Apa yang Sebenarnya Terjadi tentang Kisah Romo Lawrence Murphy

NB : Tulisan ini dibuat ketika mainstream media seperti New York Times mengangkat skandal pelecehan seksual dikalangan imam, dan diringkas dari tulisan Jimmy Akin. Tulisan ini bertujuan untuk menyanggah hal-hal palsu dan yang dilebih-lebihkan oleh media tersebut.

1.Romo Lawrence Murphy lahir tahun 1925 dan ditahbiskan sebagai imam tahun 1950. Tahun 1963-1974 ketika beliau bertugas di sekolah Khusus Anak Tuna Rungu Santo Yahones di Milwaukee, Amerika Serikat, ia mengaku telah melakukan pelecehan seksual (sexual abuse) terhadap 19 anak laki-laki. Para korban telah melaporkan ke polisi, tapi kasus ini tidak sampai dibawa ke pengadilan.

2.Kemudian ia dipindahkan dari sekolah tersebut dan tidak diberikan tugas pastoral. Lalu ia tinggal di rumah keluarganya bersama ibunya. Setelah itu tidak ada tuduhan lain terhadap dirinya.

3.Tahun 1995, beberapa korban dari sang romo serta pengacara mereka melapor kepada Uskup Agung Milwaukee tentang sexual abuse yang dilakukan Romo Murphy pertengahan tahun 1970 an. Lalu diadakanlah investigasi berkaitan dengan hal tersebut.

4.Namun ternyata tuduhan terhadap Romo Murphy tidak hanya itu saja, masih ada satu lagi yaitu tentang abuse of the sacrament of confession yang dapat ditangani oleh CDF (Konggregasi Ajaran Iman). Tahun 1996, +Weakland menulis surat kepada +Ratzinger (sekarang Paus Benediktus XVI) agar hal tersebut diproses. (Patut diperhatikan bahwa pada tahun 1996 CDF tidak memiliki mandate untuk menangani kasus sexual abuse yang dilakukan para imam. Barulah setelah dikeluarkan motu proprio Sacramentorum Sanctitatis Tutela oleh Paus Yohanes Paulus II CDF bisa bertindak)

5.Pada Februari 1997 Murphy mengajukan alasan bahwa kejahatannya dilakukan sebelum Hukum Kanon 1983 dikeluarkan dan bahwa menurut norma hukum kala itu, statue of limitation telah habis. [Alasan] ini menyebabkan Weakland menghubungi Tahta Suci dengan sebuah permintaan agar statue of limitation diabaikan sehingga pengadilan bisa berlanjut. Dia mengirim permintaan tersebut pada Maret 1997 kepada Apostolic Signatura, [dan] mengatakan bahwa dia tidak pernah menerima tanggapan dari CDF. Karena kasus tersebut berkenaan dengan pelanggaran [yang berada dalam wewenang] CDF,Signatura segera meneruskan permintaan tersebut kesana [ie. ke CDF], dan dalam dua minggu Weakland mendapatkan sebuah balasan dari CDF.

6.Akhirnya CDF menjawab surat +Weakland pada bulan Maret, 1997, tapi yang menjawab adalah sekretaris CDF waktu itu, +Tarcisio Bertone (bukan +Ratzinger selaku ketua CDF). Jadi disini yang memainkan peran utama adalah +Bertone, bukan + Ratzinger. Kita tidak tahu apakah +Ratzinger pernah membaca surat dari +Weakland atau tidak. Atau apakah lalu ia kemudian menyerahkan hal tersebut untuk ditangani oleh +Bertone. Kita sama sekali tidak tahu.

7.Bagaimana dengan tanggapan + Bertone? Secara singkat bisa dikatakan bahwa +Bertone menyetujui untuk segera dilaksanakan proses peradilan. Januari 1998, kasus ini dipindah ke diocesse of superior dan ditangani oleh Bishop Fliss. Lalu Romo Murphy menulis surat kepada CDF.

a.Dalam surat tersebut, Murphy meminta CDF untuk menyatakan bahwa tindakan Petinggi Keuskupan (kepada siapa kasus tersebut dipindahtangankan) tidak sah karena statue of limitation saat kejahatan dilakukan telah berlalu. CDF menolak untuk mengabulkan [permintaan Murphy] dalam tanggapan [yang dibuat] Bertone dan menyarankan agar kasus tersebut ditangani dengan cara lain (nanti akan dijelaskan lebih lanjut). Point-nya adalah: CDF menolak untuk membuat tidak sah tindakan yang ditunda oleh Petinggi [Keuskupan] terhdap Murphy. [Jadi] tidak ada dasar untuk menyalahkan Ratzinger disini.

b.Murphy juga membuat permintaan atas didasarkan kemurah-hatian kepada CDF untuk tidak diajukan ke pengadilan pada saat masa hidupnya ketika itu [ie. ketika kondisi kesehatannya buruk]. Dia menulis:

Aku tujuhpuluh-dua tahun, your Emminence [Kardinal Ratzinger], dan sedang dalam kondisi kesehatan yang buruk. Aku baru saja diserang stroke sekali lagi yang membuatku berada dalam kondisi lemah. Aku telah mengikuti semua arahan baik dari Uskup Agung Cousins dan Uskup Agung Weakland yang sekarang. Aku telah bertobat dari apapun dosa masa laluku, dan telah hidup dalam damai di Wisconsin Utara selama duapuluh-empat tahun. Aku hanya ingin menghidupi sisa waktu yang kupunya dalam kehormatan imamatku.

8.Inilah response dari + Bertone :

Kongregasi ini mengajar Your Excellency [Petinggi Raphael Michael Fliss di Wisconsin] untuk memberikan pertimbangan yang hati-hati atas apa yang diajukan di Kanon 1341 bagi tindakan pastoral yang ditujukan untuk mendapatkan perbaikan skandal dan pengembalian keadilan.

Kanon 1341 : Seorang Ordinary harus berusaha melakukan suatu proses yudisial dan administratif untuk mengenakan atau menyatakan penalti [ie. sanksi hukuman] hanya setelah dia telah pasti bahwa koreksi atau teguran persaudaraan [Mat 18:15; Luk 17:3] atau ajakan pastoral lain [ie. ajakan untuk kembali ke jalan yang benar secara pastoral] tidak dapat secara cukup memperbaiki skandal, mengembalikan keadilan dan memperbaiki si pelaku.

9.Poin penting dari nomor tujuh dan delapan adalah, meskipun Romo Murphy meminta agar CDF menyatakan bahwa tindakan diocesse of superior invalid karena statute to limitations when the crimes were committed has passed. Namun CDF tidak menuruti kehendak dari romo Murphy. Kemudian setelah mendapat tanggapan dari CDF dan dengan mempertimbangkan canon 1341, +Fliss menyimpulkan untuk melanjutkan kasus skandal romo Murphy di sekolah khusus tuna rungu tersebut.

10.Terjadi pertemuan antara +Fliss dan +Weakland dengan +Bertone di Roma mengenai kasus romo Murphy (+Ratzinger tidak hadir waktu itu). Dan inilah yang dilakukan +Bertone :

Dia menunjukkan suatu kesulitan kanonis dan praktis yang mungkin terjadi, tapi dia tidak melarangnya [ie. proses peradilan kasus Romo Murphy]. Dia lebih lanjut merekomendasikan agar Murphy diperiksa oleh tiga psikiatris, agar [Murphy] diarahkan kepada seorang pembimbing spiritual untuk mengamati dirinya, gar [Murphy] dilarang untuk melakukan apapun yang berhubungan dengan komunitas tuna rungu, dan agar dia diijinkan untuk merayakan Misa hanya dengan ijin yang diberikan secara tertulis oleh Weakland dan Fliss [ie. harus kedua-duanya bersama].

11.Agustus 1998, Romo Murphy meninggal karena kondisi kesehatan yang buruk.

Berdasarkan detail diatas, maka kita bisa mengetahui dengan jelas bahwa Paus Benediktus sama sekali tidak ada hubungannya mengenai penghentian siding sang romo. Sangat bertentangan dengan apa yang ditulis oleh harian New York Times. Hal ini dipertegas oleh statement Fr. Thomas Brundage, yang mengepalai kasus romo Murphy : “aku tidak punya alasan untuk meyakini bahwa dia terlibat barang sedikitpun. Menempatkan masalah ini dimuka pintunya [ie. Paus Benediktus] adalah sebuah lompatan logika dan informasi yang besar”

Penjelasan diambil dari artikel JimmyAkin, Cardinal Ratzinger An Evil Monster?

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: