Kebenaran dari Kasus Romo Peter Hullermann

NB : Tulisan ini dibuat ketika mainstream media seperti New York Times mengangkat skandal pelecehan seksual dikalangan imam, dan diringkas dari tulisan Jimmy Akin. Tulisan ini bertujuan untuk menyanggah hal-hal palsu dan yang dilebih-lebihkan oleh media tersebut.

Pertama, saat kasus Romo Hullermann terjadi, Cardinal Ratzinger memang menjadi Cardinal Keuskupan Agung Munich. Namun romo yang melakukan sexual abuse itu berasal dari diocese of Essen, bukan diocesse of Munich

Kedua, yang dilakukan waktu itu adalah +Ratzinger mengizinkan romo tersebut untuk mendapatkan terapi di Munich setelah ia diberitahu oleh uskup Essen. Selebihnya bisa dibaca bagian ini di link yang aku post sebelumnya :

      Menurut Phil Lawler,
      Tidak ada bukti bahwa Paus mengetahui bahwa si Romo adalah seorang tertuduh pedofilia; terbukti bahwa Paus diinformasikan bahwa si Romo bersalah atas ketidakpantasan seksual.
      Jadi apa yang kita dapati, tampaknya, adalah sebuah situasi dimana Uskup Essen (atau seseorang [siapapun dia]) datang kepada Kardinal Ratzinger dan berkata, “Ada seorang romo dari keuskupan Essen yang telah melakukan ketidakpantasan seksual dan perlu menerima bimbingan [counselling]. Bisakah engkau menempatkannya di sebuah rektori sementara dia mendapatkan terapi psikologi di Munich?”
    Dan Ratzinger menjawab ya.

Terlihat juga bahwa Paus juga tidak tahu bahwa the accused priest adalah an accused pedophile. Informasi yang diterima ialah bahwa ada romo yang berdosa karena ketidakpantasan seksual.

Ketiga, ada yang berpendapat : kalau sudah ketahuan bersalah dan harus diterapi, kenapa masih boleh melayani? dan terkesan kurang bekerjasama dengan pihak yang berwajib. ini yang di-blowup media (Sueddeutsche Zeitung).

Kenapa masih boleh melayani? Sebenarnya itu bukanlah keputusan dari Cardinal Ratzinger, tetapi dari Jendral Vikep Keuskupan Agung Munich, dan keputusan itu diluar sepengetahuan +Ratzinger. Jadi tidak bisa kita lalu menyalahkan + Ratzinger disini.

    Jendral Vikep dari Keuskupan Agung Munich berkeputusan untuk membiarkan si romo tertuduh membantu dalam sebuah paroki Jendral Vikep tersebut, Msgr. Gerhard Gruber, mengatakan bahwa dia membuat keputusan itu sendiri, tanpa berkonsultasi dengan sang Kardinal [ie. Kardinal Ratzinger]. [Sang Kardinal yang nantinya menjadi Paus Benediktus XVI] tidak pernah mengetahui hal tersebut, [menurut] kesaksian [si Jendral Vikep]. Beberapa tahun kemudian, jauh setelah Kardinal Ratzinger pindah ke tugas baru di Vatikan, si romo kembali lagi dituduh atas pelecehan seksual.

Tapi sayangnya pada bagian itu tidak terdapat kronologis waktunya, sehingga beberapa orang tetap berpendapat bahwa Paus Benediktus seharusnya mengetahui hal itu. Berikut ini aku hadirkan kronologisnya agar menjadi lebih jelas (perhatikan yang dibold merah) bahwa Paus memang tidak tahu tentang pemberian tugas pastoral tersebut.

Bekas Keuskupan Agung Paus memperjelas detail-detail mengenai penempatan Romo peleceh

      Dari 1 Februari 1980 sampai 31 Agustus 1982 tidak ada laporan maupun tuduhan pelecehan kepada Romo “H.,” [menurut] pernyataan Keuskupan Agung.Kardinal Ratzinger adalah Uskup Agung Munich dan Freising dari 28 Mei 1977 sampai 15 Februari 1982.
    Pada September 1982, Romo. “H,” dikirim ke Grafing untuk bekerja di sebuah paroki dimana dia tinggal disana sampai 1985. Pada saat ini, dia dibebaskan dari tugas-tugasnya karena tuduhan pelecehan seksual, dan pada Juni 1986 dia menerima hukuman penjara selama 18 bulan, yang ditunda dengan ganti denda uang.

a. Paus Benediktus menjadi Uskup sampai 15 Februari 1982, setelah itu beliau pindah ke Vatikan.

b. Sedangkan Romo Hullerman diberi tugas pastoral di paroki bulan September 1982.

c. Hal ini menunjukkan bahwa Paus Benediktus pada saat itu memang tidak tahu (karena sudah tidak lagi berada di Munich).

d. Lagipula Ex-vicar general Gerhard Gruber sudah menjelaskan bahwa ia bertanggung jawab secara penuh atas pemberian tugas pastoral kepada romo Hullerman (di link yang sama) :

“Pemekerjaan berulang-ulang atas H. dalam [tugas] perawatan pastoral adalah suatu kesalahan berat. Aku mengambil tanggungjawab penuh atas hal itu. Aku menyesalkan mendalam bahwa, karena keputusan ini, kejahatan bisa terjadi atas anak muda dan aku meminta pengampunan dari semua yang telah tersakiti.”

Memang bagian inilah yang diekspose secara berlebihan menurutku, seperti yang bisa kita lihat di tulisan Jimmy Akin dimana ia mengutip headline The Times :

      The Times membuat tajuk yang menyala-nyala
      Paus mengetahui bahwa [si] romo seroang pedofilia tapi mengijinkan dia untuk meneruskan pelayanan
      Dari situ kita bisa mengharap cerita macam apa yang muncul di media berkali-kali dalam beberapa tahun belakangan: Pada saat Paus masih sebagai Uskup, salah satu romonya adalah seorang pedofilia tapi bukannya mengeluarkan dia dari pelayanan, si [uskup yang nantinya menjadi paus] malahan menutup-nutupi kejahatan [si romo[ dan membiarkan dia meneruskan pelayanan, mungkin [dengan cara] memindahkan dia ke satu atau lebih lokasi.
    Itulah narasi yang kita [bisa] harap untuk memahami dari [penulisan tajuk yang seperti itu].

Namun berdasarkan fakta-fakta diatas, kita dapat menyimpulkan bahwa headline tersebut tidak sesuai dengan fakta, dan dilebih-lebihkan. Memang beginilah karakteristik moral panic yang diperlihatkan oleh mainstream media.

Pada akhirnya, sang romo dihukum berdasarkan Hukum German, dan tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa Paus bersalah dalam kasus ini.

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: