Dedication of St. Mary Major : Paus Liberius, St. Athanasius, dan Sebuah Mukjizat

oleh Romo John Zuhlsdorf.

Paus Liberius (352-366) adalah Uskup Roma dalam saat-saat yang sulit.

Tahun 350 Kaisar Konstans dibunuh dan Konstantinus menjadi kaisar tunggal dengan mengalahkan Magnentius. Beberapa uskup di Timur yang menentang St. Athanasius di Mesir memohon kepada Liberius untuk terlibat dalam kontroversi Arian dimana Athanasius terlibat.

Kesesatan dan kontroversi Arian merajalela. (Arian tidak mengakui bahwa Kristus kosubstansial [i.e. sehakekat] dengan Bapa). Liberius memanggil sebuah sinode di Roma, tapi Sinode ini tidak menghasilkan apa-apa. Liberius kemudian membuat permohonan pada Konstantinus untuk memanggil konsili yang diadakan di Aquieleia.

Konstantinus mengutuk Athanasius melalui Sinode Arles (353) dan Sinode Milan (355) dan berusaha memenangkan Liberius ke pihaknya. Ketika Liberius menolak, Konstantinus memanggil Liberius ke Milan dan mengasingkannnya ke Bearea di Thrace. Liberius akhirnya menyetujui Konstantinus tanpa berkomentar sekali ia dilemahkan dari penderitaannya dalam kesengsaraan dan hawa dingin Thracian.

St. Hilary of Poitier mempertahankan surat-surat Paus Liberius yang menjadi bukti dari apa yang terjadi (Frag. Hist. 4,6).

 

Akhirnya Konstantinus membiarkan Liberius keluar dari pengasingannya di Thrace. Ia pergi ke Sirmium tahun 358 dan kemudian kembali ke Roma. Di Roma Felix II memimpin sebagai uskup, tapi umat mendukung Liberius sebagai Uskup Roma yang sejati.

 

Liberius mungkin menyetujui rumusan Sirmium 352 yang “secara fundamental” adalah pernyataan yang orthodox. Beberapa skup timur dan Arians “moderat” bertemu dalam kehadiran Konstantinus untuk menentang Photinus. Photinus dikutuk. Liberius tidak menyetujui Sirmiun 357, bagaimanapun. Pertemuan ini mengeluarkan pernyataan pro-Arian. Meskipun demikian, , St. Athanasius dan St. Hilary dan lainnya menganggap Liberius telah melakukan kesalahan berat, tapi mungkin mereka salah. Anggaplah bahwa Liberius lemah dan masa kepausannya penuh dengan masalah, sebagian karena ciptaannya sendiri, Liberius tampak lebih berdosa daripada pendosa.

 

Ya, Liberius mengutuk Athanasius, pembela iman Nicea yang setia menentang heretik Arian. Tapi ia dipaksa dibawah ancaman dan mungkin disiksa untuk mendukung Arians. Akan tetapi, Liberius menolak menyetujui rumusan iman Arian tidak menandatanganinya, sementara tidak secara eksplisit mengutuk Arianisme, ia mendukung sebagian besar iman Nicea. Kadang-kadang anti-katolik akan melemparkan Liberius ke wajah kita sebagai contoh bagimana Paus tidak bisa mengajarkan infalibilitas. Pengikut SSPX sering menggunakan ia dan Athanasius sebagai cara membenarkan ketidaktaatan mereka terhadap Paus Roma. Liberius, bagaimanapun, adalah sebuah figur yang kompleks dalam masa-masa yang sulit dan banyak dari “cerita” dan “kejatuhan”nya dalam kelemahan tidak dipahami dengan tepat.

Setelah Konstantinus, Julian yang terkenal mengadopsi kebijakan toleransi. Paus Liberius mengeluarkna surat kepada para uskup Italia tahun 362 dan surat jawaban kepada para uskup Timur tahun 366 dimana keduanya menegaskan iman Konsili Nicea.

Paus Liberius penting bagi kita sekarang karena pesta yang kita rayakan : Dedikasi St. Mary Major, yang dikenal sebagai Basilika Liberian.

Basilika ini dihubungkan dengan Paus Liberius karena cerita terkenal yang kita semua tahu tentang hujan salju mukjizat pada hari ini di Bukit Esquiline di Roma. Siapapun yang berada di Roma bulan Agustus tidak akan mempertanyakan pada hujan salju yang memang adalah mukjizat. Untuk memberikan gagasan betapa panasnya Roma bulan Agustus, sepasang sol sepau lariku meleleh dan lapisannya terpisah.

Basilika ini diselesaikan oleh Paus Sixtus III dan archdeacon Leo (Paus Leo I “Agung”). Ini adalah apa yang dikatakan Martirologi Roma :

Dedicatio basilicae Sanctae Mariae, Romae in Exquilis conditae, quam in memoriam Concilii Ephesini, in quo Maria Virgo Dei Genetrix salutata est, Xystus papa Tertius plebi Dei obtulit….

Dedikasi Basilika Santa Maria didirikan di Roma di bukir Esquiline, yang Sixtus III, Paus mengkonsekrasikan demi umat Allah sebagai peringatan Konsili Efesus yang waktu itu Perawan Maria disambut/diteriakan sebagai Bunda Allah.

Di dalam basilika kamu bisa melihat monumen kemenangan besar yang didekorasi dengan mosaic yang indah, yang disiapkan dan diatur oleh Paus Leo I masa depan dengan tema Anti-Manichean. Di puncak lengkungan monumen kamu akan melihat nama “Xystus Episcopus Plebi Dei” bahkan sampai hari ini.

Sumber.

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: