Gereja Lokal dan Gereja Universal

Oleh Joseph Ratzinger

 

Para Editor dari America telah mengundang saya untuk merespon sebuah artikel yang ditulis oleh kardinal Walter Kasper (4/23), dimana ia, sebagai presiden dari Dewan Promosi bagi Kesatuan Kristen, bereaksi terhadap catatan dari saya yang, sebenarnya adalah, sebuah tanggapan dari text terdahulu yang ditulis oleh Kasper dimana ia dengan tajam mengkritik sebuah statement krusial dari sebuah dokumen Kongregasi Doktrin Iman. Untuk beberapa waktu saya ragu-ragu untuk menerima undangan ini karena saya tidak ingin mempertajam kesan bahwa sejak dahulu telah ada perdebatan theologis antara Kardinal Kasper dan saya, yang mana sebenarnya tidak pernah ada.

Setelah banyak melakukan refleksi, akhirnya, saya memutuskan untuk menerima tawaran dari America. Alasan pertama saya adalah bahwa artikel yang ditulis oleh Kardinal Kasper adalah sebuah response dari tulisan-tulisan yang telah banyak dikenal oleh para pembaca dari Jerman dan Amerika. Artikel dari Walter Kasper yang memulai perdebatan ini ditulis dalam bacaan ‘festschrift’ hanya oleh orang-orang yang ahli. Tulisan saya, yang cakupannya lebih luas dan yang didalamnya hanya dau dari total 23 halaman menyangkut Kasper, telah diterbitkan di Jerman hanya dalam bentuk kutipan, dan sama sekali (sepengetahuan saya) tidak diterbitkan dalam bahasa Inggris. Meskipun Kardinal Kasper secara tulus dalam “debatnya yang bersahabat” berusaha untuk memberitahu pembaca tentang apa yang sedang ditanggapinya, kiasan-kiasan yang digunakan sulit untuk bisa memberikan gambaran yang jelas tentang tulisan-tulisan sebelumnya, meskipun tulisan-tulisan ini adalah fokus dari artikelnya.

Tentu saja, saya juga tidak bisa memberikan sebuah ide yang benar-benar dapat memuaskan pembaca; namun demikian akan dapat berguna untuk memberikan kejelasan tentang latar belakang dari ketidak-setujuan ini dari perspektive yang berbeda, supaya bisa memperoleh pengertian yang lebih baik dari bentuk umum dan pentingnya diskusi tersebut. Diatas semuanya, saya tetap menganjurkan anda untuk membaca tulisan awalnya.

Alasan kedua mengapa saya akhirnya memutuskan untuk menulis adalah lebih menyenangkan: tanggapan Kasper pada pernyataan saya telah membawa klarifikasi dimana para pembaca akan mengalami kesulitan untuk mengerti dengan jelas kecuali mereka paham terhadap apa yang telah terjadi sebelumnya. Menunjuk pada debat ini yang saya lihat mengalami kemajuan yang significan.

Semuanya berawal, seperti yang telah dijelaskan, bukan dari tulisan saya, tapi dari sebuah “Surat kepada Uskup Gereja Katholik tentang Beberapa Aspek dari Gereja sebagai Komuni”, yang telah dipublikasikan, dengan persetujuan dari Paus, oleh Kongregasi Doktrin Iman tanggal 28 Juni 1992. Istilah Komuni, yang memainkan peran yang agak marginal di dalam teks Konsili Vatikan Kedua, telah menjadi pusat pertanyaan dari gereja yang disampaikan oleh Sinode Uskup Luar Biasa pada 1985 yang ketika itu, Sinode tersebut pasti telah mengikuti maksud dari konsili. Karena istilah ini telah digunakan, dan telah disalah artikan, dengan berbagai macam cara, diperlukan sebuah penjelasan dari magisterium tentang element essensial dari komuni-dalam-pandangan-gereja, sama seperti tujuan dari surat dari kongregasi.

Dalam surat tersebut, kemudian, kami juga menemukan bahwa prinsip gereja universal (ecclesia universalis) dalam misterinya yang essensial adalah sebuah realitas yang harus didahulukan, secara ontologis namun sementara, diantara gereja lokal yang berdiri sendiri. Prinsip ini mendapatkan kritik yang tajam dari Walter Kasper, yang pada masa itu adalah uskup Rottenburg, Jerman, yang dapat terlihat dalam statemen: “Formula ini menjadi benar-benar bermasalah jika gereja universal di-identifikasi sebagai gereja Roma, yang secara defacto adalah paus. Jika ini dilakukan, surat dari Kongregasi Doktrin Iman tidak bisa dipakai untuk membantu menjernihkan pandangan gereja tentang komuni, namun sebagai penolakan terhadapnya dan merupakan sebuah usaha untuk mengembalikan sentralitas Roma.” Serangan dari surat doktrin dari kongregasi pada awalnya mengesankan, dari sudut pandang bahasa, bersifat hipotetis: apakah gereja universal diidentifikasi sebagai paus dan , sehingga fokusnya adalah untuk mengembalikan kekuasaan sentral di Roma. Namun pada setengah bagian selanjutnya, tulisan tersebut jelas menekankan pada pentingnya pengakuan (kepada Roma), karena klaim bahwa ada keinginan untuk “kembali” kepada Roma masuk akal hanya bila Roma sendiri berpendapat dan bertindak seperti demikian, tidak jika interpretasi demikian diungkapkan secara kurang meyakinkan, dalam hal ini, oleh pihak ketiga.

Faktanya, pada artikel yang sama Kasper menulis sebagai berikut, yang bukan merupakan sebuah hipotesa: “Tekad dari konsili telah mengakibatkan, setelah konsili tersebut berakhir… sebuah pengembangan yang dilakukan oleh Kongregasi Doktrin Iman yang secara praktis memuat, kurang lebih, kebalikan dari tekad konsili tersebut.” Jadi tulisan Kasper telah dimengerti secara jelas dimana-mana sebagai sebuah tangisan peringatan akan adanya maksud baru, bentuk sentralisasi di Roma yang diselubungi secara theologis dan sebagai sebuah kritik bagi Kongregasi Doktrin Iman.

Peringatan semacam ini yang keluar dari mulut seorang uskup yang memiliki tingkat kebenaran theologis yang kukuh sangatlah berarti. Bila theologi atau interpretasi manapun tentang iman oleh magisterium digunakan secara salah untuk memperkenalkan sebuah strategi untuk meraih kekuasaan atau untuk membalikkan maksud konsili, maka ini adalah hal yang serius. Kritik dari Kasper, yang sudah menjadi sangat jelas, tidak diarahkan pada saya secara personal, namun kepada sebuah tulisan dari Kongregasi Doktrin Iman, yang adalah sebuah lembaga dari Tahta Suci yang bertanggung jawab terhadap doktrin. Tidak mungkin tidak dibutuhkan sebuah penjelasan.

Sebagai kepala (perfect) dari Kongregasi Doktrin Iman, Saya mencoba untuk mencari cara yang paling tidak mengundang polemik untuk menjernihkan masalah ini. Sebuah kesempatan yang sama juga muncul ketika saya diundang pada sebuah simposium musim semi tahun 2000, pada peringatan 35 tahun kesimpulan Vatikan II, tentang pandangan gereja terhadap “Konstitusi Dogmatik Gereja” (Lumen Gentium). Yang ketika itu saya mencoba untuk menekankan hubungan antara gereja dan pertanyaan Tuhan: gereja tidak ada untuk dirinya sendiri, namun menjalankan kehadiran Tuhan di dunia.

Dalam konteks yang luas ini, saya menggunakan hubungan antara gereja universal dan gereja-gereja lokal dan, dalam prosesnya, menjelaskan dengan ringkas bahwa surat dari kongregasi tidak pernah bermimpi untuk mengidentikkan realitas gereja universal dengan paus, dan dengan demikian ketakutan yang dikeluarkan oleh Kasper tidaklah mempunyai dasar. Untuk melakukan ini, saya akan mencoba untuk memberikan penjelasan terhadap istilah “gereja universal” yang memiliki implikasi yang sangat kaya, yang pada awalnya dapat terasa abstrak.

 

 

Sisi yang paling positif dari respon Kardinal Kasper untuk [topik] pembicaraan saya adalah bahwa dia secara diam-diam menghilangkan celaan dari artikel pertamanya dan sekarang menyerahkan kepada argumen kami mengenai tingkat “kontroversi atas sengketa skolastik.” Tesis ontology dan prioritas temporal gereja universal atas gereja-gereja individu sekarang dianggap sebagai pertanyaan, “bukan tentang doktrin gereja,” tetapi [tentang] pendapat teologis dan berbagai filsafat terkait.”

 

 

Pernyataan Kongregasi untuk Ajaran dan Iman dikategorikan sebagai teologi pribadi saya dan dikaitkan dengan [filsafat] “Platonisme” saya, sementara Kasper menelusuri pandangannya sendiri ke belakang ke pendekatan yang lebih Aristotelian (Thomistik). Dengan penanganan sengketa dengan cara ini, pertanyaan itu pada dasarnya ditumpulkan dan digeser ke tingkat lain. Tuduhan tidak lagi kepada bahwa Kongregasi untuk Ajaran dan Iman bertujuan sentralisme, restorasi dan menjungkir-balikkan gereja. Sebaliknya, Kardinal Kasper sekarang mencatat dua titik pandang teologis yang berbeda yang memisahkan teologinya dan saya, yang dapat dan mungkin harus [hidup] berdampingan dengan damai.

Di atas dan melebihi hal itu, “diskusi ramah” dengan Kasper sudah memberi dua hasil positif. Dia jelas menekankan -dan saya sangat berterima kasih padanya untuk ini-landasan ekklesiologi bersama kami, dan ia mengubah penolakannya atas [superioritas?] ontologis dan temporal gereja universal atas gereja-gereja individu, ketika ia menyatakan “pra-eksistensi” ( yang sudah dipahami dengan baik) dari gereja sebagai hal yang sangat diperlukan untuk memahaminya.

 

 

Yang pasti, ia mengklaim bahwa pra-eksistensi ini berlaku tidak hanya untuk gereja universal, tetapi juga ke gereja nyata, yang tersusun “dalam dan dari” gereja-gereja lokal. Berlawanan dengan pengertian “keunggulan (primacy)” dari gereja universal ia mempertahankan “tesis keberlangsungan gereja universal dan gereja-gereja partikular.” Yang ia maksudkan dengan ini menjadi jelas ketika ia menulis: “Gereja lokal dan universal gereja adalah internal bagi satu sama lain, mereka menembus satu sama lain danperichoretic ”

Saya pastikan bisa menerima formula ini, ini valid bagi gereja sebagaimana ia hidup dalam sejarah. Tapi [pandangan] ini kehilangan poin sebenarnya pada masalah seperti pada “pra-eksistensi” gereja. Dalam rangka untuk menjelaskan apa yang dipertaruhkan di sini, izinkan saya mengutip beberapa kalimat dari ceramah saya tentang topik ini. Di dalamnya saya berpendapat bahwa bapa gereja melihat gereja sebagai Israel yang lebih besar, kini menjadi universal, dan dari sudut pandang itu mereka mengadopsi pandangan rabbinical makna penciptaan, yang didasarkan pada Kitab Suci itu sendiri:

 

Jadi penciptaan dirancang sedemikian rupa sehingga ada tempat di dalamnya untuk kehendak Allah. Tetapi ini membutuhkan orang yang hidup untuk kehendak Tuhan dan membuatnya [kehendak Tuhan] menjadi terang dunia.

Dari sudut pandang Kristologi tersebut, gambaran diperluas dan diperdalam. Sejarah, sekali lagi sehubungan dengan Perjanjian Lama, diinterpretasikan sebagai sebuah kisah cinta antara Allah dan kemanusiaan. Allah menemukan dan mempersiapkan untuk diriNya sendiri pengantin Sang Anak, satu pengantin, yang merupakan satu gereja. Berdasarkan sabda di dalam Kejadian bahwa seorang pria dan istrinya menjadi “dua dalam satu daging” (Kej 2:24), [maka] gambaran pengantin menyatu dengan ide gereja sebagai Tubuh Kristus, yang bagiannya yang didasarkan pada kesalehan Ekaristi. Satu Tubuh Kristus sudah diciptakan, Kristus dan gereja akan [menjadi] “dua dalam satu daging,” satu tubuh, dan dengan demikian Allah akan menjadi semua dalam semua.

Ide dasar dari sejarah suci adalah bahwa dari berkumpul bersama, [kemudian] menyatukan –menyatukan manusia dalam satu Tubuh Kristus, persatuan manusia, dan melalui manusia, semua ciptaan [kepada] Allah. Hanya ada satu pengantin, hanya satu tubuh Kristus, bukan banyak pengantin, bukan banyak tubuh. Pengantin adalah, tentunya, sebagaimana bapa gereja katakan, tergambar pada Mazmur 44, berpakaian “jubah dengan banyak warna”; tubuh memiliki banyak organ. Tetapi prinsip superordinat pada akhirnya adalah kesatuan. Itu adalah poinnya di sini. Keberagaman menjadi kekayaan hanya [bila] melalui proses unifikasi.

 

 

Saya hanya dapat mengulangi apa yang saya katakan dalam pembicaraan itu. Saya tidak bisa mengerti bagaimana posisi saya disangkal dengan cara teologi biblis. Prioritas mendalam [mengenai] kesatuan, satu pengantin [dengan] keberagaman esensialnya, tampaknya [sudah] jelas nyata.

 

 

Pada saat yang sama, dalam ceramah saya saya mencoba untuk memahami dari mana asal keberatan terhadap pandangan dari sejarah Kitab Suci ini, dan saya menemukan dua motif yang berhubungan erat. Yang pertama adalah menyebutkan gereja universal dan ontologis-nya (atau seharusnya kita katakan teleologis?) di atas (precedence) gereja-gereja individu menyebabkan orang untuk berpikir seketika tentang Paus dan Kuria, dan kebutuhan untuk mencegah sentralisme. Oleh karena itu, masalah sentralisme dan peran uskup lokal juga ada pada akar reaksi Kardinal Kasper terhadap pemikiran saya.

 

Maafkan saya jika saya mengatakan terus terang bahwa keterkaitan ini, secara objektif, tidak masuk akal. Gereja Roma adalah gereja lokal dan bukan universal –sebuah gereja lokal dengan tanggung jawab khusus, universal, tapi tetap sebuah gereja lokal. Dan pernyataan [mengenai] superioritas pemikiran Tuhan mengenai satu gereja, satu pengantin, atas seluruh realisasi empiris gereja-gereja partikular tidak ada hubungannya sama sekali dengan masalah sentralisme.

 

 

Setelah ini diperjelas, pertanyaan lain timbul: mengapa asosiasi [mengenai] hal ini terus datang dari mana-mana, bahkan dari teolog sebesar Walter Kasper? Apa yang membuat orang menduga bahwa tesis prioritas internal gagasan ilahi salah satu gereja [di]atas gereja-gereja particular mungkin saja [muslihat] sentralisme Romawi?

Ini membawa kita ke alasan kedua mengapa bukti kitab suci semata-mata, pada kenyataannya, tidak berlaku masa kini. “Gereja universal” dipahami merujuk hanya kepada Paus dan Kuria. Tampaknya, seperti dikatakan Kasper dalam jawabannya, mengulangi Henri de Lubac, menjadi abstraksi murni. Itulah sebabnya dalam pembicaraan saya, saya sengaja melakukan upaya untuk menyajikan realitas praktis dari Gereja Katolik dan bagaimana ini benar-benar bekerja, dalam hubungannya erat dengan “Konstitusi Dogmatis tentang Gereja.”

Yang mengherankan saya, Kardinal Kasper tidak mengatakan sepatah kata pun tentang bagian luas dan sentral ini dari teks saya. Di sini saya hanya bisa memaparkan singkat kiasan dari ceramah saya. Saya menunjukkan bahwa konsili menjawab pertanyaan, dimana seseorang dapat melihat gereja universal seperti demikian, dengan berbicara tentang sakramen:

 

 

Pertama-tama adalah baptisan. Yang adalah Trinitarian, sebuah peristiwa yang benar-benar teologis, dan berarti jauh lebih dari sekedar disosialisasikanke dalam gereja lokal …. Baptisan tidak muncul dari komunitas individual, melainkan dalam baptisan pintu kepada satu gereja dibukakan untuk kita, inilah kehadiran gereja yang satu, dan hanya dapat datang dari dirinya -dari Yerusalem yang di atas, bunda baru kita. Dalam baptisan gereja universal terus-menerus mengatasi dan menciptakan gereja lokal.

 

Atas dasar ini surat Kongregasi untuk Ajaran dan Iman dapat mengatakan bahwa tidak ada orang asing di gereja. Setiap orang di dalamnya adalah [seperti] di rumah, di mana-mana …. Siapa saja [yang] dibaptis di gereja di Berlin selalu [seperti] di rumah di gereja di Roma atau di New York atau di Kinshasa atau di Bangalore atau di mana pun, seolah-olah ia telah dibaptis di sana. Dia tidak perlu mengurus surat perubahan alamat; [karena] ini adalah gereja yang satu yang sama. Baptisan keluar darinya dan menghantarkan (melahirkan) kita ke dalamnya.

 

Sebuah kegembiraan saya, saya baru-baru ini bersiap ketika Kardinal Kasper membuat argumen yang sangat dalam ini dalam diskusi tentang gereja dan mengutip contoh dari kehidupannya (Kardinal Kasper) sendiri. Awalnya, ia dan orang tuanya telah meninggalkan paroki di mana ia dibaptis-namun dalam baptisan ia belum disosialisasikan ke komunitas tertentu, tetapi lahir dalam gereja yang satu. Sejauh yang saya tahu, pernyataan ini meredakan kontroversi –karena itu adalah masalahnya di sini. Saya ingin menambahkan satu hal lagi, diambil lagi dari diskusi ceramah saya, tentang isi konkret dari frase “gereja universal,” secara spesifik, tentang firman Allah.

 

 

Aku berkata: Siapapun yang berbicara tentang baptisan secara otomatis berurusan dengan firman Allah, yang bagi seluruh gereja hanya satu, dan yang selalu mendahului gereja di segala tempat, memanggilnya bersama-sama, dan membangunnya. Satu kata ini berada di atas gereja dan juga di dalamnya, dipercayakan kepadanya sebagai untuk subyek hidup. Agar dapat benar-benar hadir dalam sejarah, firman Allah membutuhkan subyek ini, tetapi subyek ini tidak bisa hidup tanpa kekuatan menghidupkan dari sabda, yang membuatnya menjadi subyek untuk memulai. Ketika kita berbicara tentang sabda Allah kita juga merujuk kepada Kredo, yang ada di tengah-tengah upacara pembaptisan. Ini adalah cara gereja menerima dan meneruskan sabda, dalam arti ucapan dan tanggapan. Di sini juga gereja universal, gereja yang satu, hadir konkret dan dgn jelas saat ini.

 

 

Jika seseorang menghilangkan semua asosiasi palsu dengan politik gereja dari konsep gereja universal dan menangkap makna benar isi teologisnya (yang cukup jelas), maka menjadi jelas bahwa argumen tentang politik gereja bukanlah jantung permasalahan. Menjadi jelas [juga] bahwa masalahnya bukan Platonisme atau Aristotelianisme, tetapi gagasan utama sejarah keselamatan dalam Kitab Suci. Kemudian seseorang tidak bisa lagi berkata bahwa “pandangan universal” dari gereja adalah “mengabaikan ke-ekumene-an.”

 

 

Saya benar-benar ingin melanjutkan dan membahas poin lain yang dibuat Kasper -misalnya, keberatannya untuk analisis saya mengenai Pentakosta dalam Kisah Para Rasul. Tapi mungkin aku lebih baik menyisihkannya bahwa untuk percakapan pribadi mendatang.

Perkenankan saya, jika boleh, menambahkan satu catatan kecil [yang] agak lucu. Di bagian “Perspektif Sejarah,” yang memberikan beberapa informasi yang sangat baik tentang isu-isu penting dalam beberapa kalimat, Kardinal Kasper, mengutip J. Gnilka, mengamati bahwa “dalam Paulus komunitas setempat adalah fokusnya.” Tetapi dalam [tulisan] Rudolf Bultmann kita bisa membaca sebaliknya. Menurut Bultmann:

… Organisasi gereja terutama tumbuh dari kesadaran bahwa komunitas secara keseluruhan lebih diutamakan daripada komunitas individual. Contoh dari ini adalah bahwa kata ekklesia [gereja] yang digunakan, dalam contoh pertama, tidak merujuk kepada masyarakat individu tapi kepada “umat Allah “…. Gagasan prioritas gereja sebagai keseluruhan diatas komunitas individual dapat dilihat lebih jauh dalam persamaan dari ekklesia dengan soma Christou [tubuh Kristus], yang mencakup semua orang beriman. (Teologi dari Perjanjian Baru, edisi 3, Tübingen 1958., Hal 96)

Konflik antara Gnilka dan Bultmann menunjukkan, pertama-tama, relativitas penilaian eksegetis. Tapi untuk alasan itu, hal ini sangat membantu dalam pembahasan kita, karena Bultmann, yang [dengan] penuh semangat membela tesis superioritas gereja universal diatas gereja lokal, tentu tidak bisa dituduh Platonist atau bias demi membawa kembalisentralisme Romawi. Itu mungkin karena ia berdiri di luar kontroversi ini maka ia mampu membaca dan menjelaskan teks dengan pikiran yang lebih terbuka.

Kardinal Joseph Ratzinger adalah prefek Kongregasi untuk Ajaran dan Iman. Penterjemah adalah Petrus Heinegg, profesor departemen humaniora di Union College, Schenectady, NY

Klik di sini untuk sampel tulisan penulis di Amerika dan buku oleh penulis di amazon.com. Link ke “tulisan sampel” sangat lambat, dan link ke amazon dapat daftar buku-buku karya pengarang dengan nama yang mirip.

Penerjemah : Shevyn dan Moderator -O- di ekaristi.org

Silakan ke The Ratzinger Archives untuk melihat kronologi awal debat +Kasper dan +Ratzinger (Paus Benediktus XVI)

 

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: