Spiritualitas Liturgi Kuno : Kesempurnaan dalam Kebajikan


I. Kesadaran Terhadap Dosa

II. Penyangkalan Diri, Pemisahan dan Mortifikasi (Mati Raga)

III. Kesempurnaan dalam Kebajikan (Virtue)

IV. Pengaruh Doa

Oleh Romo Chad Ripperger, F.S.S.P. – Musim Panas 2001

III. Kesempurnaan dalam Kebajikan

Hal ini membawa kita pada topik selanjutnya: kesempurnaan dalam kebajikan. Misa lama, sejauh Misa ini melucuti diri kita, merendahkan diri kita. Hal ini perlu, karena setiap dari kita menderita kesombongan. Selain itu, dengan tidak memberi kita kendali terhadap ritual, ritus lama melahirkan kelembutan (meekness), kebajikan dimana seseorang tidak menuju ke ekstrim dalam tindakan atau reaksi seseorang. Ada banyak cerita tak terhitung dari awam dan imam yang marah setelah menghadiri ritus baru karena sesuatu yang dilakukan selebran. Imam tidak seharusnya menjadi sebab kemarahan selama Misa. Dengan menjadi sebab amarah, ia mengikis kelembutan umat awam. Dengan ritual yang sudah tetap, ritual tersebut menyediakan imam untuk mengikuti rubrik, dan mengucapkan Misa dengan hormat, meminimalkan kesempatan bahwa imam akan membuat umat marah. Dalam cara ini, ritus lama menjamin kesabaran.

Kerendahan hati adalah akar kebajikan dalam concupiscible appetite, yaitu, hal dalam diri kita yang menarik kita terhadap harta benda jasmani. Kerendahan hati adalah kebajikan saat seseorang tidak menghakimi orang lain lebih besar daripada dirinya. St. Thomas Aquinas memberitahu kita bahwa ini adalah akar dari semua kebajikan dan tidak ada kebajikan lain yang bisa ada tanpanya. Misa lama membuang kesombongan dan melahirkan kerendahan hati karena Misa bukan tindakan atau produk kita tapi adalah produk dan tindakan Allah. Selain itu, dengan menghadapi misteri yang tak dapat diatasi dalam hidup kita, hal ini secara alami menyebabkan adanya rasa kekecilan diri kita bila dibandingkan dengan Allah. Hal ini menempa cara kita berprilaku karena kita berada dalam kehadiran seseorang yang menyebabkan “kekaguman”,yang merupakan rasa keheranan atu kekaguman. “Kekaguman” secara alami menyebabkan kita untuk berhenti dan menganggap diri kita dalam terang yang mengagumkan, kekaguman memikat hati kita dan mengurangi apa yang kita lakukan. Ritual kuno – yang melahirkan kerendahan hati dan kesabaran, yang diatasnya semua kebajikan menjadi ada – mengingatkan kita akan kata-kata Kristus, yang berkata “Belajarlah dari Aku, karena aku sabar dan rendah hati”. Di lain kata, “Aku menyesuaikan diriku pada kebenaran, dan Aku tidak bangga dan tidak menghakimi diriku lebih besar daripada Aku, Aku tidak terlalu ekstrim dalam bertindak”. Inilah hal yang harus diinginkan dalam ritual apapun. Ritual harus berbicara pada kita  – bukan dalam kata-kata kita, tapi dalam kata-kata Kristus. Dalam cara ini ritual kuno dapat dilihat secara metafora, “Belajarlah dari Aku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati”

Ketika kelembutan dan kerendahan hati berada di tempatnya, kebajikan penghormatan mengalir secara alami. Rasa hormat adalah kebajikan yang terkandung dalam kebajikan keadilan yang lebih universal, dan secara khusus dalam agama, dimana seseorang mempertahankan dalam kehormatan dan kepercayaan suatu hal yang biasanya suci. Ritual kuno membantu kita untuk menghormati hal-hal yang kudus, karena, pertama-tama, kita rendah hati dan menyadari keagungan hal-hal suci. Kedua, kita mendekati Allah dalam kesadaran akan penyangkalan diri dan pengabdian, dan dalam hal inilah terletak keunggulan ritual kuno. Karena imam membungkukkan kepala, berlutut dengan satu kaki dan sering merendahkan diri dalam doa-doa sehingga Allah dapat melihat tindakannya dan disenangkan olehnya.

Keperkasaan juga diajarkan dalam ritual kuno, jika bukan sama sekali bahwa ini merupakan peperangan spiritual. Sejak awal, ketika imam berpakaian dengan memakai amik (amice), ia berdoa, meminta Tuhan kita topi baja keselamatan sehingga ia dapat bertarung melawan serangan iblis. Juga, karena imam tidak tunduk pada komite liturgis tentang apa yang harus dan tidak harus dilakukan, ritus tradisional menguatkan imam dan menegaskan kembali aspek maskulin dari imam.

Disini kami sangat merekomendasikan artikel oleh Romo James McLucas tentang the emasculation of the priesthood, (The Latin Mass, 1998), dimana ia berargumen bahwa ritual yang lebih baru, sebenarnya, mengambil dari imam hal-hal yang maskulin: peran dalam menyediakan dan melindungi keluarga spiritualnya. Dalam ritual kuno, ia sendiri menggembalakan keluarga spiritualnya dengan membagikan Komuni Kudus. Hal ini juga berarti ia bisa melindungi misteri-misteri suci. Penghapusan sistematik dari semua hal ini yang menekankan kemaskulinan dan peran kebapakan imam telah melemahkan visi kita tentang imamat. Selain itu, kita cenderung mendapatkan apa yang kita persembahkan sebagai contoh. Karenanya, jika kita menempatkan pandangan imamat yang dilemahkan, yang memiliki sedikit atau tidak ada kebajikan keperkasaan sama sekali dihadapan orang-orang, kita dapat berharap imam menjadi lemah dan feminin, dan menarik seminarian yang mengikutinya. Keperkasaan didefinisikan sebagai melakukan tindakan berat dan ritual kuno menyediakan imam untuk memperoleh jenis keperkasaan yang terbesar dan tersulit: disiplin diri melalui penyangkalan diri.

Ritual kuno juga menghindari pelanggaran terhadap keadilan. Kitab Hukum Kanonik yang baru menyatakan bahwa kaum awam memiliki hak untuk menghadiri liturgi yang diucapkan berdasarkan rubrik. Sekarang semua opsi telah mengikis kesadaran bahwa imam harus  menyerahkan kepada umat apa yang menjadi haknya; alur misa berada pada kebijaksanaannya. Hal ini menuntun imam berpikir bahwa ia bisa melakukan apapun yang ia suka. Sementara dokumen Gereja dengan jelas menyatakan bahwa ia tidak bisa melakukan hal tersebut, faktanya adalah segala pilihan mengandung prinsip implisit “lakukan apa yang kau inginkan”. Inilah sebabnya, ketika ritual keluar dari tangan imam, ritual secara alami melahirkan kesadaran akan keharusan keadilan dalam diri kita semua. Karena ketika imam melakukan sesuatu yang bertentangan dengan rubrik, atau bahkan dalam rubrik tapi termasuk sebagai opsional, ini memberikan umat kesadaran bahwa imam tidak begitu peduli tentang apa yang Allah inginkan seperti apa yang ia inginkan, khususnya jika seseorang yang menghadiri Misa tidak menyukai opsi tertentu.  Akhirnya, ritual Misa adalah tentang Allah, dan harus mencari jalan terbaik menyerahkannya pada Allah. Hal ini datang melalui kesadaran mendalam terhadap keadilan. Melalui kurban kepada Allah dan kesesuaian ritual pada kurban itu, kita menyadari dengan hormat pada Allah, kita tidak memiliki klaim keadilan sejauh kita adalah ciptaan belaka. Karena itu, Misa haruslah tentang Allah dan bukan diri kita. Ritual kuno membantu kita melupakan dan melepaskan diri kita dalam penyerahan keadilan pada Allah melalui Kurban.

Ritus Kuno melahirkan iman, harapan, dan kasih. Ia melahirkan iman karena ritus kuno unggul dalam ungkapan teologis katoliknya. Iman datang melalui pendengaran dan kita mendengar Iman dalam doa-doa ritual kuno. Ritual melahirkan harapan dikarenakan rasa mendalam dari transenden dan partisipasi kita dalam transenden. Ritus kuno melahirkan kasih karena membantu kita menyadari bahwa penyembahan adalah tentang Allah, bukan kita. Kasih didefinisikan sebagai kasih kepada Allah dan sesama demi Allah. Bahkan ketika kita mencintai sesama, itu haruslah demi Allah. Oleh karena itu ritual membantu kita untuk memusatkan segalanya pada Allah, karenanya memberikan arahan tepat bagi kehidupan spiritual kita. Bahkan jika bukan ini, ritual kuno melahirkan kasih jika tanpa alasan lain bahwa hal ini  menjaga ketidaksempurnaan seseorang dengan mengambil kemampuan seseorang untuk memaksakan dirinya pada orang lain, dengan demikian mengalihkan amarah, menyakiti perasaan dan hal yang mirip seperti itu.

Sumber

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: