Motu Proprio Summorum Pontificum

DeusVult : Terjemahan ini diterjemahkan dari versi Inggris semi-resmi yang ada diatas (versi Inggris “explanatory Note” memang berasal dari website Vatikan, tapi terjemahan tersebut sifatnya tidak resmi)

SURAT APOSTOLIK SUMORUM PONTIFICUM DARI PAUS TERTINGGI BENEDIKTUS XVI DIBERIKAN [ATAS] MOTU PROPIO (INISIATIFNYA SENDIRI)

Sampai saat ini, selalu menjadi kepedulian konstan dari Paus Tertinggi untuk menjamin bahwa Gereja Kristus menawarkan sebuah penyembahan yang layak kepada Keilahian Agung (Divine Majesty), ‘untuk memuji dan memuliakan namaNya,’ dan ‘untuk menguntungkan semua Gereja KudusNya.’

Sejak waktu lampau yang tak dapat diingat, selalulah perlu – sebagaimana juga untuk masa depan – untuk menjaga prinsip dimana ‘setiap Gereja partikular harus setuju dengan Gereja universal, tidak hanya dalam hal ajaran iman dan tanda-tanda sakramental, tapi juga dalam hal penggunaan-penggunaan (usages, catatan: maksudnya kira-kira “tata cara”) yang diterima secara universal oleh tradisi apostolik yang takterputuskan, yang harus dipatuhi tidak hanya untuk menghindari kesalahan tapi juga untuk meneruskan integritas iman, karena hukum doa Gereja berhubungan dengan hukum iman Gereja’ (1)

Diantara Paus yang menunjukkan kepedulian yang perlu itu, terutama yang mencolok, adalah nama St. Gregorius Agung, yang mengusahakan dengan segenap tenaga untuk menjamin agar orang-orang baru Eropa menerima baik iman Katolik serta harta karun penyembahan dan kebudayaan yang telah dikumpulkan oleh orang romawi pada abad-abad sebelumnya. Dia memerintahkan bahwa bentuk dari liturgi kudus seperti yang dirayakan di Roma (berkenaan dengan Korban Misa dan Divine Office) dipelihara. Beliau berkepedulian besar untuk menjamin penyebaran rahib-rahib dan biarawati-biarawati yang, mengikuti Aturan St. Benediktus bersamaan dengan pengabaran injil, memperlihatkan dengan kehidupan mereka penjagaan yang bijaksana dari Aturan mereka bahwa ‘tidak satupun yang harus ditempatkan didepan karya Allah.’ [catatan: maksudnya, selain mengabarkan injil, yang merupakan tugas utama, Paus St. Gregorius Agung juga menjaga agar para Benediktin tersebut tetap mempertunjukkan kekhasan dari Aturan St. Benediktus yang menjadi jati diri mereka]. Dengan cara ini liturgi kudus, yang dirayakan sesuai penggunaan Roma (Roman use), memperkaya tidak hanya iman dan kesalehan tapi juga budaya banyak orang. Telah diketahui, memang, bahwa liturgi Latin dari Gereja dalam berbagai bentuknya, disetiap abad dari era Kristen, telah mendorong kehidupan spiritual dari banyak para kudus, telah menguatkan banyak orang dalam kebajikan-kebajikan religius dan menumbuhkan kesalehan mereka.

Banyak Paus Roma lain, seiring berjalannya abad, menunjukkan ajakan/tawaran (solicitude) tertentu dalam menjamin bahwa liturgi kudus mencapai tugas ini [ie. mendorong kehidupan spiritual, menguatkan orang dalam kebajikan-kebajikan religius dan menumbuhkan kesalehan mereka] secara lebih efektif. Yang paling menonjol adalah St. Pius V yang, dikuatkan oleh keinginan pastoral dan mengikuti anjuran (exhortation) dari Konsili Trent, memperbaharui seluruh liturgi Gereja, mengawasi publikasi buku-buku liturgi yang di koreksi dan di-‘perbaharui sesuai dengan norma-norma dari para Bapa, ‘ dan menyediakannya bagi kegunaan Gereja Latin.

Salah satu buku-buku Liturgi dari Ritus Roma adalah Misa Roma, yang dikembangkan di kota Roma dan, dengan berlalunya abad, sedikit demi sedikit mengambil bentuk-bentuk yang mirip dengan apa yang telah dipunyainya pada waktu akhir-akhir ini.

‘Adalah karena tujuan yang sama ini maka para Paus Roma berikutnya mengerahkan energi mereka selama abad-abad selanjutnya untuk menjamin agar ritus-ritus dan buku-buku liturgi dibuat up to date dan kalau perlu diperjelas. Dari permulaan abad ini mereka [ie. ritus-ritus dan buku-buku liturgi] mengalami suatu reformasi yang lebih umum.’ (2) Karena itu para pendahulu kami Clement VIII, Urban VIII, St. Pius X (3), Benedict XV, Pius XII dan Yohanes XXIII Yang Berbahagia semuanya memainkan peran.

Di masa yang lebih akhir, Konsili Vatikan II mengekspresikan keinginan bahwa penghormatan khusuk yang patut bagi penyembahan ilahi harus diperbaharui dan diadaptasi untuk kebutuhan masa kita. Digerakkan oleh keinginan ini pendahulu kami, Paus Tertinggi Paulus VI, mengijinkan, pada 1970, reformasi dan memperbaharui sebagian buku-buku liturgis bagi Gereja Latin. [Buku-buku liturgis] ini, yang diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dunia, diterima oleh para Uskup, romo dan umat beriman. Yohanes Paulus II mengkoreksi edisi tipikal ketiga dari Misa Roma. Karenanya para Paus Roma telah bekerja untuk menjamin bahwa ‘pembangunan liturgi sejenis ini … harus muncul lagi [dan terlihat] cerah [karena] kehormatannya dan keharmonisannya.’ (4)

Tapi di beberapa daerah, tidak sedikit jumlah umat beriman yang menyukai (adhered) dan terus menyukai (adhere) dengan cinta dan sayang yang besar kepada bentuk-bentuk liturgis yang awal. [Bentuk-bentuk liturgis yang awal ini] telah begitu tertoreh dalam kebudayaan dan jiwa mereka sehingga pada 1984 Paus Tertinggi Yohanes Paulus II, digerakkan oleh kepedulian bagi pelayanan pastoral untuk umat beriman, dengan indult khusus ‘Quattuor abhinc anno,” mengeluarkan melalui Kongregasi Penyembahan Ilahi, ijin bagi penggunaan Misa Roma yang dipublikasikan oleh Yohanes XXIII Yang Berbahagia pada tahun 1962. Kemudian di tahun 1988, Yohanes Paulus II dengan Surat Apostolik yang diberikan sebagai Motu Proprio, ‘Ecclesia Dei,’ menganjurkan para Uskup untuk dengan dermawan menggunakan kuasa ini [ie. kuasa untuk memberi ijin pengadaan Misa Roma yang dipublikasikan oleh Yohanes XXIII Yang Berbahagia] bagi semua umat beriman yang menginginkannya.

Dengan mengikut doa tak kenal lelah dari para umat beriman [yang menyukai Misa Roma yang dipublikasikan Paus Yohanes XXIII Yang Berbahagia] ini, [dimana doa tersebut] sejak lama telah dipertimbangkan oleh Pendahulu Kami Yohanes Paulus II, dan setelah mendengarkan pandangan-pandangan dari para Bapa Kardinal dari Konsistori tanggal 22 Maret 2006, setelah merefleksikan secara dalam atas semua aspek dari pertanyaan, [dengan] memanggil Roh Kudus dan mempercayakan kepada bantuan Allah, dengan Surat Apostolik ini Kami menetapkan sebagai berikut

Art. 1 Misa Roma yang dipromulgasikan oleh Paulus VI adalah ekspresi biasa dari Lex orandi (hukum doa) dari Gereja Katolik Ritus Latin. Bagaimanapun, Misa Roma yang dipromulgasikan oleh St. Pius V dan di-issue-kan kembali oleh Yohanes XXIII Yang Berbahagia akan dianggap sebagai ekspresi luarbiasa dari Lek orandi yang sama [tersebut], dan harus diberi penghormatan yang selayaknya bagi kegunaannya yang terhormat (venerable) dan purba. Dua ekspresi dari Lex orandi Gereja ini tidak akan, dalam cara apapun, mengarah pada sebuah perpecahan dalam Lex credendi (Hukum kepercayaan/syahadat) Gereja. Mereka [Misa Paulus VI dan Misa St. Pius V], pada faktanya adalah dua penggunaan (usages) dari satu ritus Roma.

Karena itu, adalah diijinkan untuk merayakan Korban Misa dengan mengikuti edisi tipikal dari Misa Roma yang dipromulgasikan oleh Yohanes XXIII Yang Berbahagia pada 1962 dan tidak pernah dibatalkan (abrogated), sebagai suatu bentuk luarbiasa dari Liturgi Gereja. Kondisi-kondisi [atau syarat-syarat] untuk penggunaan Misa ini seperti yang ditetapkan di dokumen sebelumnya Quattuor abhinc annis dan Ecclesia Dei, diganti sebagai berikut:

Art. 2 dalam Misa yang dirayakan tanpa orang [ie. kongregasi], setiap imam/romo (priest) dari ritus Latin, baik sekular maupun regular, boleh menggunakan Misa Roma yang dipublikasikan oleh Paus Yohanes XXIII Yang Berbahagia pada 1962, atau Misa Roma yang dipromulgasikan oleh Paus Paulus VI pada 1970, dan bisa melakukannya pada hari apapun dengan pengecualian pada Tridum Paskah. Untuk perayaan-perayaan seperti itu, baik dengan satu Misa atau yang lain, imam/Romo (priest) tidak memerlukan ijin dari Tahta Apostolik atau dari Ordinari-nya.

Art. 3 Komunitas dari Institut hidup terkonsekrasi dan [komunitas dari] Masyarakat (Society)hidup apostolik, baik dari kepausan maupun dari keuskupan, yang ingin merayakan Misa sesuai dengan edisi Misa Roma yang dipromulgasikan pada 1962, untuk perayaanconventual atau “komunitas” di oratori mereka, bisa melakukannya. Jika sebuah komunitas individu atau seluruh Institusi atau Masyarakat (Society) berkeinginan untuk melakukan perayaan seperti itu dengan lebih sering, [menjadikannya sebuah] kebiasaan atau secara permanen, [maka] keputusan itu harus dibuat oleh Superiors Major, sesuai dengan hukum dan mengikuti statuta dan dekrit spesifik mereka.

Art. 4 Perayaan Misa seperti yang disebut di art. 2 boleh – dengan mengikuti semua norma hukum – juga dihadiri oleh umat beriman yang, karena kehendak bebas mereka sendiri, meminta untuk diijinkan ikut.

Art. 5 § 1 Di paroki-paroki dimana ada satu kelompok umat beriman yang stabil [jumlahnya] yang suka (adhere) terhadap tradisi liturgi yang lebih awal, para pastor harus berkehendak untuk menerima permintaan mereka untuk merayakan Misa sesuai dengan ritus Misa Roma yang dipublikasikan pada 1962, dan menjamin bahwa kesejahteraan para umat beriman ini [berada dalam] harmoni dengan pelayanan pastoral biasa dari paroki tersebut, dibawah pengarahan Uskup sesuai dengan kanon 392, [untuk] menghindari perselisihan dan mengutamakan (favouring) kesatuan dari Gereja keseluruhan.

§ 2 Perayaan sesuai dengan Misa Yohanes XXIII Yang Berbahagia bisa diadakan pada hari-hari kerja; sementara pada Minggu dan hari raya-hari raya satu perayaan seperti itu juga bisa diadakan.

§ 3 Bagi umat beriman dan romo-romo yang menginginkannya, sang pastor juga harus mengijinkan perayaan dalam bentuk luarbiasa ini bagi peristiwa spesial seperti perkawinan, pemakaman atau perayaan tertentu [lainnya], misalnya, peziarahan.

§ 4 Romo-romo yang menggunakan Misa Yohanes XXIII Yang Berbahagia harus mempunyai kualifikasi untuk melakukannya dan tidak terhalangi secara yuridis.

§ 5 dalam gereja-gereja yang bukan paroki atau gereja conventual, adalah tugas dari Rektor Gereja untuk memberikan ijin seperti diatas.

Art. 6 dalam Misa yang dirayakan dengan kehadiran orang-orang sesuai Misa Yohanes XXIII Yang Berbahagia, bacaannya boleh diberikan dalam bahasa ibu, menggunakan edisi yang diakui oleh Tahta Suci.

Art. 7 Jika sebuah kelompok umat beriman awam, seperti yang disebut di art. 5 § 1, tidak mendapatkan kepuasan atas permintaan mereka dari sang pastor, mereka harus menginformasikan kepada uskup [dari keuskupan yang bersangkutan]. Uskup diminta dengan sangat untuk memuaskan keinginan mereka. Jika dia [Uskup] tidak bisa mengatur agar perayaan [Misa Roma 1962] diadakan, masalah ini harus diacukan/diarahkan kepada Komisi Kepausan “Ecclesia Dei”.

Art. 8 Seorang Uskup yang, berkeinginan untuk memuaskan permintaan seperti itu, tapi yang karena berbagai alasan tidak dapat melakukannya, boleh mengacu/mengarahkan masalah tersebut kepada Komisi “Ecclesia Dei” untuk mendapatkan bimbingan dan bantuan.

Art. 9 § 1 Para pastor, setelah dengan cermat memeriksa semua aspek, juga boleh memberikan ijin untuk menggunakan ritual yang lebih awal untuk adminstrasi sakramen Baptis, Perkawinan, Tobat dan Perminyakan, jika kebaikan jiwa-jiwa tampak memerlukannya.

§ 2 Para Ordinari diberikan hak untuk merayakan Sakramen Krisma dengan menggunakanRoman Pontifical yang lebih awal, jika kebaikan jiwa-jiwa tampak memerlukannya.

§ 2 Klerus yang ditahbis “in sacris constitutis” boleh menggunakan Roman Breviary yang dipromulgasikan olehYohn XXIII Yang Berbahagia pada 1962.

Art. 10 Ordinari dari tempat tertentu, jika dia merasa patut, boleh mendirikan sebuah paroki pribadi sesuai dengan can. 518 untuk perayaan-perayaan mengikuti bentuk purba dari ritus Roma, atau menunjuk chaplain, sementara menaati semua norma-norma hukum.

Art. 11 Komisi Kepausan “Ecclesia Dei”, yang didirikan oleh Yohanes Paulus II pada 1988, tetap melakukan fungsinya. Komisi tersebut akan mendapat bentuk, tugas dan norma-norma seperti yang diinginkan Paus Roma untuk diberikan pada mereka.

Art. 12 Komisi ini, terlepas dari kuasa yang dimilikinya, akan men-daya-kan (exercise) otoritas dari Tahta Suci, [yaitu] mengawasi kepatuhan dan aplikasi dari disposisi-disposisi ini.

Kami memerintahkan bahwa apa yang Kami tetapkan dengan Surat Apostolik yang dikeluarkan sebagai Motu Propio dianggap sebagai “tertetapkan dan terdekritkan”, dan akan dijalankan dari 14 September tahun ini, [pada] Perayaan Pengangkatan salib, whatever there may be to the contrary (catatan: sebuah ungkapan yang aku gak tahu apa artinya).

Dari Roma, di St Petrus [Basilika], 7 Juli 2007, tahun ketiga dari Kepausan Kami.

(1) Instruksi Umum Misa Roma, edisi ke-3., 2002, no. 397.

(2) Yohanes Paulus II, Surat Apostolik “Vicesimus quintus annus,” 4 Desember 1988, 3: AAS 81 (1989), 899.

(3) Ibid.

(4) St. Pius X, Surat Apostolik Motu propio data, “Abhinc duos annos,” 23 Oktober 1913: AAS 5 (1913), 449-450; cf Yohanes Paulus II, Surat Apostolik “Vicesimus quintus annus,” no. 3: AAS 81 (1989), 899.

(5) Cf Yohanes Paulus II, Surat Apostolik Motu proprio data “Ecclesia Dei,” 2 Juli 1988, 6: AAS 80 (1988), 1498.

 

SURAT SRI PAUS BENEDITUS XVI KEPADA PARA USKUP DALAM RANGKA PUBLIKASI SURAT APOSTOLIK “MOTU PROPRIO DATA” SUMMORUM PONTIFICUM BERKENAAN DENGAN PENGGUNAAN LITURGI ROMA SEBELUM PEMBAHARUAN PADA 1970

Saudara Uskup-Uskupku terkasih,

Dengan kepercayaan dan harapan tinggi, aku mempercayakan kepada kalian sebagai Pastor-Pastor, teks dari Surat Apostolik baru “Motu Proprio data” berkenaan dengan penggunaan liturgi Roma sebelum pembaharuan pada 1970. Dokumen tersebut adalah buah dari banyak refleksi, banyak konsultasi dan doa.

Laporan-laporan berita dan penghakiman-penghakiman yang dibuat tanpa informasi yang cukup telah menciptakan kebingungan yang tidak sedikit. Ada banyak reaksi yang berbeda, dari penerimaan yang gembira sampai perlawanan yang kasar, berkenaan dengan sebuah rencana yang isi nyatanya masih belum diketahui.

Dokumen ini paling ditentang secara langsung karena dua ketakutan, yang ingin aku bahas secara lebih dekat di surat ini.

Pertama-tama, ada ketakutan bahwa dokumen ini mengurangi otoritas dari Konsili Vatikan II, dimana keputusan penting [dari konsili tersebut] – yaitu pembaharuan liturgi – dipertanyakan.

Ketakutan ini tidak berdasar. Dalam hal ini, pertama mesti dikatakan bahwa Misa yang dipublikasikan oleh Paulus VI dan kemudian di publikasikan kembali dalam dua edisi berturut oleh Yohanes Paulus II, jelas-jelas dan terus menjadi Bentuk normal – the Forma ordinaria – dari Liturgi Ekaristi. Sekarang, Versi terakhir dari Missale Romanum sebelum Konsili [Vatikan II] akan bisa digunakan sebagai sebuah Forma extraordinaria dari perayaan liturgis. Tidaklah patut untuk berbicara mengenai dua versi dari Misa Roma ini seakan-akan mereka adalah “dua ritus”. Namun, ini adalah masalah dua lapis penggunaan (use) dari ritus yang satu dan sama.

Dan mengenai penggunaan Misa 1962 sebagai Forma extraordinaria dari Liturgi Misa, aku ingin menarik perhatian kepada fakta bahwa Misa ini tidak pernah dibatalkan secara yuridis dan, konsekuensinya, selalu diijinkan. Pada saat pengenalan Misa yang baru [ie. Misa Paulus VI 1970], tidak dirasa perlu untuk mengeluarkan norma-norma [ie. aturan-aturan] spesifik bagi kemungkinan penggunaan Misa yang lebih awal [ie. Misa 1962]. Mungkin [kala itu] dipikir bahwa [hal tersebut] akan merupakan masalah beberapa kasus individu yang akan terselesaikan kasus per kasus pada tingkat lokal. Setelah itu, bagaimanapun, cepat menjadi jelas bahwa sejumlah besar orang tetap terikat kuat dengan penggunaan Misa ritus Roma [yang lebih awal] ini, yang akrab bagi mereka sejak dari kecil. Ini terutama merupakan kasus di negara-negara dimana gerakan liturgis telah menyediakan kepada banyak orang sebuah formasi liturgis dan keakraban yang dalam dan [bersifat] pribadi terhadap Bentuk awal dari perayaan liturgis [tersebut]. Kita semua tahu bahwa, di gerakan yang dipimpin oleh Uskup Agung Lefebvre, kesetiaan kepada Misa lama menjadi tanda identitas eksternal; alasan-alasan bagi perpecahan yang timbul karena ini, bagaimanapun, terletak pada tingkat yang lebih dalam [dari sekedar kesetian kepada Misa lama]. Banyak orang yang dengan jelas menerima karakter mengikat dari Konsili Vatikan II dan setia kepada Paus serta Uskup-Uskup, tapi masih ingin untuk kembali kepada bentuk liturgi Kudus yang berkesan bagi mereka. Ini terjadi, diatas segalanya, karena di banyak tempat, perayaan-perayaan [dengan Misa Paulus VI] tidak taat kepada preskripsi Misa baru tersebut, namun yang sebelumnya [catatan: aku kurang tahu “yang sebelumnya” apa, mungkin “Misa Paulus VI”] dipahami [sebagai sesuatu] yang mengijinkan atau bahkan memerlukan kreativitas, [dimana hal-hal tersebut] sering berujung kepada deformasi liturgi yang sulit untuk diterima. Aku berbicara dari pengalaman[ku], karena aku juga hidup melalui periode [Misa Paulus VI] dengan harapan-harapannya dan kebingungannya. Dan aku telah melihat bagaimana deformasi yang rancu atas liturgi menyebabkan kesakitan yang dalam kepada individu-individu yang berakar dalam iman Gereja.

Paus Yohanes Paulus II, karenanya, merasa wajib untuk menyediakan di Motu Proprio Ecclesia Dei (2 Juli 1988), aturan-aturan bagi penggunaan Misa 1962; dokumen itu, bagaimanapun, tidak mengandung preskripsi detail tapi memohon (appealed) secara umum kepada kedermawanan tanggapan para Uskup atas “aspirasi sah” dari anggota-anggota umat beriman yang meminta penggunaan Misa Roma ini. Pada saat itu, sang Paus utamanya ingin membantu Society of Saint Pius X untuk kembali pada persekutuan penuh dengan Penerus Petrus, dan berusaha mengobati luka menyakitkan yang diderita. Sayangnya rekonsiliasi ini belum terjadi. Bagaimanapun, beberapa komunitas telah dengan rasa terima kasih memanfaatkan kemungkinan-kemungkinan yang diberikan oleh motu Propio [dari Yohanes Paulus II]. Disisi lain, masih ada kesulitan-kesulitan mengenai penggunaan Misa 1962 diluar kelompok-kelompok ini, karena kurangnya norma-norma yuridis yang tepat, terutama karena para Uskup, pada kasus itu, sering takut bahwa otoritas dari Konsili [Vatikan II] akan dipertanyakan. Segera setelah Konsili Vatikan II diasumsikan bahwa permintaan untuk penggunaan Misa 1962 akan dibatasi [hanya] bagi generasi tua yang telah tumbuh dengan [Misa] tersebut. Tapi disaat ini telah jelas didemonstrasikan bahwa orang-orang muda juga telah menemukan bentuk liturgis ini, merasakan ketertarikan darinya dan menemukan didalamnya suatu bentuk perjumpaan dengan Misteri dari Ekaristi Terkudus [yang] cocok dengan mereka. Karenanya keperluan telah tumbuh bagi sebuah aturan yurisdiksi yang lebih jelas yang tidak diperkirakan pada saat Motu Proprio 1988. Norma-norma saat ini juga dimaksudkan untuk membebaskan Uskup-Uskup dari secara terus menerus harus mengevaluasi bagaimana mereka menanggapi berbagai situasi [berkenaan dengan penggunaan Misa 1962].

Kedua, ketakutan ter-ekspresikan dalam diskusi-diskusi tentang Motu Proprio yang dinanti-nanti, bahwa kemungkinan penggunaan yang luas atas Misa 1962 akan berujung pada kecarut-marutan dan bahkan perpecahan dalam komunitas Paroki. Ketakutan ini juga bagiku tidak berdasar. Penggunaan Misa lama mengasumsikan suatu tingkat formasi liturgis dan suatu pengetahuan atas bahasa Latin; dan ini tidak dijumpai banyak. Dan dari asumsi ini, jelas terlihat bahwa Misa baru akan tetap merupakan Bentuk biasa dari Ritus Roma, tidak hanya karena norma-norma yuridis, tapi juga karena situasi aktual dari komunitas-komunitas para umat beriman.

Memang benar bahwa ada pelebih-lebihan, dan disaat lain aspek-aspek sosial, yang dihubungkan dengan sikap dari umat beriman yang terikat pada tradisi liturgi Latin purba. Kasih dan kehati-hatian pastoralmu [ie. para Uskup] akan menjadi sebuah insentif dan pengarah dalam memperbaiki hal ini. Atas masalah itu, Dua bentuk penggunaan dari Ritus Roma bisa saling memperkaya; Para Kudus baru dan beberapa Prefasi dapat dan harus dimasukkan kedalam Misa lama. Komisi “Ecclesia Dei”, dalam kontaknya dengan berbagai badan yang fokus kepada usus antiquior [catatan: gak tahu apa itu], akan mempelajari kemungkinan-kemungkinan praktis dalam hal ini. Perayaan Misa sesuai dengan Misa Paulus VI akan mampu menunjukkan, secara lebih berkuasa dari yang sebelumnya, kesakralan yang menarik banyak orang ke penggunaan yang sebelumnya. Jaminan paling meyakinkan bahwa Misa Paulus VI bisa menyatukan komunitas paroki dan dicintai mereka terdiri dari perayaannya dengan kekhusukan yang besar dalam keselarasan dengan arahan-arahan liturgis. Ini akan membawa kekayaan spiritual dan kedalaman theologis dari Misa [Paulus VI] ini.

Sekarang aku tiba pada alasan positif yang memotivasi keputusanku untuk mengeluarkan Motu Proprio ini yang meng-up date [Motu Proprio Yohanes Paulus II pada] 1988. [Pengeluaran motu Proprio ini] merupakan masalah [untuk] tiba kepada perdamaian interior dalam jantung Gereja. Melihat ke masa lalu, kepada perpecahan-perpecahan yang sepanjang abad telah merobek Tubuh Kristus, seorang terus mendapatkan kesan bahwa, pada saat-saat kritis ketika perpecahan timbul, tidak cukup [hal] dilakukan pemimpin Gereja untuk menjaga atau mendapatkan perdamaian dan kesatuan. Seseorang mendapatkan kesan bahwa ketidakbertindakan dari Gereja merupakan [hal yang] bisa disalahkan sebagai fakta bahwa perpecahan ini menjadi mampu untuk mengeras. Pandangan ke yang lalu ini mengenakan suatu kewajiban kepada kita hari ini: untuk membuat setiap upaya untuk memampukan [catatan: sebenarnya tulisannya “untuk tidak memampukan” tapi mestinya yang benar adalah “untuk memampukan”] bagi semua yang benar-benar menghendaki kesatuan untuk terus berada didalamnya atau untuk mendapatkan kesatuan yang baru. Aku berpikiran akan satu kalimat di Surat Kedua kepada Umat di Korintus, dimana Paulus menulis: “Mulut kami terbuka bagimu, umat Korintus; jantung kami [terbuka] lebar. Kalian tidak dibatasi oleh kami, tapi kalian dibatasi oleh rasa sayang kalian sendiri. Sebagai balasannya … lapangkanlah jantung kalian juga!” (2 Kor 6:11-13). Paulus memang berbicara dalam konteks yang lain, tapi anjuran ini bisa dan harus menyentuh kita semua juga, tepatnya dalam subyek ini [catatan: yang dimaksud adalah usaha untuk meningkatkan upaya rekonsiliasi agar perpecahan tidak semakin mengeras sehingga semakin sulit untuk direkonsiliasikan]. Marilah kita dengan dermawan membuka jantung kita dan membuat ruangan bagi semua yang diijinkan oleh iman sendiri.

Tidak ada kontradiksi antara dua edisi dari Misa Roma. Dalam sejarah liturgi ada pertumbuhan dan kemajuan, tapi tidak keterpotongan. Apa yang dipandang kudus bagi generasi sebelumnya, tetap kudus dan sangat bagus bagi kita juga, dan tidak bisa tiba-tiba [hal tersebut] menjadi seluruhnya terlarang atau bahkan dianggap membahayakan. Adalah patut bagi kita semua untuk melestarikan kekayaan yang telah terkembangkan dalam iman dan doa Gereja, dan untuk memberi kepadanya tempat yang layak. Tidak perlu dikatakan lagi, untuk mengalami persekutuan secara penuh, imam-imam dari komunitas yang suka (adhering) kepada penggunaan yang lama [ie. Misa 1962] tidak dapat, sebagai masalah prinsipiil, mengecualikan perayaan dengan buku [liturgi baru] [catatan: maksudnya tidak boleh ada romo yang karena Motu Proprio SummorumPontificum, kemudian menolak merayakan Misa Paulus VI]. Pengecualian total kepada ritus baru [ie. Misa Paulus VI] tidak akan konsisten dengan pengenalan akan nilai dan kekudusan [Misa Paulus VI].

Sebagai kesimpulan, para Saudara terkasih, aku sangat menginginkan untuk menekankan bahwa norma-norma baru ini tidak dalam cara apapun mengurangi otoritas dan tanggungjawab kalian, baik untuk liturgi maupun untuk pelayanan pastoral atas umat beriman kalian. Tiap Uskup, kenyataannya, adalah moderator dari liturgi di Keuskupannya (cf. Sacrosanctum Concilium, 22: “Sacrae Liturgiae moderatio ab Ecclesiae auctoritate unice pendet quae quidem est apud Apostolicam Sedem et, ad normam iuris, apud Episcopum”).

Tidak ada yang diambil, karenanya, dari otoritas para uskup, yang perannya masih tetap, yaitu berjaga-jaga agar semuanya dilakukan dalam kedamaian dan ketenangan. Kalau beberapa masalah timbul dimana romo paroki tidak bisa mengatasi, Ordinari Lokal akan selalu mampu untuk campur tangan, dalam keselarasan penuh, bagaimanapun, dengan semua yang telah ditetapkan oleh norma-norma baru dari Motu Proprio.

Terlebih, aku mengundang kalian, Saudara terkasih, untuk mengirimkan kepada Tahta Suci catatan pengalaman-pengalamanmu, tiga tahun setelah Motu Proprio ini berlaku. Kalau memang kesulitan serius telah terjadi, cara untuk mengobatinya bisa dicari.

Para Saudara, dengan rasa terima kasih dan kepercayaan, aku mempercayakan kepada hati kalian sebagai Pastor-Pastor, halaman-halaman ini dan norma-norma dari motu Proprio. Biarlah kita selalu ingat perkataan dari Rasul Paulus yang diarahkan kepada para panatua di Ephesus: “jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan, karena kamulah yang ditetapkan Roh Kudus menjadi penilik untuk menggembalakan Gereja Allah yang diperolehNya dengan darah AnakNya sendiri” (Kis 20:28).

Aku mempercayakan norma-norma ini kepada intersesi berkuasa dari Maria, Bunda Gereja, dan aku dengan bersahabat memberikan Berkat Apostolik-ku kepada kalian, para Saudara terkasih, kepada romo-romo paroki di keuskupan kalian, dan kepada semua romo, rekan kerja kalian, dan juga kepada para umat beriman.

Diberikan di [Basilika] St. Petrus, 7 Juli 2007

BENEDICTUS PP. XVI

Sumber

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: