Catatan DoktrinaI Atas Beberapa Aspek Evangelisasi

POINT-POINT RINGKASAN 

I. Introduction 

1. Catatan Doktrinal dipersembahkan [devoted] secara prinsipiil kepada sebuah pemaparan pemahaman Gereja Katolik atas misi Kristen [yaitu] evangelisasi, yang adalah memproklamirkan Injil Yesus Kristus: kata “Injil” menerjemahkan “evangelion” di [Kitab] Perjanjian Baru [berbahasa] Yunani. “Yesus Kristus dikirim oleh Bapa untuk memproklamirkan Injil, memanggil semua orang kepada pertobatan [conversion] dan iman. ‘Pergilah ke seluruh dunia dan wartakanlah Injil kepada setiap mahkluk’ (Mk 16,15).” [n. 1]

2. Catatan Doktrinal mengutip kepada Surat Ensiklik Paus Yohanes Paulus II “Misi sang Penebus” yang mengingatkan bahwa “Setiap orang punya hak untuk mendengar Kabar Baik [Injil] dari Allah yang mewahyukan dan memberikan dirinya sendiri dalam Kristus, sehingga setiap orang bisa hidup dalam kepenuhan panggilannya yang patut.’ Hak ini menyiratkan tugas terkait untuk menginjil.” [n. 2]

3. Sekarang ini ada sebuah “kebingungan yang berkembang” mengenai mandat misionaris Gereja. Beberapa berpikir “bahwa upaya apapun untuk meyakinkan yang lain mengenai masalah religius adalah pembatasan atas kebebasan mereka,” [dimana pemikiran ini] seakan-akan memperlihatkan bahwa sudah cukuplah untuk mengajak orang-orang “untuk bertindak sesuai suara hati mereka”, atau untuk “menjadi lebih manusia atau lebih beriman kepada agama mereka sendiri”, atau “untuk membangun komunitas yang berjuang demi keadilan, kebebasan, perdamaian dan solidaritas”, tanpa mengaraahkan pertobatan mereka kepada Kristus dan iman Katolik.

Yang lain telah berargumen bahwa pertobatan kepada Kristus tidak seharusnya digalakkan [promoted] karena adalah mungkin bagi orang untuk selamat tanpa iman eksplisit dalam Kristus atau inkorporasi formal [ie. formal incorporation] dalam Gereja. Karena “masalah-masalah ini, Kongregasi Ajaran Iman telah menilai perlu untuk mempublikasikan Catatan ini.”[n. 3]

II. Beberapa Implikasi Anthropologis 

4. Sementara beberapa bentuk agnostisisme dan relativisme mengingkari kapasitas manusia untuk kebenaran, pada kenyataannya kebebasan manusia tidak dapat dipisahkan dari acuannya [reference] kepada kebenaran. Umat manusia diberi intelek dan kehendak oleh Allah supaya mereka bisa tahu dan cinta apa yang benar dan baik. Pemenuhan akhir dari panggilan pribadi manusia ditemukan dalam menerima wahyu dari Allah dalam Kristus sebagaimana diproklamirkan oleh Gereja.

5. Pencarian akan kebenaran ini tidak dapat dicapai seluruhnya atas upaya sendiri, tapi secara tidak terelakkan melibatkan pertolongan dari yang lain dan kepercayaan pada pengetahuan yang diterima seseorang dari yang lain. Karenanya, mengajar dan masuk kedalam suatu dialog untuk menuntun dalam kebebasan untuk mengetahui dan mencintai Kristus bukanlah pembatasan yang tidak patut atas kebebasan manusia, “namun merupakan sebuah upaya sah dan sebuah pelayanan yang mampu membuat hubungan manusia lebih berbuah.” [n. 5]

6. Pengkomunikasian kebenaran sehingga [kebenaran tersebut] bisa diterima oleh orang lain juga [sesuatu yang] harmonis dengan keinginan alami manusia agar sesamanya berbagi dalam kebaikannya sendiri, yang bagi umat Katolik termasuk anugerah iman dalam Yesus Kristus. Anggota-anggota Gereja secara alamiah berkeinginan untuk berbagi dengan sesamanya iman yang telah diberikan secara gratis kepada mereka.

7. Melalui evangelisasi, budaya-budaya secara positif dipengaruhi oleh kebenaran Injil. Begitu juga, melalui evangelisasi, anggota-anggota Gereja Katolik membuka diri mereka sendiri untuk menerima karunia-karunia tradisi-tradisi dan budaya-budaya lain, karena “Setiap perjumpaan dengan pribadi lain atau dengan budaya lain mampu untuk menyingkapkan potensial-potensial dari injil yang sampai saat tertentu mungkin belum eksplisit penuh dan yang akan memperkaya kehidupan umat Kristen dan Gereja.” [n. 6]

8. Setiap pendekatan kepada dialog [yang berbentuk] pemaksaan atau peng-iming-iming-an tidak patut yang gagal untuk menghormati harga diri dan kebebasan religius dari rekan dalam dialog tersebut tidak punya tempat dalam evangelisasi Kristen.

III. Beberapa Implikasi Ekklesiologis 

9. “Sejak hari Pentekosta … Injil, dalam kuasa Roh kudus, diproklamirkan kepada semua orang sehingga mereka boleh percaya dan menjadi murid-murid Kristus dan anggota-anggota Gereja.” “Pertobatan” [“conversion”] adalah sebuah “perubahan dalam berpikir dan bertindak, ” mengekspresikan hidup baru kita dalam Kristus; [pertobatan] adalah dimensi yang berlangsung terus menerus dalam hidup Kristen.

10. Bagi evangelisasi Kristen, “inkorporasi anggota-anggota baru kedalam Gereja bukanlah sebuah ekspansi sebuah kelompok-berkuasa, tapi merupakan masuk kedalam jaringan pertemanan dengan Kristus yang menghubungkan surga dan bumi, benua-benua dan jaman-jaman yang berbeda.” dalam artian ini, lalu, “Gereja adalah pengandung [bearer] dari kehadiran Allah dan karenanya [merupakan] alat humanisasi sejati atas manusia dan dunia.” (n. 9)

11. catatan Doktrinal mengutip “Konstitusi Pastoral atas Gereja di dunia Modern” dari konsili Vatikan II (Gaudium et spes) untuk mengatakan bahwa sikap hormat kepada kebebasan religius [ie. kebebasan beragama] dan pencanangannya “tidak boleh dengan cara apapun membuat kita indifferen terhadap kebenaran dan kebaikan. Justru, kasih mendorong pengikut-pengikut Kristus untuk memproklamirkan kepada semua kebenaran yang menyelamatkan.” [n.10] Misi cinta ini harus dicapai baik oleh proklamasi sabda dan kesaksian hidup. “Diatas segalanya, kesaksian akan kekudusan adlah perlu, agar sinar kebenaran mencapai semua umat manusia. Jika sabda dikontradiksi oleh tingkah laku, penerimaannya akan sulit.” Disisi lain, mengutip Anjuran Apostolik [Apostolic Exhortation] Evangelii nuntiandi dari Paus Paulus VI, Catatanmengatakan bahwa “bahkan saksi terbaik akan terbukti tidak efektif dalam jangka panjang, bila [kesaksiannya tersebut] tidak dijelaskan, dijustifikasikan… dan dibuat eksplisit oleh proklamasi akan Tuhan Yesus yang jelas dan unik [unequivocal]. [n. 11]

IV. Beberapa Implikasi Ekumenis 

12. Dokumen CDF menunjukkan peran penting dari ekumenisme dalam misi evangelisasi Gereja. Perpecahan Kristen bisa secara seius mengkompromiskan kredibilitas misi evangelisasi Gereja. Semakin ekumenisme membawa kesatuan yang lebih besar diantara uamt Kristen, semakin efektif jadinya evangelisasi.

13. Ketika evangelisasi Katolik terjadi didalam sebuah negara dimana umat Kristen lain, umat Katolik harus berhati-hati dalam melakukan misi mereka dengan “baik rasa hormat bagi tradisi dan kekayaan spiritual dari negara-negara tersebut maupun semangat tulus kerjasama.” Evangelisasi dimulai dengan dialog, bukan dengan proselytism [ie. membujuk orang untuk pindah agama]. Dengan Kristen non-Katolik, umat Katolik harus masuk kedalam dialog yang penuh hormat atas kasih dan kebenaran, sebuah dialog yang bukan hanya sevuah pertukaran gagasan ideal, tapi juga [pertukaran] anugerah, supaya kepenuhan sarana keselamatan bisa ditawarkan kepada rekan dialog seseorang. dengan cara ini, mereka [umat Kristen non-Katolik] dituntun kedalam pertobatan kepada Kristus yang lebih mendalam

“dalam hubungan ini, juga patut diingat bahwa jika seorang umat Kristen non-Katolik, atas alasan suara hati dan teryakinkan oleh kebenaran Katolik, meminta untuk masuk kedalam persekutuan penuh dengan Gereja Katolik, ini [harus] dihormati sebagai karya Roh kudus dan sebagai ekspresi kebebasan suara hati dan [kebebasan] agama. Kasus seperti itu bukanlah masalah proselytism dalam artian negatif yang telah dikenakan kepada istilah ini.” [n. 12]

V. Kesimpulan 

14. Catatan doktrinal mengingat bahwa mandat misionaris merupakan hakikat Gereja. Dalam hal ini [catatan doktrinal] mengutip Paus Benediktus XVI: “Proklamasi dan kesaksian Injil adalah pelayanan pertama yang bisa diberikan umat Kristen kepada setiap pribadi dan seluruh umat manusia, [karena umat Kristen] dipanggil [sebagai umat Kristen] untuk mengkomunikasikan kepada semua, cinta Allah, yang terwujudkan secara penuh dalam Yesus Kristus, Penebus dunia yang satu.” Kalimat penutup [dari Catatan Doktrinal ini] mengandung kutipan dari surat ensiklik Paus Benediktus yang pertama “Deus caritas est”: “Cinta yang datang dari Allah menyatukan kita kepadaNya dan ‘membuat kita [menjadi] sebuah kita yang melampaui perpecahan kita dan membuat kita satu, sampai akhirnya Allah adalah semua dalam semua (1 Kor 15:28)’.”

Sumber terjemahan.

Update

Dokumen lengkapnya dapat dilihat di website Vatican [klik disini]

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: