PD : Memahami Sakramen sebagai Tanda

Oleh Brian Pizzalato

“Apa itu sakramen? Sakramen adalah tanda luar yang diinstitusikan oleh Kristus untuk memberikan rahmat”

Apakah Tanya jawab ini terdengar familiar? Setidaknya ini akan membunyikan bel bagi beberapa orang. Ini adalah Tanya jawab dari Katekismus Baltimore.

Dalam artikel ini, aku akan merenungkan sedikit lebih dalam tentang fakta bahwa tiap sakramen adalah tanda. Untuk membantu dalam hal ini, Aku akan membawa perhatianmu pada pemikiran Dom Cyprian Vagaggini, OSB, seperti yang direfleksikan dalam bukunya yang hampir berjumlah 1000 halaman, “Dimensi Teologis Liturgi” (The Liturgical Press, 1976).

Vagaggini membantu kita memahami bahwa tiap tanda liturgis dari sakramen memiliki 4 dimensi, yang secara bersamaan membawa masa lalu, masa sekarang dan masa depan.

Empat dimensi sakramen sebagai tanda adalah : tanda demonstratif, tanda moral kewajiban, tanda komemoratif, dan tanda profetik.

Pertama, tiap sakramen “adalah tanda demonstratif  realitas suci yang tidak kelihatan di masa sekarang…” (p.74). Cara lain mengatakan ini adalah bahwa tiap sakramen adalah tanda yang berdaya guna; tanda kelihatan sesungguhnya yang mempengaruhi didalam kita realitas yang tidak kelihatan yang ditandakannya.

Contohnya, tanda kelihatan dari air dalam baptisan menunjukkan pembersihan. Ketika seseorang dibaptis, ada pembersihan daging ketika air dituangkan. Tapi ini menunjukkan pembersihan dosa pribadi oleh realitas rahmat pengudusan Kristus yang tidak kelihatan, yang dituangkan kedalam keberadaan kita.

Kita juga tahu bahwa air perlu bagi kehidupan, tapi juga bisa membawa kematian. Tanda alami ini menandakan fakta bahwa “kita memang dikubur dengannya melalui baptisan kedalam kematian, agar, sama seperti Kristus yang dibangkitkan dari kematian oleh kemuliaan Bapa, kita juga hidup dalam kebaruan kehidupan” (Roma 6:4)

Kedua, tiap sakramen adalah “tanda moral kewajiban bahkan di masa sekarang sampai pada tindakan masa depan dalam kehidupan ia yang menerima pengudusan dan memberikan pemujaan” (p.74). Ketika kita menerima sakramen-sakramen, kita bersumpah kepada Allah sebuah kehidupan dalam meniru Kristus.

St. Paulus mendesak kita “untuk hidup dalam cara yang pantas dari panggilan yang kamu telah terima” (Efesus 4:1)

Berbicara kepada umat Kristen di Roma, mereka yang telah dibaptis, St. Paulus juga berkata ,”karena sikap keras kepalamu dan hati yang tidak mau bertobat, kamu menumpuk kemurkaan bagi dirimu sendiri untuk hari kemurkaan dan wahyu penghakiman adil Allah, yang akan membayar kembali setiap orang berdasarkan pekerjaannya : kehidupan abadi bagi mereka yang mencari kemuliaan, kehormatan, dan keabadiaan melalui ketekunan dalam perbuatan baik, tapi kemurkaan dan amarah bagi mereka yang dengan egois tidak menaati kebenaran dan mematuhi kejahatan” (Roma 2:5-8)

Dalam hubungannya dengan ekaristi, St. Paulus berkata : “Kamu tidak bisa minum cawan Tuhan dan juga cawan iblis. Kamu tidak bisa ambil bagian dalam meja perjamuan Tuhan dan meja perjamuan iblis” (1 Korintus 10:21)

Dalam sakramen rekonsiliasi, kita bersumpah pada Allah untuk tidak berdosa lagi dan menghindari kecenderungan terhadap dosa. Dalam pernikahan, kita bersumpah pada Allah untuk kesetiaan seumur hidup kepada pasangan kita dan keterbukaan kepada [kehadiran] anak-anak. Dalam krisma, kita bersumpah pada Allah untuk menyebarkan dan membela kepenuhan iman katolik dalam kata-kata dan perbuatan.

Ketiga, tiap sakramen “adalah tanda komemoratif dari tindakan Kristus yang menyelamatkan, khususnya penderitaan dan kematian-Nya…” (p.74). Ketika kita berbicara tanda komemoratif (peringatan), hal ini seharusnya mwmbawa pikiran kita pada institusi Ekaristi ketika Yesus berkata,”Lakukanlah ini dalam kenangan akan Aku” (Lukas 22 : 19). Kita juga harus mengingat bahwa kata-kata ini diucapkan selama liturgi paskah yahudi, dan Paskah Yahudi dikatakan oleh Allah untuk menjadi “..pesta memorial untuk kamu…” (Kel 12 : 14)

Secara biblis, kenangan (rememberance) adalah perayaan peristiwa masa lalu, tapi bukan sekedar masa lalu. Ketika paskah yahudi dirayakan, peristiwa masa lalu dari paskah yahudi pertama dan keluaran dari Mesir dirayakan secara aktual terjadi dalam masa sekarang, sebagai tanda dari apa yang akan datang di masa depan. Jadi kenangan adalah peristiwa masa lalu, dijadikan dengan pasti, sungguh dan sebenarnya menjadi masa sekarang, sebagai janji kemuliaan masa depan.

Paskah yahudi perjanjian lama dibawa kepada pemenuhan Perjamuan Terakhir dan Penderitaan, Kematian, kebangkitan, dan kenaikan Yesus. Kita tahu bahwa “…domba paskah kita, Kristus, telah dikurbankan” (1 Kor 5:7). St. Paulus berkata,”Oleh karena itu mari kita merayakan pesta…” (1 Kor 5:8). Kita jufa seharusnya “melakukan ini dalam kenangan akan Aku.”

Karenanya, dalam Misa peristiwa masa lalu dari Perjamuan Terakhir dan kematian Kristus di salib dihadirkan sekarang. Kita berada di salib Kalvari seperti dalam abad pertama. Hal ini mungkin karena Ia yang mati sekarang bangkit dan duduk diatas tahta kemuliaan di sisi kanan Bapa, dimana ruang dan waktu tidak lagi berarti.

Hal ini juga diberikan untuk sakramen lain. Merea semua adalah partisipasi aktual dan nyata dalam tindakan Kristus yang menyelamatkan.

Keempat, tiap sakramen “adalah tanda…profetik kemuliaan surgawi dan pemujaan dalam Yerusalem masa depan” (p.74). Dalam perjanjian baru, tiap sakramen adalah janji kemuliaan masa depan, bukan semata-mata janji bahwa kita duduk dan menunggu, tapi sebuah partisipasi dalam kemuliaan masa depan. Kristus memberikan kita lebih dari sekedar kata-kata tentang apa yang akan datang, Ia memberikan kita disini san sekarang bagian dalam apa yang akan datang. Menurut analogi, seseorang bisa memberikanmu janji mereka dengan berkata bahwa mereka akan memberikanmu jutaan dollar di masa depan, tapi mereka juga bisa memberikanmu sebuah janji dengan memberikanmu bagian dalam apa yang datang sekarang.

Berbicara tentang baptisan, St. Paulus berkata: “Kita tahu bahwa Kristus, dibangkitkan dari orang mati, tidak ati lagi; kematian tidak lagi memiliki kekuatan atasnya. Pada kematian-Nya, Ia mati terhadap dosa sekali untuk selamanya; untuk kehidupan-Nya, Ia hidup untuk Allah. Konsekuensinya, kamu juga harus berpikir tentang dirimu yang mati demi dosa dan hidup demi Allah dalam Yesus Kristus” (Roma 6:9-11)

Kesimpulannya, seperti yang dikatakan Vagaggini, “Tanda-tanda liturgis…berkumpul dalam satu tempat keseluruhan realitas sejarah suci, masa sekarang, masa lalu dan masa depan” (p.75). Mari kita memuji Allah karena hadiah agung liturgi dan sakramen.

Diterbitkan dengan ijin dari Northern Cross, Diocese of Duluth, Minnesota.

Brian Pizzalato adalah Director Katekese, R.C.I.A. & & Lay Apostolate for the Diocese of Duluth. Ia juga anggota fakultas Teolofi dan departemen Filsafat Marryale Institute, Birmingham, England. Ia menulis artikel katekses bulanan untuk The Northern Cross, of the Diocese of Duluth, dan penulis yang berkontribusi untuk the Association for Catechumenal Ministry’s R.C.I.A. Participants Book. Brian sekarang menulis seri regular Catechesis and Contemporary Culture,” di The Sower, diterbitkan oleh the Maryvale Institute dan juga dalam proses menulis the Philosophy of Religion course book for the B.A. in Philosophy and the Catholic Tradition program at the Maryvale Institute.

 

Brian holds an M.A. in Theology and Christian Ministry with a Catechetics specialization and an M.A. in Philosophy from Franciscan University of Steubenville, Ohio.

Sumber.

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: