Spiritualitas Liturgi Kuno : Penyangkalan Diri, Sikap Bebas-Lepas dan Mortifikasi (Mati Raga)


I. Kesadaran Terhadap Dosa

II. Penyangkalan Diri, Pemisahan dan Mortifikasi (Mati Raga)

III. Kesempurnaan dalam Kebajikan (Virtue)

IV. Pengaruh Doa

Oleh Romo Chad Ripperger, F.S.S.P. – Musim Panas 2001

II. Penyangkalan Diri, Sikap Bebas-Lepas dan Mortifikasi (Mati Raga)

Aspek spiritual kedua dari ritual kuno yang diwujudkan dalam sejumlah cara dalam ritus lama adalah kesadaran akan penyangkalan diri dan mati raga. Satu dari manifestasi paling jelas dari penyangkalan diri adalah keheningan ritus lama. Ketika kita bertemu seseorang yang memiliki sifat buruk yang banyak bicara, biasanya karena orang ini penuh dengan dirinya sendiri. Adalah fakta dari kodrat manusia bahwa kapanpun kita melakukan sesuatu yang sesuai dengan disposisi fisik, kita mendapat kesenangan tertentu darinya. Orang-orang sering berbicara tentang berada dalam “mood” untuk hal-hal tertentu dan bukan yang lain, dan ketika mereka mendapat hal yang sesuai dengan mood mereka, mereka mengalami kesenangan tertentu didalamnya. Berbicara juga sama:  hasrat dapat melekat pada berbicara, dan ini secara tepat apa yang dihalangi oleh ritus lama. Dengan mengharuskan keheningan umat, ritus lama menyediakan kesempatan bagi hasrat berbicara untuk dilucuti dari mereka yang hadir saat misa.

Aku telah banyak berdiskusi dengan orang awam yang datang di ritus lama pertama kali dan mereka sering menemukan perubahan hasrat secara tiba-tiba karena keheningan. Mereka tidak mengungkapkannya dengan tepat, tentu, tapi selagi mereka berbicara, hal ini menjadi jelas bahwa mereka tidak menyukai kenyataan bahwa mereka tidak dibicarakan dan tidak melakukan perbuatan berbicara pada diri mereka sendiri. St. Yohanes Salib berkata bahwa sebelum ia masuk kedalam kontemplasi mistik, “rumah”nya, seperti yang ia sebut, menjadi sunyi; dan melalui hal ini maksudnya adalah semua hasrat dan fakultasnya telah menjadi diam. Ini adalah tanda bagi kita bahwa ktia harus diam, kita harus dilepaskan dari diri untuk meningkatkan tingginya kesempurnaan, dan Misa lama membantu pemahaman ini. Juga, hal ini mengajarkan kita bahwa kita tidak harus menjadi pusat perhatian dengan berbicara bagi ritual untuk memiliki makna dan signifikasni yang lebih mendalam.

Ritual lama juga membantu perkembangan sikap bebas-lepas (detachment) dari sisi imam dan umat karena ritual secara lengkap ditentukan oleh Bunda Gereja yang Kudus. Kita melihat dalam Perjanjian Lama bahwa Allah memberi setiap instruksi secara detail tentang bagaimana Ia harus dipuja. Ini adalah kunci memahami liturgi dalam dua cara. Pertama, liturgi bukanlah tindakan kita, melainkan tindakan Allah melalui sarana imam; liturgi bukan sesuatu yang kita lakukan, liturgi secara hakiki adalah sesuatu yang Allah lakukan, karena konsekrasi tidak bisa terjadi tanpa Allah yang adalah sebab pertama Kurban. Cara kedua, adalah Allah dan bukan kita, yang menentukan bagaimana kita akan memuja-Nya. Hal ini sudah menjadi kegagalan yang paling penting di masa modern: keinginan untuk menentukan bagi diri kita bagaimana kita memuja Allah. Hal ini salah karena terserah Allah untuk memberitahu kita jenis pemujaan yang menyenangkan atau tidak menyenangkan-Nya, dan, karenanya, hanya Ia yang harus menentukan ritual. Disebutkan di awal bahwa Allah telah membentuk liturgi sepanjang waktu melalui para kudus, yang dipenuhi dengan kasih Allah – segala yang mereka lakukan datang dari Ia dan kembali pada-Nya. Ritus lama mengajarkan kita pelajaran spiritual penting bahwa jika kita akan menjadi kudus menyenangkan Allah, maka adalah tugas kita untuk menyesuaikan diri pada liturgi dan tidak membuat liturgi menjadi sesuatu perbuatan kita atau membuat liturgi sesuai dengan diri kita.

Selain itu, karena Allah yang harus menentukan ritual, kita belajar bahwa Misa bukan tentang kita tapi tentang Allah. Kita hanyalah aspek sekunder dari ritus. Hal ini jelas dalam ritual kuno bahwa kontrol terhadap liturgi diambil dari kita, dan kita mengakui liturgi bukan tentang kita. Sementara keinginan kita untuk memperoleh manfaat dari Misa, keuntungan kita pada akhirnya harus kembali kepada Allah; kita menjadi kudus karena Misa memberikan Allah kemuliaan yang lebih besar. Jadi bahkan aspek yang mempengaruhi kita akhirnya adalah tentang Allah.

Ritus tradisional, dengan menentukan bagaimana ritual dilakukan, menyediakan dua keuntungan spiritual penting bagi imam. Pertama adalah kedamaian, karena ia dapat pergi dan menyesuaikan dirinya pada kehendak Allah dengan mengikuti rubrik Misa karena rubrik tersebut telah ditentukan; sebagai imam Aku tidak bisa berkata kebebasan sebesar apa yang telah diberikan. Ia tidak harus mencemaskan apa yang akan ia pilih dan katakan karena ia khawatir tentang apa yang dipikirkan umat. Ia tidak harus mendengarkan komite liturgis yang berusaha memberitahunya apa yang harus dilakukan. Kedua, ritus tradisional mengajarkan penyangkalan diri imam dan kadang-kadang mati raga ketika ritual berada diluar tangannya. Misa bukan tentang imam; misa tidak harus dihambat oleh kepribadiannya. Jelas, hanya imam yang bisa mempersembahkan misa, tapi ia dapat kehilangan dan melupakan dirinya ketika keseluruhan ritual ditentukan Gereja, yang adalah Suara Allah. Hal ini memungkinkan ia melupakan diri dan segalanya sehingga ia dapat dengan sempurna masuk ke dalam misteri dan realitas kudus, dan karenanya menurunkan keuntungan terbesar darinya.  Dalam cara yang paling sempurna, ia bertindak in persona Christi – dalam pribadi Kristus – karena kepribadiannya dihilangkan dan ia bisa menjadi seperti Kristus. Karena ia mengucapkan Misa menghadap Allah dan bukan umat, kepribadiannya, atau kekurangannya, tidak menunjang ritual. Ia sanggup membiarkan kepribadiannya memudar pada background sehingga ia bisa berkonsentrasi penuh dalam hadir kepada Allah. Disini ketika kita berbicara pelayanan, imam melayani Allah pertama dan terutama. Terlalu sering ketika istilah “pelayanan” digunakan dalam dihubungkan dengan imamat, biasanya artinya adalah semacam pelayanan sosial, bukan arti sebenarnya dari pelayanan kepada Allah.

Misa lama memiliki dua jenis pilihan, keduanya diatur dengan susah payah. Pertama, pada hari-hari tertentu, berdasarkan kondisi-kondisi tertentu, Misa Votive dapat dikatakan, tapi itu adalah suatu hal eksterior bagi ritual. Kedua, pada situasi dan hari tertentu, doa-doa pilihan yang ditentukan sebelumnya dapat ditambahkan pada propers, contoh : berdoa untuk hujan, kedamaian, atau semacam itu. Tapi hal ini diatur dengan susah payah sehingga imam mengerti sementara ia boleh memilih untuk melakukannya, kapan dan bagaimana tidak secara keseluruhan bergantung padanya. Poinnya adalah, pilihan dalam ritual harus dikurangi untuk membantu perkembangan ketaatan kepada superior (pimpinan), penyangkalan diri dengan pengurangan kehendak diri, semuanya perlu bagi kehidupan spiritual. Jika banyak pilihan diijinkan, hal ini menghalangi penyangkalan diri imam dan mendorong kehendak diri, karena ritual menjadi subjek pilihannya. Hal ini juga meninggalkan kesan bahwa liturgi sungguh perbuatan imam daripada tindakan yang dilakukan Allah melalui ia.

Berkurangnya pilihan mengajarkan imam pemisahan dan hal ini juga mengajarkan umat awam penyangkalan diri karena mereka tahu mereka tidak bisa berusaha memanipulasi imam untuk melakukan dalam liturgi apa yang mereka inginkan, karena hal ini berada diluar tangannya. Pemisahan adalah kunci pada diskusi liturgi dan suara kehidupan spiritual apapun. Manusia modern telah kehilangan sikap bebas-lepas mengenai liturgi dan ia secara terus menerus menundukkan liturgi pada hasratnya. Tapi kita memerlukan sikap bebas-lepas, dan diskusi tentang restorasi liturgis apapun mengharuskan orang-orang pertama-tama untuk melepaskan diri dari apa yang mereka inginkan sehingga mereka tahu apa yang Allah inginkan. Selain itu, banyaknya pilihan dan kurangnya sikap bebas-lepas dalam liturgi telah menuntun kepada semacam Imanenisme. Imanenisme adalah filosofi atau gagasan yang menganggap segala yang penting adalah tentang kita dan datang dari kita. Jika bukan dari kita, maka itu tidak memiliki makna atau signifikansi. Imanenisme berasal dari dua kata Latin, in dan manere yang artinya tetap didalam. Karena manusia tidak sanggup mencapai surganya sendiri (Babel dan heresi Pelagian dengan jelas menggambarkannya ), liturgi haruslah dari dan tentang Allah untuk menarik kita keluar dari diri kita dan mendorong kesadaran transenden, perjuangan yang berakar secara mendalam pada hati manusia.

Liturgi kuno juga menyediakan kedalaman pada kehidupan spiritual seseorang untuk tiga alasan. Pertama, liturgi menarik kita keluar dari diri dan membawa kita pada Allah; jika kita tetap dalam diri dan jika kita membentuk liturgi dengan kehendak kita dan akhirnya tentang kita, kita ditakdirkan pada kedangkalan. Sejauh liturgi di luar tangan kita, kita menyadari bahwa liturgi melampaui kita, liturgi itu misterius dan sejauh liturgi itu tentang Allah, selamanya bisa dikontemplasikan. Kedua, liturgi didirikan di atas tradisi. Tradisi menyediakan mekanisme dimana manusia dapat mengabaikan dirinya pada Allah yang membentuk tradisi bukannya mengambil kontrol dirinya dan membuang liturgi. Di lain kata, tradisi menyediakan mekanisme dimana warisan spiritual dan liturgis para kudus dapat diberikan pada tiap generasi, yang bisa menggunakannya demi keuntungan spiritual mereka. Seperti seseorang yang tidak atau akar historisnya dan karenanya tidak mengetahui dirinya, manusia modern telah memilih untuk menolak tradisi liturgis dan menggantikannya dengan dirinya, hanya untuk tersesat dalam diri dan tidak pernah sungguh memahami dirinya. Tradisi menyediakan jalan bagi kaum muda untuk mendasarkan diri pada kebijaksanaan masa lalu. Hal ini berlaku tidak hanya untuk hal-hal kultural tapi juga pada liturgi dan kehidupan spiritual.

Hal ketiga yang disediakan liturgi kuno adalah pengulangan. Sekarang manusia modern menolak pengulangan karena ia memiliki perasaan mendalam pada hal-hal baru. Sesuatu yang baru, tentu, memberikan hasrat kita kegembiraan tapi tidak selalu menandakan kedalaman. Untuk masuk kedalam sesuatu yang mendalam diperlukan waktu dan pertimbangan berulang dari sebuah hal. Repetitio mater discendi, seperti yang kita ucapkan dalam bahasa Latin : pengulangan adalah ibu pembelajaran. Prinsip ini berlaku tidak hanya untuk belajar tapi juga untuk kehidupan spiritual kita. Dengan mengulangi doa, maknanya menjadi lebih diketahui bagi kita dan karenanya sanggup dimasuki dalam kesempurnaan yang lebih dan dengan kedalaman lebih besar. Karena ritus kuno mengijinkan pengulangan dan bukan sesuatu yang baru, ia menyediakan cara dimana orang-orang dapat fokus pada misteri-misteri yang hadir bukannya hal-hal baru yang terus menerus muncul. Dengan keheningan yang mendiamkan indra kita dan pengulangan yang merupakan ciri tiap Misa, kita sanggup berpartisipasi dan masuk dengan lebih sempurna dalam misteri Misa. Terlalu sering partisipasi disamakan dengan aktivitas fisik bukannya bentuk partisipasi yang lebih tinggi dan aktif yang merupakan partisipasi spiritual.

Sesuatu yang baru mengakibatkan ketamakan spiritual. Arti ketamakan spiritual adalah kecacatan dimana seseorang mencari kesenangan dan peduli pada diri sendiri hanya untuk konsolasi (penghiburan) yang dikirim Allah dan bukan menggunakan konsolasi sebagai sarana untuk lebih bertumbuh dalam kekudusan. Ketamakan spiritual terjadi ketika orang-orang melakukan hal-hal religius dan spiritual karena konsolasi atau kesenangan yang didapat dari tindakan tersebut, kesenangan ini yang menjadi akhir tindakan, dan bukannya Allah. Sesuatu yang baru mengakibatkan ketamakan karena orang-orang cenderung untuk berpikir bahwa hal yang lebih baru selalu lebih baik, dan tiap hal baru membawa mereka pada kesenangan baru. Disini kita melihat bahwa sesuatu yang baru dapat dengan mudah memperburuk dengan membuat orang-orang terhibur, tapi bahayanya adalah sejauh hal itu mendorong orang berhenti melihat Allah dan memandang pada hal baru yang memuaskan hasrat kita, hal ini menghalangi pertumbuhan spiritual kita. Semua penulis spiritual yang sangat suci memperingatkan bahwa ketamakan spiritual sangat berbahaya bagi kehidupan spiritual.

Ritual kuno sebenarnya menghancurkan ketamakan spiritual pada tiga tingkat. Pertama, semua keheningan membuang hasrat kita untuk berbicara. Adalah fakta bahwa beberapa orang menyukai doa vocal karena “ketinggian rohani”, yang datang melalui perbuatan berbicara. Kedua, pengulangan memastikan bahwa hasrat, yang terus menerus menginginkan hal baru, tidak dipuaskan. Pengulangan dalam kebaikan spiritual adalah sesuatu yang dihargai pada tingkat intelektual, bukan pada tingkat hasrat (appetitive). Hasrat kita dapat menjadi bosan ketika mengalami hal yang sama; intelek, di sisi lain, sanggup untuk melihat nilai suatu hal tiap kali ia menemuinya. Ketiga, kesenangan tertentu datang karena berada dalam kontrol sesuatu. Ini adalah alasan lain bahwa ritual harus ditetapkan atau ditentukan oleh Gereja dan bukan oleh kita. Karena sejauh ritual ditentukan oleh pilihan kita diantara banyak pilihan dan bukan menurut hukum universal Gereja, kita mengambil kesenangan tertentu dengan mengendalikannya. Tapi dengan menomorduakan keinginan alami terhadap kebaikan spiritual.

Juga, sementara bukan bagian ritual yang lebih baru, beberapa bentuk musik digunakan di dalamnya karena hasrat kesenangan yang didapat dari musik dan bukan untuk kegunaannya dalam menarik pikiran dan kehendak dalam persatuan lebih dekat dengan Allah. Hal ini menuntun umat mencampurkan pengalaman menyenangkan dengan mengalami Allah yang sesungguhnya. Akibatnya, hal ini membawa umat untuk berpikir bahwa pengalaman Allah yang autentik selalu menyenangkan. Sementara di kehidupan mereka, dalam kehidupan, pengalaman-pengalaman akan Allah sering kali berat dan sangat menyakitkan – bukan karena kekurangan dalam Allah yang membantu kita, tapi karena ketidaksempurnaan dan keberdosaan yang menyebabkan penderitaan kita. Seperti yang dikatakan St. Theresa dari Avila “Allah, jika ini adalah caramu memperlakukan teman-temanmu, tidak mengherankan Engkau memiliki sedikit teman darinya”

Poinnya adalah musik dan segala aspek ritual harus diarahkan untuk menghentikan orang-orang dari kesenangan yang dirasakan dan konsolasi sebagai andalan kehidupan spiritual mereka. Inilah alasannya kenapa Gregorian Chant (lagu gregorian), yang memiliki daya pikat pada intelek dan kehendak, secara alami melahirkan doa, yang didefinisikan sebagai pengangkatan pikiran dan hati kepada Allah. Gregorian chant  tidak menyerukan emosi dan hasrat; tapi keindahannya secara alami menarik kita pada kontemplasi kebenaran-kebenaran ilahi dan misteri ritual.

Dengan memiliki ritual yang telah ditentukan oleh hukum universal Gereja, seseorang menghindari pemaksaan disposisi dan kehidupan spiritualnya pada orang lain atau pada orang yang menghadiri Misa. Di lain kata, hal ini menghindari seseorang memaksakan dirinya atau mengganggu kehidupan spiritual umat awam dengan pilihan-pilihan yang ia buat yang mengalir dari disposisi batiniahnya dan kehidupan spiritualnya. Karena orang-orang berbeda dalam disposisi secara alami, ketika ritual menjadi produk individu atau beberapa orang, ritual kehilangan daya pikat spiritual bagi umat, yang mungkin tidak membagi disposisi yang sama.

Ritus tradisional, di sisi lain, menghindari bahaya tersembunyi ini melalui penentuan ritual itu sendiri. Satu dari keuntungan ritual kuno adalah ritual tidak mempedulikan paroki mana yang kamu hadiri; karena ritual dimana-mana sama. Sejauh opsi-opsi untuk ritus baru mengijinkan partikularisasi ritual, ritual berhenti menjadi katolik (universal). Sebenarnya, di zaman mobilitas yang berlebihan, tampak tidak bijaksana untuk mengubah ritual. Aku menyadari ini ketika aku pergi ke Roma dan menghadiri Misa dalam bahasa Italia. Jika Misa dalam bahasa latin berdasarkan ritus kuno, Aku akan merasa berada di rumah saat Misa; tapi, Aku memiliki kesan bahwa Aku semata-mata adalah pengamat dari luar. Inilah kenapa bahasa Latin dan ritual yang tetap mengijinkan misa memiliki daya pikat universal: seseorang dapat menghadirinya dalam setiap negara, setiap paroki di dunia dan masih merasa berada di rumah. Sementara kita tidak mengerti homili atau khotbah ketika berada di negara asing, kita bisa masuk ke dalam ritual dengan kedalaman yang sama dan semangat yang kita rasakan di paroki asal kita. Hal ini juga menghindari masalah umat yang pergi ke paroki lain yang berusaha mencari imam yang pilihannya dalam Misa cocok dengan disposisi mereka.

Bahasa latin juga menyediakan bentuk penyangkalan diri dengan melepaskan terjemahan ritual dari lembaga yang
meragukan. Bahasa inklusif adalah contoh klasik dari apa yang telah kita gambarkan: keinginan kelompok kecil untuk memaksakan spiritualitasnya pada orang lain. Keinginan untuk bahasa inklusif adalah manifestasi dari pengharapan bahwa ritual harus menyesuaikan pada kelompok dan bukan sebaliknya. Bahasa latin merusak gagasan ini karena, seperti yang dikatakan Paus Yohanes XXIII dalam Veterum Sapientia, setiap orang sama di hadapan bahasa Latin. Bahasa Latin menggerakkan jenis penyangkalan diri pada kita karena kita tidak bisa memanipulasi bahasa latin untuk tujuan kita sendiri. Latin juga mencegah ketertarikan imam pada improvisasi saat berbicara, dan mencegah pemaksaan disposisi pribadinya pada mereka yang menghadiri misa.

Bahasa latin, rubrik yang tetap, hal-hal ini melepaskan diri kita sehingga kita tidak menjadi apapun. St. Yohanes Salib sering mencatat bahwa kita harus tidak menjadi apa-apa sehingga Allah dapat menjadi segalanya dalam diri kita, atau seperti kata-kata St. Yohanes Pembaptis (yang bisa diterapkan pada ritual kuno),” Aku harus makin kecil agar Ia semakin besar”. Pengosongan diri, yang dilakukan ritual kuno, adalah persyaratan untuk spiritualitas autentik.

Sumber

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: