Kardinal Ranjith Seputar Liturgi dan Inkulturasi (Part 4)

Part 1Part 2Part 3 , Part 4Part 5, Part 6

Bisakah anda memberikan contoh konkret apa artinya “mempertahankan keseimbangan yang tepat diantara kriteria dan instukrsi dan adaptasi baru”?

 

Dengan “keseimbangan yang tepat” Bapa Suci bermaksud, di satu sisi, ketaatan pada Tradisi perayaan Ekaristi Kudus yang Katolik dan Universal, yang disimpan dalam ritus Roma sendiri, dan, disisi lain, ruang yang disediakan Sacrosanctum Concilium dan Varietates Legitimae for adaptations. Seperti yang dikatakan dalam SC no 21, terdapat “elemen-elemen yang tidak berbudah dan diinstitusikan secara ilahi” dan “elemen-elemen yang bisa berubah” dalam Liturgi. Hanya yang kedua yang bisa diubah, dan hal ini dilakukan diatas dasar norma-norma yang Konsili sendiri tetapkan dalam bab tiga dari dokumen yang sama.

Dalam hal ekaristi, pendekatannya pun sama. Ekaristi bukanlah apa yang Gereja buat tapi apa yang telah menjadi hadiah Tuhan kita untuk kita, sebuah harta karun yang perlu dijaga. Karena itu, walaupun keadaan darurat dari evanjelisasi dan inkulturasi pesan injil dalam situasi yang beragam menuntut sejumlah perbedaan, hal ini tidak ditinggalkan dalam keinginan dan khayalan selebran individual. Area-area yang terbuka untuk perbedaan terbatas dan merupakan bagian dari bahasa, musik dan nyanyian, gestur dan postur, seni dan prosesi [SC 39]. Dalam area ini, adaptasi dimungkinkan dan harus dijalani setelah pembelajaran yang tepat, disetujui uskup dan diijinkan Tahta Apostolk [SC :Bab 3]

Oleh karena itu, kesadaran akan keseimbangan diantara penjagaan hal-hal esensial dan mencari cara mengintegrasikan elemen-elemen budaya lokal sangat diperlukan jika menguntungkan Gereja secara spiritual. Pada saat yang sama, Saya akan memengang yang lebih esensial bukan hanya adaptasi sejenis perayaan bermartabat dan indah dari setiap tindakan liturgis, mereflesikan mistisisme Timur. Akan lebih membantu daripada hanya serangkaian adaptasi eksternal, bahkan ketika mereka diperkenalkan melalui prosedur yang didirikan.

Selain itu, rasa cinta akan keheningan, atmosfir kontemplatif, lagu pujian (chant) dan nyanyian reflektif misteri ilahi yang dirayakan diatas altar, pakaian yang serius dan pantas, seni dan arsitektur yang merefleksikan keindahan dari kesucian tempat dan objek, semuanya adalah nilai-nilai Asia yang sering direfleksikan sebagai pengganti pemujaan agama lain dan pandangan liturgi yang sungguh Asia dan lebih ekspresif

Dalam anjuran nomor 87, paus mengungkapkan tentang “kesulitan serius” yang menghadapi komunitas Kristen “dimana orang Kristen adalah minoritas atau dimana kebebasan beragama orang Kristen disangkal” dan dimana ”pergi ke gereja mewakili saksi heroik yang mengakibatkan marjinalisasi atau kekerasa”. Apakah paus menunjuk pada komunitas Kristen di Asia?

 

Bapa Suci mengemukakan apresiasi dan dorongan saksi heroik dari beberapa orang Kristen untuk yang praktek iman mereka membawa kesulitan, penyiksaan dan penderitaan. Ketika kita membicarakan situasi sulit seperti ini, hal ini menunjuk secara langsung pada tempat dimana ada hambatan eksplisit dan penyiksaan komunitas Kristen. Penyerangan seperti itu dimotivasi kadang-kadang oleh faktor politis, kadang oleh faktor religius.

Beberapa negara berupaya untuk memaksakan atau mendirikan negara yang disponsori “gereja-gereja” untuk mengendalikan komunitas katolik. Sikap seperti ini berupaya untuk memotong ikatan hirarkis diantara gereja-gereja ini dan satu dari Petrus untuk melemahkan mereka dari dalam. Upaya seperti ini tidak berhasil, karena ikatan spiritual, yang tidak bisa dipatahkan dengan cara itu, berlanjut untuk menghubungkan tiap komunitas gerejawi kepada Gereja Universal, Tubuh Mistik Kristus.

Bagiku, jenis situasi yang lain lebih biasa. Secara umum di Asia dimana, disebabkan oleh predominasi satu atau agama dunia lain, terdapat pembatasan dan kontrol yang secara tidak langsung ditempatkan pada Gereja Katolik. Dalam situasi seperti itu, ada bentuk penyerangan yang tidak dideklarasikan, yang lebih buruk, kepada umat katolik, Para misionaris tidak diijinkan, sulit untuk mendirikan bangunan gereja karena tidak ada ijin yang diberikan, perwujudan iman publik dikendalikan, pembatasan ditaruh pada pendidikan Katolik, hukum-hukum menentang pertobatan diletakkan secara paksa atau diajukan, dan segala jenis tindakan diskriminasi dilakukan. Singkatnya, dalam situasi seperti itu seseorang memerlukan heroism untuk mengakui dan mempraktekkan imannya.

Aku tidak akan menyebutkan nama-nama negara tersebut untuk alasan yang jelas, tapi dunia tahu siapa mereka. Terhadap situasi seperti itu, panggilan Paus Tertinggi,”untuk kebebasan beragama yang lebih besar dalam setiap negara agar orang Kristen, dapat dengan bebas mengemukakan keyakinan mereka, baik sebagai individual dan komunitas” memang diperlukan tepat pada waktunya.

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: