Pedoman Pastoral Para Uskup Indonesia Mengenai Pembaharuan Karismatik Katolik

PENDAHULUAN.

1. Dalam Gereja Katolik akhir-akhir ini timbul gejala-gejala yang menggembirakan serta memberikan harapan untuk masa depan. Dalam banyak paroki terbentuklah kelompok Kitab Suci, kelompok doa, kelompok pendalaman iman.

Pendalaman iman melalui retret atau rekoleksi mendapat tanggapan yang baik dari umat. Kaum Awam semakin menyadari panggilan mereka untuk ikut mengambil bagian dalam kehidupan dan aktifitas Gereja. Disamping itu pelbagai macampembaharuan sedang berlangsung di bidang liturgi, katekese dan lain sebagainya.

2. Ditengah-tengah segala gejala itu muncullah juga suatu gerakan yang disebut “Pembaharuan Karismatik Katolik”, “Gerakan Karismatik” atau “Pembaharuan Hidup dalam Roh”, “Pembaharuan” ini disambut baik disuatu tempat, namun ditentang ditempat lain. Banyak orang mulai bertanya-tanya: Apakah pembaharuan karismatik itu sesungguhnya?

Terdorong oleh rasa tanggung jawab, maka kami para Uskup seindonesiasetelah membicarakannya dalam sidang MAWI th. 1981 dan 1982 ingin memberikan pedoman mengenai Pembaharuan Karismatik Katolik.

3. Dalam Pedoman ini para Uskup mengartikan Pembaharuan Karismatik Katolik sebagai suatu usaha umat katolik untuk menyadari dan meyakini secara lebih penuh kedewasaan kristiani mereka. Maksudnya agar umat dapat menghayati kehadiran Roh Kudus secara lebih intensip, sebab kehadiran Roh Kudus telah mereka terima melalui Sakramen Permandian (Baptis) dan Penguatan.

I. INTI AJARAN PEMBAHARUAN KARISMATIK KATOLIK

4. Pembaharuan hidup dalam Roh Kudus adalah sangat penting untuk kehidupan umat. Melalui ibadat dan karya amal orang dibawa kepada pertobatan ( metanoia) dan kepenuhan hidup dalam Roh. Sebaliknya pertobatan dan kepenuhan hidup dalam Roh akan menghidupkan ibadat dan karya amal. Liturgi Gereja mengenal dua masa khusus sebagai masa pertobatan dan pembaharuan hidup, yaitu masa Adven dan Masa Prapaskah. Kita harus selalu memperbaharui diri agar semakin mampu memperlihatkan semangat Kristus dalam tingkah laku kita, sebab pembaharuan hidup tidak pernah selesai.

5. Pembaharuan hidup dalam Roh Kristus, pembaharuan sikap dan mental diperlukan selalu untuk menjauhkan diri dari dosa dan mendekatkan diri pada Tuhan. Hal ini disadari oleh Unat Katolik sejak Gereja Purba, yang mohon dan berusaha agar supaya Roh Kristus melayani, karunia mengajar, karunia memimpin (1Kor 12:28) makin hari makin hidup dalam UmatNya, dalam diri kita. Agar kita dapat mencerminkan Kristus dalam hidup kita, maka Roh dan semangat Kristus harus menjiwai kita. Seluruh Gereja memerlukan terang ilahi Roh Kudus. Karena itu sering kita berdoa: “Datanglah Roh Kudus, penuhilah hati UmatMu”.

6. Akhir-akhir ini istilah “pembaharuan hidup dalam Roh” mendapat arti khusus, karena sering digunakan oleh kelompok-kelompok orang katolik yang mengikuti gerakan yang disebut “Pembaharuan Karismatik.

Memang kurang benar apabila Pembaharuan hidup dalam Roh dianggap hanya mungkin di dalam persekutuan mereka. Banyak orang, baik awam maupun rohaniwan yang dijiwai oleh Roh Kudus, meskipun tidak mengikuti Pembaharuan Karismatik.

7. Dalam Gereja sejak awal umat berdoa agar dijiwai oleh Roh Kudus pada Hari Raya Pantekosta (Kisah Rasul 2, 1-13). Sejak saat itu umat berdoa “Datanglah Roh Kudus”. Roh Kudus memperbaharui hidup para rasul sehingga mereka menjadi saksi-saksi Kristus “sampai ke ujung bumi” (Kis Ras 1, 8). Roh Kudus mendorong kita semua untuk menjadi saksi-saksi Kristus juga.

Jadi inti ajaran Pembaharuan Karismatik Katolik adalah sesuai dengan isi iman kita.

II. HASIL-HASIL YANG POSITIP.

8. Melalui suatu proses penyadaran dan pertobatan banyak orang mengalami karunia hidup rohani yang mendalam sehingga lebih mengenal Yesus Kristus. Sebagai contoh: Karena perjumpaan yang baru dengan Yesus maka doa menjadi lebih hidup dan bersifat pribadi. Penghayatan sakramen-sakramen menjadi lebih hidup, terutama Ekaristi dan Sakramen Tobat.

9. Hasil yang dialami orang-orang yang mengikuti pembaharuan hidup dalam Roh ialah:

– Orang biasanya tertarik untuk mengenal Allah lebih mendalam lewat SabdaNya dalam Kitab Suci.

– Orang dikuatkan untuk membebaskan diri dari pelbagai macam ikatan, seperti misalnya perbudakan hawa nafsu, dendam, kebencian, iri hati, perjudian, alkohol danmorfin.

– Orang menjadi lebih peka terhadap penderitaan sesamanya, rela mengabdi serta berkembang dalam iman dan pengharapan yang kokoh.

– Penghayatan persaudaraan menjadi lebih mendalam, baik dengan kelompoknya sendiri, maupun dengan orang lain di luar kelompok.

– Beberapa imam dan rohaniwan-rohaniwati terdorong lebih menghayati imamat dan hidup membiara mereka.

– Dalam keluarga timbul hubungan baru antara suami-istri dan antara orang tua dengan anak-anak, ditandai dengan saling pengertian dan cinta kasih.

– Banyak orang tergerak untuk mewartakan iman. Mereka menyadari bahwa pewartaan iman bukan hanya tugas para imam melainkan juga tugas semua orang beriman.

10. Para Uskup merasa gembira atas buah-buah Roh Kudus seperti “kasih, suka cita, damai sejahtera, kelemah lembutan, penguasaan diri”. (Gal. 5: 22-23). Buah-buah ini kita lihat dalam hidup para pengikut Pembaharuan Karismatik yang sehat. Oleh karena itu janganlah para Pastor dan Pemimpin Umat secara apriori (karena praduga) menolak pembaharuan karismatik.

III. GEJALA-GEJALA NEGATIP.

11. Selain hal-hal positip, dalam praktek kita jumpai pula beberapa hal yang negatip dan perlu dihindari.

Salah satu hal negatip yang mudah timbul dikalangan Pembaharuan Karismatik ialah keinginan kuat para pengikut untuk secepat mungkin “memiliki” Roh Kudus dan kurnia-kurnia (karisma) lahiriahNya. Sikap demikian itu mudah memberi kesan bahwa Roh Kudus dan karunia-karuniaNya secara otomatis dicurahkan kepada setiap anggota Gerakan Pembaharuan Karismatik.

Kedatangan Roh Kudus harus dinantikan dengan rindu dan rendah hati dan tak dapat dipaksakan oleh manusia. Begitu pula kurnia-kurnia Roh tak dapat kita tuntut, melainkan harus kita mohon dengan rendah hati dan pasrah diri.

12. Suasana yang diciptakan dalam pertemuan doa Karismatik kadangkala kurang sehat dan terlalu mementingkan perasaan, seolah-olah para hadirin dibawa kepada suatu pengalaman tertentu yang berlebih-lebihan. Kadang-kadang dilupakan bahwa karisma diberikan demi pembangunan umat dan bukan demi kepuasaan pribadi. Adalah pertanda yang kurang sehat, bila dalam gerakan Karismatik ini orang merasa tidak perlu lagi mengadakan ibadat bersama di gereja, tak perlu lagi adanya struktur hirarkis Gereja. Bukti yang meyakinkan dari kehadiran Roh Kudus bukan perasaan melainkan terutama tingkah laku dan cara hidup.

13. Mereka yang terlibat dalam Pembaharuan Karismatik kadang-kadang cenderung mamberikan penafsiran secara fundamentalis, yaitu mengartikan Alkitab secara harafiah dan menganggap Alkitab menjawab secara langsung segala macam masalah.

IV. BEBERAPA PETUNJUK.

15. Hendaknya Pembaharuan Karismatik Katolik mengintegrasikan diri dalam hidup dan aktivitas umat setempat, karena kesatuan umat adalah buah Roh Kudus yang utama (1 Kor 12, 12-4). Dengan mengintegrasikan diri dalam hidup dan aktivitas umat setempat (paroki, lingkungan atau stasi) akan dihindarkan bahaya bahwa Pembaharuan itu menjadi terlalu spiritualistis dan kurang realistis. Pengabdian dalam masyarakat adalah kesaksian yang sangat penting dalam Gereja.

Keikut sertaan dalam hidup dan kegiatan paroki adalah suatu tanda keaslian dan kemurnian Pembaharuan Karismatik.

16. Para pemimpin karismatik yang bekerja dengan restu Uskup setempat harus menyadari bahwa keadaan umat setempat tidak selalu sama. Sebagian besar umat katolik Indonesia masih sangat muda. Perlu diperhatikan pula bahwa sebagian besar umat kita baru saja lepas dari keyakinan magis religius. Tekanan yang berlebih-lebihan pada karisma khusus sangat membahayakan perkembangan iman umat, karena suasana keadaan umat setempat berlain-lainan, maka hanya Uskup setempat berwenang menilai, apakah Pembaharuan Karismatik dapat diberi restu atau tidak dalam wilayahnya.

17. Bila Pembaharuan Karismatik dalam suatu wilayah direstui, perlu diberi pembinaan pastoral agar berkembang dengan baik. Dalam pembinaan ini hendaknya seluruh kehidupan sakramental dan liturgi diintegrasikan. Kehidupan inilah yang harus menjiwai persekutuan-persekutuan doa dan hidup mereka.

Kecuali itu hendaknya kekayaan tradisi Gereja sepanjang masa, seperti misalnya penghormatan salib, jalan salib, penghormatan kepada Bunda Maria, doa rosario, penghormatan para kudus, hendaknya digali dan diintegrasikan pula.

18. Hendaknya perhatian para pengikut Pembaharuan karismatik diarahkan kepada Roh Kudus sendiri dan ketiga keutamaan dasar kristiani: iman, harapan, cinta kasih.

19. Istilah “pembabtisan dalam Roh” sering menimbulkan pengertian yang keliru dalam kalangan umat. Dianggap seolah-olah orang menerima babtis baru di samping babtis sakramental yang telah diterimanya. Adapula yang merasa melangkah ke tingkat lebih tinggi dalam Gereja, karena menerima “pembabtisan dalam Roh”. Rasa subyektip serupa itu guna menghindari pengertian yang tidak tepat, istilah “pembabtisan dalam Roh” hendaknya jangan dipakai, dan sebaiknya diganti dengan misalnya istilah “Pencurahan Roh” atau yang serupa itu.

20. Hendaknya diperhatikan adanya perbedaan pendapat dalam umat, ada yang sudah bisa menerima dan ada yang belum bisa menerima Pembaharuan Karismatik. Oleh karena itu hendaknya hal ini diperhatikan oleh para pemimpin pembaharuan Karismatik didalam mengembangkan gerakan mereka, agar jangan sampai timbul kesan “memaksakan” gerakan mereka pada orang lain. Sebaliknya kami minta pula agar umat yang belum bisa menerima Pembaharuan Karismatik dapat pula menghargai mereka yang mengikuti gerakan ini sesuai dengan asas cinta kasih kristiani.

21. Ada yang berpendapat bahwa Pembaharuan Karismatik tidak sesuai dengan kebudayaan Indonesia, sebab justru dalam kebudayaan kita sikap mengendalikan dan menguasai perasaan dijunjung tinggi, sedangkan dalam pembaharuan karismatik orang cenderung melebih-lebihkan perasaan. Oleh karena itu hendaknya penyesuaian dan integrasi dengan kebudayaan setempat (inkulturasi) diusahakan pula oleh Gerakan Pembaharuan Karismatik.

22. Para Uskup minta kepada para imam, rohaniwan-rohaniwati dan awam yang aktip dalam Pembaharuan Karismatik agar bersikap bijaksana. Para Uskup menghargai dan mendukung setiap usaha untuk memperdalam iman umat.

Kesatuan Gereja, kekayaan liturgi, pengembangan iman di bawah bimbingan para Gembala perlu dijunjung tinggi, agar supaya Pembaharuan Karismatik dapat menghasilkan buah-buah yang diharapkan.

23. Dengan menghargai segala usaha para penggerak karismatik para Uskup mengajak mereka supaya mengadakan refleksi tentang karya mereka dan memperbaiki hal-hal yang dapat membahayakan kemurnian iman dalam hati umat.

24. Kepada umat seluruhnya Para Uskup memberikan nasehat agar tanpa restu Pimpinan Gereja jangan menggabungkan diri dengan kelompok-kelompok Pembaharuan Karismatik lainnya, agar kita bersama-sama dapat menjaga kemurnian iman.

V. P E N U T U P

25. Untuk mengakhiri pesan ini, kami ingin mengingatkan saudara-saudara kepada ajaran Bunda Gereja yang disampaikan dalam Konsili Vatikan II:

” Roh Kudus yang sama menguduskan umat Allah, membimbing serta menghiasi dengan keutamaan-keutamaan, bukan saja melalui sakramen-sakramen dan pelayanan. Sambil membagi-bagikan anugerahNya kepada tiap orang menurut kehendakNya (1Kor 12:11). Ia juga memberi karunia-karunia khusus diantara umat dari berbagai lapisan. Karunia-karunia ini menjadikan mereka trampil dan siaga untuk menerima berbagai karya atau tugas, yang berguna bagi pembaharuan dan pembagunan lanjut Gereja sesuai dengan kaidah kepada tiap orang diberikan pernyataan Roh demi manfaat (1Kor 12:7). Karisma-karisma ini, baik yang tersebar secara menyolok maupun yang terpencar secara sederhana dan lebih meluas, harus diterima dengan syukur dan perasaan terhibur, karena sangat sesuai dan berguna bagi kebutuhan Gereja. Akan tetapi dikejar-kejar dengan ceroboh. Jangan pula daripadanya diharapkan secara berlebih-lebihan hasil usaha kerasulan. Penilaian mengenai keasliannya dan pemanfaatannya yang teratur, adalah hak mereka, yang memimpin Gereja, yang secara khusus berwenang, bukan untuk memadamkan Roh melainkan untuk menguji semuanya dan mempertahankan yang baik (bdk 1Tes 5:12 dan 19:21). (Lumen Gentium No. 12)”.

Jakarta, 11 Februari 1983

MAJELIS AGUNG WALIGEREJA INDONESIA

Mgr. F.X. Hadisumarta, O.Carm

Ketua

Mgr. Leo Soekoto, SJ

Sekretaris

 

===

sumber: Buku Pedoman Pastoral Para Uskup Indonesia Mengenai Pembaharuan Karismatik Katolik; diterbitakan oleh OBOR, Gunung Sahari 91, Jakarta 1983

One comment

  1. adrianus · · Balas

    tpi pada prateknya.. melangar KGK..SC…
    karena Sdh 2 x mereka mengadakan misa kudus di restoran .dan mall…
    Apa kita kurang gereja atau kapel..

    mohon para yg mulia bpk Uskup …sosialisasi ke paroki2…
    salam

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: