Iman untuk Memindahkan Gunung

oleh: Marcellino D’Ambrosio

Yesus menyembuhkan anak dari wanita Kanaan karena imannya sangat besar. Ia memarahi murid-muridNya karena iman mereka yang terlalu kecil. Disini Injil Matius mengajarkan kita sesuatu yang sangat penting tentang sifat dasar dari iman Kristiani.

Para Rasul berpikir dia adalah orang yang mengganggu dan meminta Yesus untuk mengusir dia. Yesus telah pergi ke wilayah Tyre dan Sidon, sekarang adalah Lebanon, dan wanita dari daerah ini mendekati Dia untuk meminta tolong. Kota ini adalah kota penyembah berhala, kampung halaman dari Jezebel yang tidak terkenal. Penduduk dari bagian-bagian itu dikenal sebagai “anjing” oleh tetangga mereka orang Yahudi, yang memandang mereka itu najis.

Apakah Yesus juga memandang orang ini dengan hina? Pada pandangan pertama ya. Wanita ini menangis dengan kuat, “Tuhan, anak Daud, kasihanilah aku!” dan membuat Yesus tahu bahwa anak perempuannya kerasukan setan. Yesus mengabaikannya pada pertama-tama. Kemudian Yesus menolaknya dengan kasar. “Misi ku hanya untuk domba yang hilang dari Israel.” Wanita ini tak takut dan, ia tidak mendengarkanNya, malahan menangis dengan sekencang-kencangnya: “tolonglah aku Tuhan!”

Lalu datanglah apa yang banyak orang akan menerimanya sebagai penghinaan. Yesus berkata: “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.” Wanita itu bisa saja merasa tersinggung dan pergi meninggalkannya dalam keadaan tersinggung. Tetapi malahan ia berkeras hati, merespon dengan kerendah hatian dan akal: ” namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.”

Yesus tidak bisa lagi menolak: “Hai wanita, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki.” Dan seketika itu, anak perempuannya dilepaskan dari kekuatan iblis. Kebanyakan orang berpikir bahwa iman adalah mempercayai “itu”. Percaya bahwa Allah “itu” ada, atau Yesus “itu” adalah Mesias. Wanita ini pasti mempunyai rasa percaya seperti itu. Meskipun ia bukan seorang Yahudi, ia memanggil Yesus “Anak Daud,” yang berarti ia percaya bahwa Yesus adalah raja yang telah diurapi dari Israel, yang diramalkan oleh para Nabi-Nabi.

Tetapi iman jauh melebihi mempercayai soal “itu”. Ini tentang percaya di “dalam”. Untuk percaya “pada” seseorang adalah dengan mempercayainya, untuk mempercayakan sesuatu nilai kepadanya, bahkan dengan sangat dalam mempercayakan [sesuatu] kepadanya. Disini, wanita ini mempercayakan nasib dari anak perempuannya kepada orang yang berdiri didepannya. Dan keinginannya untuk keselamatan anak perempuannya mendorong ia untuk mengejarNya, untuk mencari Yesus tanpa lelah, sampai ia mendapatkan apa yang ia percayai bisa Yesus berikan.

Yesus sering memarahi muridNya karena memiliki iman yang kecil. Iman mereka kecil karena gemetar ketakutan didepan setiap rintangan. Iman wanita ini besar karena mengabaikan semua rintangan. Ia adalah Raja orang Yahudi. Wanita ini kafir. Wanita ini bertanya, Yesus diam. Wanita ini bertanya dua kali, Yesus menjawab tidak. Wanita ini tidak perduli. Wanita ini terus datang. Perhatikan meskipun wanita ini bersikeras, wanita ini tetap rendah hati. Wanita ini tidak membantah Yesus “hanya untuk orang Yahudi.” Wanita ini tidak dengan sombong meminta untuk dilayani lebih dahulu. Wanita ini tinggal untuk sisa-sisa [makanan].

Yesus telah datang pertama-tama untuk umat Israel, kemudian untuk seluruh dunia. Ia masih dalam fase salah satu dari misiNya. Untuk para kafir belum datang waktunya. Tetapi iman yang besar dari wanita ini menyebabkan Yesus untuk menggerakkan maju waktuNya. Hal ini mengingatkan aku tentang iman wanita lain yang membujuk Ia untuk menggerakkan maju waktuNya ketika tamu-tamu pada pesta pernikahan kehabisan anggur (Yoh 2). Responnya yang pertama muncul adalah “tidak”, tetapi kegigihannya yang merubah [respon] menjadi “ya” yang memunculkan pelayanan publikNya [yang pertama].

Ada suatu tempat didalam Injil dimana Yesus berkata bahwa iman dapat memindahkan gunung. Disini kita melihat bahwa iman bisa memindahkan sesuatu bahkan lebih hebat dari pada gunung-yaitu bisa memindahkan Allah sendiri.

Refleksi atas bacaan untuk Minggu ke XX, tahun liturgi A (Yesaya 56:1,6-7, Mamur 67, Roma 11:13-15, 29-32, Matius 15:21-28)

sumber

One comment

  1. Harapan, Iman, Kasih, Benar, Hidup.
    Inilah pedoman manusia untuk mencapai keHidupan, kita harus punya harapan/ cita-cita, dengan landasan Iman yang kuat, Berilah rasa iba kepada sesama mengutamakan Kasih, semua tindakan kita harus baik untuk semua orang itulah Benar, dengan melaksanakan itu semua maka kita akan mendapatkan sesuatu ke Hidupan.

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: