Apologetika : Pencobaan Yesus

Yakobus 1 : 13 : Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: “Pencobaan ini datang dari Allah!” Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapapun.

Luk 4 : 2 : Di situ Ia tinggal empat puluh hari lamanya dan dicobai Iblis. Selama di situ Ia tidak makan apa-apa dan sesudah waktu itu Ia lapar.

Kedua ayat ini digunakan Muslim untuk membuktikan Yesus bukan Allah. Karena Allah tidak dapat dicobai, sedangkan Yesus dicobai. Ini berarti Yesus bukan Allah. Berikut ini tanggapan terhadap pernyataan tersebut :

Godaan (temptation) memiliki beberapa definisi (Catholic Encyclopedia : Temptation of Christ) :

  1. the act of testing or trying – tindakan menguji atau mencobai (Deuteronomy 4:34; Tobit 2:12; Luke 22:28; etc.);
  2. enticement to evil –  bujukan kepada kejahatan (Matthew 26:41; 1 Corinthians 10:13; etc.);
  3. the state of being tempted – kondisi berada dalam godaan (Matthew 6:13; Luke 4:13; etc.);
  4. that which tempts or entices to evil – godaan atau bujukan kepada kejahatan (James 1:12; 2 Peter 2:9; etc.);
  5. the name of a place – nama tempat (Exodus 17:7; Deuteronomy 6:16; etc.)

Nah, Yak 1 : 13 berbicara mengenai godaan sesuai definisi nomor 2 dan 4 (bujukan kepada kejahatan), oleh karena itu tepat kalau dikatakan Allah tidak bisa mencobai (membujuk seseorang pada kejahatan) dan dicobai (dibujuk kepada kejahatan). Hal ini didukung dari Haydock Bible Commentary :

Ver. 13. God is not a tempter[5] of evils, and he tempteth no man. HERE TO TEMPT, IS TO DRAW AND ENTICE ANOTHER TO THE EVIL OF SIN, WHICH GOD CANNOT DO. The Greek may also signify, he neither can be tempted, nor tempt any one. But every one is thus tempted by the evil desires of his corrupt nature, which is calledconcupiscence, and which is not properly called a sin of itself, but only when we yield to it. (Witham) – Haydock Bible Commentary

Sedangkan Luk 4 dimana Yesus digodai, definisi godaan adalah definisi sesuai nomor 1 dan 3 (yaitu Yesus sedang dicobai iblis dan berada dalam kondisi pencobaan. Iblis mencobai Yesus karena ia punya dugaan bahwa Yesus adalah Allah, masih dugaan karena kalau Yesus itu Allah, kenapa ia bisa memiliki kelemahan manusia seperti merasa lapar. Oleh karena itulah ia mencobai (baca : menguji Yesus) untuk memastikan dugaan tersebut. Hal ini terlihat dengan kalimat yang digunakan iblis :”Jika Engkau adalah Anak Allah…”. Namun karena Yesus adalah Allah, maka Ia juga tidak dapat mencobai atau dicobai berdasarkan definisi nomor 2 dan 4.

Menurut St. Thomas Aquinas (Summa Theologica, Bagian 2, Pertanyaan 41, artikel 1), godaan yang dialami Yesus berasal dari musuh (iblis), dimana godaan tersebut adalah godaan tanpa dosa, ” because it comes about by merely outward suggestion – karena godaan tersebut terjadi oleh saran yang berasal dari luar”. Namun godaan yang berasal dari flesh (tidak tahu terjemahan yang tepat) tidak bisa tanpa dosa karena godaan ini disebabkan oleh kesenangan dan concupiscence (kecenderungan kepada dosa, concupiscene tetap ada pada orang yang telah dibaptis meskipun dosa2nya dapat diampuni melalui sakramen baptis dan tobat, bdk KGK 1426*)

As the Apostle says (Hebrews 4:15), Christ wished to be “tempted in all things, without sin.” Now temptation which comes from an enemy can be without sin: because it comes about by merely outward suggestion. But temptation which comes from the flesh cannot be without sin, because such a temptation is caused by pleasure and concupiscence; and, as Augustine says (De Civ. Dei xix), “it is not without sin that ‘the flesh desireth against the spirit.'” And hence Christ wished to be tempted by an enemy, but not by the flesh.

 

Namun Kristus sendiri yang memang ingin untuk dicobai dengan alasan sebagai berikut : (dari Summa Theologica, Bagian 2, Pertanyaan 41, artikel 1) :

  1. Ia dapat menguatkan kita melawan godaan
  2. Ia mengingatkan kita untuk terus berjaga-jaga, sehingga biar bagaimanapun orang yang kudus, tetap tidak boleh berpikir ia bebas atau aman dari godaan.
  3. Ia memberikan kita contoh : untuk mengajar kita, yaitu bagaimana mengatasi godaan iblis.
  4. Ia membiarkan dicobai iblis untuk memenuhi kita dengan keyakinan pada kerahiman-Nya. Ibr 4 : 15 : Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.

Silakan baca juga artikel dari katolisitas : Mengapa Yesus dicobai oleh iblis

*KGK 1426 : Pertobatan kepada Kristus, kelahiran kembali dalam Pembaptisan, anugerah Roh Kudus, penerimaan tubuh dan darah Kristus sebagai makanan, membuat kita “kudus dan tidak bercacat… di hadapan Allah” (Ef 1:4) sebagaimana Gereja sendiri, mempelai Kristus adalah “kudus” dan “tanpa kerut” (Ef 5:27). Namun kehidupan baru yang diterima dalam inisiasi Kristen tidak menghilangkan kerapuhan dan kelemahan kodrat manusiawi, dan juga tidak menghilangkan kecenderungan kepada dosa, yang dinamakan “concupiscentia”. Kecondongan ini tinggal dalam orang yang dibaptis, supaya dengan bantuan rahmat Kristus mereka membuktikan kekuatan mereka dalam perjuangan hidup Kristen Bdk. DS 1515.. Inti perjuangan ini ialah: kembali kepada kekudusan dan kehidupan abadi, ke mana Tuhan selalu memanggil kita Bdk. DS 1545; LG )

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: