TARIAN DALAM LITURGI – Kongregasi untuk Sakramen-Sakramen dan Penyembahan Ilahi

Essay berikut muncul di “Notitiae” 11 (1975) 202-205, dan diberi label sebagai sebuah “sketsa yang authoritatif dan berkualifikasi.” Adalah pemikiran dari Kongregasi untuk Sakramen-Sakramen dan Penyembahan Ilahi (sekarang [kongregasi ini] disebut [Kongregasi] Penyembahan Ilahi dan Disiplin Sakramen-Sakramen) bahwa artikel ini dianggap sebagai “sebuah titik acuan yang otoritatif untuk setiap diskusi atas masalah terkait.” Karenanya, [artikel ini] direkomendasikan untuk pembelajaran oleh komisi liturgi keuskupan dan badan-badan penyembahan. (Terjemahan bahasa Inggris ini pertama kali terlihat di The Canon Law Digest, Vol. VIII, pp. 78-82).

TARIAN LITURGIS, SEBUAH EKSPRESI KEGEMBIRAAN SPIRITUAL

Tarian bisa mencadu sebuah seni: sebuah penggabungan (synthesis) atas seni-seni terukur (musik dan puisi) dan seni-seni bidang/ruang (arsitektur, patung, lukisan)

Sebagai suatu seni yang, dengan menggunakan tubuh, mengekspresikan perasaan manusia, tarian secara khusus diadaptasi untuk menandakan kegembiraan.

Karenanya, diantara para mistik, kita menemukan interval-interval tarian sebagai suatu ekspresi atas kepenuhan cinta mereka kepada Allah. Ingat akan kasus-kasus dari St. Theresa of Avila, St. Philip Neri, St. Gerard Majella.

Ketika sang Angelic Doctor [ie. St. Thomas Aquinas] ingin merepresentasikan suatu firdaus, dia merepresentasikannya sebagai sebuah tarian yang dilakukan oleh para malaikat dan para kudus.

Tarian bisa berubah menjadi doa yang mengkespresikan dirinya [ie. doa itu sendiri] dengan suatu gerakan yang menggerakkan seluruh keberadaan, jiwa dan tubuh. Umumnya, ketika roh menaikkan diri kepada Allah dalam doa, hal ini juga melibatkan tubuh.

Seseorang bisa berbicara mengenai doa dari tubuh. [Doa dari tubuh ini] bisa mengekspresikan pemujiannya, permohonannya dengan gerakan-gerakan, sebagaimana dikatakan bagaimana bintang-bintang dengan evolusi mereka [ie. maksudnya pergerakan bintang] memuji sang Pencipta (bdk. Baruk 3:34).

Bermacam contoh akan tipe doa seperti ini ada di Perjanjian Lama.

Ini juga berlaku terutama untuk masyarakat primitif. Mereka mengekspresikan sentimen religius mereka dengan gerakan yang memiliki ritme.

Diantaranya, ketika tiba pada pertanyaan mengenai penyembahan, kata-kata yang terucapkan menjadi senandung, dan gerakan tubuh yang menuju dan berjalan ke keilahian mengubah diri dalam sebuah langkah tari.

Diantara para Bapa [Gereja] dan penulis gerajawi dan didalam teks-teks konsili disebutkan mengenai tarian, sebuah evaluasi [mengenai tarian tersebut], sebuah komentar atas teks alkitab dimana disebut mengenai tarian; lebih sering adalah adanya pengutukan terhadap tarian-tarian profane (ie. tidak layak terhadap sesuatu yang suci) dan ketidakteraturan yang ditimbulkan oleh tarian-tarian tersebut.

Dalam teks-teks liturgi, sering disebutkan mengenai tarian para malaikat dan para terpilih di firdaus (bdk. “diantara bunga Lili kau makan, dikelilingi oleh para kelompok perawan yang menari”) untuk mengekspresikan “kegembiraan dan “jubilasi” (ie. perasaan gembira yang menggejolak) yang meng-karakter-kan keabadian.

Tarian dan Penyembahan

Tarian tidak pernah dibuat sebagai sebuah bagian integral dari penyembahan resmi Gereja Latin.

Bila gereja-gereja lokal telah menerima tarian, kadang-kadang bahkan dalam bangunan gereja, itu adalah dalam rangka sebuah pesta untuk mewujudkan sentimen kegembiraan dan devosi. Tapi hal tersebut [ie. tarian tersebut] selalu ditempatkan diluar pelayanan liturgi.

Keputusan konsili sering mengutuk tarian religius karena [tarian tersebut] hanya membantu sedikit bagi penyembahan dan karena [tarian tersebut] bisa menyimpang menjadi ketidakteraturan.

Sebenarnya, untuk mendukung tarian dalam liturgi, sebuah argumen bisa ditarik dari kutipan dari Konstitusi atas Liturgi Keramat, Sacrosanctum Concilium, dimana diberikan norma-norma bagi adaptasi dari liturgi pada karakter dan tradisi-tradisi dari berbagai orang:

“dalam masalah yang tidak mempengaruhi iman atau kebaikan seluruh komunitas, Gereja tidak ingin, bahkan dalam liturgi, untuk mengenakan suatu keseragaman yang kaku; sebaliknya, dia [ie. Gereja] menghormati dan menjaga ke-jenius-an dan talenta-talenta dari berbagai ras dan orang. Apapun dalam cara hidup mereka yang tidak tak terpisahkan dengan takhyul dan kesalahan, dia [ie. Gereja] melihat dengan penuh kebaikan dan jika mungkin menjaganya secara utuh, dan kadang bahkan mengakuinya dalam Liturgi asalkan hal tersebut sesuai dengan semangat liturgi yang asli dan otentik.”[1]

Secara teoritis, bisa dideduksikan dari kutipan tersebut bahwa beberapa bentuk tarian dan beberapa pola tarian bisa diperkenalkan kedalam penyembahan Katolik.

Namun, dua persyaratan tidak dapat dipisahkan dari [kutipan tersebut].

Yang pertama: sejauh tubuh adalah refleksi dari jiwa, tarian, dengan seluruh manifestasinya, semestinya mengekspresikan sentimen-sentimen iman dan adorasi agar menjadi suatu doa.

Syarat yang kedua: seperti semua gerakan tubuh dan pergerakan yang ada dalam liturgi di atur oleh otoritas gerajawi yang kompeten, begitu juga tarian sebagai suatu gerakan tubuh haruslah berada dalam disiplinnya (“nya” = “otoritas gerejawi yang kompeten”)

Secara konkrit: ada budaya-budaya dimana hal ini mungkin sepanjang tarian masih merefleksikan nilai religius dan menjadi manifestasi yang jelas akan [nilai religius tersebut]. Begitulah dalam hal orang Ethiopia. Dalam budaya mereka, bahkan sekarang ini, ada tarian ter-ritualisasi yang religius, yang jelas berbeda dengan tarian bela diri dan tarian cinta. Tarian ritual dilakukan oleh romo-romo dan para Lewi sebelum memulai perayaan dan di tempat terbuka ada di depan Gereja (note: tulisan aslinya juga sulit untuk dimengerti seperti terjemahannya tersebut). Tariannya menyertai senandung mazmur dan dilakukan dengan pergerakan tubuh.

Hal yang sama juga ditemukan di liturgi Syria dalam pelantunan mazmur.

Di Liturgi Byzantine, ada satu tarian yang sangat disederhanakan dalam rangka suatu perkawinan ketika pasangan yang dimahkotai membuat suatu lingkaran edar mengelilingi mimbar bersama dengan [imam yang merayakan].

Begitu juga dengan orang Israel: dalam sinagoga doa mereka diiringi oleh gerakan terus-menerus untuk mengingat-ingat aturan dari tradisi: “Ketika kau berdoa, lakukanlah dengan semua hatimu, dan semua tulangmu.” Dan bagi orang-orang primitif pengamatan yang sama bisa dibuat.

Namun, kriteria dan keputusan yang sama tidak dapat diterapkan dalam budaya barat.

[Dalam budaya barat] tarian dihubungkan dengan cinta, dengan pengalihan [perhatian], dengan profanitas [ie. ketidaklayakan terhadap sesuatu yang kudus], dengan melepaskan kekangan dari indra-indra; tarian seperti itu, secara umum, tidaklah murni.

Untuk alasan tersebut [tarian] tidak bisa diperkenalkan dalam perayaan liturgis atas jenis apapun: hal tersebut [ie. pengenalan tarian dalam liturgi] berarti memasukkan dalam liturgi satu unsur yang paling tidak sakral dan tidak menyakralkan; dan karenanya itu akan sama dengan menciptakan suatu atmosfir profanitas [ie. ketidaklayakan terhadap sesuatu yang kudus] yang akan mengingatkan kepada yang hadir [dalam liturgi] dan pada para peserta perayaan tempat-tempat dan situasi-situasi keduniawian.

Tidak bisa juga penerimaan diberikan kepada proposal untuk mengenalkan dlam liturgi apa yang disebut Balet artistik[2] karena akan ada suatu presentasi disini yang juga merupakan suatu tontonan dimana seseorang akan menyajikan, sementara itu dalam liturgi salah satu norma dimana seseorang tidak boleh menghilangkannya adalah partisipasi. (note: pada dasarnya paragraph ini ingin mengatakan bahwa norma dalam liturgi menyatakan bahwa setiap umat itu berpartisipasi [meskipun ketika sedang duduk-duduk]. Karena itu jika ada penari balet maka penari itu akan berpartisipasi dalam baletnya dan tidak dalam misa)

Karenanya, ada perbedaan besar dalam budaya-budaya: apa yang dengan baik diterima dalam satu budaya tidak bisa diterima dalam budaya yang lain.

Reservasi traditional akan keseriusan akan penyembahan religius, dan akan penyembahan Latin secara khusus, tidak boleh dilupakan

Jika proposal untuk tarian religius di Barat akan benar-benar disambut hangat, kehati-hatian harus dilakukan mengenai tempat yang bisa ditemukan diluar Liturgi [untuk tarian tersebut], dalam area kumpul yang tidak secara ketat Liturgis. Terlebih, si romo harus selalu dikecualikan dari tarian.

Kita bisa mengingat berapa banyak yang ditarik dari kehadiran orang-orang Samoa di Roma saat festival misionaris tahun 1971. Pada akhir misa, mereka melakukan tarian mereka di pelataran St. Petrus: dan semuanya bergembira.

Catatan:

[1]. Konsili Vatikan II, Konstitusi atas Liturgi Keramat, no. 37; C.L.D., 6, p. 44.

[2]. Untuk mendukung pemasukan tarian artistik dalam liturgi, referensi bisa juga dibuat kepada teks dari Gaudium et spes, nn. 53, 57, 58. Namun, teks yang diacu tersebut berbicara mengenai perwujudan dari budaya secara umum, dan akan seni yang manaikkan yang benar dan indah. [Teks-teks tersebut] tidak berbicara mengenai menari secara spesifik. Menari juga bisa merupakan seni. Meskipun begitu, tidak bisa dikatakan bahwa Bapa konsili [Vatikan II], ketika berbicara mengenai seni di konsili, juga “berpikiran” mengenai realitas tarian.

N. 62 dari konstitusi yang disebut, Gaudium et spes, tentunya tidak dapat diacu dalam kasus ini. Ketika nomor tersebut [ie. N. 62 dari Gaudium et Spes] berbicara mengenai bentuk-bentuk artistik dan pentingnya mereka dalam kehidupan Gereja, [nomor tersebut] bertujuan untuk membuat referensi kepada bentuk-bentuk artistik yang relatif terhadap perlengkapan keramat [note: maksudnya adalah seni-seni seperti mozaik, patung etc]. Bukti tandingan terlihat di teks yang diacu di catatan kaki: artikel 123 dari Konstitusi akan Liturgi dan Alokasi Paulus VI kepada artis/seniman di Roma pada 1964.

_____________________________________________________________________

DARI PENGARAHAN INI, dari KONFERENSI NASIONAL USKUP-USKUP KATOLIK, semua tarian, (balet, gerakan anak-anak sebagai tarian, clown [badut] liturgi) tidak diijinkan untuk “diperkenalkan kedalam perayaan liturgi dalam berbagai macam apapun.” [KONFERENSI NASIONAL USKUP-USKUP KATOLIK (KOMITE USKUP-USKUP pada LITURGI) NEWSLETTER. APRIL/MEI 1982.]

______________________________________________________________________

sumber: ewtn.com

diterjemahkan oleh: ekaristi.org

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: