Sejarah dan Mitos : Inkuisisi Italia

Tidak seperti inkuisisi di Spanyol, inkuisisi di negara kepausan (Papal States) dan di kota-kota Italia tidak menjadikan conversos sebagai target. (Banyak conversos Spanyol akan menemukan tempat perlindungan di Roma dan kota-kota Italia lainnya dimana mereka tidak pernah diganggu). Pada pertengahan abad 16 dan penerbitan reformasi Konsili Trent (1563), inkuisisi di Roma fokus untuk menghindari pemikiran protestan.

“Seperi inkuisisi Spanyol, Inkuisisi Roma dan pengadilan subordinate nya muncul secara umum berhasil dalam menjaga pengaruh substansial protestan dari penyebaran secara melkuas di peninsula…sekali masalah protestanisme direduksi, (inkuisisi) membalikkan operasi pentingnya kepada pertanyaan disiplin gerejawi dan kepada hinaan-hinaan daripada protestanisme.” (44)

Inkuisisi awal di Roma juga fokus pada apa yang disebut “agama populer”, pratek-praktek tahayul, termasuk ilmu sihir (witchcraft), yang bertahan pada abad 15 dan 16. Inkuisisi Spanyol juga kadang-kadang bermain-main (flirt) dengan pratek-praktek tersebut. Tidak seperti reformer protestan, bagaimanapun, inkuisisi di Italia dan Spanyol akhirnya melihat kesulitan-kesulitan ini sebagai hasil dari katekese yang buruk daripada kesesatan aktif, dan kurang tertarik dalam penganiayaannyaSetelah penganiayaan awal yang intense, inkuisisi-inkuisisi secara umum mengarah pada tuduhan skeptic ilmu sihir dan ilmu tenung dan mendirikan aturan-aturan penganiayaan yang ketat dan jelas. Pada sebagian besar kasus dalam negara-negara katolik abad 17 dan sebelumnya, inkuisisi telah berkurang hubungannya dengan penganiayaan tahayul.(45)

Inkuisisi seperti yang ada di negara kepausan dan kota-kota dan kerajaan-kerajaan di seluruh Italia tidak pernah dilihat dengan dukungan/persetujuan yang sama seperti inkuisisi Spanyol. Untuk sebagian besar bagian, inkuisisi ini fokus pada penyimpangan klerik, dan diluar negara kepausan,[inkuisisi] memiliki campuran persekongkolan politik yang kuat. Meskipun demikian, tiga masalah terkenal yang berkontribusi pada mitos inkuisisi terjadi di Italia. Tiga masalah tersebut adalah sidang Savonarola (1498), Giordano Bruno (1593-1599) dan Galileo (1633).

“Savonarola adalah keberadaan (surviving) abad pertengahan ke dalam Renaissance, dan Renaissance menghancurkannya.” (46). Biarawan Dominikan, Girolamo Savonarola adalah pembicara penghasut yang mencela immoralitas pada masanya, dan tidak menaruh belas kasihan (Nb : terjemahan kata yg dibold mungkin tidak tepat) pada Paus Alexander VI (1492-1503). Berkhotbah di Florence, ia membentuk ordo monastic yang diperbaharui, juga menjadi pemimpin yang berpengaruh di Republik Florentine baru yang diproklamasikan pada Juni 1495. Kemampuan negarawab yang buruk – juga masyarakat yang tumbuh lelah dari reformasi puritan seperti yang terlihat di “bonfire of the vanities” dimana item-item duniawi dibakat – mengarah kepada kejatuhannya. Paus Alexander VI kurang memperhatikan mengenai kritisisme pribadi Savonarola. Tapi ketika temannya memproklamasikandia sebagai nabi dari Allah, dan ia berupaya untuk menyakinkan raja Perancis untuk memanggil konsili umum dan menurunkan paus sebagai“seorang kafir dan heretik”, ia dipanggil ke Roma untuk menjelaskan dirinya.Savonarola mengklaim kesehatannya buruk dan Alexander memerintahkan sebuah investigas dari khotbah-khotbahnya. Dominikan mereview khotbah-khotbah tersebut secara menyenangkan dan meyakinkan bahwa tidak hanya ia seharusnya dicoba, tapi dinamai sebagai kardinal. Tawaran dibuat dan ditolak dalam serangkaian gemuruh khotbah-khotbah pra paskah yang mencela Gereja dan Kepausan. Ia mengeluarkan surat kepada raja-raja Eropa dan menuntut sebuah konsili untuk menggulingkan apa yang ia lihat sebagai kepausan yang korup.

Florence terpceah oleh biarawan kontoversial. Ia segera diabaikan oleh kepemimpinan Florentin dan ditangkap bersama dua orang lainnya dari ordonya. Paus meminta mereka dikirim ke Roma untuk sidang gerejawi, tapi otoritas Florentine, lelah karena biarawan yang suka ikut campur, menginginkan ia dibunuh. Ia diadili dibawah inkuisisi lokal mengenai tuduhan skisma, heresy, memberitahukan rahasia-rahasia pengakuan, nubuat-nubuat dan visi palsu, juga menyebabkan kekacauan sipil. Ia ditemukan bersalah dan dieksekusi tanggal 23 Mei, 1498. Walaupun dilihat oleh Roma sebagai martir pra-reformasi, campur tangannya dalam politik Florentine, daripada panggilannya untuk reformasi moral dan serangannya terhadap Paus Alexander VI menyebabkan kejatuhan Savonarola. Meskipun dengan pasti diadili dengan persetujuan paus, kematiannya adalah tindakan sipil daripada sebuah penghakina inkuisitorial. (47)

Giordano Bruno lahir dekat Naples tahun 1548. Ia ditahbiskan sebagai imam dominikan tahun 1572, namun ia dengan cepat eragukan kepercayaan Kristen yang fundamental. Tidak seperti reformer protestan, Bruno melihat dirinya sebagai filsuf. Ia meninggalkan biara, berakhir di Geneva dimana ia diadili karena mengumandangkan kesesatan oleh teolog Calvinist. Ia meminta maaf dan dibebaskan. Bruno mengembara Eropa, dimana ia dikenal dalam pengadilan berbeda sebagai filsuf handal (masterful) juga sebagai gangguan. Sombong, arogan dan pembenci wanita, ia dihukum sebagai heretik oleh gereja-gereja reformasi juga oleh inkuisisi. Filsafatnya, sebegitu tidak teraturnya, mengidentifikasi Allah dengan alam semesta yang tidak terbatas. (48) Setelah 16 tahun mengembara, Bruno memutuskan kembali ke pemikiran Italia “yang seharusnya dipertanyakan oleh inkuisisi, ia bisa (juga ia boleh) mengutip kutipan yang orthodox dari karya-karyanya untuk menipu Gereja agar memikirkannya sebagai putra terkasih Gereja. Tahun 1592, inkuisisi Venetian menangkapnya. Ia ditangkap tidak hanya karena pandangan sesatnya, tapi juga sebagai imam ia mengabaikan panggilannya. Tahun 1593, ia dikirim ke Roma. Setelah bertahun-tahun dipenjara dan diinterogasi, ia dihukum tahun 1599 karena tulisannya mengenai Trinitas dan Inkarnasi. Ia diperintahkan untuk mengakui kesalahannya. Ia memohon kepada Paus yang menghakimi proposisi kesesatan. Bruno menolak untuk mengakui kesalahannya dan ia diserahkan kepada otoritas sekuler. Ia dibakar pada 19 Febuari 1600. Bruno adalah karakter yang berlebihan – dan sedikitcharlatan – yang menolak kepercayaan katolisisme fundamental dan juga dihukum oleh reformer. Pria yang mengabaikan imamatnya, dalam hari-hari reformasi dan counter reformasi yang sulit, ia yakin untuk dituntut dan tampaknya mengadili kemartirannya sendiri.

Skandal Galileo masuk ke dalam tubuh mitologis sekularisme barat yang menyimbolkan Gereja sebagai anti – ilmu pengetahuan. Galileo diadili oleh inkuisisi kepausan tahun 1633 karena penerbitan dalam sikap membangkang dari mandat yang menurut dugaan diberikan tahun 1616. Galileo mengajarkan sebagai fakta bahwa bumi berotasi pada sumbunya dan mengorbit matahari. Kedua pandangan ini muncul untuk melanggar kitab suci. Sidangnya tahun 1633 sering digambarkan Galileo sebagai ilmuan berargumen tentang keutamaan akal budi dan hakim tribunal menuntut akal budi mengingkari iman. Sidang tidak pernah terjadi. Galileo, seorang orthodox katolik yang kokoh, dan hakim tribunal membagi pandangan umum bahwa ilmu pengetahuan dan kitab suci tidak bisa berkontradiksi. Jika muncul suatu kontradiksi, kontradiksi tersebut dihasilkan dari ilmu pengetahuan yang lemah, atau penafsiran yang buruk terhadap kitab suci. Konteksnya, pengadilan memperlihatkan dua kesalahan. Teknologi Galileo sangat terbatas pada waktu itu untuk membuktikan secara ilmiah pernyataannya mengenai rotasi ganda bumi. Pada waktu yang sama, hakim tribunal juga salah karena penafsiran literal kutipan kitab suci dan menjadikannya sebagai penilaian ilmiah yang tidak pernah dimaksudkan oleh penulis kitab suci. Galileo dihukum rumah tahanan yang nyaman setelah ia mengakui kesalahannya. Ia meninggal tahun 1642. (51) (NB : baca juga artikel Kontroversi Galileo)

Dalam tiap kasus diatas, mitos tumbuh menjadi sesuatu yang berguna untuk propagandist anti-katolik. Savonarola menyimbolkan “penurunan harga diri” kepausan dan dunia katolik sebelum reformasi. Ia dilihat sebagai symbol reformasi moral dalam dalih kemerosotan moral dunia paus-paus [pada masa] Renaissance. Bruno menjadi martir “pemikiran bebas”; Galileo menjadi tahayul agama vs ilmu pengetahuan. Semuanya dilihat sebagai korban inkuisisi yang dilihat sebagai kekuatan yang mengemudikan kekuasaan kepausan, pencipta “jutaan” martir protestan, dan musuh Pencerahan dan Progress. Mitos inilah yang bertahan sampai sekarang.

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: