Spiritualitas Liturgi Kuno : Kesadaran Terhadap Dosa


I. Kesadaran Terhadap Dosa

II. Penyangkalan Diri, Pemisahan dan Mortifikasi (Mati Raga)

III. Kesempurnaan dalam Kebajikan (Virtue)

IV. Pengaruh Doa

Oleh Romo Chad Ripperger, F.S.S.P. – Musim Panas 2001

Diantara para ahli liturgi dan teolog, merupakan hal yang secara umum dianggap benar bahwa tiap bentuk ritual mewujudkan semacam spiritualitas yang pantas untuk ritual tersebut. Contohnya, ritus timur cenderung untuk menekankan aspek kehidupan spiritual juga peran icon-icon dalam meningkatkan devosi kepada Tuhan Kita, Bunda Kita dan para kudus. Ritus Misa kuno mewujudkan sebuah spiritualitas dan pelajaran spiritual yang bisa memikat setiap generasi dan waktu. Ritual kuno yang dimaksudkan adalah ritus yang dikodifikasi oleh St. Gregorius Agung yang menjalani perkembangan organik yang sangat lambat sepanjang ratusan tahun. Missal terakhir yang dipromulgasikan, yang menikmati pertumbuhan organik adalah Missal 1962.

Merupakan sebuah persepsi umum dalam Gereja sekarang bahwa perkembangan liturgis dari periode abad pertengahan, sebenarnya, mengalami kemunduran dan bahwa kita harus kembali pada periode apostolik dan Gereja awal untuk mengetahui apa sesungguhnya liturgi itu juga mengetahui kehendak Allah mengenai liturgi. Hal ini adalah gagasan yang secara mendasar salah. Selain dari fakta bahwa pakar liturgi modern (dan kata modern yang aku maksudkan adalah 100 tahun terakhir) tidaklah akurat dalam pemahaman mereka mengenai liturgi Gereja awal, gagasan bahwa perkembangan liturgis abad pertengahan adalah penyimpangan sungguh merupakan penolakan terhadap perkembangan autentik yang berdsarkan pada pemahaman Misa sebagai kurban. Juga, figur-figur yang mendengarkan kembali ke era ketika liturgi dianggap “primitif” yang biasanya mereka maksudkan bahwa liturgi menyesuaikan kepada kesalahan teologi Misa sebagai perjamuan.

Poinnya bukan untuk memberikan pelajaran sejarah, tapi untuk menjelaskan satu dari premis-premis dimana esai ini didasarkan  bahwa ritus misa kuno sesungguhnya merupakan produk tangan Allah yang menggunakan para kudus sepanjang sejarah untuk mengembangkannya berdasarkan tujuan kudus-Nya. Keinginan untuk menolak warisan liturgis kita tampak bagiku sesungguhnya sebagai keinginan untuk menolak hal-hal yang telah Allah lakukan. Sejauh itu adalah karya Allah dan para kudus, liturgi mewujudkan prinsip-prinsip spiritual tertentu dalam hakekat ritual yang pantas untuk direfleksikan. Jelas, kami tidak bisa menjelaskan semuanya, jadi kita akan membatasi diskusi pada empat aspek : 1. Kesadaran akan keberdosaan kita, 2. Perlunya penyangkalan diri, 3. Kesempurnaan dalam kebajikan, dan 4. Aspek-aspek tertentu tentang doa. Keempat hal tersebut adalah elemen esensial dari suara kehidupan spiritual.

I. Kesadaran terhadap Dosa

Pertama adalah kesadaran terhadap keberdosaan kita. Ritus misa kuno memulai dengan doa di kaki altar, yang mengawali misa dengan Imam mengarahkan dirinya ke altar – altar masa mudanya. Altar, tentu, adalah tempat dimana kurban demi dosa-dosa kita terjadi, dan imam meminta Allah untuk menghakimi penyebab [dosanya]. Dengan segera, ada pemahaman yang jelas bahwa terdapat kebaikan dan keburukan di dunia ini. Karena Confiteor (pernyataan tobat) disyaratkan dalam setiap Misa, ritual kuno menjadikannya jelas bagi kita bahwa kita telah berdosa dan imam, serta umat, mengakukan dosa-dosa mereka tidak hanya kepada Allah tapi juga kepada seluruh pengadilan surgawi – yaitu kepada para kudus secara spesifik juga kepada semua orang kudus secara umum. Imam sendiri harus mengakukan keberdosaannya secara independen dari umat, keduanya merupakan contoh bagi mereka dan tanda bahwa imam perlu untuk sangat menyadari akan keberdosaan pribadinya. Imam meminta untuk dibasuh dan diampuni berkali-kali sepanjang ritual untuk membantu perkembangan kesadaran akan kerendahan hati dan ketidakpantasan dihadapan Allah untuk melakukan fungsi yang menjadi miliknya. Tidak ada imam yang berdoa dengan serius dapat dikalahkan dengan kesombongan. Selagi imam naik ke altar, ia memohon agar dosa umat dihapuskan dan kemudian selagi ia menghormati altar ia memohon secara khusus agar semua dosanya diampuni.

Tentu ada Kyrie (Tuhan kasihanilah kami), yang merupakan permohonan kemaha-rahiman Allah, dan sebelum injil imam memohon lagi agar hati dan bibirnya dibersihkan. Selain dari Confiteor, mungkin ingatan yang paling penting bagi imam untuk dosa-dosanya terkandung dalam doa persembahan (offertory) Suscipe, sancte Pater. Imam berkata selama doa ini bahwa ia mempersembahkan Hosti tak bernoda untuk “menebus dosa-dosaku yang tak terhitung, pelanggaran dan kelalaian”

Perlu bagi imam untuk mengingat dirinya secara terus menerus akan keberdosaannya dan kecenderungan pada kejahatan sehingga ia akan termotivasi untuk mengeluarkan dosa dari hidupnya. Juga perlu bagi imam untuk melakukan ini sehingga ia mengenali ketidakpantasannya untuk mempersembahkan kurban dan perlunya untuk berjuang demi kemurnian dan kekudusan untuk mempersembahkan kurban dengan pantas. Karena langkah pertama menuju kesempurnaan kedudsan adalah menyadari dan mengakui keberdosaannya, doa-doa ini sangat penting untuk kehidupan spiritual para imam. Tidak ada dari kita yang sadar akan skandal dan dosa yang dihubungkan dengan imam selama 40 tahun yang lalu harus berkeinginan bahwa doa-doa ini dikeluarkan dari persembahan atau Misa. Orang awam harus menginginkan bahwa imam tidak berdosa, dan salah satu cara yang difasilitasi adalah dengan mengenali dalam doa-doa di Misa bahwa ia mempersembahkan kurban ini tidak hanya untuk umat tapi juga untuk dirinya. Jika imam memiliki suara hati yang sensitif dan tahu bahwa ia harus murni demi mempersembahkan kurban, ia patut mendapat rahmat lebih dari Allah untuk umat. Sekarang orang-orang berkata bahwa selama Misa itu valid, kondisi imam tidak penting. Sementara itu benar bahwa imam tidak harus dalam kondisi berahmat untuk mempersembahkan Misa dengan valid, bagaimanapun, ia memiliki kewajiban untuk menjadi sekudus mungkin untuk mendapatkan lebih bagi mereka dalam perawatan pastoralnya

Terdapat dua jenis jasa (merit) dalam Kurban Kudus Misa. Pertama adalah Kurban Tuhan kita sendiri dimana, melalui tangan imam, Ia dipersembahkan kepada Allah Bapa untuk penebusan dosa-dosa kita. Disini kita merujuk kepada fakta bahwa Misa adalah partisipasi dalam Kurban Kalvari dan jasa yang mengalir dari Kurban ini tak terbatas karena yang dipersembahkan juga tak terbatas. Tapi sebagai tambahan pada jasa utama atau esensial ini, terdapat jasa sekunder yang mengalir dari tiga hal : (1) kekudusan imam, (2) kekudusan umat yang bergabung dalam kurban khusus mereka pada Kurban imam, dan (3) ritual itu sendiri. Untuk memperoleh lebih banyak buah dari Misa, kita harus melakukan semuanya yang kita bisa untuk membantu imam menjadi kudus, contoh : dengan mempersembahkan doa-doa baginya dan bermati raga untuknya sehingga ia akan memperoleh kekudusan hidup. Tapi hal ini hanya mungkin ketika imam secara terus menerus diingatkan akan kemampuannya untuk jatuh dalam dosa jika ia tidak bergantung pada rahmat Allah. Ini tidak membantu kita untuk mengabaikan realitas dan menghapuskannya dari ritual. Sebaliknya, kesadaran akan keberdosaan kita secara absolut perlu demi kemajuan spiritual kita, dan ritual kuno tidak kekurangan hal ini.

Kata kultur (culture) berasal dari kata Latin “cultus”. Sementara topik kita tidak mengijinkan kita untuk terlalu jauh dalam diskusi, kita seharusnya sadar akan fakta bahwa kultus – yaitu, liturgi atau ritual-ritual agama yang paling lazim, sesungguhnya menentukan kultur masyarakat. Kita telah melihat hal ini secara historis selama revolusi Protestant dan kita telah melihatnya dalam kehidupan kita : ketika Gereja mengubah ritual Misa, subkultur katolik dalam negara ini runtuh. Poinnya adalah bahwa jika kita ingin mengubah kultur kita, kita harus memiliki ritual yang mempunyai kesadaran yang peka terhadap keberdosaan kita; jika kita berharap masyarakat kita memiliki kesadaran dosa, imam ketika mendekati altar harus memiliki rasa keberdosaannya. Karena semua rahmat datang ke dunia dengan memakai Gereja Katolik, jika ritual kita lemah, mungkin kita menipu dunia dari rahmat yang ritual kita persembahkan dimaksudkan untuk disampaikan.

Sumber

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: