Dokumen dari Keuskupan Agung Jakarta tentang Pelarangan Retret Pohon Keluarga

SURAT VIKEP KAJ tentang Pembaharuan Karismatik Katolik-KAJ:

Jakarta, 27 Agustus 2003

Ytk Para saudari dan saudara dalam Pembaharuan Karismatik Katolik

Di Jakarta,

Pada tanggal 11 Agustus 2003, Romo Kardinal Julius Darmaatmadja, S.J.,
sebagai Uskup Agung Jakarta, memanggil Moderator, Ko-moderator dan beberapa petugas harian BPK-KAJ. Disyukuri, bahwa Roh Allah telah melimpahkan rahmatNya kepada Gereja Jakarta melalui ribuan orang, yang merasa dijamah oleh cintaNya dan bergabung dalam Persekutuan Doa. Roh Kudus memperkaya umat dengan iman yang lebih dihayati, hidup menggereja yang lebih gembira, penghormatan kepada Kitab Suci dengan sukacita, kesadaran persatuan secara lahir batin, kegairahan dalam merayakan sakramen-sakramen, dengan aneka sakramentalia, seperti rosario, jalan salib, ziarah, ibadat sabda dsb. Pada akhir pembicaraan, Bapak Uskup menugasi Vicarius Episcopalis (Vikep) Kategorial untuk menyampaikan sejumlah hal yang perlu diperhatikan oleh seluruh keluarga Pembaharuan Karismatik Katholik se-Keuskupan Agung Jakarta.

PERTAMA, bahwa Koordinator BPK dan Moderator BPK perlu bersatu dengan Pimpinan Keuskupan dalam kebijakan pastoral serta ikut melayani secara terpadu, sehingga umat melaksanakan kebijakan itu. Khususnya menjelang akhir Sinode Kedua KAJ ini, diharapkan bahwa iman akan Roh Kudus lebih difokuskan pada kehidupan dalam keluarga, untuk menghasilkan pembaharuan yang nyata positif.

KEDUA, harap diingat bahwa Sakramen Perkawinan menurut paham Katholik memusatkan keyakinan, bahwa pasang surut hidup keluarga, konflik dan rekonsiliasi dalam perjalanan keluarga, kesalahan dan pemulihan sepanjang hidup manusia berkeluarga sudah dirangkum dalam penebusan Tuhan Yesus, yang hidup dalam keluarga, wafat dan bangkit bagi kita semua; menghancurkan segala kekuatan setan, kutuk manusia dsb. Maka PKK-KAJ hendaklah tidak mendukung retret “Pohon Keluarga”, yang dalam prakteknya sekarang dinilai terlalu menyempitkan paham keluarga dengan determinisme psikologis. Kita harus mengembangkan ‘discernment’, untuk tidak menyamaratakan saja segala masalah, melainkan mampu membeda-bedakan manakah dalam keluarga merupakan masalah budaya yang perlu dicermati secara kultural, luka kejiwaan yang perlu disembuhkan secara psikologis, dan dosa yang perlu dimohonkan ampun dari Tuhan.

KETIGA, dalam Roh Kudus kita percaya bahwa Tuhan Yesus menyertai Gereja sampai ke akhir jaman dengan kekuasaan tanpa batas. Maka yang seyogianya dimana-mana dilihat oleh keluarga PKK-KAJ bukanlah kuasa gelap, melainkan kekuatan Allah. Banyak kesalahan, kesusahan, malapetaka atau kerisauan dalam hidup perseorangan maupun keluarga dapat disebabkan oleh keterbatasan fisik atau kejiwaan kita, keterikatan budaya serta kesulitan ekonomi maupun politis kita. PKK-KAJ diminta mau lebih menekuni dan memajukan ‘Discernment of Spirit’ daripada praktek ‘Deliverance’ yang dangkal dan sensional; apalagi dengan pola pengusiran setan yang gegabah. Kecuali itu, ‘exorcismus untuk mengusir setan yang sejati’ hanya boleh dilakukan oleh orang yang mendapat ijin tertulis Uskup.

KEEMPAT, para Pewarta dalam lingkungan PKK-KAJ harus lebih banyak mempelajari dan mewartakan Ajaran Gereja mengenai berbagai permasalahan rohani dan pewarta perlu mau dilayani oleh BPK dengan acara-acara penyegaran yang bermutu. Pegangan utama bagi semua pewarta adalah Buku Iman Katolik dari KWI dan Katekismus Gereja Katolik, serta Surat-surat Gembala Pemimpin Gereja, karena menerjemahkan Alkitab dalam konteks kita. Secara berkesinambungan para Pewarta perlu dievaluasi dan diperbarui pengutusannya oleh pimpinan BPK-KAJ, sebab pewartaan hanya berarti dalam konteks persekutuan iman, yakni Gereja. Maka perlu pengutusan resmi dari pimpinan Gereja. Pengutusan itu lebih penting, kalau seorang pewarta pergi ke luar Keuskupan Agung Jakarta. Uskup memberikan pengutusan utama kepada para imam, khususnya pastor paroki dan moderator. Orang lain mengambil bagian dalam pengutusan tersebut bila memenuhi syarat.

KELIMA, PKK-KAJ seyogianya mendukung ekumene dan dialog dengan agama lain dengan cara dialog hidup maupun dialog karya. Bentuknya : lebih memajukan hidup bertetangga secara baik dan karya sosial bersama. Namun diminta tidak mengadakan PD Ekumene. Pertemuan untuk pengajaran lintas Gereja hanya dilakukan dengan penugasan BPK dan sepengetahuan Keuskupan. Sebab untuk itu diperlukan sejumlah syarat mutu pengetahuan dan pengutusan jelas.

KEENAM, hendaknya lebih digarisbawahi lagi tradisi BPK-KAJ bahwa Persekutuan Doa tidak mengundang pemuka dari Gereja atau Agama lain untuk memberikan pengajaran. Kita juga menyadari, bahwa bahkan dalam ‘kesaksian’ suatu PD banyak pengajaran yang dapat terbawa masuk, yang dapat melemahkan iman Katolik umat. Sebab tim PD bertanggungjawab untuk mutu Katolik warganya.

KETUJUH, ditengah upaya-upaya agar pewartaan dalam PD di PKK-KAJ tampak menarik, diingatkan bahwa tetap berlaku kewajiban untuk sejak perencanaan membicarakan dengan Moderator apabila mengundang pewarta dari luar keuskupan, dan dengan Pimpinan Keuskupan bila undangan dari luar negeri. Tiap pewarta dari luar Keuskupan memerlukan pengutusan resmi dari pimpinannya, dari keuskupan/BPK, dan/atau dari tarekatnya. Sebab di dalam Gereja Katolik, setiap pewartaan membutuhkan pengutusan.

KEDELAPAN, PKK-KAJ makin mekar bila PD-PD Paroki dan kategorial subur. Dalam kaitan itu, BPK hendaknya sungguh membantu BPKM dan orang-orang muda hendaknya mau dibantu BPK agar sungguh melayani sesama orang muda secara terpadu dengan BPK-KAJ. Dianjurkan agar seluruh PKK-KAJ mau mempelajari cara-cara yang tepat guna membangun Persekutuan Doa Karismatik Katolik sebagaimana dianjurkan dalam Konvensi Nasional 2003. Di situ PD hendaknya menjadi komunitas basis dan bukan menekankan perayaan massal. Seyogianya dibentuk Badan Pelayanan Paroki., khususnya di paroki yang menjadi basis dari beberapa pelayanan karismatik.

KESEMBILAN, Persekutuan Doa perlu membaharui diri terus, terutama PD kategorial perlu mencermati visi/misi-nya, supaya jelas fokusnya. Jangan mudah mendirikan PD atau komunitas baru hanya karena tidak sejalan dengan petugas BPK atau dengan teman PD lainnya. Seperti Gereja Perdana, kita diajak untuk mengatasi pelbagai konflik dan perbedaan pandangan dengan pembicaraan bersama, bukan dengan memisahkan diri.

KESEPULUH, semua PD diminta untuk semakin menjadi persekutuan: disitu doa merupakan awal, isi dan tujuan semua kegiatan, dan bukan hanya parade nyanyian dan suasana hura-hura atau menonjolkan pertunjukan saja.

Kesepuluh butir itu penting dalam upaya kita menjadi persekutuan yang
membaharui diri tanpa henti dan karena kita mau secara bersungguh-sungguh mewujudkan cita-cita bahwa iman akan Roh Kudus, doa, spiritualitas adalah nomor satu dalam PKK-KAJ. Bersatu dengan lembaga gerejawi dan pimpinan Keuskupan kita ingin menjadi jemaat yang secara nyata percaya akan Bapa Pencipta, Putra yang menebus kita serta Roh Kudus yang menghibur kita. Hendaknya umat menyatu dalam pelayanan BPK-KAJ yang dipadukan oleh Koordinator dan dipandu oleh Moderator dan Ko-moderator dalam naungan Gereja, yang satu kudus-katolik dan apostolik. Kita percaya bahwa Tuhan memberkati kita semua.

Bersatu dalam kasih Allah

B.S. Mardiatmadja, S.J

Vicarius Episcopalis-Keuskupan Agung Jakarta

sumber

One comment

  1. Adrianus · · Balas

    Dear Admin..
    hal ini jg yg menjadi kekhawatiran umat kami di tangerang
    mohon para yg mulia Uskup memperjelas pada paroki2…

    karena misa kudus hanya dpt di adakan di gereja…

    pd tgl 24/5/15… diaakan di sebuah mall di jkt…
    bila ini dibiarkan,iman umat akan melenceng dari ajaran katolik,lebih menuju kepada kepercayaan,kenapa…karena kelompok…sering melakukan exsosis di rmh anggota baru…

    salam

    salam

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: