25 Juli 2008. Ulang Tahun ke 40 Ensiklik Humanae Vitae

NB : Tulisan berikut pertama kali terbit tahun 2008 saat Ultah ke 40 Ensiklik Humanae Vitae (sekarang ultah ke 43). Diposting kembali karena isinya masih relevan dan menarik untuk diperhatikan

ADDRESS OF HIS HOLINESS BENEDICT XVI
TO PARTICIPANTS IN THE INTERNATIONAL CONGRESS
ORGANIZED BY THE PONTIFICAL LATERAN UNIVERSITY
ON THE 40th ANNIVERSARY OF THE ENCYCLICAL ‘HUMANAE VITAE’

Aula Clementine,

Sabtu, 10 Mei 2008

Di dalam Konstitusi Pastoral mengenai Gereja di Dunia modern, Gaudium et Spes, Konsili Vatikan kedua telah menunjuk ilmuwan, menghimbau mereka untuk menggabungkan diri untuk mencapai kesatuan di dalam pengetahuan dan kepastian yang diperkuat mengenai kondisi-kondisi yang dapat menyokong ” peraturan kelahiran yang sesuai” ( n. 52). Pendahulu Ku yang patut dimuliakan, Hamba Tuhan Paulus VI, menerbitkan Ensikliknya Humanae Vitae pada tanggal 25 Juli 1968. Dokumen ini dengan sangat segera menjadi suatu tanda pertentangan. yang membuat garis besar Untuk membicarakan suatu situasi sulit, [Humanae Vitae] menunjukkan keberanian yang penting dalam menekankankesinambungan Tradisi dan Doktrin Gereja. Teks ini, juga sering disalah mengerti dan disalahtafsirkan, juga mencetuskan banyak diskusi karena [Humanae Vitae] telah diterbitkan pada awal konstentasi yang amat dalam yang menandai hidup keseluruhan generasi. Empatpuluh tahun setelah penerbitan nya ajaran ini tidak hanya menyatakan kebenarannya yang tidak berubah tetapi juga mengungkapkan kebijaksanaan dengan mana masalah diperlakukan. Sesungguhnya, kasih yang berhubungan perkawinan diuraikan di dalam suatu proses global tidak berhenti pada pembagian antara jiwa dan tubuh dan tidaklah diperlakukan untuk semata-mata perasaan, sering genting dan berbahaya, tetapi lebih mempunyai tanggung jawab pada kesatuan orang dan total pembagian pasangan yang, di dalam penerimaan timbal balik mereka, penawaran diri mereka di dalam suatu janji tentang kasih eksklusif dan setia yang mengalir dari suatu pilihan kebebasan yang sejati. Bagaimana mungkin kasih seperti itu mendekat kepada hadiah kehidupan? Hidup adalah selalu suatu hadiah yang berharga; setiap kali kita menyaksikan permulaan kehidupan kita melihat kekuatan dari tindakan kreatif Allah yang mempercayai manusia dan memanggilnya untuk membangun masa depan dengan kekuatan harapan.
Magisterium Gereja tidak dapat dibebaskan dari gambaran dalam sebuah jalan yang baru dan lebih dalam mengenai prinsip-prinsip fundamental mengenai perkawinan dan prokreasi. Apa yang benar kemarin adalah benar juga hari ini. Kebenaran menyatakan Humanae Vitae tidak berubah, sebaliknya, dengan tepat dipandang dari sudut penemuan ilmiah yang baru, pengajaran nya menjadi lebih tepat waktu dan menimbulkan cerminan atas nilai yang hakiki. Kata kunci untuk memasuki dengan jelas kedalam isinya tetaplah “kasih”. Seperti yang aku tulis dalam Ensiklik pertamaku Deus Caritas Est, “pribadi manusia menjadi dirinya sendiri, ketika badan dan jiwanya secara utuh menyatu; Akan tetapi bukan hanya jiwa belaka atau tubuh belaka yang dikasihi: adalah pribadi manusia, ciptaan utuh yang terdiri dari jiwa dan badan, yang dikasihi.” (n.5). Jika kesatuan ini dipindahkan, nilai pribadi manusia hilang dan ada sebuah resiko yang serius mempertimbangkan tubuh adalah sebuah komoditas yang dapat dibeli atau dijual (cf. ibid) Dalam suatu kebudayaan yang diarahkan kepada kelaziman “ mempunyai” daripada “menjadi”, hidup manusia beresiko kehilangan nilai nya.(In a culture subjected to the prevalence of “having’ over “being’, human life risks losing its value. ) Jika praktek seksualitas menjadi suatu obat yang dicari-cari untuk memperbudak pasangan seseorang kepada minat dan keinginan diri sendiri, tanpa menghormati siklus yang terkasih, kemudian apa yang harus dipertahankan adalah tidak lagi konsep kasih yang benar tetapi yang utama adalah martabat orang . Sebagai yang percaya, kita tidak pernah dapat membiarkan dominasi teknologi membuat tidak berlakunya kualitas kasih dan kesucian hidup.

Bukanlah sebuah kebetulan bahwa Yesus, ketika berbicara mengenai kasih manusia, menyinggung apa yang diciptakan Tuhan pada awal penciptaan (bdk. Mat 19 : 4-6). Ajarannya mengarah kepada tindakan bebas yang mana Pencipta tidak hanya bermaksud untuk menyatakan kekayaan kasihnya yang terbuka, memberikan diriNya kepada semua manusia, tapi Ia juga ingin untuk menekankan diatasnya paradigma sesuai dengan tindakan ras manusia harus diturunkan. Dalam keberhasilan kasih yang berhubungan dengan perkawinan, pria dan wanita berbagi dalam tindakan kreatif Bapa dan membuat jelas bahwa pada permulaan kehidupan suami-istri mereka mengumumkan sebuah “ya” yang sejati yang mana sesungguhnya hidup dalam hubungan timbal balik, tetap terbuka kepada kehidupan. Sabda Tuhan ini dengan kebenaran yang amat dalam memikul ketidakberubahan dan tidak dapat dihapuskan oleh perbedaan teori-teori, yang telah berhasil, menggantikan satu sama lain dalam setahun, dan pada waktu-waktu yang bertentangan.Hukum kodrat, yang adalah akar pengakuan persamaan yang benar antara oknum-oknum dan orang-orang, berhak untuk dikenali sebagai sumber yang mengilhami hubungan antara suami-istri dalam tanggungjawab mereka untuk mendapatkan anak-anak baru. Penyebaran kehidupan tertulis dalam kodrat dan hukumnya sebagai norma yang tak tertulis yang harus diarahkan kepada semua manusia. Segala usaha untuk menolak dari prinsip ini dengan sendirinya mandul dan tidak menghasilkan sebuah masa depan.

Sayang sekali, lebih dan semakin banyak kita sering melihat peristiwa-peristiwa sedih yang melibatkan anak remaja, yang reaksinya menunjukkan ketidakbenaran pengetahuan mereka mengenai misteri kehidupan dan implikasi yang penuh resiko dari tindakan mereka. Kebutuhan yang mendesak tentang pendidikan yang sering aku arahkan, terutama mengenai tema kehidupan. Aku sungguh-sungguh berharap orang-orang muda khususnya akan diberikan perhatian yang sangat khusus sehingga mereka dapat belajar arti sebenarnya dari kasih dan bersiap-siap untuk menghadapinya dengan pendidikan yang tepat dalam seksualitas, tanpa membiarkan diri mereka dikacaukan oleh pesan yang berlangsung sebentar saja yang mencegah mereka dari pencapaian esensi kebenaran yang dipertaruhkan. Untuk mengedarkan ilusi-ilusi palsu dalam konteks kasih atau menipu orang-orang mengenai tanggung jawab yang sejati bahwa mereka dipanggil untuk memikul dengan penghikmatan seksualitas, mereka tidak melakukan penghormatan kepada masyarakat berdasarkan prinsip-prinsip kebebasan dan demokrasi. Kebebasan harus dihubungkan dengan kebenaran dan tanggung jawab dengan kekuatan pengabdian kepada yang lain, sekalipun dengan pengorbanan, tanpa komponen-komponen ini komunitas manusia tidak tumbuh dan resiko memasukkan dirinya sendiri dalam siklus kesesakan napas mengenai suatu egoisme adalah selalu ada.

Ajaran yang dinyatakan oleh Ensiklik Humanae Vitae tidak mudah. Namun [Humanae Vitae] sesuai dengan struktur fundamental yang mana hidup telah selalu disebarkan sejak penciptaan dunia, dengan rasa hormat kepada alam dan dalam konformitas dengan keperluannya. Mengenai kehidupan manusia dan usaha perlindungan martabat manusia memerlukan kita untuk tidak meninggalkan segala sesuatu yang belum dicoba sehingga semua dapat terlibat dalam kebenaran sejati mengenai kasih yang berhubungan dengan perkawinan dalam kesetiaan penuh kepada hukum yang terukir dalam hati setiap orang.

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: