Kardinal Ranjith Seputar Liturgi dan Inkulturasi (Part 2)

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5, Part 6

Setelah Konsili Vatikan II, telah banyak pembicaraan, termasuk diantara Uskup-Uskup Asia, tentang perlunya inkulturasi liturgy. Bagaimana inkulturasi berkembang di Asia? Apa yang tersisa untuk dilakukan, ataukah inkulturasi merupakan proses terbuka tanpa akhir?

 

Seperti yang Paus sendiri nyatakan dalam Sacramentum Caritatis, prinsip inkultuasi “harus dipertahankan dalam kesesuaian dengan kebutuhan-kebutuhan nyata dari Gereja karena ia hidup dan merayakan misteri tunggal Kristus dalam situasi budaya yang berbeda” [Sacr. Carit 54]. Kita tahu bahwa ini merupakan kebutuhan untuk memunculkan dari panggilan evangelisasi atau inkarnasi pesan injil dalam budaya yang berbeda, dan persyaratan partisipasi umat setia yang nyata dan sadar dalam apa yang mereka rayakan.

Namun, Sacrosanctum Concilium telah menunjukkan parameter-parameter yang jelas dimana adaptasi liturgy pada budaya lokal diterapkan. SC berbicara tentang penerimaan ke dalam liturgy elemen-elemen yang “selaras dengan semangat [inkulturasi] yang sejati dan otentik [SC 37], meyakinkan “kesatuan substansial Ritus Romawi dipertahankan” [SC 38], asalkan ditentukan oleh otoritas gereja yang kompeten, yaitu Tahta Suci, dan secara legal diijinkan, para uskup. [cf 22 : 1-2]. Hal ini juga meminta kehati-hatian, dalam pilihan adaptasi yang diperkenalkan dalam Liturgi [SC 40 : 1], keharusan untuk mengajukan pada Tahta Apostolik untuk persetujuannya, jika diperlukan, sebuah periode percobaan terbatas [SC 40 : 2] sebelum persetujuan akhir dan konsultais para pakar di bidangnya [SC 40 : 3]

Sacramentum Caritatis mengikuti garis yang sama, bahwa adaptasi liturgy pada tradisi budaya lokal dapat ditangani menurut syarat-syarat berbeda dari Gereja yang sifatnya mengarahkan, dan dengan menjaga pemahaman keseimbangan yang tepat “diantara kriteria dan instruksi yang telah dikeluarkan dan adaptasi baru” [no. 54], dan hal ini juga “selalu dalam kesesuaian dengan Tahta Apostolik” [ibid 54]. Singkatnya, inkulturasi melalui adaptasi, ya, tapi selalu dalam parameter-parameter yang jelas yang memastikan kemuliaan dan ortodoksi.

Terhadap apa yang telah diterapkan sampai sekarang, seseorang tidak bisa dipuaskan sama sekali. Beberapa perkembangan positif dapat dilihat, seperti skala luas dari penggunaan bahasa vernakular dalam liturgy, membuat sakramen-sakramen dipahami lebih baik dan sejauh umat dapat berpartisipasi lebih baik, dan penggunaan seni, musik dan gesture asia pada pemujaan. Tapi banyak kesewenang-wenangan dan inkonsistensi dapat juga dicatat, kesewenang-wenangan melalui perijinan segala jenis eksperiman dan pengesahan praktek-praktek tanpa pembelajaran yang lengkap atau evaluasi kritis.

Suatu ketika aku mendengarkan pembicaraan di radio oleh rahib Buddha di Sri Lanka yang mencemooh umat Kristen karena mengijinkan pemukulan drum lokal di gereja mereka tanpa mengetahui bahwa pemukulan drum tersebut ternyata adalah chants (lagu puji-pujian) untuk Buddha. Ini dapat menjadi satu contoh penyerapan yang tak dipelajari sebelumnya dari tradisi lokal yang per se tidak cocok dengan apa yang kita rayakan.

Inkonsistensi yang saya maksudkan adalah praktek-praktek yang kita perkenalkan sebagai adaptasi tapi praktek tersebut per se tidak cocok dengan budaya kita, seperti membungkukkan badan dan bukannya berlutut dengan satu kaki dihadapan Ekaristi Kudus, atau komuni di tangan diterima dengan berdiri, yang levelnya jauh dibawah pertimbangan kesucian di Asia. Di beberapa negara, bukannya memperkenalkan jubah (vestments) liturgis atau peralatan yang mencerminkan nilai-nilai lokal, namun penggunannya telah direduksi sampai titik minimum, bahkan ditinggalkan. Saya terkejut melihat imam dan bahkan uskup merayakan atau berkonselebrasi tanpa jubah liturgis yang pantas. Ini bukan inkulturasi namun de-kulturasi, jika kata tersebut ada.

Inkulturasi berarti memutuskan bahwa jubah liturgis yang pantas dan penuh rasa hormat untuk realitas Suci yang dirayakan, bukannya meninggalkannya. Saya merasa bahwa Komisi Keuskupan Tentang Liturgi di Asia pada tingkat benua, regional atau nasional harus, dengan bantuan para ahli, mempelajari isu-isu ini dengan seksama dan menemukan cara dan sarana untuk meningkatkan makna, martabat, dan kesucian misteri ilahi yang dirayakan melalui adaptasi yang solid yang dipilih secara kritis dan diajukan kepada Tahta Suci untuk disetujui.

Semangat kerja sama yang lebih dekat dengan Tahta Suci pada hal ini diperlukan. Terlalu banyak hal yang mengambang dalam hal ini bahkan sikap “buat apa peduli?” yang meninggalkan segalanya pada penafsiran bebas dan kreativitas individu. Selain itu, saya ragu jika ada kesadaran yang cukup terhadap apa yang disebutkan Konsili mengenai  perkara ini dan pedoman yang diberikan dalam Varietas Legitimae (“Legitimate Differences,” instruksi, Kongregasi Penyembahan Ilahi dan Disiplin Sakramen, Jan. 25, 1994) and no. 22 of Ecclesia in Asia (“Gereja di Asia,” anjuran apostolik mengenai gereja di asia, Paus John Paul II, November 6, 1999).

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: