PD : Mengapa Kita Percaya Yesus adalah Allah

Bukti dari Kitab Suci, Bapa Gereja dan Sejarawan Non Kristen bahwa Yesus adalah Allah, dikutip dari topik Apologi atas Trinitas : Kontra Moslem

Apakah Yesus mengajarkan bahwa Dia adalah Allah? Dia jelas-jelas meng-klaim sebagai sang Mesiah (Yoh 4:26), meng-klaim untuk memenuhi deskripsi Mesianik di Perjanjian Lama (Matius 11:3-5; Luk 7:22-23; 4:18-21), meng-klaim untuk diidentifikasikan dengan nama Mesianik saat itu, “Raja Israel” (Luk 19:38; etc), “Putra Daud” (Matius 9:27; etc), “Anak Manusia” (passim), “Dia yang datang atas nama Tuhan” (Matius 21:9, etc.). Terlebih Yesus meng-klaim bahwa Dia lebih besar dari Abraham (Yoh 8:53, 56), daripada Musa (Matius 19:8-9), daripada Solomo dan Yunus (Matius 12:41-42); Dia berkebiasaan meng-klaim dikirim Allah (Yoh 5:36, 37, 43; etc.), memanggil kepada Allah dengan sebutan Bapa (Luk 2:49; etc), dan Dia bersedia menerima gelar “Guru” and “Tuhan” (Yoh 13:13-14). Dia mengampuni dosa sebagai jawaban atas [keberatan para Yahudi] bahwa hanya Allah yang mampu mengampuni dosa (Mark 2:7, 10; Luk 5:21, 24; etc). Dia bertindak sebagai Tuhan atas Hari Sabat (Matius 12:8; etc), dan berkata pada St. Petrus bahwa sebagai “Anak” Dia bebas dari kewajiban untuk membayar pajak kuil (Matius 17:24, 25). Dari permulaan pelayananNya Dia membiarkan Nathanael memanggilNya “Anak Allah” (Yoh 1:49); para Rasul (Matius 14:33) dan Martha (Yoh 11:27) memberiNya gelar yang sama. Dua kali Dia merestui Petrus ketika [Petrus] memanggilNya “sang Kristus, Anak Allah” (Yoh 6:70), “Kristus, Anak Allah yang hidup” (Matius 16:16). Di empat waktu yang berbeda Dia menyatakan diriNya sebagai Anak Allah; kepada orang yang lahir buta (Yoh 10:30, 36); dihadapan dua jemaat para imam Yahudi pada malam sebelum kematianNya (Matius 26:63-64; Mark 14:61-62; Luk 22:70). Dia tidak menunjukkan KePutraan IlahiNya dihadapan Setan (Matius 4:3, 6) atau dihadapan para Yahudi yang mengejekNya (Matius 27:40). Yesus tidak ingin mengajarkan roh jahat misteri KeilahianNya; [sedangkan kepada para Yahudi] Dia memberikan tanda-tanda yang lebih besar dari apa yang mereka minta. Yesus mengenakan pada diriNya sendiri dan membiarkan yang lain mengenakan pada diriNya, gelar “Anak Allah” dalam arti sepenuhnya. Kalau ada kesalahpahaman Dia mestinya mengkoreksi, seperti ketika Paulus dan Barnabas mengkoreksi mereka yang menganggap keduanya Allah (Kisah 14:12-14) [tapi Yesus tidak pernah mengoreksi siapapun].

Juga tidak bisa dikatakan bahwa gelar “Anak Allah” hanya mengindikasikan suatu peranakan yang bersifat adopsi. Beberapa teks berikut tidak mengijinkan pemahaman seperti itu. Sebagai contoh, St. Petrus menempatkan gurunya (Yesus) diatas Yohanes Pembaptis, Elias dan para Nabi (Matius 16:13-17). Sekali lagi, sang Malaikat Gabriel menyatakan bahwa anak yang akan dilahirkan akan menjadi “Anak Allah yang Maha Tinggi” dan “Anak Allah” (Luk 1:32, 35), dengan suatu cara dimana nantinya Dia akan tanpa ayah biologis. Sebuah pengadopsian belaka mengasumsikan adanya anak yang nantinya akan diadopsi; tapi St. Yusuf diperingatkan bahwa “yang didalam kandungannya [Maria], adalah dari Roh Kudus” (Matius 1:20); nah, seseorang yang dikandung dengan suatu operasi (pengerjaan) pihak lain menyiratkan suatu hubungan keperanakan yang alami kepada [yang dikandung dan yang melakukan operasi yang menyebabkan terjadinya pihak yang terkandung]. Terlebih, Keperanakan Ilahi yang di-klaim Yesus adalah sedemikian sehingga Dia dan Bapa adalah satu (Yoh 10:30, 36); [kalau] hanya sebuah peranakan yang bersifat adopsi [maka] tidak mendasari suatu kesatuan fisik antara anak dan ayah adopsinya. Pada akhirnya, bila Yesus hanya meng-klaim sebagai anak adopsi ini berarti Dia telah menipu para pengadilNya (maksudnya para Yahudi yang mengadili Yesus); karena [para pengadil tersebut] tidak mungkin mengutuk Yesus karena Yesus mengklaim sesuatu yang merupakan klaim prerogatif semua orang Israel yang saleh (catatan: semua orang Israel yang saleh bisa mengklaim diri mereka anak Allah sebatas hanya dalam artian adopsi, Yesus mengklaim sesuatu yang lebih dari itu. Karena itulah para Yahudi marah. Kalau yang diklaim Yesus hanyalah sesuatu yang sama dengan yang di-klaim orang Israel manapun, tentunya itu tidak menjadi masalah bagi para Yahudi). Harnack (Wesen des Christentums, 81) (catatan: Adolph Harnack adalah seorang Protestant yang liberal) berpendapat bahwa Keperanakan Ilahi yang di-klaim Yesus adalah sebuah hubungan intelektual dengan sang Bapa, yang bermuasal dari pengetahuan khusus [yang dimiliki Yesus] akan Allah. Pengetahuan ini mendasari “lingkup dari Keperanakan Ilahi”, dan disiratkan di perkataan di Mat., 11:27: “Tidak seorangpun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorangpun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadaNya Anak itu berkenan menyatakannya”. Tapi jika Keperanakan Ilahi hanyalah sebuah hubungan intelektualitas, dan jika Kristus hanyalah Allah dalam artian yang sebatas figuratif, [maka] kebapakan sang [Allah] Bapa dan Keilahian sang Anak akan direduksi menjadi semata-mata gaya bahasa.

Bukti dari para Bapa Gereja sebelum abad ke IV (abad ke IV berarti tahun 300-an masehi) yang menunjukkan bahwa mereka mengimani bahwa Yesus adalah Allah (didapat dari catholic.comdan website apologist Joseph (Joe) Gallegos):

Ignatius dari Antioka (murid dari Rasul Yohanes Penginjil, Uskup Antioka)
“Ignatius, juga dipanggil Theophorus, kepada Gereja di Efesus di Asia . . . dipredestinasikan dari selamanya untuk kemuliaan yang berkesudahan dan tak berubah, dipersatukan dan dipilih melalui penderitaan sejati oleh kehendak apa dalam Yesus Kristus Allah kita (Letter to the Ephesians 1 [A.D. 110]).

Karena Allah kita, Yesus Kristus, dikandung oleh Maria sesuai dengan rencana Allah: dari keturunan Daud, adalah benar [juga], tapi juga dari Roh Kudus” (ibid., 18:2).

“[K]epada [jemaat] Gereja tercinta dan [yang] terterangkan oleh kasih Yesus Kristus, Allah kita, oleh kehendak Dia yang telah menghendaki semua yang ada” (Letter to the Romans 1 [A.D. 110]).

Aristides (awam, filsuf)
“[Umat Kristen] adalah mereka yang. Diatas semua orang di dunia, telah menemukan kebenaran, karena mereka mengakui Allah, sang Pencipta dan pembuat segala hal, dalam sang Putra Tunggal dan sang Roh Kudus” (Apology 16 [A.D. 140]).

Justin Martyr (awam, filsuf)
“Karena bila kamu telah mengerti apa yang sudah dituliskan oleh para nabi, kamu tidak akan mengingkari bahwa Dia adalah Allah, Putra dari satu-satunya, tak diperanakkan, tak-terucapkan, Allah [Bapa].”(Dialogue with Trypho,121 [A.D. 155]).

Tatian orang Syria (awam)
“Kami tidak bermain kebodohan, [hai] kau orang Yunani, ataupun kami beromong kosong, ketika kami melaporkan bahwa Alah telah lahir dalam rupa seorang manusia.” (Address to the Greeks 21 [A.D. 170]).

Melito dari Sardis (Uskup Sardis)
“Adalah tidak perlu dalam berhadapan dengan orang yang berintelegensi untuk membuktikan [bahwa] tindakan Kristus setelah pembaptisan [adalah] bukti [yang menunjukkan] bahwa jiwaNya dan badanNya, kodrat manusiaNya, adalah sama dengan kita, nyata dan tidak gaib. Aktivitas Kristus setelah baptisanNya, dan terutama mukjijatNya, memberikan indikasi dan kepastian pada dunia akan keilahian yang tersembunyi didalam daging. [Sebagai] Allah dan manusia sempurna, Dia menunjukkan indikasi positif akan dua kodratNya: akan [kodrat] ilahiNya, oleh mukjijat-mukjijat selama tiga tahun setelah pembaptisanNya, akan[kodrat] manusiaNya, dalam tiga puluh tahun yang terjadi sebelum pembaptisanNya, yang selama itu, sebagai alasan atas kondisiNya menurut daging, Dia menyembunyikan tanda-tanda keilahianNya, meskipun dia adalah Allah benar yang ada sebelum jaman-jaman.” (Fragment in Anastasius of Sinai’s The Guide 13 [A.D. 177]).

Irenaeus (Uskup Lyon)
“Karena Gereja, meskipun tersebar diseluruh dunia bahkan sampai penghujung Bumi, telah menerima dari para rasul dan murid mereka iman akan Allah yang satu, Bapa yang Maha Kuasa, pencipta langit dan Bumi dan lautan dan semua yang ada didalamnya; dan dalam satu Yesus Kristus, Putra Allah, yang menjadi daging bagi keselamatan kita; dan dalam Roh Kudus, yang mengumumkan melalui para Nabi dispensasi-dispensasi dan kedatangan-kedatangan, dan akan kelahiran dari seorang perawan, dan sengsara, dan kebangkitan dari mati, dan kenaikan badan ke surga dari Kritus Yesus yang tercinta Tuhan kita, dan kedatanganNya dari surga dalam kemuliaan Bapa untuk membangun kembali semua hal; dan bangkitnya kembali semua daging dari semua kemanusiaan, sehingga Yesus Kristus Tuhan dan Allah kita dan Penyelamat dan Raja, sesuai dengan persetujuan Bapa yang tak kelihatan, setiap lutut akan bertekuk baik di surga dan dibumi dan dibawah Bumi. . . ” (Against Heresies 1:10:1 [A.D. 189]).

“Meskipun begitu, apa yang tidak bisa dikatakan akan siapapun yang pernah hidup, bahwa diadalam dirinya sendiri adalah Allah dan Tuhan . . . bisa dilihat oleh semua yang telah mendapatkan sebagian kecil kebenaran” (ibid., 3:19:1).

Clement dari Alexandria (Awam, Teolog, Kepala sekolah katekis Aleksandria)
“Sang Sabda, lalu, sang Kristus, adalah penyebab baik permulaan kita di permulaan yang purba—karena dia berada dalam Allah—dan [penyebab] keberadaan kita. Dan sekarang sang Sabda yang sama ini telah muncul sebagai manusia. Dia sendiri adalah Allah dan manusia, dan sumber bagi semua kebaikan kita” (Exhortation to the Greeks 1:7:1 [A.D. 190]).

“Dijijiki dalam penampilan tapi dalam realitas dipuja, [Yesus adalah] penebus, sang Penyelamat, sang penyaman, sang Sabda ilahi, [b]dia sudah terbukti adalah Allah benar, dia yang ditempatkan pada satu tingkat dengan Tuhan semesta karena dia adalah Putranya” (ibid., 10:110:1).

Tertullian (Awam, pengacara)
“Asal dari kedua substansiNya menunjukkan dia sebagai manusia dan sebagai Allah; dari yang satu (manusia), dilahirkan, dan dari yang lain (Allah), tidak dilahirkan” (The Flesh of Christ 5:6–7 [A.D. 210]).

“Bahwa ada dua Allah dan dua Tuhan, bagaimanapun, adalah suatu pernyataan yang tidak akan pernah kita keluarkan dari mulut kita; bukan berarti Bapa dan Anak bukanlah Allah, ataupun Roh Kudus [bukanlah Allah], dan masing-masing [memang] adalah Allah; tapi yang dua sebelumnya dikatakan sebagai Allah (plural) dan dua sebagai Tuhan (plural), sehingga ketika Kristus datang, dia akan dikenal sebagai Allah dan dipanggil Tuhan, karena dia adalah Putra dari dia yang adalah Allah dan Tuhan” (Against Praxeas 13:6 [A.D. 216]).

Origen (Romo, Kepala sekolah Katekis Aleksandria menggantikan Clement dari Aleksandria)
Meskipun dia adalah Allah, dia mengambil daging; dan dibuat menjadi manusia, dia tetap adalah apa dia sebelumnya: Allah” (The Fundamental Doctrines 1:0:4 [A.D. 225]).

Hippolytus (Romo)
“Hanya Sabda [Allah] yang berasal dari diriNya sendiri dan karenanya juga adalah Allah, menjadi substansi Allah” (Refutation of All Heresies 10:33 [A.D. 228]).

Hippolytus dari Roma (Romo)
“Karena Kristus adalah Allah atas segalanya, yang telah merencanakan untuk mencuci dosa umat manusia, membuat manusia lama menjadi baru” (ibid., 10:34).

Novatian (Romo)
“Jika Kristus hanyalah seorang manusia, mengapa dia memberikan kepada kita sebegitu rupa aturan untuk dipercayai dimana dia berkata, ‘Dan ini adalah hidup yang kekal, bahwa mereka harus mengenal engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan Yesus Kristus, yang kau utus?’ [Yoh 17:3]. Apakah dia tidak berkeinginan agar dia dipahami sebagai Allah juga? Karena jika dia tidak ingin dipahami sebagai Allah, dia semestinya menambahkan, ‘Dan sang manusia Yesus Kristus yang kau utus;’ tapi, kenyataannya, dia tidak menambahkan ini, ataupun dia menyampaikan dirinya kepada kita sebagai seorang manusia saja, tapi [Kristus] mengasosiasikan dirinya dengan Allah, seperti dia berkeinginan untuk dimengerti oleh hubungan ini sebagai Allah juga, sebagaimana dia. Kita karena itu harus meyakini, sesuai dengan aturan yang digariskan, atas sang Tuhan, sang satu-satunya Allah benar, dan selanjutnya atas dia [Kristus] yang telah dia [Bapa] kirim, Yesus Kristus, yang tidak akan, seperti yang kita katakan, menghubungkan dirinya sendiri dengan Bapa kalau dia tidak ingin dimengerti sebagai allah juga. Karena dia [Kristus] akan memisahkan diri dari dia [Bapa] kalau dia [Kristus] tidak ingin dipahami sebagai Allah” (Treatise on the Trinity 16 [A.D. 235]).

Cyprian dari Carthage (Uskup Chartage)
“Seseorang yang mengingkari bahwa Kristus adalah Allah tidak bisa menjadi kuil [bagi Roh Kudus] . . . ” (Letters 73:12 [A.D. 253]).

Gregory Sang Pekerja Ajaib atau Gregory dari Neocaesaria (Uskup Neocaesaria)
“Adalah satu Allah, Bapa dari sang Sabda yang hidup, yang dalam kebijaksanaannya yang adalah hikmatnya, kuasanya dan rupa abadinya yang menghidupi: peranak sempurna dari peranakan yang sempurna, Bapa dari satu-satunya Putra yang diperanakkan. Adalah satu Tuhan, satu-satunya, Allah dari Allah, rupa dan keserupaan dari ilah, sabda yang efisien, hikmat menyeluruh dari landasan segala hal, dan kuasa penting dari seluruh ciptaan, Putra benar dari sang Bapa benar, tak kelihatan dari tak kelihatan, dan tak terkorupsi dari tak terkorupsi, dan tidak hayati dari tidak hayati dan abadi dari abadi. . . . dan karenanya tidaklah sang Putra pernah kekurangan dari sang Bapa, ataupun sang Roh dari sang Putra; tapi tanpa variasi dan tanpa perubahan, Trinitas yang sama bersemayan selamanya” (Declaration of Faith[A.D. 265]).

Apakah ini saja? TIDAK. Ada tambahan bukti dari penulis-penulis non-Kristen, sebelum abad ke IV, yang menunjukkan bagaimana pengikut Yesus Kristus menyembah Dia dan menganggap Dia sebagai Allah. Kebanyakan dari penulis tersebut (kecuali Flavius Josephus), bersifat antagonist terhadap umat dan agama Katolik kala itu:

Flavius Josephus (37-100 AD), seorang sejarahwan Yahudi yang berkewarganegaraan Romawi (banyak orang Yahudi yang berkewarganegaraan Romawi, Rasul Paulus adalah salah satu contoh, Kis 23:27). Kisah tentang Yesus ditemukan dalam buku Josephus AntiquitiesXVIII, iii, 3. Patut diperhatikan bahwa buku tersebut ditulis Josephus bagi pemerintahan Romawi karena dia memang bekerja sebagai sejarahwan untuk pemerintahan Romawi:

sekitar waktu itu muncullah Yesus, seorang manusia bijak (jika memang tepat untuk memanggil dia seorang manusia; karena dia adalah pekerja perbuatan-perbuatan yang mengagumkan, seorang guru bagi orang-orang yang menerima kebenaran dengan sukacita), dan Dia menarik bagi diriNya sendiri banyak orang Yahudi (juga banyak orang Yunani. Ini adalah Kristus.) Dan ketika Pilatus, atas kritik tajam mereka yang terpandang diantara kita, telah mengutuk Dia di salib, mereka yang sejak awal mencintaiNya tidak meninggalkan Dia (karena Dia muncul kepada mereka hidup kembali pada hari ketiga, seperti yang dinubuatkan oleh para nabi-nabi suci dan banyak yang kagum kepadaNya.) Kaum Kristen yang dinamai menurut namaNya tidak punah sampai saat ini.

Tulisan dari Josephus ini memang tidak secara eksplisit menunjukkan bahwa umat Kristen mempercayai Kristus sebagai Allah. Tapi dari tulisan Josephus kita bisa tahu bahwa umat Kristen mempercayai bahwa Yesus benar-benar disalib oleh Pilatus dan bangkit pada hari ketiga (keyakinan-keyakinan ini ditolak Islam karena Islam memandang Yesus tidak pernah disalib dan tidak mati [tapi langsung diangkat ke Surga]).

Banyak pihak, terutama atheist, modernist, liberal, rationalist etc, yang mempertanyakan orisinalitas dari tulisan Josephus tesebut. Tanggapan atas kritikan mereka aku rasa dijawab cukup memuaskan di Early Historical Documents on Jesus Christ

Pliny the Younger (61-115 AD), dia adalah Gubernur Bithynia. Pada waktu itu Pliny menulis kepada kaisarnya Trajan bagaimana dia harus bersikap mengenai para Kristen yang hidup di daerah kekuasaannya. Berikut kutipan dari surat Pliny diambil dari Wikipedia:

Segera tuduhan-tuduhan tersebar, seperti yang biasanya terjadi, karena peristiwa yang terjadi, dan beberapa insiden terjadi. Sebuah dokumen tak bernama dipublikasikan mengandung nama banyak orang. Mereka yang mengingkari bahwa mereka adalah ataupun pernah menjadi Kristen, ketika mereka berseru kepada ilah-ilah yang aku diktekan, mempersembahkan doa dengan wewangian dan anggur kepada gambarmu (“mu” = “Kaisar Trajan”), yang aku perintahkan untuk dibawakan untuk tujuan ini bersama dengan patung-patung ilah dan [mereka yang mengingkari sebagai seorang Kristen ataupun pernah menjadi Kristen] juga mengutuki Kristus-tidak ada satupun yang benar-benar umat Kristen, dikatakan, tidak bisa dipaksa untuk melakukannya (“nya” = “berseru kepada ilah-ilah seperti yang didikte Pliny, mempersembahkan doa dengan wewangian dan anggur kepada gambar kaisar, menyembah patung, mengutuki Kristus”)-mereka ini (umat yang benar-benar Kristen), aku pikir, harus dipecat. Beberapa yang lain yang disebutkan oleh informan menyatakan bahwa mereka adalah Kristen, namun kemudian mengingkarinya, [mereka] mengatakan bahwa mereka dulunya [Kristen] tapi sekarang tidak lagi, tiga tahun yang lalu, yang lain banyak tahun sebelumnya, yang lain lagi selama 25 tahun. Mereka semua [yang mengaku sudah tidak Kristen lagi] menyembah gambarmu (“mu” = “Kaisar Trajan”) dan patung ilah-ilah, dan mengutuki Kristus.Mereka (para mantan Kristen) menilai, bagaimanapun, bahwa jumlah dan substansi dari kesalahan atau kekeliruan mereka adalah bahwa mereka terbiasa berjumpa di satu hari tertentu sebelum fajar dan menyanyi bertanggapan kepada Kristus sebagai satu ilah dan mengikat diri mereka sendiri dalam suatu sumpah, tidak untuk beberapa tindakan kriminal (catatan: tentu saja umat Kristen tidak akan mengikat diri kepada tindakan-tindakan tertentu yang oleh pihak Romawi dipandang sebagai tindakan kriminal ex: tidak memuja ilah Romawi adalah tindakan kriminal), tapi tidak untuk melakukan penipuan, pencurian atau perzinahan, atau memalsukan tanggungjawab mereka, atau menolak untuk mengembalikan sebuah tanggungjawab ketika dipanggil untuk melakukannya. Ketika semua ini selesai, adalah kebiasaan mereka untuk pergi dan berkumpul lagi untuk mengambil makanan-tapi hanya makanan biasa dan wajar. Bahkan ini (semua diatas), mereka (para mantan Kristen) akui, mereka telah tidak melakukan lagi setelah peraturanku, sesuai instruksi anda (Kaisar Trajan), dimana aku telah melarang asosiasi politis. Sesuai dengan itu, Aku memutuskan perlunya untuk mengetahui kebenarannya dengan menyiksa dua budak perempuan yang disebut diakones (catatan: jaman dahulu pelayan Gereja perempuan disebut diakones. Mereka tidak ditahbis seperti diakon). Tapi aku tidak menemukan apapun kecuali keputusasaan dan takhyul berlebih.

Disini kita lihat bahwa dalam laporannya Pliny telah mendapat sedikit informasi tentang kepercayaan dan ritual umat Kristen dari para mantan Kristen (karena orang Kristen yang tidak murtad tampaknya bungkam meskipun mereka disiksa). Kita ketahui bahwa para mantan Kristen ini berkesaksian bahwa para orang Kristen menganggap Yesus adalah Allah, karena itulah umat Kristen menolak menyembah patung ilah-ilah dan menyembah kaisar Trajan.

Lucian dari Samosata, seorang filsuf Yunani tahun 100-an masehi menuliskan (sumber:

Umat Kristen, kau tahu, menyembah seorang manusia sampai saat ini – pribadi yang mahsyur tersebut yang memperkenalkan ritus-ritus baru, dan disalibkan karenanya… Kau tahu, mahkluk-mahkluk tersesat ini mulai dengan keyakinan umum bahwa mereka adalah abadi selamanya, yang menjelaskan tak takutnya mereka akan kematian dan pengabdian pribadi yang sukarela yang begitu umum dikalangan mereka; dan ditekankan kepada mereka oleh pemberi-hukum awal mereka bahwa mereka semua adalah saudara, sejak mereka ditobatkan [menjadi Kristen], dan [sejak mereka] mengingkari dewa-dewa Yunani, dan menyembah orang bijak yang disalibkan, dan hidup menurut hukumnya. Semua ini mereka amat mengimani, dan hasilnya adalah mereka jijik terhadap semua benda-benda duniawi, menganggap [benda-benda duniawi] yang mereka punyai sebagai milik bersama Lucien of Samosata, “Death of Pelegrine,” The Works of Lucian of Samosata, 4 vols. Trans. By H.W. Fowler and F.G. Fowler, Clarendon Press, 1949, 11-13.

Iman akan ke-Allah-an Yesus jelas terlihat di tulisan Lucian. Terlihat juga semangat dari Kis 4:32-34 akan saling berbagi antar jemaat Kristen.

Celsus, seorang penulis anti-Kristen pada abad ke 2 (tahun 100-an masehi). Celsus menulis buku berjudul True discourse yang ditulis pada 170 masehi. Karya tersebut sudah hilang namun kita masih dapat potongan-potongan dari karya tersebut karena Origen, salah seorang Bapa Gereja Awal, mengutip tulisan anti-Kristen Celsus dan menyanggahnya di buku Origen sendiri Contra Celsum, book I, Chapter XXVIII, XXXVIII (diterjemahkan “Melawan Celsus”).Berikut kutipan dari buku Celsus sebagaimana dikutip Origen, yang menunjukkan bahwa umat Kristen awal mengimani Yesus sebagai Allah (aku hanya kutip bagian yang dikutip Origen dari buku Celsus):

…”[Yesus] mengarang kelahirannya dari seorang perawan,” … “[Yesus] lahir di satu desa Yahudi, dari seorang wanita miskin di negara tersebut, yang mendapatkan nafkah hidup dengan merajut, yang ditolak oleh suaminya sendiri, seorang tukang kayu, karena dia tertuduh sebagai seorang pezina; setelah diusir oleh suaminya, dan berkelana beberapa waktu, dia (ibu Yesus) secara memalukan melahirkan Yesus, sebagai seorang anak tak sah, [dimana Yesus] yang bekerja sebagai pelayan di Mesir karena kemiskinannya, dan mendapatkan kekuatan ajaib yang dibanggakan kaum Mesir, kembali ke negaranya (“nya” = “Yesus”), disanjung karenanya (“nya” = “kekuatan ajaib yang didapatkan Yesus dari Mesir”), dan olehnya (“nya” = “kekuatan ajaib yang didapatkan Yesus dari Mesir”), menyatakan dirinya (“nya” = “Yesus”) sebagai Allah.

Dari tulisan Celsus yang penuh kebencian dan menyindir tersebut kita bisa lihat bahwa Celsus sendiri tahu bahwa Yesus menyatakan diri sebagai Allah, meskipun menurut Celsus ke-Allah-an Yesus itu hanya dikarenakan Yesus telah belajar sihir dari orang-orang Mesir.

Berikut tambahan dari Catholic Encyclopedia: The Incarnation yang memuat beberapa penulis non-Kristen lainnya selain juga menyebutkan beberapa yang telah disebut diatas:

Pagan WritersTo the witness of these Fathers of the Apostolic and apologetic age, we add a few witnesses from the contemporary pagan writers. Pliny (A.D. 107) wrote to Trajan that the Christians were wont before the light of day to meet and to sing praises “to Christ as to God” (Epist., x, 97). The Emperor Hadrian (A.D. 117) wrote to Servianus that many Egyptians had become Christians, and that converts to Christianity were “forced to adore Christ”, since He was their God (see Saturninus, c. vii). Lucian scoffs at the Christians because they had been persuaded by Christ “to throw over the gods of the Greeks and to adore Him fastened to a cross” (De Morte Peregrini, 13). Here also may be mentioned the well-known graffito that caricatures the worship of the Crucified as God. This important contribution to archaeology was found, in 1857, on a wall of the Paedagogium, an inner part of the Domus Gelotiana of the Palatine, and is now in the Kircher Museum, Rome. After the murder of Caligula (A.D. 41) this inner part of the Domus Gelotiana became a training-school for court pages, called the Paedagogium (see Lanciani, “Ruins and Excavations of Ancient Rome”, ed. Boston, 1897, p. 186). This fact and the language of the graffito lead one to surmise that the page who mocked at the religion of one of his fellows has so become an important witness to the Christian adoration of Jesus as God in the first or, at the very latest, the second century. Thegraffito represents the Christ on a cross and mockingly gives Him an ass’s head; a page is rudely scratched kneeling and with hands outstretched in the attitude of prayer; the inscription is “Alexamenos worships his God” (Alexamenos sebetai ton theon). In the second century, too, Celsus arraigns the Christians precisely on this account that they think God was made man (see Origen, Against Celsus IV.14). Aristides wrote to the Emperor Antonius Pius (A.D. 138-161) what seems to have been an apology for the Faith of Christ: “He Himself is called the Son of God; and they teach of Him that He as God came down from heaven and took and put on Flesh of a Hebrew virgin” (see “Theol. Quartalschrift”, Tübingen, 1892, p. 535).Penulis Pagan

Bersama dengan kesaksian para Bapa [Gereja] pada jaman rasuli dan apologetik, kami menambahkan beberapa kesaksian dari para penulis pagan kontemporer. Pliny [the younger] (A. D. 107) menulis kepada Trajan bahwa umat Kristen sebelum terang hari punya kebiasaan bertemu dan menyanyikan pujian “kepada Kristus bagai kepada Allah” (Epist., x, 97). Kaisar Hadrian (A. D. 117) menulis kepada Servianus bahwa banyak orang Mesir yang menjadi Kristen, dan bahwa paraconvert Kristen ini “dipaksa menyembah Kristus”, karena Dia adalah Allah mereka (lihat Sturninus, c. vii). Lucian mengejek umat Kristen karena mereka telah dibujuk oleh Kristus “untuk membuang ilah-ilah Yunani dan menyembah Dia yang terlekat pada sebuah salib” (De Morte Peregrini, 13). Disini juga bisa disebut akan sebuah graffito terkenal yang meng-karikatur-kan penyembahan kepada si Tersalib bagai [seorang] Allah. Sumbangan penting bagi arkeolgi ini ditemukan, pada 1857, disebuah dinding Paedagogium, bagian dalam Domus Gelotania dari Palatine, dan sekarang ada di Musium Kircher, Roma. Setelah pembunuhan Caligula (A. D. 41) bagian dalam dari Domus Gelotiana menjadi sebuah sekolah pelatihan bagi pegawai kekaisaran, yang disebut Paedagogium (lihat Lanciani, “Puing-puing dan Galian-Galian Romawi Kuno”, ed. Boston, 1897, p. 186). Fakta ini dan bahasa dari grafitto menuntun kita untuk menyimpulkan bahwa seorang pegawai kekaisaran yang menghina agama dari salah seorang rekannya telah menjadi saksi yang penting bagi penyembahan Kristen atas Yesus sebagai Allah pada abad pertama, atau paling lambat pada abad kedua. Graffito tersebut menunjukkan Kristus di sebuah salib dan dengan mengejek memberikan Dia kepala keledai; seorang pegawai kekaisaran dilukiskan berlutut dengan tangan terentang dalam sikap doa; ada tulisan “Alexamenos menyembah Allahnya” (Alexamenos sebetai ton theon). Juga pada abad kedua Celsus menuduh umat Kristen justru atas tindakan seperti ini, [yaitu] mereka menganggap Allah dibuat menjadi manusia (lihat Origen, “Against Celsus“, IV, 14; P. G., XI, 1043). Aristides menulis kepada kaisar Antonius Pius (A.D. 138-161) [suatu] yang tampaknya adalah apologia bagi Iman akan Kristus, [tulisnya]: “Dia sendiri dipanggil Putra allah; dan mereka mengajarkan akan Dia bagaikan Dia adalah Allah yang datang dari surga dan mengambil dan memakai Daging dari seorang perawan Ibrani” (lihat “Theol. Quartalschrift”, Tübingen, 1892, p. 535).

Rasanya sudah cukup bukti dari para umat Kristen awal dan sejarahwan non-Kristen sendiri yang menyatakan bahwa iman umat Kristen sejak dari dulu sampai sekarang adalah Yesus itu adalah Allah.

4 komentar

  1. bukti bukti yang di ambil dari kitab yang mana?? bukannya kitab Bible berbeda-beda??? [Bukankah sudah jelas dalam artikel ini? Anda tahu apa itu alkitab/bible dan injil? – Cornelius]

  2. Terima kasih atas informasinya.
    Sangat membantu untuk mengenal Allah dalam rupa Yesus Kristus, sang Allah Putra :)
    Semoga dapat mencerahkan kehidupan kita bersama.

  3. terima kasih untuk tulisan dan ulasan yang disampaikan secara rapi dan jelas. banyak informasi yang saya dapat di dalamnya. Gbu and fam abundantly!

  4. Roni Lette · · Balas

    trims bt tulisanx….sy mndapat byk pengetahuan ttg Yesus Sang Allah Putera.

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: