Kardinal Ranjith Seputar Liturgi dan Inkulturasi (Part 1)

Malcolm Kardinal Ranjith

Part 1Part 2Part 3 Part 4Part 5, Part 6

Uskup Agung Ranjith : Secara umum, telah banyak perubahan dimana liturgi dirayakan di Asia sejak konsili [NB : Maksudnya Konsili Vatikan II]. Bebrapa dari kita yang dididik pada masa kanak-kanak dalam orientasi liturgis pra-konsili tahu seperti apa perubahan-perubahan baru ini dan bagaimana perubahan tersebut mempengaruhi hidup kita sebagai orang katolik.

Seperti yang ditunjukkan oleh pertanyaanmu, sudah ada sekantong campuran hasil-hasil. Diantara perubahan-perubahan positif, Saya melihat penggunaan bahasa vernacular (bahasa pribumi) dalam liturgi, yang membantu umat memahami Sabda Allah dengan lebih baik, rubrik-rubrik liturgy sendiri, dan juga shared partisipasi yang responsif dalam perayaan misteri suci.

Adaptasi pada praktek budaya lokal juga telah dicoba, meskipun tidak selalu dengan hasil yang baik. Penggunaan bahasa vernacular kadang-kadang telah membantu menghasilkan kosakata teologis dalam idiom lokal yang secara terus menerus dapat membantu dalam penginjilan dan penyebaran pesan injil kepada mereka yang memiliki budaya religius non-kristen, yang terdiri dari mayoritas besar orang-orang asia.

Beberapa aspek negatif adalah pengabaian total [yang] seolah-olah pada bahasa Latin, tradisi dan chant, interpretasi yang terlalu  mudah dan jauh tentang apa yang dapat diserap dari budaya lokal ke dalam liturgy, kesalahpahaman tentang kodrat yang sejati, isi dan makna ritus Romawi dan norma serta rubriknya, yang menuntun pada sebuah sikap percobaan bebas, perasaan pasti “anti rowami” dan penerimaan tidak kritis terhadap semua jenis “hal yang baru” yang dhasilkan dari pola pikir sekulerisasi dan teologi humanistic dan liturgis yang menyalip Barat.

Hal-hal yang baru ini sering dikenalkan, mungkin secara tidak dikeahui, oleh beberapa misionaris asing yang membawa mereka dari negara kelahiran atau oleh penduduk lokal yang pernah berada di negara karena saat berkunjung atau belajar dan telah membiarkan diri mereka secara tidak kristis terserap ke dalam sejenis lingkaran “semangat bebas” yang tercipta disekeliling konsili

Pengabaian ruang-ruang yang Suci, Mistik dan Spiritual, dan penggantian ruang tersebut oleh semacam horizontalisme empiris adalah hal yang paling berbahaya bagi Semangat yang sungguh membentuk Liturgi

Bagaimana anjuran baru tentang Ekaristi menjadi relevan untuk Gereja di Asia?

 Dilihat sebagai keseluruhan, dokumen ini bagiku merupakan sesuatu yang menggemakan kembali reformasi liturgy dalam pengertian yang benar seperti yang dipahami dan diinginkan oleh Konsili. Saya tidak bermasuk menolak perkembangan positif reformasi liturgis yang berlaku saat ini tapi ekspresi dari kebutuhan untuk sungguh setia pada apa yang dimaksudkan oleh Sacrosanctum Concilium (Konstitusi tentang Liturgi Suci, dipromulgasikan oleh Paus Paulus VI pada 4 Desember 1963).

Seseorang bisa, dalam pengertian tertentu, menyatakan bahwa dokumen seperti Ecclesia de Eucharistia (“Gereja [menarik kehidupannya] dari Ekaristi”, ensiklik tentang “ekaristi dan hubungannya dengan Gereja”, Paus Yohanes Paulus II, 17 April 2003), Liturgiam Authenticam (“Authentic Liturgy”, instruction “On the Use of Vernacular Languages in the Publication of the Books of the Roman Liturgy,” Congregation for Divine Worship and the Discipline of the Sacraments, May 7, 2001), and Redemptionis Sacramentum (“Sacrament of Redemption,” instruction “On certain matters to be observed or to be avoided regarding the Most Holy Eucharist,” Congregation for Divine Worship and the Discipline of the Sacraments, April 23, 2004), telah memulai perlunya penyesuaian reflektif dari petunjuk-petunjuk Konsili.

Sacramentum Caritatis memahkotai semuanya dengan katekese ekaristi yang sungguh mendalam, mistik, dan sangat mudah dimengerti yang membawa keluar kepenuhan terbaik dari makna Sakramen Maha Kudus. Paus Benediktus menginginkan kita untuk memahami, merayakan dan menghidupi kepenuhan ekaristi.

Saya merasa bahwa dalam konteks asia, panggilan seperti itu harus secara alami diapresiasi, dinilai dan dihidupi. Orientasi dasar Sacramentum Caritatis merefleksikan nilai-nilai Asia, seperti kasih dalam diam dan kontemplasi, penerimaaan kehidupan yang lebih dalam melebihi hal yang nyata, rasa hormat pada sesuatu yang suci dan mistik, dan pencarian kebahagiaan dalam hidup kudus dan penolakan [hal duniawi]

Penekanan diletakkan pada aspek-aspek ini membuat Sacramentum Caritatis menjadi kontribusi penting dan bernilai yang mengarahkan umat katolik di benua kita menghidupi ekaristi dalam cara yang sungguh Asia.

Aspek-aspek apa yang paling penting dari dokumen ini untuk Uskup asia, imam dan umat katolik yang setia?

 Dari sudut pandang yang umum, panggilan untuk menganggap ekaristi kudus sebagai undangan untuk menjadi Kristus sendiri, yang ditarik dan diserap kedalam Ia dalam persekutuan kasih yang mendalam, karenanya keindahan kemuliaan-Nya bersinar didalam kita, sungguh sejalan dengan pencarian mistisisme spiritual di Benua Asia.

Seperti yang saya katakan, Asia sangat mistik dan sadar akan nilai kesucian kehidupan manusia, menggerakkan manusia untuk mencari misteri agama dan spiritualitas lebih mendalam. Kecenderungan untuk membanalisasi (NB : kata inggrisnya banalize, tindakan membuat sesuatu yang penting, eksklusif dan berarti menjadi sesuatu yang murahan, pasaran, umum) perayaan ekaristi melalui orientasi horizontal, yang sering kelihatan dalam zaman modern, tidaklah selaras dengan pencarian itu. Oleh karena itu, orientasi umum dokumen tersebut baik untuk Asia.

Untuk detailnya, Saya berkata bahwa keseriusan dan kecenderungan untuk selalu menekankan hakekat ekaristi yang spiritual secara mendalam dan transdental, pandangan Kristosentrisnya, ketaatan setia pada rubric dan norma [nos 39-40], ketertarikan pada ketenangan [no 40], kesadaran perayaan yang tepat dan pantas dihormati, penggunaan seni dan arsitektur yang tepat, chant dan musik, penghindaran improvisasi dan kekacauan, [semua ini] mencerminkan cara Asia beribadah dan spiritualitas. Orang-orang di asia adalah orang yang menyembah, dan bentuk-bentuk penyembahan yang kuno dan bukan penemuan individual.

Ketaatan pada rubrik pada tradisi-tradisi religius lain di Asia ketat. Selain itu, rubric-rubrik mereka secara mendalam merefleksikan peran Suci yang special. Jadi, keseriusan yang direkomendasikan oleh Supreme Pontiff  sangat sesuai dengan cara Asia menyembah.

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: