Spiritualitas Liturgi Kuno : Pengaruh dalam Doa


I. Kesadaran Terhadap Dosa

II. Penyangkalan Diri, Pemisahan dan Mortifikasi (Mati Raga)

III. Kesempurnaan dalam Kebajikan (Virtue)

IV. Pengaruh Doa

Oleh Romo Chad Ripperger, F.S.S.P. – Musim Panas 2001

IV. Pengaruh dalam Doa

Aspek terakhir adalah pengaruh dalam doa. Kita telah menyebutkan bahwa keheningan itu perlu untuk menaikkan tingginya doa. Sementara doa vokal tidak disyaratkan, yang disyaratkan adalah doa mental dan tujuh tingkat doa yang lain. St. Agustinus berkata bahwa tidak ada orang yang bisa menyelamatkan jiwanya jika ia tidak berdoa. Kenyataannya, doa mental dan doa secara umum telah runtuh diantara kaum awam (dan klerus) selama 30 tahun terakhir. Ini adalah kesanku bahwa perkembangan ini sesungguhnya berhubungan dengan ritual Misa. Sekarang, dalam ritus baru, segalanya berpusat disekitar doa vocal, dan aspek komunal doa ditekankan secara hebat. Hal ini menuntun orang-orang untuk percaya bahwa hanya bentuk-bentuk doa vocal dan komunal yang memiliki nilai yang sebenarnya. Konsekuensinya, orang-orang tidak berdoa sendiri (secara mental) lebih lama.

Ritual kuno, di sisi lain, sebenarnya mendorong kehidupan doa. Keheningan selama Misa sesungguhnya mengajarkan orang-orang bahwa mereka harus berdoa. Sesorang akan tersesat karena gangguan atau ia akan berdoa. Keheningan dan dorongan untuk berdoa selama Misa mengajarkan orang-orang untuk berdoa dengan cara mereka sendiri. Sementara itu, mereka tidak berdoa menurut cara mereka sendiri  sejauh mereka harus menggabungkan doa-doa dan kurban-kurban  pada Kurban dan doa imam, tindakan ini dilakukan secara batiniah dan mental dan begitu alami mengatur mereka menuju bentuk doa. Ini adalah salah satu alasannya, setelah Misa diucapkan berdasarkan ritual kuno, orang-orang secara alami lebih tenang dan cenderung untuk berdoa. Jika semuanya dilakukan secara vokal dan lantang, maka ketika doa vokal berhenti dilakukan, orang berpikir doanya berakhir. Sangat sulit untuk mendapatkan orang-orang yang menghadiri ritus Misa baru untuk membuat ucapan syukur yang pantas melalui doa setelahnya karena hasrat dan fakultas mereka telah membiasakan mereka untuk berbicara dengan lantang.

Ritual kuno juga memberikan seseorang rasa surgawi. Karena altar menandai garis yang membagi antara yang profan dan yang suci, antara yang surgawi dan duniawi, dan imam naik ke altar untuk mempersembahkan Kurban, ritus tradisional meninggalkan kesadaran ditariknya seseorang ke dalam surga dengan imam. Bagian ini secara alami menarik kita dalam doa dan memberikan kesadaran akan transendensi dan hal supernatural yang adalah kunci dalam kehidupan spiritual. Banyak referensi para kudus yang mendukung devosi dan bukan menguranginya. Bahasa latin menyediakan kesadaran akan misteri. Keindahan ritual, lingkungan yang secara alamiah mengalir dari ritual sendiri (seperti gereja yang didesain untuk ritual), chant (lagu pujian) – semua hal ini menuntun pada kontemplasi, pencarian yang ada di atas.

Kesimpulan

Dengan jelas, kita tidak menjelaskan sepenuhnya semua aspek spiritual dari ritual kuno, namun empat area yang kita bahas memperlihatkan bahwa ritual kuno dan bentuk ritual yang lebih baru memiliki spiritualitas yang berbeda. Jika Gereja menangkap kesadaran akan transenden bagi kaum awam, jika kita memiliki imam yang suci dan rendah hati, jika kita memiliki ritual yang dijalankan oleh kasih dan karenanya memiliki Allah sebagai satu-satunya fokus kerinduan dan keinginan kita, Gereja harus menghidupkan kembali liturgi bahwa Allah sendiri yang membentuk liturgi ketika Kristus berada di bumi dan melalui tangan kasih para kudus sepanjang sejarah. Kita tidak bisa dipuaskan dengan liturgi yang adalah karya tangan kita. Untuk alasan ini, Aku tidak menyetujui teori bahwa kita perlu menghasilkan ritual yang lain. Kita perlu mengembalikan karya Allah, karena ritual kuno melakukan semuanya, ritual kuno mengajarkan kita bahwa kita tidak memerlukan pengungkapan diri kita. Kita membutuhkan Allah.

Romo Chad Ripperger, F.S.S.P. adalah professor di seminari keuskupan St. Gregory dan seminari Our Lady of Guadalupe, keduanya di Nebraska.

Sumber

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: