Liberal vs Konservatif

oleh: Dr. Marcellino D’Ambrosio

“Liberal” dan “konservatif”. Definisi dari terminologi ini  yang jarang dinyatakan. Biasanya mereka hanya menduga. Sering orang-orang memanggil “konservatif” adalah [orang-orang] yang menyukai hal-hal gaya-lama dan “liberal” adalah [orang-orang] yang menyokong ide-ide terkini, tren [terkini], dan nilai-nilai [terkini].

Tetapi untuk orang Kristiani, pertanyaan pokoknya bukanlah pilihan personal dari [sebuah] style, atau apakah sesuatu adalah tua atau pelopor. Hal ini lebih soal [cocok] atau tidak [cocok] di dalam Kerajaan Allah.

Untuk memahami apa yang cocok dengan Kerajaan [Allah], kita perlu tahu apa itu Kerajaan [Allah]. Pertama, kita mengetahui bahwa Allah adalah kebenaran. Jadi Kerajaan Allah adalah dimana kebenaran Allah berkuasa dan perintahNya dipatuhi. Seperti [di dalam] doa Bapa Kami dikatakan, “datanglah KerajaanMu, jadilah kehendakMu”. Untuk menjadi “cocok” dengan Kerajaan [Allah], sesuatu harus selaras dengan firman Allah yang diekspresikan di dalam Kitab Suci dan Tradisi [Suci] dan di interpretasikan dengan otoritas [yang dimiliki] oleh Magisterium Gereja Katolik.

Kita juga mengetahui bahwa kehendak Allah adalah untuk kebaikan kita. Yesus mengatakannya di Injil Yohanes 10:10 “Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan”. Di Yohanes 15:11 Yesus mengatakan bahwa Ia telah datang “agar sukacitamu menjadi penuh”. Maka Kerajaan Allah adalah dimana ada kehidupan yang kuat, kebebasan dan sukacita karena Bapa yang mengasihi yang memegang kendali.

Di dalam Gereja Perdana, ada banyak perdebatan tentang apakah orang Kristen boleh memakan hal-hal tertentu, terutama daging yang sudah di korbankan kepada dewa-dewa berhala. Respon dari Paulus sangat jelas: “Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus.” [Roma 14:17]. Jika ia berbicara sekarang, ia mungkin mengatakan bahwa Kerajaan [Allah] bukanlah soal Latin atau vernacular [bahasa lokal], novena atau persekutuan doa, musik organ atau gitar.

Orang yang mengerti tentang Kerajaan Allah, kata Tuhan Yesus, “seumpama tuan rumah yang mengeluarkan harta yang baru dan yang lama dari perbendaharaannya.” [Matius 13:52]. Uskup Agung Fulton Sheen adalah contoh yang luar biasa tentang ini. Ia mencintai iman yang tradisional dan kesalehan dari Gereja (lama), tetapi dinyatakan melalui televisi (baru). Contoh lain yang juga tak kalah hebat adalah Paus Yohanes Paulus II. Ia sangat berdevosi kepada rosario (lama), tetapi memperkaya [doa rosario] dengan misteri terang (baru). Ia membela moralitas seksual dari Gereja (lama), tetapi mengekspresikan moralitas tersebut dengan caranya yang segar dan menarik melalui “theology of the body” (baru).

Ada beberapa hal lama yang tidak bisa masuk kedalam Kerajaan [Allah]. Poligami. Gladiator. Menyembah Kaisar. Ada juga beberapa hal-hal yang “baru” yang tidak bisa masuk juga kedalam Kerajaan [Allah]. Pilihan untuk aborsi. Kloning manusia. Kontrasepsi buatan. Kerajaan [Allah] adalah mutiara yang sangat berharga. Jika kita mengenal nilai tersebut, masuk akal untuk “menjual” segala hal demi membelinya.

Tetapi ada juga banyak hal, baik lama dan baru yang tidak bertentangan dengan Kerajaan [Allah] sama sekali dan sebenarnya diekspresikan dengan indah dalam tempat dan waktu tertentu: Gregorian chant, Papal tiara, liturgi Tridentine di sisi lama, Misa orang muda dan Persekutuan Doa Karismatik pada sisi baru. Jika devosi pada ekspresi ini, berdasarakan pada preferensi pribadi, menyebabkan perselisihan dan pertegangan, ada sesuatu yang salah. Ada perbedaan antara Mutiara yang sangat berharga dan pembungkusnya. Mutiara selalu datang didalam pembungkus. Tetapi jika kita mencintai pembungkus tertentu terlalu banyak, bahwa dalam mencengkram itu kita melepaskan mutiara, tidak masalah jika kita adalah liberal atau konservatif – kita telah menjadi orang yang bodoh. Bersama dengan Salomon, mari kita berdoa untuk kebijaksanaan yang diperlukan disetiap situasi untuk dengan tepat mengenal Kerajaan Allah dan berpegang teguh untuk itu.

Refleksi atas bacaan Minggu Biasa ke XVII, Tahun A (1 Raj 3: 5, 7-12; Mzm 119; Rom 8: 28-30; Mat 13: 44-52)

sumber

One comment

  1. robertus · · Balas

    butuh permenungan dalam karena praxis dari hal ini lebih mendekati hal pilihan. persoalan pemaduan dalam hal ini memang butuh learn by experiences …

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: