Makna Ungkapan “Eli, Eli, lama sabach-thani?”

Mat 27 : 46 : “My God, My God, why hast Thou forsaken Me?” – Allahku ya Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?

Apakah dengan mengatakan ini Yesus terpisah dari Allah? bagaimana mungkin Yesus yang adalah Allah berpisah dengan Allah? Kalau begitu pastilah ucapan Yesus menunjukkan bahwa Ia hanya manusia, bukan Allah, karena Allah tidak bisa meninggalkan Allah. Berikut ini adalah tanggapan terhadap pernyataan tersebut :

Dua Kodrat Kristus : Manusiawi dan Ilahi

Berikut ini adalah penjelan dari Katekismus Gereja Katolik nomor 467 :

‘Monofisitisme’ mengatakan bahwa kodrat manusiawi terlebur dalam Kristus, ketika kodrat itu diterima oleh Pribadi ilahi-Nya, oleh Putera Allah. Konsili ekumenis keempat yang berkumpul di Kalsedon pada tahun 451 menjelaskan melawan bidah ini:

“Sambil mengikuti para bapa yang kudus kami semua sepakat untuk mengajarkan, untuk mengakui Tuhan kita Yesus Kristus sebagai Putera yang satu dan sama; yang sama itu sempurna dalam ke-Allah-an dan yang sama sempurna dalam kemanusiaan; yang sama itu sungguh Allah dan sungguh manusia dari jiwa yang berakal budi dan dari tubuh; yang sama menurut ke-Allah-an-Nya sehakikat dengan Bapa dan menurut kemanusiaan-Nya sehakikat dengan kita, ‘sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa’ (Ibr 4:15). Yang sama pada satu pihak menurut ke-Allah-an-Nya dilahirkan dari Bapa sebelum segala waktu, di lain pihak menurut kemanusiaan-Nya dalam hari-hari terakhir karena kita dan demi keselamatan kita, dilahirkan dari Maria, perawan [dan] Bunda Allah. Yang satu dan sama itu adalah Kristus, Putera tunggal dan Tuhan, yang diakui dalam dua kodrat, tidak tercampur, tidak berubah, tidak terpisah dan tidak mungkin dibagi-bagikan, di mana perbedaan kodrat tidak dihilangkan karena persatuan, tetapi kekhususan dari tiap kodrat itu dipertahankan dan mempersatukan diri dalam satu pribadi dan dalam satu hupostasis” (DS 301-302).

Yesus sungguh Allah sungguh manusia, dan Ia memiliki dua kodrat, yaitu kodrat manusiawi dan kodrat ilahi. Keduanya “tidak tercampur, tidak berubah, tidak terpisah dan tidak mungkin dibagi-bagikan, di mana perbedaan kodrat tidak dihilangkan karena persatuan, tetapi kekhususan dari tiap kodrat itu dipertahankan dan mempersatukan diri dalam satu pribadi dan dalam satu hupostasis”

St. Thomas Aquinas menjelaskan kesatuan hipostatis melalui penjelasan tentang rahmat.  Apa yang dianugrahkan melalui rahmat tidak pernah ditarik kembali kecuali melalui kesalahan/perbuatan jahat. Rahmat penyatuan, yang lebih besar daripada rahmat adopsi yang dengannya seseorang dikuduskan, menyatukan keallahan dan kemanusiaan (Flesh kata inggrisnya, atau tubuh manusia) dalam pribadi Kristus. Nah, karena Kristus tidak mungkin berdosa, maka tidak mungkin kesatuan Keallahan Kristus hilang ketika Kristus mati :

 “I answer that, What is bestowed through God’s grace is never withdrawn except through fault. Hence it is written (Romans 11:29): The gifts and the calling of God are without repentance. But the grace of union whereby the Godhead was united to the flesh in Christ’s Person, is greater than the grace of adoption whereby others are sanctified: also it is more enduring of itself, because this grace is ordained for personal union, whereas the grace of adoption is referred to a certain affective union. And yet we see that the grace of adoption is never lost without fault. Therefore, since there was no sin in Christ, it was impossible for the union of the Godhead with the flesh to be dissolved. Consequently, as before death Christ’s flesh was united personally and hypostatically with the Word of God, it remained so after His death, so that the hypostasis of the Word of God was not different from that of Christ’s flesh after death, as Damascene says (De Fide Orth. iii).”

Karena kesatuan keallahan tersebut tidak pernah terpisah, maka tidak mungkin Yesus terpisah dari Allah. Tapi mengapa Yesus mengatakan “Allahku ya Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”. Katekismus Gereja Katolik menjelaskan :

630 Yesus tidak dibuang [oleh Allah], seakan-akan Ia sendiri telah berdosa Bdk. Yoh 8:46.. Sebaliknya dalam cinta-Nya sebagai Penebus, yang selalu menghubungkan Dia dengan Bapa Bdk. Yoh 8:29., Ia dengan sekian mesra menerima kita, yang hidup jauh dari Allah karena dosa-dosa kita, sehingga di kayu salib ia dapat mengatakan atas nama kita:

“Eloi, Eloi lama sabakhtani, yang berarti, Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Mrk 15:34; Mzm 22:2). Karena dengan cara demikian Allah sudah membuat-Nya solider dengan kita, orang berdosa, maka “Ia tidak menyayangkan anak-Nya sendiri, tetapi… menyerahkan-Nya bagi kita semua” (Rm 8:32), sehingga “kita diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya” (Rm 5:10).

Komentar Doktor dan Bapa Gereja mengenai Mat 27 : 46

St. Thomas Aquinas (Angelicus Doctor)

Reply to Objection 1. Such forsaking is not to be referred to the dissolving of the personal union, but to this, that God the Father gave Him up to the Passion: hence there “to forsake” means simply not to protect from persecutors. or else He says there that He is forsaken, with reference to the prayer He had made: “Father, if it be possible, let this chalice pass away from Me,” as Augustine explains it (De Gratia Novi Test.)

Disini St. Thomas mengatakan bahwa kata “meninggalkan” bukan berarti bahwa hilangnya kesatuan antara Allah dan Kristus. Namun kata tersebut berarti bahwa Yesus tidak dilindungi dari para penyiksanya karena Bapa menyerahkan-Nya pada penderitaan, atau Ia ditinggalkan karena cawan ini tidak berlalu dari pada-Nya.

St. John Chrysostom

Why does he speak this way, crying out, “Eli, Eli, lama sabach-thani?” That they might see that to his last breath he honors God as his Father and is no adversary of God. He spoke with the voice of Scripture, uttering a cry from the psalm. Thus even to his last hour he is found bearing witness to the sacred text. He offers this prophetic cry in Hebrew, so as to be plain and intelligible to them, and by all things Jesus shows how he is of one mind with the Father who had begotten him (The Gospel of Matthew, Homily 88.1).

St. Yohanes Krisostomus berkata bahwa perkataan “Eli, Eli, lama sabach-thani” diucapkan Yesus sehingga mereka dapat melihat bahwa sampai nafas terakhirnya, Yesus tetap menghormati Allah sebagai Bapa-Nya dan bukanlah musuh Allah.

St. Ambrose

It was in human voice that he cried: “My God, My God, why have you forsaken me?” As human, therefore, he speaks on the cross, bearing with him our terrors. For amid dangers it is a very human response to think ourself abandoned (Of the Christian Faith, 2.7.56).

St. Ambrosius berkata bahwa dalam suara manusia Yesus berseru “Eli, Eli, lama sabach-thani?”. Lebih lanjut dikatakan bahwa sebagai manusia, Ia yang berbicara (Eli, Eli, lama sabactani) di kayu salib dalam suara manusia memperlihatkan rasa takut kita. Karena ditengah bahaya, hal tersebut adalah respon yang manusiawi untuk berpikir bahwa diri kita ditinggalkan.

St. Augustine

Out of the voice of the psalmist, which our Lord then transferred to himself, in the voice of this infirmity of ours, he spoke these words: “My God, my God, why have you forsaken me? He is doubtless forsaken in the sense that his plea was not directly granted. Jesus appropriates the psalmist’s voice to himself, the voice of human weakness. The benefits of the old covenant had to be refused in order that we might learn to pray and hope for the benefits of the new covenant. Among those goods of the old covenant which belonged to the old Adam there is a special appetite for the prolonging of this temporal life. But this appetite itself is not interminable, for we all know that the day of death will come. Yet all of us, or nearly all, strive to postpone it, even those who believe that their life after death will be a happier one. Such force has the sweet partnership of body and soul (Letters, 140 to Honoratus 6).

St. Agustinus mengatakan bahwa Yesus ditinggalkan dalam arti permohonan-Nya tidak dikabulkan secara langsung. Ketika mengutip doa mazmur tersebut, Ia menjadikan  suara pemazmur sebagai suara-Nya, suara dari kelemahan manusia.

Berdasarkan tulisan Bapa Gereja, terlihat bahwa tidak ada yang mengartikan bahwa Allah meninggalkan Yesus, karena Yesus adalah sungguh Allah dan manusia sehingga tidak mungkin Ia bisa terpisah dari keallahannya.

Baca juga penjelasan dari katolisitas dengan mengklik kalimat ini

4 komentar

  1. Trimakasih atas semuanya…Iman Katolik Saya semakin Kuat dan semangat…

  2. terima kasih atas penjelasannya, ini semakin memperkuat iman ke-Katolikan saya.

  3. terima kasih penjelasannya
    sdh lama sy mencari jawaban atas pertanyaan itu dan akhirnya sy temukan
    sy sangat bersyukur telah mengetahui alsannya,sehingga keraguan sy selama ini mulai hilang
    sekali lagi, terima kasih
    Pax Nobis

  4. Ini baru IMAN KATOLIK.
    SETUJU.

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: