Tapi Tuhan bukanlah birokrat. Ia adalah Bapa yang penuh kasih. Jika Ia berkata “engkau tidak boleh,” itu karena aktivitas partikular dalam menanyakan luka-luka dan, dalam kasus tertentu, menghancurkan anak Allah yang terlibat didalamnya. Tapi bukankah dosa melawan Allah? Tentu saja. Kita dibuat seturut gambar dan rupaNya, dan dosa merusak rupaNya didalam kita. Itu juga melukai orang lain yang terbuat seturut gambar dan rupaNya. Tidak ada hal seperti dosa pribadi – kita begitu saling berhubungan, bahwa setiap keputusan untuk melangkah jauh dari Allah, sudah tidak dapat dihitung pengaruhnya, bukan hanya bagi pendosa tetapi juga bagi seluruh keluarga Allah.

Beberapa orang mengkoreksi orang lain karena mereka orang-orang usil. Lainnya, seperti orang Farisi, melakukan itu untuk mengagungkan diri mereka sendiri ketika mereka menjatuhkan orang lain. Para murid, bagaimanapun juga, melakukan intervensi karena kasih. Kasih bagi Allah, bagi semua anak-anakNya, tetapi khususnya untuk para pendosa yang rusak oleh dosanya sendiri.

Banyak orang berpikir tentang hukum Allah seolah-olah hanya peraturan-peraturan birokrat yang sewenang-wenang. Mereka tidak sadar bahwa aksi mereka mencongkel luka di hati mereka sendiri dan hati semua orang. Tapi jika kita tahu, dan kita peduli, kita harus menemukan sebuah jalan untuk memberitahukan kepada mereka. Orang lain tidak tahu tentang Allah dan kehendakNya – tetapi aksi mereka tetap masih mendatangkan malapetaka didalam hidup mereka dan hidup semua orang. Kita harus berbagi bersama dengan mereka Kabar Baik tentang kerahiman dari Kristus dan kekuatan dari Roh Kudus yang telah membuat hal tersebut mungkin untuk mengikuti kehendak Bapa.

“Tapi,” kamu mungkin akan berkata, “mereka tidak mau mendengar, jadi kenapa harus bersusah-susah?” jawabannya sederhana – karena Allah berkata demikian! Nabi Yehezkiel dipanggil untuk menjadi penjaga bagi kaum Israel [Yeh 33:7-9]. Itu adalah tanggung jawabnya untuk membuat orang mengetahui bilamana tindakan mereka memimpin mereka kearah bencana. Jika ia memberitahukan mereka dan mereka tidak mendengar, Yehezkiel lepas dari hukuman. Ia telah memenuhi tanggung jawabnya, dan konsekuensinya berada di kepala mereka yang gagal mengindahkan peringatan. Tetapi jika ia mengabaikan untuk memperingati mereka karena takut ketidaksetujuan mereka dan mereka berakhir dengan bencana, Allah akan menuntut pertanggung jawaban Yehezkiel. “Tapi,” kamu mungkin akan berkata, “Saya tidak dipanggil untuk menjadi nabi.” Oh iya kamu dipanggil! didalam baptisan dan krisma kamu adalah imam, nabi, dan raja yang telah diurapi. Dan jika kamu tidak menyadarinya, nabi pada umumnya tidak menang dalam kontes popularitas.

Tentu saja, jika kamu bijaksana dan rendah hati dan sensitif saat menjalani tugas kenabian, kesempatanmu untuk sukses akan lebih besar. Tuhan Yesus memberikan kita arahan tentang ini di Matius 18: pertama, pergi secara pribadi ke pada orang tersebut dan perlakukan dia seperti seorang saudara atau saudari, tidak seperti orang yang rendah. Jika kamu tidak dapat menyelesaikannya, carilah orang lain untuk membantumu. Jika kamu masih menemukan jalan buntu, serahkan kepada Gereja, dimana dalam kebanyakan kasus berarti seseorang yang mempunyai otoritas seperti Pastor atau Uskup atau delegasi apostolik.

Yang patut di garis bawahi adalah: kita berhutang kasih kepada saudara dan saudari kita [Rom 13:8-10]. Dan kasih melakukan yang terbaik untuk mencegah seseorang untuk berjalan diatas jurang.

Refleksi atas bacaan pada Minggu biasa ke XXIII; Yeh 33:7-9, Mzm 95, Rm 13:8-10, Mat 18:15-20

sumber

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: