Orang Baik, Orang Jahat, Kebenaran dan Kebohongan

NB : Penekanan merah berasal dari penerjemah.

oleh Jennifer Fulwiler

Terpahat di bagian depan gedung utama universitasku adalah kutipan ini :

ENGKAU AKAN MENGETAHUI KEBENARAN DAN KEBENARAN AKAN MEMBEBASKANMU

Aku melihatnya minimal sekali sehari selagi aku berjalan diantara kelas-kelas. Aku tidak tahu darimana mereka mendapat perkataan itu, tapi aku menyukainya. Terdengar sesuatu yang benar dari perkataan itu, walaupun aku tidak tahu apa itu. Bagaimana kebenaran membebaskanmu? Aku mengerti bagaimana kebenaran membuatmu lebih berpengetahuan atau terdidik…tapi membebaskan? Apa hubunganya memahami e = mc² atau mengetahui berat molecular benzena dengan kebebasan?

Sementara itu, apa yang aku pikirkan adalah pemikiran yang sama sekali tidak berhubungan, aku terus dibingungkan oleh keseluruhan hal tentang agama. Bahkan jika orang-orang perlu memberitahu kisah mereka tentang malaikat atau kehidupan setelah kematian atau apapun yang membuat mereka merasa lebih baik, mengapa menyibukkan diri dengan semua aturan? Lihat aku : Aku orang baik tanpa membeli tahayul religius dengan semua dogmanya yang bersifat opresif.

Bagian terkahir adalah bagian fundamental dari pandanganku tentang dunia : gagasan bahwa ada “orang baik” dan “orang jahat” dan bahwa (whew!) aku adalah salah satu orang baik. Tentu aku tahu bahwa kadang-kadang orang baik melakukan yang jahat, dan sebaliknya, tapi aku yakin bahwa ada tingkat kejahatan tertentu yang hanya dilakukan “orang jahat”, bahwa ada suatu garis tak kasat mata yang hanya seseorang yang secara fundamental berbeda dari aku yang bisa menyebranginnya. Ketika aku mendengar tentang peristiwa mengerikan di berita atau membaca tentang kekejaman sejarah, aku mendengar perbuatan-perbuatan yang dilakukan orang-orang yang secara keseluruhan “berbeda” – mereka adalah orang jahat yang sungguh melakukan kejahatan, dan tidak mungkin orang baik seperti aku dan teman-temanku memahami bagaimana dan alasan dibalik tindakan mereka.

Mungkin satu dari perubahan paradigma terbesar yang aku alami dalam hidupku terjadi setelah aku menyelidiki kekristenan dan aku menyadari : tidak ada yang namanya “orang baik” dan “orang jahat”. Tidak dalam caraku memikirkannya.

Selagi aku mempelajari kekristenan, aku menemukan bahwa agama ini mengklaim untuk memberikan kebenaran objektif tentang kehidupan dan dunia, termasuk hal-hal apa yang benar dan salah. Aku mengakuinya, bahwa artikulasinya terhadap aturan moral misterius yang tertanam dalam hati manusia bahwa kita semua sadar bahwa hal itu [aturan moral] tidak bisa berasal dari dunia material sendiri. Aku menjadi yakin akan klaimnya bahwa aturan moral mendapatkan informasi dari Sesuatu diluar kemanusiaan, bahwa Sesuatu itu mengkomunikasikan kebenaran tentang dunia dari Sang Tunggal yang menciptakannya

Selagi aku menulis post ini, pemahaman ini bahwa ada kebenaran objektif dalam bidang moral menuntunku untuk memahami alasan bahwa iblis disebut Bapa Kebohongan : hampir setiap orang tidak pernah berkata “Aku akan melakukan sesuatu yang jahat hari ini, dan aku tidak ada masalah dengan itu”. Satu-satunya cara setiap dari kita melakukan yang jahat adalah dengan menceritakan diri kita sebuah kisah untuk membenarkan perbuatan jahat. Kita semua adalah “orang baik” yang dipukul mundur oleh kejahatan…sehingga satu-satunya cara kejahatan bisa bekerja adalah mendefinisikan kembali dirinya sebagai sesuatu yang tidak jahat sama sekali. Segera setelah aku mempelajari ini, aku segera melihatnya dalam pekerjaanku dalam kehidupan sehari-hari : Aku tidak bergosip, hanya menyampaikan informasi relevan; Aku tidak malas, aku hanya tidak punya waktu untuk membersihkan rumah; Aku tidak jahat dan kasar, aku hanya merespon pada orang kasar dengan cara yang pantas baginya untuk ditanggapi. Dan seterusnya.

Aku teringat semuanya pagi ini ketika aku melihat video-singkat-yang-harus-dilihat tentang album foto staf dariAuschwitz (kamu bisa melihat semua fotonya disini). Gambar diatas adalah satu dari banyak yang berasal dari on-site retreat untuk kamp pekerja. Di foto lain kamu melihat mereka tersenyum, tertawa, bersantai di kursi sofa. Ada foto sekelompok orang gembira yang bernyanyi termasuk kepala pegawai kamp konsentrasi, kepala kamp wanita, dan supervisor aula gas.

Kembali dalam hari-hari kampusku, ketika aku berjalan melalui pahatan itu dan bingung dengan maknanya, aku memikirkan diriku seabagi orang yang secara fundamental berbeda dari orang-orang di foto ini. Mereka orang jahat; aku orang baik. Sekarang aku mengerti, tidak ada perbedaan ontologis diantara aku dan pegawai yang tersenyum di foto Auschwitz itu; perbedaan tidak kurang atau lebih daripada cerita yang kita katakan pada diri kita tentang apa yang terjadi dalam latar belakang itu. Apakah kita orang baik atau buruk dapat berubah-ubah dari hari ke hari, dari waktu ke waktu, bergantung pada jumlah kebohongan yang kita ijinkan diri kita untuk mempercayainya. Dan, seperti wajah ceria dalam foto itu, tidak ada batasan terhadap tingkat kejahatan yang orang biasa dapat jatuh dalam dukungan jika tekanan cukup tinggi dan kebohongan cukup membahayakan. Bukan bermaksud bahwa aku percaya setiap orang bisa bekerja di Auschwitz jika mereka berada di tempat yang tepat di waktu yang tepat. Namun perbedaan diantara mereka bukan perbedaan orang baik VS orang jahat; itu hanya masalah siapa yang bisa melihat kebenaran ditengah tekanan yang luar biasa untuk mempercayai kebohongan.

Tanpa Allah – atau, untuk membahasakannya dengan cara yang lain, tanpa kebenaran objektif – kita adalah pelaut tanpa kompas, berusaha bergantung pada insting untuk melayari air yang bergejolak. Hal ini mungkin berhasil suatu waktu, seperti yang dibuktikan oleh sejumlah orang tak beriman yang memang “orang baik” hampir sepanjang waktu. Tapi hal ini membuat kita lemah terhadap kekuatan legion yang berusaha untuk mengemudikan kita, dan ini hampir tidak mungkin untuk menempuh badai besar. Jika kita tidak tahu kebenaran tentang siapa kita, mengapa kita disini, darimana kita datang dan kemana kita akan pergi, kita berada pada dasar yang rapuh untuk memulai; dan ketika kita menyangkal keberadaan kebenaran objektif tentang hal yang baik dan jahat, apa yang benar dan salah, kita kehilangan kendali terhadap kehidupan kita sendiri. Semakin jauh kita menghindari kebenaran, semakin dekat kita menjadi budak mereka sekarang, suara pembunuhan jiwa, dengan nama-nama seperti Nafsu dan Ketamakan, Kekuasaan dan Keegoisan dan Status, yang berbisik di telinga kita,” Tidak masalah, lakukan saja. Tidak ada yang salah dengan itu”

Ketika aku seorang atheis, aku berpikir bahwa aku lebih bebas dari mereka yang percaya pada Allah. Meskipun demikian, aku tidak memiliki semua aturan aneh untuk menghalangiku. Sekarang aku menyadari bahwa “aturan-aturan” yang tampak aneh sesungguhnya adalah seperangkat peralatan, kunci untuk membuka belenggu dosa, sebuah kompas dan peta untuk berlayar dalam air yang bergejolak yang kita temukan dalam diri kita. Sekarang aku menyadari tidak hanya darimana tulisan yang terpahat itu berasal, tapi juga maknanya. Mengetahui Allah, berarti mengetahui kebenaran. Tanpa kebenaran, kita tidak akan pernah menjadi bebas.


Jennifer Fulwiler dulunya  adalah seorang atheist  Setelah ia mempelajari kekristenan, ia bertobat dan menjadi katolik pada tahun 2007. Kisahnya bisa dibaca di sini (silakan klik). Ia juga pemilik blog Conversion Diary

Sumber

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: