Kardinal Ranjith Seputar Liturgi dan Inkulturasi (Part 3)

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5, Part 6

Dalam Sacramentum Caritatis no 54, Paus Benediktus mendukung “inkulturasi ekaristi yang berkelanjutan” dan menghimbau “ adaptasi yang tepat pada konteks dan budaya yang berbeda”.  Apa arti hal ini di Asia?

Asia secara umum dianggap sebagai benua kontemplasi, mistisisme, dan sebuah pandangan spiritual tentang kehidupan yang didudukkan dengan mendalam. Orientasi ini mungkin dihasilkan dari atau bahkan dibawa dari asal usul agama-agama dunia di benua ini. Upaya apapun pada inkulturasi liturgy atau kehidupan Kristen tidak bisa mengabaikan tipikal oritentasi mistik yang mendalam dari Asia.

Sebagai orang Kristen, kita harus menunjukkan bahwa kekristenan di Asia dalam asal usulnya dan kekristenan memiliki pemahaman mistisisme yang lebih mendalam pada kekristenan sehingga kekristenan bisa dan berharap untuk berbagi dengan yang lainnya. Kasihan jika kita berjuang untuk mencerminkan iman kita sebagai sebuah lampiran budaya sekuler dan mengglobal yang mendukung nilai-nilai sekuler dan mencarinya untuk mewakili hal ini di Asia. Malangnya, kadang-kadang dalam cara kita melakukan hal-hal, kita mencerminkan gambaran tersebut. Hal ini membuat kita sebagai “orang asing” di benua kita.

Contohnya, terbengkalainya penggunaan cassock (jubah khas imam) atau pakaian religius oleh banyak imam dan orang religius di asia dalam skala luas, bahkan misionaris. Mereka hampir tidak paham bahwa dalam budaya Asia, orang-orang yang didedikasikan kepada Allah atau agama selalu terlihat dalam pakaiannya, seperti rahib Buddha atau sannyasi Hindu. Hal ini menunjukkan bahwa kita tidak mengerti apa makna inkulturasi yang sesungguhnya. Seringkali, inkulturasi dibatasi pada satu atau dua tarian selama Misa Kudus atau penyiraman bunga, arathi atau pemukulan drum.

Dalam pikiran dan hati, bagaimanapun, kita mengikuti cara dan nilai sekuler. Jika kita sungguh orang asia, kita seharusnya memfokuskan perhatian lebih pada mistisisme Yesus. Pesan keselamatan-Nya, nilai agung dari doa, kontemplasi, detachment, kesederhanaan hidup, kesalehan dan refleksi dan nilai keheningan, dan bentuk-bentuk perayaab liturgis yang memusatkan perhatian besar pada Kesucian dan Kekudusan. Kita orang asia tidak bisa menjadi orang sekuler yang tidak melihat sesuatu melebihi yang tampak dan yang nyata.

Begitu juga dalam liturgy, daripada memusatkan pada beberapa sikap tubuh eksterior dari nilai kosmetik, kita seharusnya memusatkan pada penekanan kekayaan mistis dan spiritual yang disampaikan pada kita, dan menonjolkan hal ini lebih dan lebih dalam pakaian dan perilaku kita. Gereja Universal akan memperoleh mistisisme dengan cara Asia yang menjadi ekspresi nyata dari Gereja di Asia.

Mengenai inkulturasi, Paus Benediktus  mendorong konferensi keuskupan untuk “berjuang mempertahankan keseimbangan yang tepat diantara kriteria dan instruksi yang dikeluarkan dan adaptasi baru, selalu dalam kesesuaian dengan Tahta Apostolik”. Apakah konferensi para uskup di Asia bekerja sesuai arah tersebut?

Pada umumnya, Saya memperhatikan banyak kehendak baik di sisi Konferensi keuskupan dalam hal ini. Namun, terdapat banyak masalah juga. Seperti yang saya katakana, akan lebih baik untuk memiliki semangat kerja sama yang jelas diantara FABC (Federation of Asian Bishops’ Conferences) dan kongregasi kami dalam hal ini. FABX memiliki badan koordinasi regional bagi perkembangan manusia, penginjilan, inkulturasi, ekumenisme dan dialog, pendidikan, komunikasi sosial, dl, tapi Aku tidak menyadari adanya badan untuk liturgy dan pemujaan. Mendirikan badan [liturgy dan pemujaan] pasti membantu.

Liturgi itu penting, karena “lex orandi lex crecendi” (hukum doa adalah hukum kepercayaan). [Lex orandi, lex crecendi] akan sanggup menghidupkan dan memberi kualitas, makna dan kesadaran yang tepat bagi Komisi Keuskupan Nasional untuk Liturgi bagi semua komponen penting kehidupan gerejawi. Banyak pekerjaan masih perlu dilakukan untuk mencapai hasil yang lebih baik.

“Keseimbangan yang tepat” yang dibicarakan Bapa Suci disebabkan karena perlunya untuk menjamin, di satu sisi, semangat keterbukaan yang sehat pada inkulturasi liturgy, dan, disisi lain, perlunya perlindungan terhadap karakter universal liturgy katolik, sebuah harta karun yang diwariskan pada Gereja oleh tradisi bi-miliennialnya.

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: